
~ Penting! Klaim daerah teritorial cinta sebelum diklaim orang lain. (Zaid) ~
Tapi Zaid tak pernah menyangka kalau mengejar cinta Ave tak semudah dugaannya. Setelah mengambil keputusan tergesa-gesa untuk memindahkan Ave ke departemen Creative, sekarang ia mulai menyesali keputusan itu.
Ave bahkan sempat marah dan mereka sempat perang dingin lagi.
"Salah Ave apa sih, Pak? Karena Ave gak nyerahin proposal on time?" tanya Ave di hari ia menerima email pemberitahuan penugasan barunya.
Zaid sendiri sempat melupakan keputusannya itu. Sepanjang akhir pekan, ia terlalu menikmati hari-hari menyenangkan bersama Ave. Padahal tak banyak yang mereka lakukan. Hanya makan bersama, jalan-jalan, nonton televisi dan sisanya mengobrol santai. Lebih tepatnya membiarkan Ave mengoceh dan ia mendengarkan.
"Bukan itu, Ve," tukas Zaid.
Ave meletakkan sebuah USB di atas meja Zaid. "Itu proposal yang Bapak minta. Ave minta waktu karena ingin menyelesaikannya dengan baik. Gak asal-asalan."
Zaid menatap USB itu lalu kembali menatap Ave. "Ve... Bukan itu. Di Creative, kamu bisa mengembangkan potensimu. Kamu bisa lebih fokus melakukan sesuatu yang bisa jadi skill-mu," kata Zaid menjelaskan.
"Bukan karena Bapak gak mau liat Ave lagi? Karena Ave nolak Bapak?" cecar Ave. Bibirnya mulai cemberut.
Zaid tertawa masam. "Apa menurutmu saya sepicik itu, Ve?"
Ave tahu, ia sudah menyinggung harga diri Zaid. Gadis itu memilih diam.
"Kamu boleh bilang apapun. Tapi di kantor, kamu hanya Avelia. Staf saya. Sama seperti Jenny, Hazmi, Denny, Akbar, Pak Wiryo... Tidak lebih dari itu. Saya minta kamu juga profesional sedikit, Ve. Kamu kira setelah saya mengakui perasaan saya sama kamu terus kamu bisa seenaknya? Saya tidak akan duduk di kursi ini, kalau saya tidak bisa membedakan perasaan pribadi dengan pekerjaan. Atau kamu mau mencoba rasanya dipecat hanya karena tak bisa membedakan kedua hal itu?" tanya Zaid dengan suara pelan mengancam.
Hanya mata Ave yang seperti ingin merajam, melawan tatapan tajam Zaid, melawannya tanpa kata. Lalu gadis itu berbalik, meninggalkan ruang kerja Zaid. Tanpa pamit, hari itu juga Ave pindah ke kantor departemen Creative. Perang dingin mereka pun terulang lagi. Sepanjang minggu itu, Ave melayani Zaid sebagai koki tanpa interaksi sama sekali. Berulangkali Zaid memancing obrolan, tapi Ave selalu menghindar. Uniknya, mereka tetap pergi dan pulang kantor bersama. Hanya bedanya tak ada obrolan sehangat biasanya.
Siapa sangka, di kantor barunya, Ave dengan mudah diterima. Para staf pria langsung jatuh hati pada gadis periang dan humoris itu. Tak sampai seminggu, suara tawa selalu memenuhi ruang kerja departemen Creative, yang berbanding terbalik dengan departemen Manajemen yang kini terasa sunyi sepi.
"Gak ada orang di luar, Jen?" tanya Zaid saat tengah menandatangani beberapa dokumen.
Jenny hanya tersenyum masam. "Ada, Pak. Lengkap."
Zaid mengangkat kepalanya. "Tapi kok sepi?"
"Gak ada Ave, Pak. Makanya sepi," sahut Jenny sambil menarik kembali semua dokumen yang sudah ditandatangani. Wajah Jenny kembali seperti dulu sejak Ave pindah. Suram dan tak banyak senyum, lalu ia berlalu dari hadapan Zaid. Meninggalkan pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela napas.
Makanya Zaid beralasan ingin meninjau cara kerja tim Creative. Ia sengaja meminta Hazmi untuk bersiap mengikuti rapat rutin tim Creative. Ia ingin menemukan alasan yang tepat agar bisa membawa gadis pujaan hatinya kembali ke Manajemen, tanpa menyinggung perasaan Ave. Ia mulai merindukan candaan dan rayuan gadis itu. Mungkin juga Ave tak betah di kantor barunya hingga ia mengibarkan bendera perang. Itu artinya kalau ia ingin membawa gadis itu kembali, pasti takkan ada masalah.
Hanya yang terjadi, Zaid justru harus menahan cemburu. Dari balik kaca yang menjadi dinding ruang rapat, ia bisa melihat Ave tengah duduk dikelilingi para staf pria. Ia tak bisa mendengar obrolan mereka, tapi tawa lepas yang terlihat beberapa kali makin membuat Zaid geram. Padahal di sisi meja meeting yang lain, ada sekelompok staf wanita yang mengobrol.
__ADS_1
"Kadang manusia juga harus menandai daerah teritorialnya, Pak."
Suara yang terdengar tiba-tiba, membuat Zaid sedikit terlonjak. Ada Hazmi berdiri di sampingnya sambil tersenyum penuh arti. Zaid mengernyitkan dahinya bingung, tak memahami maksud asistennya.
"Ave... " bisik Hazmi. Lalu menundukkan kepalanya sedikit di dekat telinga Zaid. "Lo cemburu kan, Id?"
Saat Hazmi menggunakan nada bicara sesantai itu, berarti saat ini ia sedang menganggap Zaid sebagai teman baiknya. Tak banyak yang tahu, Zaid dan Hazmi dulu teman baik saat masih SMA.
Zaid menatap tajam pada Hazmi tanpa bicara.
"Kalo lo gak buru-buru... nandai Ave. Gue yakin cewek yang lo suka itu bakal disambar orang. Ave cantik begitu. Humoris pula. Saingan lo banyak," bisik Hazmi lagi.
Wajah Zaid berubah kelam. Hazmi menikmati itu. Sudah lama ia tak melihat emosi sejelas saat ini di wajah Zaid. Ternyata, Zaid juga manusia biasa. Ia bisa jatuh cinta. Bukan manusia dingin seperti yang ia duga selama ini.
"Lo bisa aja lebih baik segalanya daripada gue atau teman-teman yang lain. Tapi seperti kata Rick, lo terlalu konservatif dan apatis dalam urusan cewek. Terlalu pasif. Kalo cewek yang lo hadapi itu model Maya atau teman-teman seleb lo yang lain, gue yakin gak ada masalah. Tapi ini... Ave loh... " Seringai mengejek terlihat di wajah Hazmi saat ia melihat wajah Zaid makin suram.
"Lo tau kan staf Creative rata-rata tipe badboy dan playboy. Cewek humoris paling suka badboy dan cewek **** paling suka playboy," ujar Hazmi makin asyik menakuti. "Lo masih inget cara kami dulu kalo nandain cewek kan, Id? Kenapa gak lo coba?"
Ingatan Zaid kembali ke zaman sekolah dulu. Setiap kali ada cewek yang ditaksir teman-temannya, mereka selalu memberitahu seisi sekolah. Walaupun cewek itu sama sekali tidak menyukai mereka. Jika mereka tak bisa menjadi kekasih sang pujaan hati, maka lebih baik cewek itu tak dimiliki siapapun. Ini salah satu yang tidak ia sukai dari teman-teman baiknya itu.
Zaid menoleh pada Hazmi. "Sudah puas? Lo pikir gue bakal mengikuti cara rendahan kalian itu?" Tanpa peduli, Zaid meninggalkan Hazmi, memasuki ruang meeting.
Tapi tak ada yang tahu mata Zaid samasekali tak melirik layar slide karena lampu ruangan memang sedang dimatikan. Ekor mata pria itu sibuk melihat Ave yang tampak memperhatikan layar slide dengan seksama. Gadis itu selalu terlihat berbeda ketika ia melakukan sesuatu dengan serius.
Sesekali tangan Ave memperbaiki anak rambutnya yang terurai, menyelipkan di telinga, lalu kembali fokus. Mata bening itu terlihat bercahaya dari kejauhan dan Zaid tak bisa menghentikan senyum kecilnya, ketika ia bisa melihat Ave yang berusaha keras menyembunyikan gerakan mulutnya yang hendak menguap.
Ia justru terlihat sangat cantik.
"... Walaupun menurut kami, budget akan menjadi masalah sendiri. Tapi kami telah menyiapkan kemungkinan untuk menggunakan grafis. Jadi dalam hal ini, kami punya dua opsi untuk ditawarkan ke klien. Untuk itu, kami mohon saran Bapak selanjutnya, apakah kedua opsi ini kami tawarkan sekaligus atau hanya satu saja yang akan kita pilihkan?" tanya salah satu anggota tim yang kemudian melihat ke arah Zaid.
Fokus Zaid yang sepenuhnya tertuju pada Ave, membuat pria itu tak menyadari pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk-angguk.
Karena Zaid tak kunjung menjawab, satu persatu seluruh peserta rapat melirik boss mereka. Yang ditatap tetap tak menyadari, sampai Hazmi menegur sedikit keras. "Pak Zaid!"
"Hah? Apa?" tanya Zaid bingung.
Sambil memasang senyum tipis yang jelas terlihat jengkel, Hazmi mengulang pertanyaan si penanya.
"Ah... itu... Satu saja. Tawarkan yang kedua dulu. Kecuali kalau klien minta yang lain, kalian bisa olah lagi dari keduanya. Tapi ini siapa yang merancang konsep kedua?" tanya Zaid, sambil memeriksa ulang slide pada Ipad yang ada di depannya.
__ADS_1
Sang staf pria yang sedang berdiri di depan tersenyum sambil menunjuk ke arah Ave. "Neng Avelia, Pak. Neng Ave akan menjelaskan lebih lanjut."
Neng Ave... what?
Hanya dalam satu minggu, mereka sudah seakrab ini? Sudah saling menyebut dengan nama panggilan dengan nada sayang begitu?
Yang disebut namanya tersenyum pada semua orang, sebelum berdiri. Lalu dengan percaya diri, Avelia mulai menjelaskan idenya, sesekali staf pria yang tadi memperkenalkan dirinya itu menimpali penjelasan itu. Mereka saling melengkapi penjelasan presentasi satu sama lain, bahkan melontarkan sedikit canda membuat semua orang tak bisa menahan tawa mereka.
Cukup!
"Cukup!" kata Zaid menyemburkan isi hatinya tanpa sadar. Ruangan yang tadi mulai sedikit riuh, seketika hening. Semua tatapan tertuju padanya lagi.
Penjelasan Ave dan staf pria itu belum selesai. Tapi kata 'cukup' yang keluar dari bibir Zaid membuat semua orang keheranan. Zaid tahu, ia mulai kehilangan kendali lagi. Akhirnya, setelah beberapa detik, ia menggoyang-goyangkan tangannya. "Lanjutkan! Tapi jangan terlalu cepat. Saya kurang menyimak tadi."
Tapi Zaid tak pernah benar-benar menyimak hingga rapat itu selesai. Kepalanya sibuk menyusun rencana. Lalu ketika rapat selesai dan semua orang mulai sibuk berdiri, Zaid mengambil ponselnya, memeriksa sebentar.
"Ve?"
Ave yang sudah siap meninggalkan kursi, menoleh pada Zaid. "Ya, Pak?" Tak hanya dia yang berhenti bergerak, tapi semua orang jadi ikut diam menunggu.
Dengan santai, jari-jari Zaid memainkan ponselnya. "Ve, malam ini saya ada janji dengan Natasha. Mau bahas jadwalnya. Kamu mau ikut saya sekalian makan di luar atau mau makan sendiri di rumah saja? Saya pulangnya mungkin sekitar... hmm... jam 10an. Kamu gak papa saya tinggal sendirian? Berani?"
Tubuh Ave tak bisa bergerak. Semakin Zaid bicara, semakin pucat wajahnya. Ia bisa merasakan tatapan semua orang kini berpindah ke dirinya. Sepenuhnya. Menatap ingin tahu. Bahkan Hazmi yang sudah menduga hubungan bossnya dengan Ave bukan hubungan karyawan-boss biasa, pun menatap Zaid tak percaya.
"Itu... " Ave kehilangan kata-kata. Menatap semua yang juga sedang menatapnya, dengan perasaan tak enak.
"Kami permisi dulu, Pak!" seru salah satu staf Creative sebelum buru-buru menghilang secepat mungkin dari hadapan Zaid. Yang lain juga. Mereka seperti punya roda di kaki, meluncur cepat keluar dari ruang meeting yang kini terasa mengecil.
Hanya Hazmi yang berdiri sambil menahan senyum, menepuk bahu Zaid dan berbisik, "You did it well, Mate!" Lalu sambil melemparkan senyum yang sama pada Ave, pria itu keluar dari ruangan.
Ingin rasanya Ave berteriak. Susah payah ia menyembunyikan fakta hubungan antara dirinya dan Zaid, namun hanya dengan sebaris kalimat saja, kini semua karyawan The Crown akan segera tahu hubungan mereka. Hanya tinggal menunggu waktu.
Dasar Manusia Dingin! Otak Es! Egois! Profesional apanya? Urusan rumah kenapa dibawa-bawa ke kantor!?!
Tanpa berkata apapun, Ave melemparkan tatapan tajam bagai ribuan belati sedang menghujam ke tubuh Zaid. Tapi pria itu hanya mengangkat bahu sambil tersenyum dan berjalan keluar. Puas berhasil 'menandai' daerah teritorial kekuasaannya.
Ave hanya miliknya.
*****
__ADS_1