Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 6 - The Cruel Interview


__ADS_3

~ Berperang dan diwawancara kerja itu hampir tidak ada bedanya [Lily & Ave Quote] ~


Kini Avelia tahu rasanya kalah sebelum berperang.


Sebelum masuk ke ruangan di lantai 8 itu, Ave sudah tahu bahwa ia bukan sedang ingin diwawancara. Tapi sedang menghadapi malaikat maut.


Dasar mulut ember! Otak udang!


Sumpah serapah berseliweran di kepala Ave selama mengikuti Pak Rizal masuk lift, menuju lantai 8. Seluruh rencananya hancur lebur sebelum dijalankan. Yang dipikirkannya kemudian hanyalah menghitung hari untuk mencari kesempatan kerja yang lain. Bukan tak mungkin, harapannya untuk bisa mengumpulkan uang dalam setahun hanya tinggal harapan. Tapi Ave tak ingin menyerah. Tidak sampai titik darah penghabisan. Kantor ini menawarkan gaji tertinggi dibandingkan yang lain, Ave harus berusaha keras mendapatkannya.


Di lantai 8, Pak Rizal bergerak menuju pintu dobel coklat dan membukanya. Ia memberi isyarat agar Ave mengikutinya. Ave sudah mempersiapkan semua 'senjata'nya. Saat mereka masuk ke ruangan besar itu, Zaid sedang duduk di kursi kerjanya. Mata Ave sedikit terpicing saat berhadapan dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang mengagumkan, tepat di belakang punggung pria itu.


"Selamat siang, Pak Zaid! Ini calon karyawan yang Bapak panggil tadi. Avelia Shamsiah," kata Pak Rizal membuka perkenalan.


Lelaki itu sedang menatap salah satu dari dua layar monitor 14 inch yang ada di atas meja, sementara jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu. Tak ada sambutan atau kata-kata yang keluar dari bibir lelaki itu ketika ia melirik mereka sebentar lalu kembali ke layar monitor. Matanya begitu fokus menatap monitor. Ia seperti tak peduli pada kedatangan mereka.


Hening... tak ada jawaban, tak ada respon sama sekali. Lelaki bernama Zaid itu masih menatap layar monitor dan terus mengetik. Hanya terdengar suara dengung pendingin ruangan yang tepat mengarah ke wajah Ave. Ave bisa merasakan wajahnya semakin lama semakin dingin, ditambah kebisuan sang Direktur, ia merasa seperti terserang hipotermia. Bulu kuduknya sudah merinding sejak melewati pintu ruangan ini dan semakin parah saat bertemu tatapan dingin Zaid.


Pak Rizal juga bisa merasakan suasana yang dingin itu hingga akhirnya memutuskan untuk berpamitan. "Kalau begitu... "


"Anda bisa keluar dulu, Pak Rizal. Saya ingin bicara dengan ..." potong Zaid, tanpa menoleh dan hanya melemparkan lirikan tak peduli pada Ave.


"Ave... Avelia, Pak! Panggilan saya Avelia," jawab Ave buru-buru.


Seperti mendapat lotre, Pak Rizal langsung mengangguk dan berlalu. Ave bisa melihat kedua kaki Pak Rizal seakan tak menyentuh lantai. Ia terbang, setengah berlari keluar dari ruangan sedingin kamar mayat itu. Ave memandang punggung Pak Rizal menghilang di balik pintu yang ditutupi dengan sedikit buru-buru itu.


"Kenapa? Takut?"


Pertanyaan bernada sinis itu membuat Ave berbalik. Tak seperti tadi, kini Zaid sudah duduk santai bersandar di kursinya, menatap Ave dengan tatapan setengah mengejek. Rupanya ia sudah selesai mengetik surat atau apapun tadi, karena terdengar suara mesin printer yang sedang mencetak.


"Bukankah tadi Anda ingin bekerja pada seseorang seperti saya yang... yah begitulah," katanya sambil mengulangi gaya Ave saat tadi memberinya informasi.


Ave ****! Ave *****!


Ave memasang senyum semanis mungkin. Memutuskan menggunakan namanya agar terlihat lebih imut. "Oh berarti cerita itu tidak benar, ya Pak? Aduuh, maaf banget, Pak. Ave juga dapat informasi itu saat tadi menunggu. Ave pikir Bapak juga calon karyawan, makanya Ave informasikan. Bapak lihat kan tadi Ave hanya sendirian? Nah, Ave pikir Ave harus menyampaikan informasi itu kepada sesama calon karyawan agar seimbang. Tapi baru Bapak doang kok. Ave gak ngomongin itu sama siapapun lagi. Suwer!"


Bukan Ave namanya kalau tak bisa membalik keadaan. Lulusan Komunikasi sepertinya sudah belajar banyak cara berbicara dan membaca banyak sekali buku novel dan drama yang membuatnya selalu siap dengan segala macam kejutan bak opera sabun.


Alis pria itu terangkat sedikit. Sudut bibir kanannya juga ikut terangkat. Senyum tipis terlihat saat ia menegakkan punggung dan bergumam, "jadi seperti itu? Baiklah..."


Bulu kuduk Ave merinding. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu di balik senyum tipis di wajah pria itu. Tangan Zaid memberi isyarat agar Ave menyerahkan CV-nya.


Ave mulai merasa tidak nyaman, jadi ia buru-buru menyerahkan CV dan duduk di kursi depan meja kerja Zaid. Pria itu mulai menurunkan tatapannya, membaca CV, lalu kembali mendongak, dan bertanya, "Avelia Shamsiah, apakah Anda sudah siap?"


Ave menegakkan punggung untuk duduk lebih tegak dan menganggukkan kepala dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, saya akan mulai bertanya sekarang." Ia mengangkat wajahnya dan menatap Ave. "Avelia, tolong jelaskan secara terperinci apa saja pengalaman Anda sebelum datang ke perusahaan ini?" tanyanya dengan nada formal.


"Pengalaman? Terperinci ya?" ulang Ave sambil mencoba berpikir tentang pengalaman yang ia alami sebelum datang ke perusahaan.


"Sebelum datang ke sini, Ave selesai sarapan pagi sekitar jam delapan pagi. Kemudian Ave naik bis dan singgah ke... kantor teman Ave sekitar setengah jam kemudian. Setelah satu jam lebih di sana, Ave keluar dari kantornya dan kebetulan bertemu salah satu teman Ave yang lain jadi Ave menumpang mobilnya ke gedung perusahaan ini. Ave perlu sekitar sepuluh menit untuk sampai di sini, dan setelah menunggu kurang lebih satu jam empat puluh menit, lalu harus menunggu lagi saat makan siang selama satu jam, akhirnya baru Ave masuk ke sini. Selain itu tadi Ave sempat melihat-lihat... "


"Hmm... " Wajah tenang itu tampak menjadi gelap dan memotong kata-kata Ave dengan tegas. Lalu ia mulai bergumam sambil menulis, "Tidak punya pengalaman dan tidak mandiri."


Jleb!


Ave menatap dengan kesal. Bagaimana bisa orang ini menyebutnya tidak berpengalaman dan tidak mandiri hanya karena ia menceritakan tak semua dari seluruh pengalamannya? Ia bahkan belum selesai menjelaskan!


Selesai mencatat, Zaid kembali mendongak, mengabaikan tatapan protes Ave, lalu tersenyum anggun dan berkata, "Sekarang, kita lanjutkan ke pertanyaan berikut."

__ADS_1


Untung dia tampan... Senyumannya itu bisa menghapus sedikit kekesalan Ave. Sudahlah, yang jelas pertanyaan pertama ini cukup jadi pelajaran. Jangan terlalu banyak bicara, katakan semua dengan detail secara cepat. Pria ini bukan orang yang sabar.


Kali ini, Zaid kembali melihat CV Ave dan perlahan mulai bertanya, "Avelia, bisa jelaskan pada saya bagian dari CV ini yang paling Anda banggakan?"


Bagian dari CV?  pikir Ave. Ia mengingat-ingat lagi. Lalu mengangguk penuh keyakinan.


"Border-nya, Pak. Ave buat desain pinggiran CV itu sekitar dua jam-an," ujar Ave sambil sedikit berdiri dan menunjuk lembaran CV dengan pinggiran ungu pink itu penuh semangat. Tentu saja, kemampuan mendesain adalah salah satu bakat yang diperhitungkan, bukan?


Tanpa diduga, begitu Ave selesai bicara dan kembali duduk, sudut bibir Zaid mulai berkedut sebelum meletakkan tangannya yang digenggam untuk menutup mulutnya. Ia menatap Ave cukup lama. Lalu setelah terlihat normal lagi, ia kembali melihat CV Ave dan berkata, "Dua jam untuk desain yang bisa dikerjakan dalam sepuluh menit?" Sambil berbicara, ia kembali mencatat. "Tidak ada yang bisa dibanggakan dan sama sekali tidak efisien."


Jleb! Jleb!


Apaaa? Apa yang salah lagi sekarang? keluh Avelia. Menatap Zaid tak percaya. Ia benar-benar ingin menangis sekarang. Wawancara pertamanya benar-benar kegagalan total. Ternyata melamar pekerjaan tak semudah bayangannya.


"Pertanyaan berikutnya." Direktur tampan itu tersenyum lagi. Tapi sekarang, bukan perasaan kagum yang muncul di hati Ave, justru ia merinding melihatnya.


Zaid mengangkat alisnya sedikit dan kembali bertanya, "Jika Anda diterima di perusahaan ini, karakteristik pribadi apa yang Anda harapkan dari pimpinan Anda?"


Ini kesempatan!


Setelah apa yang diucapkan Ave saat makan siang tadi, ia memang sedang berpikir cara untuk meminta pengertian sang Direktur tampan. Ia tak boleh menyia-nyiakan.


"Ave gak punya banyak syarat kecuali, Ave ingin pimpinan yang toleran, mau memaafkan dan gak dendaman. Tidak hanya itu, ia gak akan membalas orang-orang yang secara gak sengaja menyakitinya, dan juga murah hati untuk tetap berempati dan memperlakukan mereka dengan lebih baik agar siapapun yang bekerja dengannya gak akan... "


Belum lagi Ave selesai bicara, pria itu sudah bergumam dan mencatat lagi. "Hfffh... Benar-benar suka mengharap sesuatu yang gak mungkin."


Jleb! Jleb! Jleb!


Selesai sudah! Hanya dengan tiga pertanyaan, Ave tahu dia sudah gagal total. Dengan evaluasi seperti itu, Ave takkan pernah diterima di perusahaan manapun sekarang. Bahunya benar-benar merosot tak berdaya.


Ave bisa melihat kepuasan di wajah Zaid saat melihatnya tak bisa menyembunyikan ekspresi sedih dan kecewa. Dia terlihat sangat senang dan puas. Seakan ingin melengkapi kebahagiaannya bisa membalas Ave, Zaid membuat pernyataan penutup.


Ya sudah... tak perlu juga kali sampai dijelaskan begitu. Bikin malu saja!


Ave berdiri. Sadar diri kalau ia takkan mungkin diterima. "Ya, baiklah. Terima kasih. Ave akan pergi."


Dengan energi yang hanya tertinggal seperempatnya, Ave berbalik dan siap keluar dari ruang kerja Direktur muda itu, tapi belum lagi kakinya melangkah, terdengar suara Zaid yang kali ini lebih halus dan manis.


"Selamat, Avelia. Anda diterima di perusahaan ini."


Hah?? Maksudnya?


Ave menoleh dan terpana di tempatnya berdiri.


"Tapi... tapi... kenapa? Bukankah Bapak... "


Ave nyaris tak bisa berkata apa-apa. Ia kuatir salah mendengar. Ia tak tahu apa yang terjadi karena sejauh yang ia ingat, sedari tadi Zaid hanya mengatakan kekurangannya. Tak ada satupun kelebihan yang bisa jadi alasan untuk diterima bekerja di perusahaan ini.


"Perusahaan ini punya program bantuan terhadap mahasiswa yang memiliki kesulitan ekonomi. Dengan kemampuan Anda yang menyedihkan itu, tentu tidak mungkin bisa langsung mendapat pekerjaan dan ekonomi Anda pasti sangat mengenaskan. Jadi, dengan menerima Anda bekerja di sini. Anda tidak hanya memudahkan perusahaan untuk menyalurkan dana bantuan pada orang yang tepat, tapi juga bisa menjadikan Anda sebagai contoh untuk karyawan kami yang lain betapa pentingnya memaksimalkan kemampuan sebelum terjun ke dunia kerja."


Tunggu! Ini maksudnya apa?


"Sebagai tambahan lain, saya merasa Anda juga perlu melihat langsung dari dekat dan mengenal saya dengan baik, agar rumor... " Tangan Zaid berputar-putar di depan wajahnya. "... itu... bisa Anda buktikan kebenarannya atau tidak."


Ave ingin tersenyum tapi bibirnya sudah kaku. "Sebenarnya... untuk itu Anda bisa membuktikannya dengan sangat mudah," gumamnya lirih. Takut salah lagi.


"Kalau begitu, menurutmu apa yang harus saya lakukan kalau berita itu beredar?" tanya Zaid dengan tatapan menusuk.


Ave menunduk dalam-dalam. "Pacaranlah... apa lagi."

__ADS_1


"Pardon?" tanya Zaid sambil mengerutkan alisnya.


Ave memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. "Punya kekasih atau istri, Pak... seorang perempuan."


Wajah Zaid membeku. Sudut bibirnya berkedut lagi.  "Hanya untuk menghilangkan rumor itu?" tanya Zaid setengah memberi pernyataan. Ave tak berani bergerak. Tidak mengangguk, bahkan ia nyaris menahan napas. Orang ini ganteng-ganteng bikin takut, benar-benar bisa membuat kuduknya merinding.


"Saya tidak akan menikahi siapapun hanya demi rumor," kata Zaid. "Itu metode penyelesaian masalah yang justru menimbulkan masalah lebih besar, " lanjutnya kemudian dengan helaan napas panjang.


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


"Oke, sampai sini ada pertanyaan?" tanya Zaid sambil meletakkan CV milik Ave di atas meja. Menatap gadis itu dengan wajah datar.


Setelah serangkaian serangan ini waktunya untuk membalas dendam. Avelia mengangkat wajah dan memasang wajah sepolos mungkin.


"Iya Pak, Ave mau nanya sesuatu."


Zaid mengangguk.


Senyum Avelia mengembang. "Bapak sudah punya pacar?"


Mata pria di depan Ave itu tidak berkedip, menatap tajam padanya. Ia kehilangan kata-kata. Ave berusaha tidak tertawa. Toh ia sudah diterima. Bodo amat deh kalau si Boss jahat ini marah. Ave tak tahan diserang secara mental terus menerus.


Lihat? Hanya satu pertanyaan dan dia sudah tak bisa mengatakan apapun. Hahaha...


"Itu urusan... pribadi... saya," desis Zaid perlahan dan tegas.


Bilang gak punya aja berat bener, bisik hati Ave girang.


"Baiklah. Ave mengerti. Boleh nanya lagi?" tanya Ave masih berpura-pura polos.


Rahang Zaid terangkat. "Apa lagi? Mau nanya pacar saya cewek atau cowok?"


Ave membulatkan matanya. "Waah, kok Bapak tau sih?" Ia ingin melompat karena senang saat melihat reaksi di wajah Zaid.


Suara gemelutuk gigi beradu terdengar dari mulut Zaid yang terkatup rapat. Ia menghela napas sebelum menunjuk ke arah printer. "Baiklah, selesai sudah! Anda bisa mengambil lembaran di printer itu dan nanti bisa Anda serahkan ke Pak Rizal. Selamat, Anda telah diterima!" ucapnya dengan nada yang sulit dijelaskan Ave. Ada campuran sinis, emosi tertahan tapi juga rasa senang. Entahlah. Ave tak ingin menebak lagi. Sudah cukup bagus ia bisa membalas serangan Zaid tadi.


Tapi saat melihat isi lembaran surat yang selesai dicetak. Ave mulai menyadari sesuatu.


Sejak tadi surat yang menginformasikan kalau Ave sudah diterima itu sudah diketik dan sudah dicetak sebelum wawancara dimulai. Berarti... pria ini sudah menyiapkan semuanya sejak awal. Ia memang sudah berniat menerima Ave sebagai karyawannya sejak awal. Tapi kenapa ia mengkritik Ave dengan kejam sedari tadi?


Ave jadi memikirkan kata-kata Zaid saat mengatakan menerimanya. Kalimat 'program bantuan', 'contoh untuk karyawan lain', 'ekonomi yang mengenaskan' terngiang-ngiang di telinganya. Mendadak Ave melirik pada Zaid yang masih menatapnya tanpa ekspresi dari kursinya. Ia tak bisa tidak merasa marah! Ia benar-benar sangat marah!


Lelaki ini bukan merekrutnya karena ingin mempekerjakan Ave, tapi karena ia sedang mencari kesempatan untuk bisa mengkritik dan membalas dendam pada Ave lebih lama!


Ini bukan wawancara biasa untuk mencari karyawan. Ini wawancara untuk mencari korban!


Avelia mencuri tatapan pada Zaid yang kini sudah berdiri.


"Kalau sudah selesai, keluarlah! Saya ada meeting lain," katanya. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Oh ya, saya lelaki normal, saya suka perempuan. Tapi... yang jelas bukan tipe sepertimu!" lanjutnya dengan tersenyum meremehkan sambil melihat Ave dari ujung kaki hingga kepalanya.


**Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! *


Siapa juga yang mau? Sampai nenek moyang Ave bangkit sekalipun, ia juga takkan mau.


Tapi sekali lagi Ave hanya bisa diam.


Ini benar-benar double kill!  dan Ave ingin sekali membuktikan pada pria itu, bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai.


Sementara saat Zaid kembali menatap monitornya, seringai tipis muncul di wajahnya. Gadis itu lawan yang tangguh dan sudah lama ia tak mendapatkan lawan sepertinya. Kantor ini akan jauh lebih menarik sekarang.

__ADS_1


*****


__ADS_2