Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 70 - A Father and A Lover (1)


__ADS_3

~ Saya mencintai Ave karena dia... ceroboh, pelupa dan... bandel ~


Zaid memandangi pesan masuk di ponselnya. Dari Danu, asisten Ajie.


[Danu: Ajie setuju. 3 hari.]


Setelah berpikir dan berbicara dengan teman-temannya termasuk meyakinkan Natasha, Zaid memutuskan untuk ke Malaysia selama beberapa minggu sampai sisa waktu Avelia bekerja di The Crown.


Semalam, Zaid menghubungi Ajie dan meminta waktu. Ajie memberinya waktu tiga hari.


Ajie mengira Zaid akan pergi untuk sementara sampai Avelia selesai. Selama Zaid tidak ada, Ajie yang mengurus The Crown.


Pria itu akan mengembalikan perusahaan itu beserta saham yang ia miliki pada Zaid setelah dua bulan. Tapi Ajie tak tahu, Zaid tak pernah berniat menerimanya.


Dalam rencana Zaid, ia perlu tiga hari sebelum pergi untuk berbicara pada orang-orang terdekatnya, meyakinkan mereka untuk tetap bekerja di The Crown, siapapun yang akan menjadi presiden direkturnya. Ia juga perlu waktu untuk memastikan Avelia tidak mencurigai kepergiannya dan tetap bersedia menunggu seperti biasa. Zaid juga perlu menyusun langkah agar nanti ia bisa kembali dan meluluhkan kekerasan hati Ajie.


Zaid yakin, Ajie akan mau mendengarnya kalau mereka banyak berkomunikasi karena The Crown. Lagipula sekarang Ajie tidak lagi memaksakan Avelia untuk kembali ke rumahnya, ia membiarkan Avelia tetap di rumah Zaid meski setengah mengancam.


Tapi Zaid tak pernah menyangka, orang yang tak pernah ia perhitungkan justru menghubunginya pagi-pagi.


Agar tak memberi kesan buruk, sejak dari rumah Zaid mengemudikan mobil sambil menyusun kata-kata saat menghadapi ayah dari kekasihnya itu. Zaid tak ingin ia salah langkah.


Saat memasuki restoran, Zaid melihat seorang pria paruh baya berdiri dan kemudian mendekatinya.


"Dengan Mas Zaid Zabir?" tanya pria setengah baya itu.


"Betul, Pak..." jawab Zaid.


Pria itu mengulurkan tangannya. "Harun! Nama saya Harun. Supirnya Pak Fariz."

__ADS_1


"Baik, Pak Harun," balas Zaid sambil menjabat tangan Pak Harun.


Dengan kode tangannya, Pak Harun mengajak Zaid menuju ke lantai dua cafe itu. Mereka tidak berhenti sampai memasuki bagian dalam restoran dan berhenti di depan sebuah pintu.


"Di dalam sudah ada Pak Fariz. Silakan masuk, Mas!" kata Pak Harun lagi sambil membuka pintu. Zaid mengucapkan terima kasih singkat dan masuk.


Seorang pria bertubuh tambun duduk menunggu sembari memandangi layar Ipad. Begitu melihat Zaid, pria itu berdiri, tersenyum ramah dan meletakkan ipadnya. "Assalamualaikum, Mas... Zaid bukan?"


"Waalaikum salam. Betul, Pak," jawab Zaid mengangguk hormat.


"Duduk! Duduk!" katanya mempersilakan setelah mereka saling berjabat tangan.


Zaid mengikuti permintaannya. Setelah itu Pak Fariz memperhatikan Zaid dan mengangguk puas.


Zaid tak bisa menyembunyikan senyumnya. Walaupun sudah sering melihat foto Pak Fariz di media dan berulangkali melihatnya di berbagai acara pertemuan bisnis, baru kali Zaid melihatnya dari dekat. Ia bisa melihat mata dan garis senyum yang sangat mirip dengan Ave. Bahkan cara mata Pak Fariz memandang seseorang, bagai pinang dibelah dua dengan Ave. Mirip sekali.


Sementara Pak Fariz juga mulai menilai dengan memperhatikan Zaid.


Sungguh anak muda ini tidak kalah dibandingkan dengan Elang ataupun Ajie. Tinggi badannya juga di atas rata-rata, dan jika berdiri dengan anak gadis mungil seperti Avelia, orangtua manapun pasti yakin kalau pemuda ini akan melindungi dan menjaga putri mereka dengan baik.


Pak Fariz sudah mendengar laporan singkat Pak Harun mengenai keluarga Zaid. Dibandingkan Elang yang merupakan pewaris tunggal kerajaan bisnis orangtuanya, Pak Fariz lebih mengagumi pemuda di depannya ini karena ia berhasil membangun usahanya sendiri.


Zaid memang punya masa lalu yang pahit, tapi ia berhasil melewati semua itu dan bangkit. Tanpa keluarga. Tanpa bantuan siapapun. Jelas sekali, Zaid bukan pemuda sembarangan. Ia seorang pejuang.


Namun Pak Fariz hanya bisa menghela napas. Menyerah dengan kenyataan yang ada.


"Saya sudah dengar dari Ajie semuanya."


Pak Fariz akhirnya membuka obrolan tentang Ave. Mereka sama-sama tidak makan dan hanya memilih memesan teh dan beberapa makanan kecil. Zaid tidak menjawab. Ia sudah bisa menduga alasan Pak Fariz menemuinya.

__ADS_1


"Boleh saya tahu apa alasanmu suka sama Ave, Nak?" tanya Pak Fariz.


Zaid mengingat-ingat. "Karena dia... ceroboh, pelupa dan... bandel," jawabnya sambil tersenyum.


Mata Pak Fariz terbelalak sedikit. Ia tak bisa menghentikan senyum gelinya."Itu alasannya? Hmmm... Kenapa? Orang lain kalau ditanya pasti karena anak saya itu cantik, pintar dan lucu. Kok kamu malah suka karena itu?"


Mata Zaid bersinar. Pak Fariz langsung melihat cinta di sorot mata yang teduh itu. Hati Pak Fariz seperti disentuh sesuatu yang hangat.


Zaid memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum. "Itu karena... mungkin karena saya selalu kuatir padanya, Pak. Saya kuatir dia lupa makan, lupa tidur dan lupa istirahat. Saya juga kuatir apakah dia berhati-hati saat di jalan atau tidak. Atau dia makan sesuatu yang mungkin berbahaya. Itu sebabnya saya yakin kalau dia gak di dekat saya, saya gak akan berhenti kuatir. Mungkin karena itu jadi saya jatuh cinta karena dia ceroboh, pelupa dan sedikit bandel itu. Kalau Ave gadis yang... sempurna, mungkin dia tidak akan pernah memerlukan saya."


Tawa Pak Fariz pecah."Ha ha ha. Benar-benar alasan yang bagus, Nak! Sebagai orangtuanya, saya tahu betul maksudmu itu. Setiap orangtua gak akan melihat kesempurnaan anaknya, mereka selalu mengkuatirkan kekurangannya."


"Lalu kenapa Bapak tidak membiarkannya melakukan apa yang dia sukai?" tanya Zaid. Pelan tapi tajam.


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat tawa Pak Fariz seketika menghilang, lalu ia menatap sendu saat kembali bicara. "Pasti soal cafe itu ya? Mungkin kamu belum mengerti, Nak. Nanti kalau kamu jadi ayah baru mengerti. Saya hanya tidak ingin putri saya satu-satunya harus bekerja susah payah melayani orang. Gak tega."


"Karena Bapak pernah membiarkan Ave hidup sendirian di Sydney?" selidik Zaid.


Pak Fariz mengangguk. Raut wajahnya mulai suram. Helaan napasnya terdengar berat. "Iya, karena itu. Saya baru tahu dari Grandpa-nya kalau selama Ave di sana ia bekerja paruh waktu. Saya benar-benar merasa bersalah dan tidak ingin membuat Ave mengalaminya lagi. Cukup tutup saja babak itu."


"Apa Bapak pernah berpikir kalau mungkin saja babak itu justru bagian terbaik dari hidup Ave?" ucap Zaid sambil tersenyum simpul.


"Maksudmu apa, Nak?" tanya Pak Fariz heran.


"Ave cerita ke saya kalau saat ia bekerja di dapur, melayani orang dan bertemu banyak teman baru adalah terapi yang baik untuk melupakan kesedihannya," jawab Zaid masih perlahan namun tetap tegas. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Pak Fariz.


"Benarkah?"


Zaid mengangguk dan meneruskan penjelasannya."Dia juga bilang, memasak itu mengingatkan pada almarhumah Mamanya. Memasak berarti memberikan kebahagiaan dan kegembiraan. Ave bilang, dia ingin membangun Cafe agar bisa menjadi tempat keluarga, para kekasih yang lagi jatuh cinta dan para sahabat untuk berkumpul. Tempat orang-orang merasa memiliki tempat selain rumah. Homey dan cozy. Ia menyebutnya seperti itu."

__ADS_1


Pak Fariz terdiam mendengar penjelasan Zaid. Ia benar-benar tak tahu alasan putrinya itu begitu tulus.


__ADS_2