
~ Hanya satu dari sekian banyak perpisahan yang pernah dan akan terjadi dalam hidup. ~
Setelah selesai membenahi meja kerjanya, Zaid melangkah keluar. Melewati para staf Manajemen, mereka menyapanya seperti biasa.
Ada kesedihan sendiri di hati Zaid, tapi ia tak bisa menunjukkannya. Saat ini ia harus bersikap seperti biasa. Demi The Crown, untuk Avelia, dan untuk dirinya sendiri.
Ini hanya perjalanan lain. Hanya satu dari sekian banyak perpisahan yang pernah dan akan terjadi dalam hidupnya. Ia bisa melewati kesendiriannya selama bertahun-tahun dan selama itu ia baik-baik saja. Sekarang juga pasti bisa.
Selama Avelia baik-baik saja. Selama semua orang di The Crown masih bisa bekerja seperti biasa.
Gedung ini berdiri bukan hanya semata karena impian besarnya, tapi terwujud karena bantuan banyak orang. Orang-orang yang bekerja bersamanya, yang kemudian menjadi sahabatnya, adik dan kakaknya, keluarga barunya. Orang-orang yang mempercayainya. Siapa sangka salah satunya justru Ajie, seseorang yang bahkan tak terpikir sama sekali oleh Zaid.
Tadinya Zaid mengira, ia akan sedih kehilangan semua ini. Nyatanya, perasaannya jauh lebih ringan dibandingkan yang ia bayangkan.
Zaid kini mengerti alasan ia memperjuangkan The Crown menjadi sebesar ini. Bukan karena keinginannya menjadi lebih kaya dan lebih baik dari Ajie, tapi karena ia senang bisa membantu orang lain. Mengingat alasan itu sudah cukup baginya untuk menyerahkan The Crown pada Ajie. Pria itu pasti tidak akan mengecewakannya.
Yang membuatnya berat hanya satu. Berpisah dari Avelia.
Semalaman ia tak tidur hanya untuk memikirkan celah agar bisa punya kesempatan dan pilihannya hanya satu. Tapi wajah Pak Fariz yang memohon padanya, membuatnya terkenang almarhumah mama dan uncle-nya sendiri.
Zaid tak bisa memaksakan diri lagi. Pak Fariz, Ave dan mungkin orang-orang yang tidak tahu apa-apa akan terkena masalah karena dirinya.
Melihat kondisi Pak Fariz kemarin, Zaid hanya bisa mengiyakan semua permintaannya. Ia tak bisa melihat Ave kehilangan satu-satunya orang tuanya yang tersisa. Kesedihan karena kehilangan kekasih takkan seberapa dibandingkan kehilangan orangtua.
Setelah berkeliling di tiap lantai dan departemen, Zaid sampai ke departemen Creative.
Di dekat pintu, Zaid tersenyum saat melihat Avelia yang tak menyadari kehadirannya, karena menunduk mengerjakan storyboard-nya. Zaid tak ingin mengganggu, ia memilih melewatinya, masuk ke ruang kerj Pak Bambang dan duduk di sofa, memperhatikan gadis itu dari dalam.
"Ada teknologi yang disebut foto atau video, Mas," sindir Pak Bambang.
Tanpa mengalihkan tatapan, Zaid menjawab, "Tetap gak bisa dikalahkan kalau melihat langsung, Pak."
__ADS_1
"Kalau begitu jangan disia-siakan, Mas. Jangan pergi terlalu lama! Entar keburu disambar orang."
Zaid hanya tersenyum. Hatinya seperti disayat perlahan-lahan.
Gadis tercintanya sudah banyak berubah. Ia kini bukan Avelia polos yang tak paham apa-apa. Dalam waktu yang teramat singkat, Ave menemukan bakat seninya yang luar biasa.
Avelia akan memiliki sesuatu untuk mewujudkan apapun yang ia inginkan dengan bakat yang terlatih itu. Akan banyak perusahaan iklan, mungkin bahkan Papanya atau Ajie akan membiarkan gadis itu memiliki perusahaan sendiri dengan bakatnya itu.
Avelia akan sibuk. Dia mungkin akan sedih sebentar, tapi Zaid yakin keluarga dan teman-temannya akan membantu Ave keluar dari semua itu. Pekerjaan adalah satu alasan. Bukankah Avelia pernah bilang begitu kalau ia akan lupa untuk bersedih saat tubuhnya lelah?
Ini hanya perjalanan singkat biasa. Sebuah perjalanan lain dalam kehidupan Zaid. Bertemu dan berpisah. Jatuh cinta, memberi dan menerima lalu meninggalkan.
Ada sesuatu yang hangat di mata Zaid hingga ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan ruangan Pak Bambang.
"Makan siang, Mas?" tanya Pak Bambang.
Zaid mengangguk dan menoleh pada pria yang telah menjadi sahabat keluarganya selama bertahun-tahun. "Saya nitip The Crown, Avelia dan teman-teman, Pak."
Tak ada jawaban. Hanya senyum tipis sebelum Zaid kembali berbalik dan membuka pintu.
Mendengar suara pintu terbuka, Avelia yang kini menatap monitor komputernya pun berpaling dan tersenyum lebar. "Mas kesayangan! Eh... Bos kesayangan!"
Zaid mendekatinya. Tangan Zaid terulur mengelus rambut gadis itu. "Jangan sampai lupa makan siang!" Pria itu kemudian melirik Alina yang sedang memandanginya dengan kagum seperti biasa. "Lin, nanti ajak yang lain makan siang bareng Ave! Saya traktir," ujarnya sambil mengeluarkan dompet, mengambil sejumlah uang.
"Beneran, Pak? Aduuuh makasiih banget!" Alina pun berdiri, memanggil yang lain usai menerima beberapa lembar uang dari Ajie.
"Mas gak ikut?" tanya Avelia.
Zaid menggeleng. "Aku ada janji dengan model..."
"Jeesh, pantas!" Seketika bibir Ave maju.
__ADS_1
"... Kontraknya selesai. Jadi aku mau urus itu dulu sebelum pergi. Baru begitu aja, udah cemburu," goda Zaid. "Udah jangan marah gitu! Ave-ku yang cantik gak akan bisa tergantikan sama siapapun."
Perlahan senyum Ave muncul. Ia mengangguk. "Oke deh, tapi jangan lama-lama! Kucing manapun dikasih ikan juga bakal tergiur."
Zaid menyentuh ujung hidung Ave. "Ha ha ha... Aku bukan kucing, Ve. Bukannya katamu dulu aku ... ah sudahlah."
"Monyet! Udah dibilang bukan Ave yang ngomong. Kan Mas sendiri yang inisiatif menganggap diri Mas monyet. Ha ha ha. Bukan salah Ave, yeee," kata Ave sambil tertawa-tawa.
Dari samping Ave, seseorang memeluk lehernya. Alina. "Aveeee, tega bener kamu manggil Bos ganteng kita gitu!" katanya sambil mencubiti kedua pipi Ave dengan gemas.
"Aaaakh! Tolong! Tolong! Ini bullying! Office bullying! Mas... Mas... Pak, tolongin Ave!" jerit Ave.
Tapi tangannya juga tak diam, Ave membalas mencubit pipi Alina saat ia berhasil melepaskan diri dan berbalik. Masih tak mau kalah, Alina juga kembali mencubit pipi Ave. Mereka beraduh-aduh sambil saling mengancam.
Zaid tak bergerak, ia hanya terkekeh melihat kedua gadis itu saling menganiaya satu sama lain di depannya. Begitu juga teman-temannya yang ikut melihat tingkah keduanya.
Dulu mereka jarang bisa berada dalam suasana santai seperti ini di depan Zaid. Kehadiran Ave memang mengubah banyak kebiasaan boss berwajah dingin mereka. Pangeran salju mereka sudah lama turun dari gunung es di hatinya.
Namun sejurus kemudian, tawa Zaid berubah menjadi senyuman. Lalu sambil mengangguk pada yang lain, Zaid pun berbalik. Ia menahan senyumnya agar tetap tersungging selama berpapasan dengan para staf.
Saat berada di depan lift menuju ruang kerjanya sendiri dan tak ada siapapun di sekitarnya, satu tangan Zaid bertumpu ke dinding dan ia menunduk. Menghembuskan napas sekuat mungkin, berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya akibat emosi yang tertahan.
Tidak mudah berpura-pura tegar. Tidak mudah berpura-pura tenang dan santai. Apalagi di depan teman-temannya, di depan orang yang paling dicintainya. Di depan semua orang yang berharga dalam hidupnya.
Zaid mulai merasa lelah. Belum apa-apa ia tahu, satu yang akan ia rindukan mati-matian nanti adalah kehangatan cinta dan persahabatan. Itu pun kini dicabut darinya.
*****
__ADS_1