
~ Jangan berdua-duaan di kegelapan, nanti ditemeni setan. Dan Ave gak mau temenan sama setan. (Ave) ~
Ketika Zaid tiba di rumah, ia mengira akan disambut oleh suara riang Ave yang tengah memasak di dapur.
Tapi kamar tamu terlihat sepi. Bahkan gelap. Dapur yang ia datangi juga dalam keadaan berantakan. Bahan makanan masih berserakan di atas meja dan belum selesai dimasak. Perasaan Zaid berubah tak enak. Walaupun gadis itu punya kamar bak kapal pecah, ia tak pernah membiarkan dapur seperti sekarang. Zaid bergegas melepas jaket, meletakkan ransel dan melangkah cepat menuju paviliun.
Pintu kamar Ave dengan mudah bisa ia buka. Gadis itu pasti lupa menguncinya lagi. Begitu Zaid masuk, terlihat Ave terbaring menyamping di tempat tidur. Masih berpakaian kerja, dan celemek dapur sudah menjadi gulungan tak karuan di sebelahnya.
Segera, Zaid mendekatinya.
"Ve? Kamu kenapa? Sakit apa?" tanya Zaid kuatir sambil menyentuh pundak Ave.
Mata Ave tertutup, tapi kedua tangan gadis itu sama-sama menekan perutnya. Juga terlihat ada kerut kecil di dahinya. Ave sedang kesakitan.
Perlahan mata Ave terbuka. Tampak memerah. "Pak, maaf! Ave lagi sakit perut."
Mendengar suara pelan itu mengaku, Zaid segera berjongkok di depan Ave. "Sakit perut? Kita ke rumah sakit ya, sekarang?"
Ave menggeleng, berusaha tersenyum tapi yang muncul malah ringisan. "Gak usah, Pak. Ini cuma... nyeri haid."
Zaid terdiam. Apa itu nyeri haid? Walaupun punya kakak perempuan, Zaid tak tahu apapun soal nyeri yang satu itu. Hanya perempuan yang mengalaminya, dan seingat Zaid, kakaknya tak pernah seperti Ave. Ia sering mendengar, tapi baru kali ini melihat langsung. Ave tak mungkin bercanda, wajah gadis itu begitu pucat.
Ah iya, Kak Zahra pasti tahu obatnya.
Dengan cepat ia keluar dari paviliun dan menelpon. Untungnya, segera terjawab.
"Kak, kalo nyeri haid biasanya harus apa?" tanya Zaid to the point.
Di ujung telepon, Zahra terperangah. Butuh beberapa detik baginya untuk bisa menjawab, "Biasanya pake ubat anti sakit, Bang. Tapi coba kamu kasih kompres air hangat ke perut yang sakit, lalu kasih minuman halia yang hangat. Pakai gula perang. Sikit saje ya. Jangan terlalu banyak!"
"Halia? Gula perang? Oh... Jahe ya Kak? Dengan gula merah?"
Tawa renyah terdengar. "Ah iya, iya itulah... Betul sudah itu."
"Itu saja, Kak?"
"Biarkan dia berehat sebentar, cuba angkat sikit kakinya. Kasih bantal. Terus biar dia tidur. Jika benar menyakitkan, bawa saja jumpa doktor atau kau belilah ubat anti sakit, Bang!" saran Zahra sebelum menyebutkan salah satu merek obat anti nyeri yang ia tahu.
"Dia gak mau, Kak. Katanya cuma nyeri haid."
"Cubalah dulu cara itu. Jika tak berkurang, better kau bawa dia ke hospital saja," ujar Zahra sabar.
"Oke, Kak! Makasih ya Kak!"
"Abang! Bang, tunggu!" cegah Zahra buru-buru. Ingin tahunya tak lagi tertahankan.
"Ya Kak?"
"Dia itu siapa, Bang? Pacarmu?" tanya Zahra. Ada nada jenaka terdengar dari suaranya.
Zaid terdiam sebentar. "Bukan, Kak. Dia... calon istriku."
"Hah?"
"Assalamualaikum, Kak!" Zaid bisa membayangkan wajah kaget kakaknya yang pasti bertanya-tanya. Sudahlah itu bisa nanti dijelaskan, saat ini ia ingin mengurus Ave dulu.
Setelah menutup telepon, Zaid kembali masuk ke kamar. "Ve, kamu tiduran aja dulu. Saya buatkan teh jahe dulu ya?"
Ave diam saja, tak menyahut. Ia hanya membiarkan Zaid membantunya memperbaiki posisi tidur bahkan membiarkan pria itu memberinya selimut. Setelah itu Zaid keluar.
Beberapa menit kemudian, dengan pakaian rumah biasa, Zaid masuk lagi dengan secangkir teh dan kompres air hangat. Ia membangunkan Ave dan dengan lembut membantu gadis itu menyeruput teh jahe hangatnya. Sementara tangan yang lain menyodorkan alat kompres yang berisi air hangat ke perut Ave.
Kehangatan yang mengalir di perutnya yang tertutup piyama, juga melalui tenggorokannya membuat Ave bernapas lega. Ia merasa jauh lebih baik.
"Kalau kamu sudah baikan, sebaiknya mandi dulu. Bisa?" bisik Zaid pelan.
Ave hanya mengangguk. Zaid pun meninggalkan kamar. Cukup begini saja, Ave sudah merasa sangat berterima kasih. Zaid bahkan tak bertanya soal masakan. Setelah agak mendingan, Ave bangun dan ke kamar mandi.
Ketika ia keluar dengan pakaian longgar dan bersiap untuk tidur lagi. Zaid sudah berada di kamarnya lagi, sedang mengganti air dalam kantung kompres agar hangat lagi. Di atas meja kecil, ada nampan berisi mangkuk berisi bubur dan segelas air putih. Di tengah-tengah nampan ada bungkus obat anti nyeri.
__ADS_1
"Makan dulu! Saya tadi masak sup ayam. Mungkin tak seenak masakanmu, Ve. Tapi lebih baik daripada perutmu kosong. Kalau kamu masih gak suka, nanti saya pesankan dari luar saja. Kalau sudah makan, minum obatnya."
Ave ingin tahu dari mana Zaid mendapat obat anti-nyeri itu. Tak mungkin pria itu membelinya begitu cepat, dan sambil memasak sup pula. Ini lebih mengherankan, sejak kapan Zaid bisa memasak?
Ketika Ave mengira rasa sup ayam itu tidak enak, ia justru terkejut sendiri. Meski ia sedang tidak enak badan, tapi lidah Ave terbiasa merasakan makanan berkelas koki ternama. Sup ayam buatan Zaid tak bisa dianggap sebagai masakan biasa, sup ayamnya lumayan enak.
Tapi pria itu tak tampak peduli. Ia sibuk memperbaiki letak sprei, bantal dan guling di atas tempat tidur, membereskan buku-buku komik yang berserakan menjadi tumpukan di atas nakas. Tak sampai lima menit, tempat sampah di kamar Ave sudah penuh. Ave benar-benar kagum pada kemampuannya membersihkan kamar. Tanpa sadar ia menghabiskan makanannya.
Setelah melihat mangkuk Ave kosong, Zaid membantu Ave membuka bungkus obat dan menyodorkan padanya. Ave tersenyum senang. Sudah lama ia tidak dimanjakan seperti ini.
Usai makan, Ave kembali berbaring, sementara Zaid membawa nampan keluar dan tangannya otomatis menekan saklar lampu, tapi...
"Aah! Jangan!" pekik Ave.
Buru-buru Zaid menekan tombol saklar lagi. Tampak napas Ave tersengal-sengal. "Kamu... takut?" tanya Zaid sembari meletakkan kembali nampan ke meja dan mendekati Ave.
Ave mengangguk. "Ave gak mau gelap-gelapan, Pak!"
"Takut?" tebak Zaid.
Kata takut membuat harga diri Ave terluka, jadi ia menggeleng. "Enggak, Pak! Gak takut sih... cuma kuatir aja."
"Kuatir?"
"Iya, kata orangtua kan kalo gelap-gelapan entar ditemani setan. Ave gak mau temenan sama setan. Hehe... " kata Ave sambil tertawa.
Zaid juga tak bisa menyembunyikan rasa gelinya. "Kamu itu... sakit sakit gitu masih bisa becanda. Lagipula pesan itu maksudnya kalo kamu lagi berdua-duaan sama cowok, Ve. Bukan saat tidur sendirian begini." Sambil bicara, Zaid menyalakan lampu tidur di atas nakas. "Kalo terang begini, entar kamu susah tidur. Saya nyalakan ini, tapi lampu kamar saya matikan ya?"
"Enggaak!" rengek Ave.
Zaid menghela napas. "Ya udah saya temani."
"Entar kita jadi ditemani setan dong!" tukas Ave. Tapi kemudian ringisan kecilnya muncul lagi. Nyeri itu datang.
"Udah tidur aja, saya yang bakal nego sama setannya. Gak usah temenan sama Ave. Musuhin aja. Ave cocoknya jadi malaikat aja," kata Zaid asal. Mungkin karena terlalu sering mendengar kalimat-kalimat absurd ala Ave, akhirnya ia bisa dengan mudah mengeluarkan kalimat sejenis.
Setelah lampu tidur menyala dan lampu kamar dimatikan, Zaid duduk di kursi dekat meja rias. Tapi setelah berpikir lagi, ia pindah duduk di lantai sambil bersandar di tepi tempat tidur Ave. Sejenak mereka saling berdiam diri, hanya terdengar suara Ave yang gelisah bolak-balik di atas tempat tidur. Bagaimana ia bisa tidur ketika ada seorang pria duduk di lantai kamarnya? Membentuk siluet yang nyata bahwa ia bukan mimpi.
"Ve?" panggil Zaid. Lembut. Ia tahu Ave belum tidur.
"Hmmm?" sahut Ave.
"Masih sakit?"
"Udah kurang."
"Apa selalu begini tiap bulan?" tanya Zaid sambil menoleh sedikit. Ave telah menghadap ke arahnya sekarang. Tidur menyamping.
"Enggak juga. Tapi bulan kemarin Ave gak dapet. Mungkin karena itu sekarang malah sakit banget."
Kali ini Zaid benar-benar menghadap ke arah tempat tidur. "Kamu udah pernah periksa ke dokter?"
Hening cukup lama sebelum akhirnya terdengar suara berbisik, "Ave takut."
"Takut? Kenapa takut, Ve? Kalau kamu sakit, bisa segera diobati."
"Ave takut sakit seperti Mama. Ave gak mau."
Zaid teringat cerita Ave kalau Mamanya meninggal dunia karena kanker. Ia menghela napas. "Ada saya sekarang, Ve. Kamu gak perlu takut."
"Pak?"
"Hmmm?"
"Jangan terlalu baik sama Ave, Pak! Ave banyak salah sama Bapak."
Mata Zaid menatap lurus pada Ave. "Kalau begitu, nikahi saya, Ve! Perbaiki kesalahanmu dengan mencintai saya!"
Lama mereka saling memandang, sebelum akhirnya Ave tersenyum kecil. "Bapak pernah punya impian?"
__ADS_1
Zaid tak menjawab. Ia tahu Ave sedang ingin menjelaskan sesuatu.
"Ave punya impian yang sedang ingin Ave wujudkan, Pak. Impian itu lebih penting daripada semua urusan di dunia ini. Impian itu juga janji Ave ke Mama. Sebelum impian itu terwujud, Ave belum terpikir apapun. Soal kesalahan, Ave janji akan memperbaikinya nanti."
"Tapi kita bisa mewujudkan impian kamu bersama-sama, Ve." Tak ingin kehilangan kesempatan meyakinkan Ave, Zaid berdiri dan duduk di tepi tempat tidur.
"Eits! Ini Bapak udah temenan nih sama setannya?" elak Ave sambil tertawa. Ia bergeser menjauh.
Tapi tak ada keriangan muncul di wajah Zaid. Ia menatap tajam. "Jangan mengalihkan pembicaraan terus, Ve!"
Ave bangun dari tidurnya, duduk. Perutnya terasa nyeri lagi, tapi ia harus menjelaskan pada Zaid. "Ave gak ingin minta bantuan siapapun, Pak. Bahkan dari kakak sendiri pun, Ave gak mau. Apalagi sama Bapak. Bapak sudah mau nerima Ave jadi karyawan dan koki di sini aja itu udah cukup. Gak perlu ditambah."
"Tapi apa kamu yakin kamu gak cinta sama saya, Ve?" tanya Zaid lagi. Ia tak ingin menyerah kali ini. Kakaknya sudah tahu, teman-temannya sudah tahu... ia tak mau menunggu terlalu lama.
Sunyi lagi. Keremangan suasana makin membuat kesunyian itu sangat terasa.
"Kamu benar-benar gak cinta sama saya, Ve?" ulang Zaid sedikit mendesak sambil menatap Ave dengan lembut. Bergeser lebih dekat. Matanya begitu dalam, menyelidik, menunggu apapun yang akan terlihat di mata Ave.
Dengan wajah Zaid yang begitu dekat, menatap dirinya seperti ini, Ave tak bisa menghindar. Bibirnya mungkin terkunci tapi ia tak bisa membohongi perasaannya. Tapi ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena ia takut mimpinya lenyap seketika. Bukan juga karena ia takut kehilangan kesempatan. Tidak... Bukan itu lagi. Ia tahu Zaid adalah bagian dari mimpinya.
Ave takut, jika pria ini akhirnya menemukan alasan di balik semua yang dilakukan Ave, Zaid tak akan memaafkan dirinya. Ave takut, saat semua berakhir ia akan menyakiti hati Zaid. Sembari berusaha keras tetap tenang, Ave hanya bisa mengerjapkan matanya dua kali, yang justru ditanggapi berbeda oleh Zaid. Pria itu tersenyum makin lama makin lebar.
"Satu kali ya, dua kali artinya tidak," gumam Zaid pelan, lalu ia menunduk. Mendekati wajah Ave, menempelkan bibirnya pada bibir Ave, mengalirkan kehangatan. Sangat perlahan.
Ave tak berani bergerak. Kontan ia menutup matanya rapat-rapat. Takut seluruh emosinya terbaca.
"Ve, menikahlah dengan saya!" pinta Zaid sekali lagi usai mencium sekilas. Lebih lembut. Lebih memohon.
Mata Ave menatap Zaid tanpa ekspresi. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mengatakan yang sebenarnya jelas tidak mungkin, tapi mengiyakan permintaan itu juga tak mungkin dengan semua rahasia yang ia simpan sendiri. Sambil berusaha tetap tenang, Ave tersenyum sangat manis pada Zaid.
"Lalu bagaimana dengan Mbak Maya? Bagaimana dengan Mbak Alin, Mbak Rose... ?"
"Di saat begini kamu mikirin mereka?" tanya Zaid tak percaya.
Ave mengangkat bahu. "Kan kata Bapak, Ave ini malaikat. Malaikat Ave gak mau nyakitin orang."
"Tapi tiap hari kamu nyakitin saya!" sergah Zaid.
"Ih, bodo... Bapak kan temennya setan. Kalo orang naik haji disuruh lemparin batu ke setan lo!" Ave tertawa geli.
"Nah itu lagi-lagi nyakitin." Lalu keduanya tertawa bersama-sama. Tanpa sadar, Zaid telah meraih tangan Ave, meremasnya lembut. "Tega kamu lemparin batu ke saya."
"Ve, saya akan menunggu sampai kamu bilang iya. Saya akan melamarmu tiap hari sampai kamu terima. Saya akan... "
"Jangan berjanji begitu tah, Pak. Bilang gini 'Saya akan membelikanmu es krim tiap hari!' terus 'saya akan naikin gajimu tiap bulan'... Gituuu!" potong Ave memamerkan senyum lebarnya.
Mata Zaid menyipit. "Beneran cuma itu? Terus lamaran saya diterima kan?"
Lagi-lagi Ave tak menjawab, hanya tertawa untuk menutup obrolan mereka yang makin melebar tak jelas. Sayangnya nyeri itu kembali datang dan ia terdiam sambil meringis.
Buru-buru Zaid meminta Ave untuk kembali berbaring dan kali ini ia tak lagi duduk di lantai, tapi duduk persis di sebelah Ave yang berbaring. Ia berjanji akan tetap menemani Ave sampai gadis itu tidur. Lalu ia mengambil salah satu komik Ave yang bertumpuk di atas nakas. Mencari kesibukan sampai Ave tidur.
Baru sesaat, Zaid malah berkomentar. "Ini komik apaan sih, Ve? Kok gambarnya ginian?" tanya Zaid sambil memperlihatkan lembaran yang sedang ia baca.
Dengan malas, Ave membuka matanya yang mengantuk. Tepat di depan hidungnya, ada gambar sepasang sejoli tengah berciuman mesra, dilengkapi dengan bunga-bunga bertaburan. Satu halaman penuh. Rona merah seketika muncul di wajah Ave, buru-buru ia merampas komik itu dan menyelipkannya di bawah bantal.
Zaid hanya tersenyum geli, tak lagi berani melanjutkan candaan. Ia tahu kalau ia meneruskannya, Ave akan mengusirnya dari kamar.
Tapi hingga Ave tertidur, gadis itu tak mau lagi menghadap ke arah Zaid. Ia terlalu malu.
Sebelum keluar dari kamar gadis itu, Zaid memperbaiki cara tidur Ave yang unik. Gaya kura-kura menjadi gaya manusia normal. Setelah meninggalkan kecupan ringan di dahi Ave, Zaid meninggalkan kamar dengan hati bahagia.
Ia tak lagi perlu kata-kata. Ia sudah memenangkan hati Ave. Saatnya untuk menjelaskan pada seluruh dunia sebelum menjalankan tujuan utamanya. Ave boleh punya impian, dan gadis itu boleh melakukannya. Tapi Zaid juga punya impian sendiri, dan ia lebih suka menyimpannya hingga Ave selesai mewujudkan apapun impiannya itu.
*****
__ADS_1