Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 33 - The Reason Why She Said No


__ADS_3

~ Karena cinta saja tak cukup untuk  memulai sebuah hubungan. (Ave) ~


Saat kaki Ave melangkah masuk, pintu rumah tak terkunci. Jadi ia yakin, Zaid ada di dalam. Apalagi terdengar suara televisi menyala di ruang keluarga.


Ia sedikit kuatir, bos berwajah dingin itu akan marah padanya setelah keisengannya pagi tadi. Tapi walaupun kuatir dan sedikit takut, Ave tak ingin menghindar. Ia bisa memikirkan cara lain untuk menghindar. Yang penting sekarang, memastikan pria itu makan siang dulu.


Hanya saja ketika Ave masuk ke ruang keluarga. Tak ada siapapun di situ. Televisi berlayar 42 inch itu menyala tanpa ada yang menonton. Ave pun mematikan TV.


Sambil celingukan, Ave memeriksa ke dapur dan meninggalkan bungkusannya di meja makan, lalu naik ke kamar dan ruang kerja Zaid. Ia bahkan memeriksa toilet dan kamar mandi. Juga sempat memeriksa area kolam renang, paviliun dan taman belakang. Kosong. Tak ada siapapun. Hanya tinggal satu ruang yang belum ia periksa selain halaman depan. Garasi.


Benar saja, ada seseorang sedang duduk di samping motor besar yang terparkir di sisi mobil. Tanpa melihat wajahnya, Ave bisa menebak kalau itu Zaid.


Namun, bukannya menegur, Ave malah bersandar di dinding dan memperhatikan pria itu dari jauh. Menikmati pemandangan yang selalu disukainya. Pria tampan yang sedang bekerja.


Kedua tangan tampak sibuk, salah satunya memutar, yang lainnya memegang alat dengan kokoh. Otot-otot tangannya terlihat jelas karena tubuhnya hanya terbalut kaus oblong putih itu sudah basah oleh keringat. Hanya sebagian wajahnya yang bisa terlihat Ave, tapi bagian itu justru yang terbaik. Hidungnya yang tinggi, dahinya yang dipenuhi anak rambut yang berjatuhan tampak menempel, bibirnya yang seperti ikut bergerak mengiringi gerakan tubuh dan tangan, serta tatapan serius dari matanya yang tajam. Tak seperti para montir yang terlihat kotor dan lusuh, pria tampan di depan matanya ini justru terlihat seksi.


Tanpa sadar Ave mengambil ponsel dari saku celananya dan ketika ia membuka ponsel dengan pola garis yang biasa ia pakai untuk ponselnya sendiri, suara penolakan terdengar. Ave baru ingat... ia hampir saja memakai kamera ponsel milik Zaid untuk memotret pria itu sendiri.


Suara ponsel itu juga terdengar oleh Zaid. Ia menatap Ave dengan mata menyipit. "Kamu ngapain di situ? Bukannya tadi pulang? Ngerasa bersalah?"


Buru-buru Ave memasukkan kembali ponsel itu. "Eh itu... Maaf ya Bapak ganteng. Maaaaf banget. Ah iya, Ave bawa makanan, Pak. Bapak belum makan kan?" Ia berjalan mendekati Zaid.


Kedua tangan Zaid turun, berhenti bekerja. "Kalo hari Sabtu Minggu kamu bebas, Ve. Gak perlu mikirin makanan saya. Saya bisa pesan atau... masak sendiri."


"Tapi Ave gak enak bayangin Bapak makan siang sendiri!"


Zaid terdiam. Ia hanya tersenyum tipis. Lalu sambil melanjutkan pekerjaannya, Zaid berkata, "Saya udah biasa, Ve."


Ave berjongkok di samping Zaid. "Bapak gak datangin orangtua Bapak?"


"Kenapa? Pengen ketemu calon mertuamu?" goda Zaid sambil melirik sedikit.


"Idiiih! Enggak, Bapaaak! Ini Ave nanya serius loh."


"Orangtua saya bercerai. Mereka sudah punya keluarga masing-masing. Ibu saya juga sudah tiada."

__ADS_1


Tak biasanya Zaid mengatakan sejarah keluarganya pada orang lain. Bahkan pada teman-teman dekatnya. Tapi ia ingin Ave mengenalnya dengan baik, walaupun ia tak yakin gadis itu mengerti.


"Kalau begitu kenapa gak giliran? Hari ini di rumah keluarga bapaknya Bapak, minggu depan di rumahnya keluarga ibunya Bapak. Pasti masih ada kan. Biar adil. Biar Bapak gak makan sendirian."


Seandainya masalah itu sesederhana pemikiran Ave, mungkin Zaid bisa melakukannya. Tapi keluarganya sangat rumit. Zaid memilih menghindari mereka, daripada mendatangkan masalah baru dalam hidupnya.


Ave masih terus bicara. "Papa Mama Ave juga bercerai. Tapi Papa tetap menelepon Ave walaupun kami dulu tinggal beda... beda rumah. Kadang Ave juga liburan sama Papa."


Zaid menoleh pada Ave. "Papamu menikah lagi? Atau Mamamu punya suami lagi?"


Ave menggeleng.


"Nah itu! Beda dengan saya. Ibu bapak saya sudah menikah lagi. Bahkan Bapak saya di mana, saya juga tak tahu. Keluarga bapak tiri saya jauh. Lagipula saya tidak ingin menjadi pengganggu."


"Ganggu? Jadi itu masalahnya. Bapak ngerasa sebagai pengganggu?" seru Ave tak percaya. Bagaimana bisa seorang pria yang selalu tampak penuh percaya diri, justru menganggap dirinya sebagai pengganggu?


Sambil menyelesaikan putaran terakhir dari baut yang sedang ia pasang, Zaid menjelaskan. "Setiap kali saya hadir di antara mereka, saya hanya akan jadi masalah, Ve. Saya bukannya gak ngerasa kedamaian keluarga terganggu kalau saya datang. Saya bukan anak kecil yang harus terus bersama orangtua."


"Tapi yang Bapak rasain itu kayak anak kecil!" sergah Ave.


Tatapan Zaid dan Ave bertemu. Gadis itu terlihat gusar mendengar kata-kata penuh tak percaya diri yang dikeluarkan Zaid.


Pergantian tema pembicaraan secara mendadak membuat Zaid bingung mengikuti maksud Ave. Jadi ia menjawab yang ia tahu. "Karena kamu gak cinta sama saya. Saya udah tahu, Ve. Gak usah dibahas lagi."


Ave menggeleng-geleng. "Bukan hanya itu, Pak. Kalaupun Ave cinta sama Bapak, Ave belum tentu nerima."


Otomatis kepala Zaid menoleh pada Ave. "Kenapa?"


"Karena berhubungan dengan orang yang kita cintai itu modalnya saling percaya satu sama lain. Bagaimana Ave bisa belajar mempercayai Bapak kalau Bapak aja gak percaya sama diri sendiri? Gimana Bapak mau percaya sama Ave kalo sama keluarga aja enggak?"


Zaid termangu. Tangannya berhenti bekerja. Baru kali ini ia melihat Ave begitu serius. Kata-katanya juga masuk akal. Jauh dari kesan bodoh atau bercanda.


"Cinta... kalau gak bisa saling percaya, maka komunikasi apapun gak akan jalan, Pak. Mama Ave  contohnya... sangat cinta sama Papa, tapi tetap aja karena Mama gak percaya dirinya sendiri, juga gak percaya sama cinta Papa, malah minta cerai justru setelah tahu kalau dia sakit kanker. Mama Ave gak percaya kalau Papa bersedia nemenin Mama, sakit atau sehat. Mama bilang Mama gak mau ngerepotin Papa. Tapi Mama gak tau kalo Papa selalu menyesali keputusan Mama. Mungkin sepanjang hidupnya, Papa Ave akan selalu begitu. Ave gak mau ngalamin gitu."


"Saya gak akan menceraikan kamu kalau kamu sakit, Ve," janji Zaid tak sadar.

__ADS_1


Ave tersenyum simpul. "Ave yang gak akan nikahi Bapak. Gak akan! Sampai Ave bisa percaya sama Bapak. Ini aja baru ngadepin keluarga aja, Bapak udah gak percaya diri begini. Gimana Bapak bisa jadi bapak yang baik kalo gak pernah belajar arti keluarga? Gimana Bapak ngadepin Papa Ave? Gimana Bapak bisa belajar dari kesalahan orangtua yang bercerai kalo gak pernah ketemu mereka coba? Gimana Bapak mau punya orangtua impian kalo gak pernah ngerasain jadi anak yang dimarahi, ditegur, dinasehati atau bahkan diomeli orangtua? Kita gak mungkin dapet pengalaman berharga hanya dengan dengar dari cerita orang, Pak. Pelajaran paling berharga kalau kita mengalaminya sendiri. Apalagi orangtua kita sama-sama bercerai. Ave jujur ya Pak... malah mikir 1000 kali buat menikah itu justru karena ngelihat orangtua Ave sendiri. Yang saling cinta aja bisa cerai, gimana kalo gak cinta-cinta banget?"


Suasana menjadi hening. Zaid diam. Memperhatikan wajah Ave yang mulai berubah sedih.


"Kamu... inget almarhumah mamamu?" tanya Zaid. Ave hanya mengangguk. Mata gadis itu mulai memerah, tapi ia berusaha menahannya. "Maaf, Ve. Saya jadi ngingetin," sambungnya dengan menyesal.


Ave menggeleng. "Ave tuh gak suka lihat Bapak selalu sendirian begini. Itu kayak ngingetin Ave ke diri Ave sendiri. Dulu Ave juga gitu waktu Mama baru meninggal. Menyalahkan diri sendiri. Bahkan menyalahkan semua orang. Bahkan sama Mama yang udah gak ada. Tapi kakek-nya Ave yang memberi nasihat ini. Kakek Ave bilang, keluarga itu mungkin bisa memusingkan, menyakiti bahkan membalik dunia kita, tapi ada cinta bersama kehadiran mereka. Cinta yang gak bisa digantiin dengan kehadiran orang lain. Cinta yang buat kita kuat menghadapi apapun."


Rupanya isi hati Ave tak lagi bisa menahan airmatanya. Perlahan dua bulir airmatanya jatuh seiring ia selesai bicara.


"Jangan menunggu sampai kedua orangtua Bapak gak ada baru Bapak mau menemui mereka," bisik Ave sambil menunduk. Sedih mengenang almarhumah mamanya.


Sungguh Zaid ingin sekali memeluk gadis itu. Tapi yang ia lakukan akhirnya hanya meletakkan telapak tangannya di bahu gadis itu, mencengkeramnya lembut. "Maaf, Ve. Saya bikin kamu nangis lagi."


Ave tak menjawab. Hanya menggeleng-geleng.


"Saya janji akan belajar, Ve. Saya akan buat kamu cinta saya, percaya sama saya dan... "


"Emang Ave bilang Ave mau jadi istrinya Bapak?" tanya Ave memotong kata-kata Zaid. Matanya masih basah, tapi wajahnya sudah berubah. Tak lagi terlihat sedih.


Zaid tercengang. Cepat sekali emosi gadis ini berubah. "Tadi itu... "


"Kan Ave ngasih contoh. Contoh, Pak. Bukan berarti Ave mau jadi istri Bapak. Only example, Ok?"


Zaid tak bisa berkata apa-apa.


"Ya udah. Stop  sedihnya deh! Kita makan sekarang! Ave lapar! Kalo Bapak gak mau makan, Bapak temani Ave makan aja deh. Ave gak suka makan sendirian," kata Ave tegas sambil berdiri. Lalu ia menarik tangan Zaid untuk berdiri. Patuh, Zaid pun berdiri sambil meletakkan peralatannya.


"Tapi mandi dulu deh! Bapak bau oli!" pekik Ave sebelum berlari masuk ke dalam rumah lagi, membiarkan Zaid yang hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah gadis ceria itu.


Baru beberapa hari gadis ini mengisi hari-harinya di rumah. Tapi tiap kali ia hadir, ada kehangatan yang terasa menyelusup masuk di hati Zaid. Sepanjang pagi ini, Zaid memilih menyibukkan diri dengan motornya, menyalakan televisi agar rumah terasa riuh seperti biasa, tapi hatinya tak pernah sesenang saat melihat Ave berdiri di dekat pintu garasi tadi. Baru kali ini juga ia mendengar gadis itu menceritakan seluruh isi hatinya tanpa ragu.


Ave seperti matahari yang melelehkan seluruh hatinya yang telah lama membeku.


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2