
~ Cinta bukan hanya untuk dilindungi, tapi diperjuangkan meski beresiko ~
Di ruang kerja Zaid, Natasha tertunduk dengan wajah dipenuhi airmata.
"Maafkan aku, Id! Aku benar-benar minta maaf," ucapnya berulangkali.
Sungguh ia tak menyangka, niat baiknya membantu Avelia akan berakhir dengan menghancurkan sahabatnya sendiri.
"Waktu aku memutuskan memberikan bagianku ke Ajie, itu karena aku kira Ajie sudah memaafkanmu dan dia hanya malu untuk mulai berbaikan. Kukira ia menggunakan namaku untuk membantumu. Aku menjualnya sudah lama. Aku gak tau kalau dia akan menggunakannya untuk memaksamu begini, Id." Airmata Natasha terus berjatuhan. Ia benar-benar merasa bersalah.
Zaid tersenyum tenang.
"Kalau bukan karena aku, kamu gak akan kenal Ave. Kalau bukan karena Elang, kamu pasti gak akan menjual sahammu padanya," gumamnya lagi. Menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang salah, Nat. Kamu gak salah. Elang juga engga," ucap Zaid berusaha menenangkan Natasha.
Gadis cantik itu mengangkat wajahnya. "Jangan sebut namanya! Aku gak mau tau lagi tentang orang itu! Tega-teganya dia menusuk kita dari belakang."
"Aku senang kamu jujur. Setidaknya, niatmu baik meski sedikit salah. Aku gak pernah menyalahkan siapapun," ucap Zaid tulus.
Zaid menatap sahabatnya yang mengusap air matanya. Ia tahu betapa berbedanya Natasha setelah bertemu Elang, cinta di mata gadis itu tak bisa disembunyikan. Namun, Natasha masih membela dirinya.
Setelah semua yang terjadi, Zaid semakin menghargai persahabatan ini. Karena itulah, senyum Zaid tak pernah hilang. Sekarang yang ia inginkan hanya kebahagiaan Natasha. Semua masalah di antara dirinya dan Ajie, juga telah membebani sahabatnya.
"Elang itu pria yang baik, Nat. Dia mencintaimu sudah lama. Ave cerita kalau dia sudah ngefans kamu sejak masih di Sydney. Kalau dia melakukan semua itu, aku yakin karena dia benar-benar ingin bersamamu. Wajar kalau dia berjuang untukmu."
Natasha menggeram. "Itu hanya perasaan seorang fans! Dia aja yang halusinasi bilang itu cinta."
Hanya terdengar deru pendingin ruangan dan isakan Natasha di dalam ruang kerja Zaid. Zaid sadar, saat ini Natasha dipenuhi emosi hingga ia tak bisa lagi menerima saran apapun.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Id? Kamu mau pergi gitu aja? Gimana kalau aku bicara dulu sama Ajie? Atau... atau kita minta tolong sama Lily? Lily pasti mau bantu Ave dan kamu, dia... dia pasti bisa membujuk Ajie," kata Natasha buru-buru.
Meskipun itu tawaran yang paling memungkinkan, tapi Zaid tak pernah berpikir untuk melibatkan siapapun saat ini.
Lily adalah istri Ajie, melibatkannya berarti membuat dirinya menjadi pengganggu hubungan suami istri yang harmonis itu Ajie akan semakin membencinya. Begitu juga dengan Avelia. Zaid kuatir emosi Avelia yang keras kepala itu akan sulit diredam jika ia tahu semuanya.
Zaid menggeleng. Menahan senyum pahitnya."Jangan, Nat! Ini urusan para lelaki, biar kami yang selesaikan."
"Tapi gimana Ave? Aku gak ngebayangin perasaannya kalau dia tau semua ini." Kembali tangis Natasha pecah.
Ave sangat baik padanya. Bagi Natasha, Ave seperti adiknya sekaligus sahabat yang sangat berharga.
__ADS_1
Senyuman di wajah Zaid lenyap. "Jangan ceritakan apapun padanya, Nat! Biar Ajie aja."
Natasha tak mengerti. Ia memandangi Zaid heran. "Kalau Ajie menjelek-jelekkanmu di depan adiknya, dan Ave membencimu, gimana?"
Senyum pahit muncul di wajah Zaid. "Itu artinya dia gak cukup mencintaiku, Nat. Biar saja. Mungkin itulah takdir kami. Memang selama ini aku yang ngejar-ngejar dia. Kalau karena itu aku ditinggalkan Ave, mungkin ini hukuman yang pantas karena pernah menyakiti kakaknya."
Isakan Natasha kembali terdengar. Sedikit lebih kuat. *"Hiks hik*s... Apanya yang pantas! Kamu itu orang baik, Id. Kamu teman yang selalu mau membantu. Ajie aja yang terlalu emosi dan gak pernah tahu itu. Kejadian seperti itu aja didendamin!"
Selalu seperti ini, Natasha tak pernah mengerti apa artinya masa lalu bagi kedua sahabatnya itu. Ia menyayangi Ajie hingga pernah berpikir untuk menikahinya, tapi ia juga tak bisa melepaskan sahabat yang selalu membantunya tanpa banyak bicara.
Tapi karena masa lalu itu juga, Natasha tak pernah bisa membuat mereka kembali akur meski ia sempat mengira Ajie sudah mulai memaafkan. Setidaknya walaupun hanya sebentar, Ajie dan Zaid pernah menjalin persahabatan yang sangat akrab.
"Jangan begitu, Nat. Aku baru tahu kalau karena dipicu masalahku dan dia, Ajie gak bisa ketemu ibunya saat mendiang meninggal. Aku tahu rasanya. Aku gak bisa menyalahkan kalau dia dendam sama aku."
Natasha menatapnya. Ia juga baru tahu. Tapi... apa pantas menghukum Zaid seberat ini?
"Jangan lupa kalau dia selama ini sudah membantu kita semua tanpa kita tau," lanjut Zaid.
"Membantu? Dengan menguasai semuanya?" Natasha berusaha memahami pemikiran Zaid. Tapi ia tetap tak bisa menerimanya.
"Jadi itu sebabnya sekarang kamu ngalah? Bukankah masih ada sahamnya GE di tanganmu?" tanya Natasha saat sedikit lebih tenang.
Walaupun punya rencana lain, Zaid tetap mengangguk. "Ada. Dengan itu, aku bahkan tak perlu bekerja. Tenang saja!" ujar Zaid.
"Lalu? Kamu mau tetap pergi? Ninggalin TC begitu aja?" tanya Natasha lagi.
Menggeleng, Zaid tertawa kecil. "Aku akan pergi sementara ini. Ke Malaysia menemui kakakku, sambil menunggu Ave memenangkan taruhannya."
"Ave gimana? Dia pasti akan sedih," tanya Natasha seperti kehabisan akal membujuk Zaid.
"Dia tidak akan apa-apa. Aku akan tetap menghubunginya diam-diam. There's a thousand way to contact her, Nat. Lagipula ada kalian yang akan membantuku menjaganya."
"Jadi sebenarnya kamu gak berniat meninggalkan Ave dan The Crown kan?"
"Kamu lupa Ajie memintaku memilih?" kata Zaid mengingatkan.
Wajah Natasha tampak muram. "Tapi... "
"Aku memilih Avelia, Nat. Itu artinya aku pasti kembali. Kalau sekarang aku seperti memilih The Crown, itu karena aku gak bisa membuat teman-temanku, para stafku kehilangan pekerjaan. Aku bilang ke Ajie kalau aku harus meninggalkan The Crown sementara agar bisa jauh dari Ave sesuai keinginan mereka dan akan kembali setelah taruhannya selesai. Tujuanku yang sebenarnya hanya agar semua staf di The Crown siap kalau aku benar-benar meninggalkan mereka."
Bahu Natasha terturun lesu."Tapi mendadak begini..."
__ADS_1
"Ajie akan membantu mereka. Ia pasti tidak ingin adiknya curiga karena kepergianku. Sampai taruhan Ave dan Papanya selesai, aku akan kembali. Tapi tidak untuk The Crown. Aku kembali untuk Avelia," kata Zaid yakin.
Natasha menatap sahabatnya, memastikan kalau Zaid mengatakan yang sebenarnya. Ketenangan sahabatnya itu menulari hatinya yang dipenuhi beragam emosi. Ia merasa lebih tenang.
"Aku akan menunggu, Id. Aku sangat berharap kamu berhasil," bisik Natasha sendu. "Kalau kau butuh bantuanku untuk membangun The Crown yang baru, aku pasti akan membantumu."
Obrolan mereka berhenti ketika terdengar suara ketukan di pintu. Dengan cepat Zaid memberi kode agar Natasha menghentikan tangisannya. Tak lama, Ave masuk dengan wajah ceria.
"Mbak Natty kenapa?" selidik Ave begitu melihat wajah Natasha yang masih meninggalkan jejak airmata.
Natasha tidak menjawab, ia sibuk menyapu matanya dengan tisu. Karena tidak mendapat jawaban, Ave menatap Zaid.
Tanpa kata, Zaid menggelengkan kepalanya sedikit. Walaupun tidak mengerti maksud Zaid dan masih penasaran, Ave tidak bertanya lagi. Ia hanya menghampiri Natasha, merangkul bahunya dan menawarkan pelukan.
Tangis yang tadi sempat tertahan, pun kembali tumpah. Sekali lagi Ave menatap ke arah Zaid. Kali ini bibir Zaid membentuk sebuah kata tanpa suara.
... Elang ...
Setelah itu, Ave pun sibuk memaki-maki Elang.
"Pokoknya nanti kalo Ave ketemu Mas Elang, Ave jewer kupingnya kuat-kuat! Ave omelin sampe dia kapok. Mbak Natty jangan sedih ya! Kalo cowok bandel, kita gak boleh sedih, Mbak. Tapi harus langsung dibalas. Jangan diem aja! Sudah, sudah, Mbak Natty jangan nangis ya... Nanti kalo perlu kita panggil Kak Lily dan Tiar. Biar kita gebuki Mas Elang rame-rame. Udah ya Mbak, udah jangan nangis."
Tangis Natasha makin keras. Ia bahkan mempererat pelukannya pada Avelia. Membuat Avelia semakin yakin kalau semua ini karena Elang.
"Emang tuh Mas Elang ya. Udah syukur ada Mbak Natty cantik begini mau jadi pacarnya. Tenang aja, Mbak! Masih ada Ave, Kak Lily, dan Tiar. Sudah ya Mbak, jangan nangis lagi! Kita makan siang aja yuk. Di dekat sini ada cafe yang cake strawberry-nya enak banget. Setelah makan, kita beli itu ya. Entar Ave temanin makan. Sedih karena apapun pasti bakal ilang. Percaya deh sama Ave," ujar Ave meyakinkan sambil mengusap-usap punggung Natasha.
Tapi airmata Natasha tak kunjung berhenti. Bahkan ketika Ave sekali lagi menatap ke arah Zaid, ia justru menemukan kesedihan di mata kekasihnya itu. Ave benar-benar tak mengerti, mengapa semua orang terlihat sedih hari ini?
Jenny tadi sedang melamun saat Ave datang dan senyumnya seperti dipaksakan. Sejak pagi, ia hanya bertemu Hazmi sekali dan pria itu sama sekali tak tersenyum padanya.
Bahkan Pak Bambang yang biasa bercanda dengannya, hari ini lebih banyak diam dan termenung. Sekarang Natasha pun menangis. Zaid juga. Mungkin alasannya berbeda. Tapi sepertinya hari ini bukan hari yang baik bagi semua orang.
Walaupun sejujurnya hati Ave juga sedih. Zaid akan berangkat ke Malaysia tanpa dirinya. Mereka akan berpisah sementara waktu.
Tapi tidak apa...
Masih sambil memeluk Natasha, Ave memikirkan sesuatu. Ia juga punya rencana lain. Kalau Zaid tak pulang, maka ia yang akan menyusulnya ke negeri tetangga itu. Bukan Ave namanya kalau mudah menyerah.
Alasan itu membuat Ave tersenyum makin lebar. Lalu ia mulai membujuk Natasha lagi.
*****
__ADS_1