Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 80 - The New Club


__ADS_3

~ Klub baru telah tercipta di The Crown ~


Suara alunan lagu terdengar membahana di area kolam renang yang berada di belakang ruang keluarga dan ruang makan. Dinding-dinding kaca yang memisahkan seakan bergetar karena nyaringnya suara itu. Lagu-lagu Melayu mendayu-dayu dari speaker wireless bergantian bergaung di antara sepinya malam.


Rumah itu cukup luas, hingga suaranya tak sampai mengganggu tetangga. Namun tetap saja para penghuni rumah dan asisten rumah tangga bisa merasakan telinga mereka makin sakit tiap kali lagu berganti.


Bagaimana tidak? Gadis yang duduk di tepi kolam renang itu juga berteriak-teriak, ikut bernyanyi. Nyaris memekakkan telinga.


Tak ada seorang pun yang berani menegur gadis yang duduk di tepi kolam renang itu. Meski dari mulutnya keluar nyanyian nyaring, tapi suaranya bergetar menyedihkan. Lagu-lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan riang justru seperti lagu-lagu patah hati.


Lily memperhatikan semua itu dari balkon kamarnya. Untunglah, Ali bukan bayi yang rewel hingga keributan di lantai dasar itu tak mempengaruhi tidurnya. Cukup dengan perut kenyang dan buaian sang mama, ia akan tertidur dengan pulas.


Dengan tak sabar, Lily melihat jam di ponselnya. Sudah berulangkali ia menelpon Ajie, tapi suaminya tak kunjung pulang.


Ia baru akan mengusap layar ponsel ketika melihat seseorang keluar dari pintu ruang keluarga. Itu Ajie yang baru saja pulang. Saat itu, kepala Ajie mendongak ke arah balkon dan memberi kode pada istrinya sambil tersenyum. Lily mengangguk sebelum masuk ke kamar.


Ajie tahu Avelia sedang sedih. Tapi di sisi lain ia ingin sekali tertawa melihat keadaannya. Baru kali ini ia melihat ada seorang gadis yang patah hati, duduk bernyanyi memakai jaket kebesaran dan helm di kepalanya!


Sambil melipat bibirnya yang hampir membentuk tawa, Ajie mendekati Ave. Ia duduk di kursi yang ada di belakang Ave.


"Dulu temannya Mas juga suka lagu ini," kata Ajie agak nyaring agar bisa mengalahkan suara musik yang mengalun.


Ave sedikit terkejut dan menoleh. Ia membuka kaca depan helm sebelum kembali berbalik. Namun, tangannya mengusap ponsel dan mengurangi volume suara.


"Dulu Mas dan teman-teman Mas menertawai selera anehnya itu."


Ave diam saja. Tidak merespon. Tapi ia mendengarkan.


"Tapi teman Mas itu tak peduli. Dia bilang dia udah biasa dengar karena warung ibunya setiap hari menyetel lagu-lagu seperti itu. Dia hanya tertawa kalau kami ejek."


Bibir Ave sedikit naik. Ia mulai bisa menebak siapa 'teman' itu.


"Tapi baru bertahun-tahun kemudian, Mas tahu alasannya. Dia suka lagu itu karena ibunya menyukainya. Dia menyukai lagu yang ibunya suka, orang yang ia sayangi. Satu-satunya orang yang ia sayangi saat itu."


Terdengar helaan napas panjang di belakang Ave sebelum ia mendengar lagi Ajie bicara.


"Sepertinya sampai sekarang orang itu juga tak pernah berubah. Dia menyayangi orang-orang di sekitarnya dengan cara yang selalu unik. Bahkan Mas sendiri tak pernah terpikir akan mengagumi caranya itu."


Ave menunduk. Sekali lagi matanya kembali melembab. Ajie pasti sedang membicarakan Zaid.


"Ave, kapan kamu kembali ke The Crown? Masih satu bulan sebelum taruhanmu dengan Papa selesai. Apa tabunganmu sudah cukup untuk menang taruhan ini?"

__ADS_1


Lagi-lagi tak ada jawaban. Hanya suara isakan terdengar dari dalam helm.


Tepat saat Ajie akan bicara lagi, Ave mulai berkata, "Buat... apa? Ave hanya ingin pulang."


"Pulang ke mana, Ve? Ini kan rumahmu."


"... Grandpa. Di sana... Grandpa tidak pernah melarang Ave."


Mendengar itu, hati Ajie tercekat. Ia pun berdiri dan duduk berjongkok di sisi Ave, memegang bahu adiknya. "Ve, Mas benar-benar minta maaf. Mas gak ada niat sampai begini. Mas sayang sama kamu. Mas kuatir Zaid masih inget masa lalu dan mungkin nyakitin kamu."


Lalu Ave kembali membuka kaca helmnya, kali ini ia membiarkan tetap terbuka dan berpaling pada Ajie. "Mas, Ave hidup sendirian bertahun-tahun. Ada banyak cowok yang deketin Ave sebelum Mas Zaid. Ave bisa bedain mana yang berniat gak baik dengan jelas. Ave mungkin masih anak kecil buat Mas dan Papa, tapi beneran... Ave udah dewasa, Mas. Udah bukan anak kecil yang harus disetir terus."


Ajie mengangguk-angguk. "Iya, Ve. Iya... Kamu benar. Mas yang salah. Mas yang salah sangka. Tapi Mas sudah berusaha nyari pacarmu itu. Dia menghilang entah ke mana. Mas sudah... "


"Papa gimana?" tanya Ave tiba-tiba memotong kata-kata Ajie.


Ave ingat pesan Zaid, pasti Papa sudah menemuinya dan membuat Zaid akhirnya memutuskan untuk berpisah dengannya. Papa belum kembali dari perawatan khusus di rumah sakit dan Ave tak ingin Papa semakin sakit. Ave bahkan berpura-pura ceria dan selalu menghindari topik soal Zaid ketika menemui Papa di rumah sakit.


"Hah?" Ajie termangu. Ia berpikir sebentar sebelum memahaminya. "Maksudmu, apa Papa setuju dengan hubunganmu dan Zaid?"


Ave mengangguk lagi.


Tentu saja Ave sangat ingat. Itu peristiwa paling menakutkan dalam hidupnya. Ave menatap Ajie dengan kening berkerut. "Surat?"


Kali ini Ajie yang tampak bingung. "Surat? Surat apa? Bukan.... Maksud Mas dokumen yang dibawa Amy. Kamu udah liat kan?"


"Dokumen?" ulang Ave bingung.


"Iya, dokumen yang berisi semua saham milikmu. Kamu gak tahu?"


Ave menggeleng dengan mata penuh tanda tanya.


"Kamu gak tahu kalau semua saham The Crown milik Zaid sudah jadi milikmu semua? Oh... plus semua saham GE yang dia beli diam-diam juga," kata Ajie penuh semangat. Lalu ia mengerling pada adiknya. "Bahkan meski kamu kalah taruhan dengan Papa, Cafe impianmu masih bisa kamu wujudkan. Orangtua mana yang tidak akan jatuh cinta pada calon menantu seperti itu, Ve? Papa bilang hanya orangtua bod*h yang akan melepaskan menantu seperti Zaid," lanjutnya lagi sambil menyentil hidungnya adiknya.


Mulut Ave terbuka. Terperangah mendengar informasi mengejutkan itu. Sebelum akhirnya bibir gadis itu kembali bergetar. Airmatanya jatuh lagi.


Namun, Ajie segera menjulurkan tangannya, merangkul sang adik dan membiarkannya menangis dalam pelukannya. Meski Ajie kerepotan dibuatnya, karena helm besar Ave menyenggol dagu dan lehernya.


Tangis Ave bukan lagi berisi kesedihan, tapi karena ia terharu mendengar pernyataan itu. Bahkan saat Zaid tak ada bersamanya, Ave masih merasakan ketulusan cintanya.


Sambil mengusap bahu adiknya "Kita akan cari Zaid. Mas dan Bang Jaya akan mencarinya. Kamu jangan sedih lagi ya, Ve."

__ADS_1


Ave masih terisak-isak.


"Kamu sedih, Mas lebih sengsara, Ve. Mas capek disiksa Kak Lily-mu. Belum lagi di kantornya The Crown... Hfffh!" keluh Ajie pelan.


Isakan Ave berkurang. Ajie pun melanjutkan. "Itu ada cewek-cewek dari Departemen Creative yang suka nanyain kamu bilang, kalo mereka punya klub fans-nya Zaid. Hmmm... kalo gak salah namanya, FCZZ... Fans Club Zaid Zabir. Dan rencananya mereka juga mau buat klub buat Mas."


Ave menatap Ajie lalu melepaskan pelukannya. "Mereka juga ngefans dengan Mas Ajie?"


Ajie tertawa sumbang. "Justru sebaliknya, Ve. Mereka mau buat HCAA."


"HCAA?"


"Haters Club Ajie Alfarizi," jawab Ajie dengan senyum pahit.


Ave tidak tertawa, tapi ia buru-buru mengambil ponselnya. Mematikan musik dan mencari sesuatu.


"Kamu mau ngapain, Ve?"


Ave mendongak. "Mau ngontak Mbak Alin, Ave mau daftar klubnya."


Ajie terpana sebelum tawanya terdengar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada."Lama-lama Mas ngilang juga deh kayak Zaid," katanya berpura-pura marah.


Tawa Ave pun pecah. Matanya yang masih basah kini lebih ceria. Lalu ia menatap kakaknya dengan sayang. "Makasih buat ngertiin Ave, Mas. Makasih juga udah nerima Mas Zaid."


Ajie mengangguk. "Bantu Mas nyari Zaid ya, Ve!"


Ave mengiyakan dengan senyum lebar.


"Dan oh ya Ve... "


"Hmmm?"


"Kamu bilang kamu udah dewasa kan? But, please... Mana ada orang dewasa patah hati pakai helm nyanyi-nyanyi berisik di tepi kolam renang begini, Ve!?"


Ave tidak menjawab. Hanya tawanya yang terdengar dari balik helm. Ajie juga tersenyum. Ia senang keceriaan adiknya sudah kembali.


Meski tak ada yang tahu, Ave tak berniat menjelaskan kalau helm dan jaket itu adalah hadiah terakhir sebelum ia dan Zaid berpisah. Ia ingin menyimpannya sendiri untuk nanti diceritakannya pada Zaid.


Nanti. Saat Zaid kembali ke sisinya. Saat itu, Ave hanya ingin bisa tertawa dan tersenyum lagi di depannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2