Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 71 - A Father and A Lover (2)


__ADS_3

*~*Kalau ada seseorang yang bisa membahagiakan Ave, tolong bantu dia (Zaid) ~


Pak Fariz terdiam mendengar penjelasan Zaid. Ia benar-benar tak tahu alasan putrinya itu begitu tulus.


"Saya bahkan sempat mengejeknya. Bagaimana kalau mereka yang pacaran itu putus? Pasti cafenya tak akan lagi didatangi. Bapak tahu apa yang dikatakan Ave?"


Ruang makan khusus itu menjadi sunyi sejenak. Hanya terdengar suara gelas yang diangkat Zaid untuk membasahi tenggorokannya sebelum melanjutkan.


"Ave bilang mereka pasti akan kembali. Untuk sebuah kenangan. Untuk mengingat anggota keluarga yang tiada, untuk kekasih yang pergi dan untuk sahabat yang tidak kembali. Kata Ave, semua orang butuh kenangan sebagai alasan untuk bersyukur dan... hidup. Sama seperti dirinya, yang bertahan untuk hidup demi kenangan mamanya."


Tak sadar, mata Pak Fariz basah, membuat Zaid terkesiap dan memohon maaf. Buru-buru Pak Fariz mengusap airmatanya.


"Tidak apa-apa, Nak Zaid. Saya hanya terharu." Lalu ia menatap Zaid dengan kagum. "Ave benar-benar tak salah memilihmu."


Zaid diam. Ia tahu, Pak Fariz datang bukan untuk mengetahui soal Avelia saat di Sydney. Tapi Zaid ingin memberitahu ayah kekasihnya itu tentang hal itu sejak ia mendengarnya. Ini kesempatannya. Ini cara Zaid untuk membuat hubungan Ave dan Pak Fariz menjadi lebih baik. Namun, ia juga mengerti. Ada sesuatu yang harus dikatakan Pak Fariz.


"Mungkin kamu sudah tahu alasan saya memanggilmu ke sini, Nak. Tapi saya ingin bertanya dengan jelas? Apa yang bisa kamu berikan pada Ave jika saya menerimamu?" tanya Pak Fariz sambil menyeruput tehnya.


"Kalau harta, Ave mungkin tidak perlu itu. Tapi saya ingin memberinya... kebebasan," jawab Zaid singkat.


Sunyi. Pak Fariz hanya menatap heran. Zaid pun menjelaskan lebih lanjut.


"Apapun yang ingin dilakukan Avelia, jika itu baik untuknya, jika itu memang impiannya, saya akan memberikannya dan mendukung semua yang ia inginkan. Ia ingin sekolah atau ingin membuka usaha. Ia ingin bekerja atau bermain. Apa saja. Buat saya, Avelia adalah dia apa adanya, bukan Avelia yang harus melakukan apa yang saya inginkan tapi Ave yang menjadi dirinya sendiri."


Pak Fariz tersenyum mendengarnya. Dalam hati, andaikan ia bisa memilih, Zaid sungguh pasangan yang tepat untuk putri satu-satunya.


"Saya hanya ingin mendampingi Avelia karena saya ingin menjaga dan menyayangi Avelia sepenuh hati. Saya mungkin tidak punya apapun dan kemampuan saya terbatas, tapi saya ingin memberikan semua yang bisa membuat Avelia bahagia."


Tak ada kata-kata berbunga terdengar, hanya sebuah janji sederhana. Tapi ada ketulusan dari setiap janji itu karena diucapkan tanpa jeda dan tanpa keraguan sama sekali.


"Tapi Zaid... Almarhumah mama Ave juga meninggalkan pesan untuk saya. Dan saya minta maaf karena untuk mewujudkan pesan itu, saya harus memintamu memutuskan hubungan kalian," ucap Pak Fariz. Nada tertekan terdengar jelas saat ia mengatakannya.


Zaid menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memucat. Dugaannya benar.


Menangkap kesedihan yang terpancar dari depannya, Pak Fariz buru-buru menambahkan. "Begini, Nak Zaid. Seperti kamu tahu, saya tidak tahu apapun yang terjadi selama ini pada Ave di Sydney. Grandpa Ave cerita tapi tidak banyak karena sejak Mamanya meninggal, Ave lebih banyak tinggal di apartemennya. Saya baru tahu kalau Ave mengalami sedikit depresi juga dari Elang, temannya. Baru-baru ini. Sejak Ave kembali ke Jakarta, hubungan saya dan Ajie dengan Ave seperti selalu ada jarak. Itu sebabnya... saya kuatir, masalah kamu dan Ajie akan membuat hubungan mereka memburuk."


"Saya bisa membantu memperbaiki itu, Pak. Saya bisa... " kata Zaid penuh harap sambil menatap Pak Fariz. Tapi ketidakberdayaan di mata orangtua itu menghentikan ucapannya.


"Sungguh saya tahu kamu ini benar-benar anak yang baik. Nak. Tapi saya kenal Ajie. Putra saya itu sangat berubah sejak dia SMP. saya gak tau kalau penyebabnya itu kamu sampai kemarin. Saya tahu, kamu mungkin juga tidak menyangka. Tapi banyak yang terjadi di masa itu. saya dan mama mereka bercerai, Ajie harus pindah dan berpisah dengan adik satu-satunya. Lalu ditambah traumanya karena masalah... kalian dulu. Semua akumulasi itu... mengubah Ajie dan Ave."


Pak Fariz menghela napas panjang. "Saya tidak berani mengambil resiko yang lebih buruk, Nak Zaid. Kehadiran Lily sangat membantu saya, tapi kehadiranmu... saya benar-benar kuatir. Ave dan Ajie sama-sama keras kepala. Sebagai papa mereka, hati saya sangat sedih kalau melihat anak-anak saya ribut. Ave memang tidak tahu apa-apa saat ini, tapi kalau dia sampai tau... " Mata Pak Fariz tampak menerawang. Terlihat kesedihan di sinar matanya itu.

__ADS_1


"Ave itu pemberontak. Lihat saja yang ia lakukan setengah tahun ini! Hanya karena saya tantang sedikit, dia berani mengambil resiko keluar dari zona nyamannya. Saya gak kebayang kalau dia bertemu pria yang berhati buruk. Sungguh. Saya bersyukur Ave bertemu Nak Zaid. Yang mencintai dan menjaganya untuk kami. Hanya saja... Tolong pahami posisi saya sebagai orangtua, Nak!" pinta Pak Fariz lagi. Kedua tangannya menyatu di atas meja, seperti orang yang sedang memohon pada Zaid.


Zaid benar-benar tak lagi bisa berkata apa-apa. Ia mulai mengerti arah percakapan ini.


"Saya hanya ingin menjaga amanah mama mereka. Anak-anak kami harus selalu akur. Keluarga ini harus utuh kembali. Sungguh... Uhuk! Uhuk!"


Ucapan Pak Fariz terputus, dan ia sibuk menutupi mulutnya karena terbatuk-batuk. Ia bicara terlalu cepat dan mulai emosional. Wajahnya memerah.


Bergegas Zaid berdiri dan membantunya minum teh. Tangan Zaid mengusap-usap pelan punggung pria setengah baya itu.


"Saya mengerti, Pak. Saya mengerti. Bapak tenang dulu!" pinta Zaid.


Pak Fariz mengangguk, menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan napas pelan-pelan.


Setelah Pak Fariz jauh lebih tenang dan batuknya berhenti, Zaid duduk kembali. Cukup lama suasana hening terasa di ruangan itu.


"Tadinya saya ingin tetap berusaha meyakinkan Ajie untuk menerima kehadiran saya, Pak. Tadinya saya berjanji akan melakukan apapun agar Ajie mau memaafkan kesalahan saya. Saya sudah berjanji pada Ave untuk menikahinya. Tapi... "


Pak Fariz tersenyum pahit. Kepalanya menggeleng lemah. "Tapi itu tidak mungkin... Tidak mudah mengubah keputusan Ajie. Kalau Nak Zaid pernah menjadi temannya Ajie, pasti mengerti maksud saya kan? Jika hubungan ini dilanjutkan, Avelia akan menjadi korban."


Zaid memaksakan senyum muncul di wajahnya yang muram. Mengakui kebenaran kata-kata Pak Fariz. Akhirnya dengan berat hati, pemuda itu mengangguk.


"Maafkan saya, Nak Zaid!" pinta Pak Fariz tulus.


Melihat kesungguhan di mata pemuda di depannya, Pak Fariz mengangguk. Lalu tiba-tiba Zaid berdiri.


"Tapi sebelum itu, saya ingin menitipkan sesuatu untuk Ave. Saya tidak mungkin memberikan itu saat ini, jadi nanti tolong Bapak berikan padanya saat kami sudah berpisah. Dia akan paham alasan saya dan insya Allah, Ave tidak akan menyalahkan siapapun. Dia pasti akan menerima perpisahan kami. Pak, tunggu sebentar! Saya ambil dulu."


Tanpa menunggu lagi, Zaid keluar dari ruangan. Di luar ia bertemu dengan Pak Harun, tapi mereka hanya saling mengangguk sekilas sebelum Zaid keluar Cafe menuju mobilnya. Tak berapa lama, ia masuk ke Cafe lagi sambil memegang sebuah amplop coklat. Saat di depan kasir, ia meminta kertas dan pulpen. Zaid menulis beberapa kalimat dalam kertas itu, melipat kertas itu sebelum memasukkannya dalam amplop coklat itu. Ia juga menulis nama Avelia di bagian depan amplop itu. Setelah selesai, ia masuk ke ruangan tempat Pak Fariz menunggunya.


Sebelum duduk, Zaid menyerahkan amplop itu pada Pak Fariz.


"Ini apa?" tanya Pak Fariz.


"Itu sebenarnya... hadiah pernikahan yang saya siapkan untuk Avelia, Pak," jawab Zaid dengan senyum masam.


Pak Fariz menatap iba pada Zaid. "Kalau bisa jangan meninggalkan sesuatu yang akan membuat Ave semakin sedih, Nak."


"Hanya dengan cara ini saya bisa ikhlas melepaskan Avelia, Pak. Paling tidak ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk dia. Dengan cara begini, saya juga tidak punya alasan untuk bertemu Ave atau Ajie lagi. Bapak jangan kuatir! Bapak bisa bilang kalau Bapak sudah membelinya dari saya."


Kening Pak Fariz berkerut. "Boleh saya melihatnya?"

__ADS_1


Untuk sesaat tampak keraguan di wajah Zaid. Melihat itu, Pak Fariz tak lagi menunggu izin Zaid dan membuka amplop itu. Ia tak melihat kertas yang terlipat di atas map dokumen yang ia keluarkan dari amplop tapi langsung melihat isi map itu. Ia terhenyak saat membacanya.


"Buat apa kamu lakukan semua ini, Nak? Masih ada gadis lain yang bisa kamu sayangi dan cintai. Ini... Ini..." Pak Fariz tak bisa berkata apa-apa saat ia menunjuk map itu.


Zaid tersenyum. "Saya gak melakukan ini untuk Ave, Pak."


"Lalu untuk siapa?"


"Untuk saya sendiri, Pak. Selama Ave bahagia, maka saya juga bahagia. Jauh atau dekat, saya ingin menjaga dia agar selalu bahagia. Dia bisa melanjutkan hidupnya, saya juga. Walaupun kami tidak bersama, selama dia baik-baik saja, saya juga akan baik-baik saja," kata Zaid dengan senyum tersungging di bibirnya.


Pak Fariz menutup map itu dan menatap tajam pada Zaid. "Apa kamu akan baik-baik saja, Nak? Tanpa ini Avelia sudah punya haknya sendiri. Kamu sendiri bagaimana? Saya bukannya tidak tahu apa yang dilakukan Ajie pada perusahaanmu. Sekarang ini lagi... Cepat katakan! Apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi kerugianmu, Nak? Saya benar-benar tidak ingin anak-anak saya menghancurkanmu begini."


Lagi-lagi Zaid hanya tertawa kecil. Menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cinta saya sama Ave itu sesederhana itu saja, Pak. Gak ada hubungan untung rugi, siapa yang menang atau kalah. Hanya ingin saling memberi dan menjaga meski kami gak bisa bersama. Selama ini saya melakukan semuanya sendiri, Pak. Untuk sesuatu yang saya juga gak tahu apa. Setelah ada Ave, saya jadi ada tujuan. Kalau hanya hadiah seperti ini, itu gak ada artinya buat saya."


"Tapi, Nak... "


"Tolong jaga Ave untuk saya, Pak! Kalau memang ada... " Zaid menunduk sebentar, berusaha menekan emosinya sendiri sebelum ia mengangkat kepalanya lagi. "Kalau ada seseorang yang bisa membahagiakan Ave, tolong bantu dia saja, Pak. Anggap saja orang itu saya."


Pak Fariz menatap Zaid. Sedikit banyak ia belajar dari pemuda di depannya ini tentang arti cinta. Malah sekarang ia yang merasa rugi kehilangan calon menantu sebaik ini. Akan sulit baginya mencari pemuda yang mencintai putrinya sebesar pemuda di hadapannya itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak."


"Tidak makan malam dulu?" tanya Pak Fariz.


Hatinya enggan melepas kesempatan. Keraguan melanda Pak Fariz. Ia kini mengerti mengapa putrinya yang keras hati itu bisa luluh di hadapan pemuda ini.


Zaid menggeleng sambil tertawa kecil. "Saya baru patah hati, Pak. Kalau lama-lama di sini, saya bisa menangis di depan Bapak."


Meski tertawa, Pak Fariz bisa melihat kesedihan di sorot mata Zaid. Sangat jelas, hingga senyuman pemuda itu juga tampak menyedihkan.


Ketika Zaid berbalik, bahu tegar itu sedikit merosot dan jauh di dalam hatinya Pak Fariz merasa bersalah. Ia tak lagi seyakin sebelumnya. Ia sudah sangat meragukan keputusannya.


Bagaimanapun, hanya bicara beberapa menit dengan Zaid sudah membuat Pak Fariz menyukainya. Sampai kapanpun akan sulit baginya melupakan pemuda seperti Zaid. Entah bagaimana dengan Ave sendiri.


Pak Fariz mengambil map dokumen itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop coklat. Kertas putih yang terlipat tadi juga diambilnya, hendak dimasukkan kembali.


Tapi tangan Pak Fariz berhenti. Rasa ingin tahu menggelitiknya dan ia membuka surat itu. Isinya tidak panjang. Hanya beberapa baris. Tapi Pak Fariz tahu, ia telah kehilangan sesuatu yang berharga.


Lalu, setelah beberapa lama, Pak Fariz duduk diam sampai Pak Harun mengetuk pintu dan masuk. Sambil mengangguk-angguk sendiri, Pak Fariz akhirnya memutuskan sesuatu yang sangat penting.


Dulu ia bisa menyatukan Lily dan Ajie. Sekarang ia juga akan melakukannya sekali lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2