Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 84 - The Game of Love (2)


__ADS_3

~ Bagian akhir permainan, menemukan sang cinta sejati ~


Foto keempat sedikit membutuhkan kerja keras. Avelia tak pernah membongkar kardus-kardus dan dua koper besar yang dikirim Zaid dari rumahnya.


Ia tak pernah menyentuhnya sampai ia teringat ada benda berharga di antara kardus dan koper itu.


Bersama Lily yang mengomelinya berulangkali, Avelia berhasil menemukan benda itu.


"Ya Allah... seharian kita nguprek-nguprek barang-barangmu cuma mau nyari bendera belel ini? Oh astaga Avelia Shamsiah... cewek lain dikasih baju mahal, dikasih gelang or at least oleh-oleh sekoper, lah kamu? Ini apaan??" kata Lily sambil mengangkat bendera kecil itu. Keningnya berkerut heran.


"Ih emang Ave kek Kak Lily?! Matre!" kata Ave sambil merampas bendera itu dari tangan Lily.


"Eeeh udah berani ngatain kakak iparnya sendiri yaaa." Lily mengangkat kedua tangannya dan menyarangkannya ke pinggang Ave, memutar-mutarnya berulangkali.


Ave tak mau kalah, ia berkelit dan membalas Lily. Keduanya pun berguling di atas tempat tidur yang dipenuhi pakaian berserakan, saling menggelitiki dan sesekali saling sikut bahkan menendang.


Ajie muncul di depan pintu kamar Ave bersama Ali. "Li, kalo udah gede cari cewek jangan yang kek Mamamu dan Bibimu ya, Nak. Itu contoh yang buruk. Gak pernah dewasa. Hufffh!"


"Apaaa?"


Dua perempuan di atas tempat tidur, dengan rambut mencuat berantakan ke mana-mana sama-sama menoleh ke pintu. Tapi Ajie sudah berbalik dan melarikan diri bersama Ali.


Sebelum pergi kerja keesokan harinya, Ave memotret foto bendera kemenangan itu dan inilah foto yang menurutnya akan membuat Zaid memahami keinginannya. Ia menuliskan* caption *yang sangat jelas.


'You said you'll give me the whole world, but did you know? You are my world...'


[Kau bilang akan memberiku seluruh dunia, tapi tahukah kamu? Kamu adalah duniaku ... ']

__ADS_1


Tapi hari itu, Zaid tak terlihat di kafe. Ave tak mengerti ada apa. Sejujurnya ia mulai takut. Jangan-jangan ia terlalu keras memaksanya.


Untunglah, ternyata perkiraannya salah. Keesokan harinya, Zaid muncul di kafe. Masih pagi. Pelayan kafe bahkan masih sibuk membersihkan ruangan. Tapi Zaid bilang ia hanya ingin duduk menunggu. Ia akan menunggu sampai mereka siap dan menyediakan satu Espresso untuknya.


Ave segera berlari ke toilet kantor begitu menerima pesan dari pelayan kafe dan setelah berdandan sedikit, ia berselfie menggunakan cermin. Memperlihatkan kalung yang selama ini selalu tergantung di lehernya. Ave tak lagi ragu men-tag akun Zaid dalam fotonya kali ini. Apalagi Ajie juga menguatkan hatinya. "Mas akan membantumu, Ve."


Tapi sebelum foto dengan caption 'Your name, your face and your heart has signed in my heart. When will you come back, Mr. @Zaid_Zabir?' itu diposting Ave, ia kembali ke kafe bersama kakaknya.


[Namamu, wajahmu dan hatimu bertanda di hatiku. Kapan kau akan kembali, Mr. @Zaid_Zabir? ']


Hari ini adalah hari terakhir permainan mereka. Sudah saatnya Sherlock Holmes menemukan pelakunya. Ave bisa melihat Zaid tengah duduk di tempat duduk favoritnya di sudut kafe.


Pelayan kafe memberinya kode dan Ave pun duduk di tempat yang tersembunyi, cukup jelas untuk melihat Zaid yang masih duduk, melamun.


Tanpa menunggu lagi, Ave memposting foto selfie dirinya. Tak lama setelah denting notifikasi terdengar, Zaid tampak terburu-buru memeriksa ponselnya. Lalu Ave melihat wajah Zaid membeku, sebelum berubah jadi merah.


Pelayan kafe yang belum terlalu jauh, kembali lagi dan mereka berbicara sebentar. Tepat saat itu, Ave mengambil foto Zaid dari tempatnya bersembunyi.


Ave tak mengerti mengapa Zaid bereaksi seperti itu. Tapi ia tak lagi bisa menunggu. Ajie yang duduk di sebelahnya sudah mengangguk padanya. Isyarat untuk segera mengakhiri permainan mereka.


Sesuai rencana mereka, Ave pun memposting foto pilihannya. Foto Zaid yang baru saja ia ambil dengan caption '*Do not try to run away again, My Future-husband! I have my Dad, my brother, my family and my friends to chase after you wherever you go!' *


[Jangan mencoba melarikan diri, Calon suamiku! Aku punya Papa, kakakku, keluargaku dan teman-temanmu untuk mengejarmu ke mana pun kau pergi!]


Usai memposting, Ave tak lagi bersembunyi. Ia berdiri di dekat pintu. Ia tahu sebentar lagi Zaid akan mengangkat wajahnya dan melihatnya.


Benar saja, Zaid semakin kebingungan saat melihat postingan terakhir Ave itu dan ia segera mengangkat wajahnya. Matanya jatuh tepat di wajah Avelia.

__ADS_1


Ave tak pernah merasa semarah ini pada Zaid. Ia tahu tak seharusnya ia marah pada orang yang paling ia rindukan sebulan terakhir ini. Ia tahu seharusnya ia mengatakan betapa sedih hatinya selama Zaid menghilang dari hidupnya.


Tapi saat ini, Ave ingin memukulnya! Ave ingin mengulitinya! Teganya pria itu meninggalkannya begitu saja! Teganya ia membiarkan Ave memikirkannya sambil menangis diam-diam setiap hari!


Mereka bisa saja putus karena Ajie dan Papa tak setuju, tapi bukan berarti tak saling berkirim kabar seperti ini. Apalagi Zaid membohonginya sebelum pergi, seakan-akan mereka masih bisa saling bertemu.


Maka tanpa pikir panjang, Ave melangkah lebar mendekati Zaid yang juga berdiri. Pria itu melihat ke arah Ajie dan Ave tahu, ia pasti mengerti kalau Ajie sudah memaafkannya. Tapi Ave belum... Ia harus meluapkan amarahnya.


Tiba-tiba saja ada segelas air putih terlihat di depan Ave. Dan sekali jangkau, gelas itu sudah berada di tangan Ave dan ia menyiramkan seluruh isinya ke wajah Zaid.


"Kenapa Mas ninggalin Ave? Kenapa Mas gak balas pesan Ave? Kenapa Mas bohong sama Ave? Hu hu hu..." teriak Ave emosi. Seluruh kemarahannya tumpah ruah di depan Zaid.


Zaid terperangah. Ajie buru-buru berlari mendekati mereka. Tapi sebelum Ave sadar, Zaid sudah memeluknya.


Pria itu tak mengatakan apapun selain menenggelamkan wajahnya di pundak Ave. Lalu perlahan, Ave merasakan hangatnya napas Zaid dan ada tetesan air yang hangat di antara air dingin yang berjatuhan dari wajah Zaid membasahi lekuk lehernya.


Ave tersenyum dalam pelukan Zaid meski airmatanya juga deras berjatuhan. Zaid tak menangisi perpisahan mereka. Tapi sekarang, saat mereka bertemu lagi, *Snowy Devil-*nya yang berhati dingin itu menangis.


Zaid pasti merasakan kepedihan yang sama selama mereka berpisah. Ave puas karena Zaid merasakan hal yang sama dengannya.


Sekarang, dengan semua kekuatan hatinya, cintanya dan bersama orang-orang yang mencintainya, Ave akan melindungi cintanya.


Mama, I finally found my forever love...


[Mama, aku akhirnya menemukan cinta sejatiku...]


*****

__ADS_1


__ADS_2