
~ Jangan bilang selamat tinggal, bilang saja terima kasih dan maaf! ~
Di depan lobi rumah sakit, Ave menghela napas dan menunduk sambil berdiri menunggu. Dua bulir airmata jatuh di atas sepatunya. Tanpa suara, tetes demi tetes mulai berjatuhan. Sampai ia mendengar deru motor yang datang dari kejauhan. Bergegas, Ave mengusap airmatanya sambil memasang senyum selebar mungkin di wajahnya.
Motor besar itu baru saja keluar dari tempat parkir. Penunggangnya tampak gagah. Sambil menekan rahang dengan giginya sendiri, Ave menahan tangis. Berusaha tetap tersenyum.
"Maaf lama, tadi nyari tiket parkiran dulu!" seru Zaid sambil membuka kaca helmnya.
Wajah Zaid terlihat merah padam. Matanya dan ujung hidungnya juga memerah. Mungkin kepanasan, duga Ave dalam hati.
Zaid memarkirkan motornya dan turun dari motor sambil mengulurkan sebuah helm lain pada Ave. Ia juga melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Ave. Tak sia-sia tadi ia singgah membeli jaket dan helm untuk Ave selama menunggu kabar sepanjang hari ini.
"Gak papa, Mas. Gak buru-buru juga," jawab Ave sambil mengulurkan tangan untuk mengambil helm.
Andai Ave bisa menghentikan waktu saat ini.
Tapi Zaid tak memberikan helm padanya. Pemuda itu hanya tersenyum kecil sebelum memasangkan helm ke kepala Ave dengan perlahan. Sangat berhati-hati. Ia menyapu pelan rambut Ave dan merapikannya setelah helm terpasang.
"Kalau pakai helm, jangan lupa pasang kuncinya ya Ve! Selalu."
Ave hanya mengangguk. Bibirnya kembali bergetar menahan tangis. Lalu dengan senyum dipaksakan, ia berkata, "Ayo, kita pulang!!"
"Ke rumah... Papa?" tanya Zaid pelan.
Ave tak menjawab. Hanya tersenyum. Tapi Zaid tahu jawabannya. Ia pun mengangguk.
Begitu Ave berpaling, wajah Zaid berubah muram. Namun, ia tetap membantu Ave naik ke motor dengan memegang tangan Ave yang bertumpu pada bahunya.
Motor melaju dengan kecepatan rendah, terlalu rendah sehingga Ave berani tak berpegangan. Ia hanya memegang ujung kemeja Zaid, tanpa kekuatan sama sekali.
"Kalau begini kapan sampainya, Mas?! Buruan laju dikit!" teriak Ave mengalahkan suara deru motor dan kendaraan yang berlalu lalang.
Kepala Zaid menyamping sedikit. "Kalo gitu pegang yang kuat!" seru Zaid tak kalah kencang.
Sedikit kedut di ujung bibir Ave muncul lalu ia memeluk erat punggung Zaid. Sebelum memutar pelan cengkeramannya, Zaid menarik napas panjang.
Ave sengaja meminta Zaid melajukan motornya, ia ingin memeluk pria itu sepuas hatinya. Ave berharap kenangan ini akan tinggal di hatinya. Lagipula, jika saat ini ia mencoba bicara, Ave kuatir malah tak bisa menahan emosinya sendiri.
Sejak awal, semua terasa sangat manis. Zaid memang dingin, tapi sejak ia bertemu pria ini, Ave selalu merasakan kehangatan dan perlindungan. Semua yang biasanya hanya ia dapat dari Papa dan Ajie. Itu sebabnya Ave tak pernah merasa sendirian dalam usahanya mewujudkan Cafe impiannya.
Sekarang, apalah arti semua mimpi yang terwujud jika tak ada Zaid di sana. Pada siapa ia berbagi kebahagiaan dan rasa syukur nanti?
Perlahan air mata Ave mengalir keluar. Tapi angin menyapunya pergi. Andai kesedihan di hati Ave juga ikut melayang jauh.
Zaid tahu, Ave tahu ini mungkin perjalanan mereka yang terakhir. Zaid tak ingin mengucapkan selamat tinggal, ia hanya ingin meninggalkan Ave dengan kenangan terbaik.
Ave, putri pengisi relung hati yang tak pernah ia sangka. Datang ketika Zaid mengira ia benar-benar tak bisa mencintai siapapun, menerobos dinding kerajaan hatinya yang dingin.
Gadis periang yang selalu membuatnya terbangun penuh semangat. Karena Ave, ia belajar tersenyum. Karena Ave, ia belajar menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya. Ave, putri matahari yang hadir menyinari hidupnya yang gelap.
Saat dulu Zaid melakukan kesalahan itu, ia tak pernah mengira akan berdampak hingga sejauh ini. Siapa mengira perbuatan yang hanya karena ikut-ikutan dan iseng itu berujung dengan kehilangan semua yang tersisa darinya? Kapan semua ini akan berakhir?
Setelah ia kehilangan orangtuanya, setelah ia kehilangan gadis yang dicintainya. Sekarang apa lagi yang tersisa darinya?
Terbayang kembali kata-kata Ajie yang tajam.
"Aku tidak akan menuntut hubungan kalian putus. Juga tidak akan mengganggu hubunganmu dan Ave. Tapi meskipun Ave adalah adikku satu-satunya, jangan mengharapkan restu atau bantuan apapun dariku."
Lalu terngiang kata-kata Papa Ave.
__ADS_1
"Saya tidak berani mengambil resiko yang lebih buruk, Nak Zaid. Kehadiran Lily sangat membantu saya, tapi kehadiranmu... saya benar-benar kuatir. Ave dan Ajie sama-sama keras kepala. Sebagai papa mereka, hati saya sangat sedih kalau melihat anak-anak saya ribut..."
Zaid tak bisa menahan lagi emosinya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca. Untuk kedua kalinya, ia menyesali perbuatannya.
Aku mencintai gadis yang memeluk punggungku dengan hangat, yang membebaskanku dari kesepian. Tapi kenapa ia harus menjadi adik kandung Ajie?
Setelah mengurangi kecepatan motor lebih dari setengahnya, tangan Zaid melepas salah satu cengkeramannya pada kemudi, perlahan ia meremas tangan yang mendekap pinggangnya. Mengaitkan kelima jarinya pada lima jari milik gadis itu. Saling menggenggam, saling mengalirkan kekuatan.
Mereka harus tetap tabah. Mata pria itu tetap lurus ke depan, ke jalan yang terasa panjang dan sepi. Dadanya terasa berat, berbagai macam perasaan menindih jalan napasnya. Zaid ingin terbebas dari bebannya yang menyesaki dadanya. Tapi tanpa Ave, apalah artinya.
Ave bisa merasakan kegalauan dari kehangatan tangan yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya. Ia memejamkan matanya dan sekali lagi air matanya mengalir. Dipeluknya punggung Zaid makin erat.
Tuhan, ini sungguh berat. Kenapa Ave harus memilih antara kakak dan kekasih? Ini berat sekali. Ini seperti menusuk sebelah jantung untuk menyelamatkan sebelah jantung lainnya. Sama-sama menyakitkan.
Sekali lagi satu isakan tak tertahan mengiringi dua aliran airmata Ave.
Tanpa terasa, motor besar itu sampai di depan rumah besar berpagar otomatis. Rumah Papa Avelia. Perlahan, Zaid memelankan laju motor dan berhenti tepat di depan pagar besar itu.
Sambil menghapus sisa-sisa air matanya, Avelia turun dari sadel motor. Seperti saat memasangnya, Zaid juga membantu gadis itu melepas helm. Dengan lembut, Zaid menyapu anak rambut Ave yang menutupi wajahnya.
"Pasti gak enak ya naik motor begini. Matamu sampai merah dan berair begitu, Ve," kata Zaid, tersenyum tipis. Ia masih duduk di atas jok motornya. Berusaha tetap tenang, dan pura-pura tak tahu kalau Ave baru saja menangis.
Ave menggeleng. Tersenyum di antara matanya yang berair. "Enggak ini tadi kena debu dikit. Gak papa kok, Ave sekarang suka naik motor ini. Apalagi kalo kayak tadi."
"Supaya bisa meluk Babang tamvan gratis ya?" goda Zaid.
Ave tertawa kecil, mengangguk sebelum menatap Zaid.
Zaid menatap Ave dengan penuh cinta. Lalu ia berkata, "Ve, aku ada teka-teki."
"Apaan? Hari gini ngasih teka-teki."
"Mmmm.... ****?" tebak Ave.
Zaid tertawa. "Itu yang dipikirkan... Monyet, ha ha ha!" katanya sambil menekan dahi Ave.
"Iiih, terus Mas yang jadi babinya? Enak aja ngatain Ave." Bibir Ave pun cemberut. Tapi hanya sesaat.
Tawa keduanya pun pecah, namun dengan cepat keceriaan itu tersapu oleh dinginnya malam.
"Ve, kamu tidak perlu memilih. Jangan menjadi seperti raja itu. Kita sudah tau kewajiban yang harus kita lakukan. Orangtua selalu nomor satu. Jadi ikuti saja itu. Jangan marah pada siapapun. Kamu mengerti kan, Ve?" gumam Zaid perlahan.
Saat itulah, Ave melihat sekelebat kesedihan di sorot mata yang selalu memandangnya dengan hangat itu. Bibir Ave bergetar dan ia menunduk. Berusaha keras menahan tangisnya yang sudah nyaris jebol.
"Kenapa, Ve? Tumben kamu gak bisa bales teka-tekiku?" tanya Zaid lagi. Masih menggodanya. Masih tersisa senyum menggantung di wajahnya yang pucat.
Ave menggigit bibirnya, sebelum berusaha tersenyum dan kembali mengangkat kepalanya. Tapi matanya yang berkaca-kaca membuat Zaid mengerti. Ave sama sedihnya dengan dirinya.
"Mas tuh... matanya juga merah. Kayaknya tadi kita habis ngelewatin gurun pasir ya. Debunya banyak," seloroh Ave berusaha memancing tawa. Tanpa sadar tangannya terangkat dan mengusap mata Zaid dengan ujung jempolnya.
Satu tindakan sederhana, tapi membuat Zaid tak lagi bisa mempertahankan seluruh emosinya. Dengan cepat ia menangkap tangan Ave. Sambil menunduk, ia menggenggam tangan gadis itu dan mengelusnya perlahan. Zaid tak menangis. Hanya ia benar-benar merasa tak berdaya.
Melihat kepala Zaid yang menunduk lesu, isak Ave pun pecah. Kesunyian malam itu kembali, hanya menyisakan isakan seorang gadis yang enggan melepaskan genggaman tangan kekasihnya.
Sambil terus menangis, perlahan-lahan kaki Ave melangkah maju. Tanpa peduli mereka sedang berada di tempat terbuka, ia memeluk leher Zaid. Dan tangan Zaid mengelus pelan punggung Ave, menguatkannya.
Inilah perpisahan, tanpa kata-kata. Tapi Ave dan Zaid sama-sama tahu.
Ada cinta yang harus diakhiri, ada kisah yang tak lagi bisa diteruskan. Sebesar apapun cinta yang mereka rasakan, mereka tak bisa bersikap egois.
__ADS_1
"Jangan sering menangis ya, Ve. Kamu harus tetap jadi Ave yang lucu ya," bisik Zaid menyapu lembut telinga Ave, tangan mengusap pelan punggung Ave.
Ave hanya bisa menangis tersedu-sedu.
"Maafkan... aku, Ve. Maafkan aku, Matahari kecilku sayang," bisik Zaid lagi dengan mata yang mulai basah walaupun bibirnya tetap tersenyum.
Ave kehilangan kata-kata. Tangisnya berubah menjadi sesegukan yang semakin sulit dikendalikan. Berulangkali tangannya mengusap, menghapus airmata yang tak kunjung berhenti.
Beberapa menit berlalu, sampai keduanya sanggup melepaskan diri. Wajah Ave yang dipenuhi airmata, dihapus lembut oleh Zaid dengan sapu tangan miliknya.
Zaid tertawa pahit. "Kamu benar-benar keliatan jelek sekarang, Ve. Yakin bisa menemukan calon suami lebih baik dari aku nanti?"
Ave memasang senyum dengan mata sedih. "Tentu saja! Ave akan cari suami yang lebih tampan, lebih kaya dan gak jahil kayak Mas."
Kepala Zaid mengangguk, tulus berdoa kalau itu benar-benar akan terjadi. "Harus... Cari yang lebih baik dari aku. Jangan lupa undang aku kalo kamu nikah!"
"Ave juga ya. Mas jangan lupa undang Ave kalau... "
"Aku tidak akan menikah jika perempuan itu bukan kamu, Ve," potong Zaid dengan senyum getir. Kali ini matanya mulai melembab. Ia mulai sulit menahan diri.
Senyum Ave lenyap dan kembali ia diam menatap Zaid dengan airmata yang terus berderai.
Dalam hati juga ia berkata, Ave juga gak akan menikah jika laki-laki itu bukan Mas Zaid.
Sambil menghela napas panjang, Zaid memandangi helm dan jaket yang tadi dipakai Ave, lalu ia mengulurkannya pada Ave. "Simpanlah!"
"Ini... "
"Tidak akan ada lagi perempuan selain kamu yang akan kubonceng, Ve. Simpanlah! Hadiah dariku!"
"Mas tau kan Ave gak pernah mau barang bekas orang!"
"Helm itu baru, hanya dipakai olehmu, kubelikan untukmu dan sekarang kuberikan hanya untukmu, Ve. Gak ada yang lain."
Ave tersenyum. Tapi air mata masih membasahi wajahnya. Perlahan ia mengangguk dan menerimanya. Sambil memandangi Zaid memakai helmnya sendiri.
"Aku pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya. Maaf... untuk semuanya," gumam Zaid dengan suara dalam yang penuh beban.
Hanya anggukan yang bisa diberikan Ave, sebelum deru motor kembali terdengar. Lalu dalam sekejap, sosok Zaid berubah menjadi bayangan memanjang yang makin lama makin menjauh sebelum akhirnya lenyap di antara kendaraan yang ramai berseliweran. Pandangan Ave juga makin lama makin kabur tertutup oleh air matanya yang terus berderai tanpa henti.
Selamat tinggal, Mas Zaid!
Terima kasih dan maaf. I'll always love you...
****
S.E.L.E.S.A.I
....
....
....
Maksudnya selesai update untuk minggu ini sampe sini dulu. Jangan pada emosi donk aaah!
Bagian paling menyedihkan ya... I am so sorry!
/(T_T)*
__ADS_1
Iin Ajid*