Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 58 - The Deal


__ADS_3

~ Kesepakatan antara Elang dan Zaid adalah kesepakatan bisnis paling aneh di dunia  ~


Ingin rasanya Zaid mencabik-cabik pria yang berdiri santai di sampingnya saat lift membawa mereka ke lantai tempat ruang kerjanya. Bayangan saat Elang memeluk Avelia dengan erat masih sangat jelas di pelupuk matanya. Darah di seluruh tubuh Zaid seperti berkumpul di kepalanya, meminta pelepasan emosi.


Andai ia tak melihat ada Khalif bersama Elang. Andai Zaid tak memikirkan rencana yang sedang ingin diwujudkannya.


Siapapun Elang, Khalif sepertinya sangat menghormati pria ini. Padahal sebagai Direktur Operasional Mulia Property, Khalif tak bisa dipandang sebelah mata. Proposal kerja sama yang diajukan The Crown beberapa minggu lalu nyaris tak ada hasilnya, hingga secara mendadak Khalif muncul bersama Elang.


Apakah sekarang koki palsu ini mengubah pekerjaannya sebagai satpam menjadi pengawal pribadi? Tapi alih-alih menghormati orang yang sedang ia lindungi, Elang lebih mirip bos dibandingkan pengawal. Jangan-jangan seperti dugaannya, selama ini Elang hanya berpura-pura menjadi satpam.


"Semakin dewasa, Ave makin keliatan cantik."


Suara ringan di sebelah Zaid membuat pria itu menoleh. Tangannya membentuk kepalan, sekali lagi dadanya terasa panas. Tapi ketika Zaid melirik ke arah Khalif yang berdiri persis di belakang Elang, Direktur muda itu tersenyum geli. Entah apa yang lucu dari komentar itu.


"Seorang gadis itu makin cantik ketika ia jatuh cinta," komentar Zaid tersirat.


Sebelah alis mata Elang terangkat dan ia menoleh sedikit pada Zaid. "Oh ya? Waah, Ave jatuh cinta? Hmmm... Really?" Ada seringai aneh saat ia mengatakan hal itu.


Zaid tak ingin terpengaruh. "Bisa saja. Begitulah yang saya tahu. Belakangan ini Ave dekat dengan seseorang."


Elang mengangguk-angguk. "Mmm... Mungkin saja. Tapi karena saya juga dekat dengan Ave, saya tahu benar adik saya itu bersikap sama pada semua orang. Kadang-kadang banyak yang salah paham karena sikapnya itu. Ada yang mengira Ave menyukai mereka, padahal Ave sendiri tak pernah menganggap mereka lebih dari teman biasa."


Ada nada mengejek saat Elang mengucapkannya dan Zaid berusaha keras meredam emosinya. Apa maksudnya mengucapkan kata 'mengira' penuh arti begitu? Apakah selama ini Elang mengira ia hanya salah paham pada perasaan Ave?


Zaid bisa mendengar suara batuk-batuk kecil di belakangnya. tapi rona wajah Khalif tak tampak sakit. Malah ia terlihat sibuk menahan tawa.


"Hfffh... Itulah yang saya kuatirkan selalu. Ave kadang terlalu polos dan terlalu mudah menanggapi perasaan sayang seseorang." Suara Elang seperti seorang kakak bijaksana yang sedang menjelaskan tentang kepolosan adiknya. Tapi di telinga Zaid, kata-kata itu bagai silet yang mengiris hatinya.


Ting!


Pintu lift terbuka dan Zaid melangkah dengan cepat meninggalkan Elang. Ia bahkan tak peduli lagi kalau ketiga pria di dalam lift yang sama itu juga adalah tamunya. Dengan wajah merah padam ia masuk ke ruangan Manajemen dan tepat di dekat pintu, ada Hazmi berdiri bersama Jenny.


Sementara Zaid masuk ke ruangannya lebih dulu, Hazmi dan Jenny menyambut Elang dan kedua rekannya. Hazmi sempat terkejut ketika Khalif memperkenalkan Elang sebagai bosnya.

__ADS_1


"Beliau adalah Direktur Utama kami yang baru, Mas."


Hazmi ternganga. Dia tahu siapa Elang. karena salah satu lamaran kerja yang ia terima saat mencarikan koki untuk Zaid adalah pria di hadapannya ini. Sekelebat kenangan buruk melintas di kepalanya. Tapi sebagai seorang asisten profesional, dengan cepat Hazmi mengendalikan dirinya. Segera ia mengajak ketiganya masuk ke ruangan Zaid.


Zaid sudah duduk di sofa menunggu mereka. Wajah dingin membatu menyambut rombongan kecil itu saat mereka masuk.


"Ave cerita kalau dulu saat ia wawancara, ruangan ini sangat dingin. Sekarang saya tahu penyebabnya. Ha ha ha... " Lagi-lagi komentar Elang yang jahil terdengar, membuat wajah Zaid semakin kelam.


Membaca situasi tak enak, Hazmi buru-buru mempersilakan semua orang duduk. Dibantu oleh Jenny, mereka mulai menjelaskan tujuan pengajuan proposal investasi


Sebenarnya Hazmi sudah hampir menyerah saat proposal yang ia kirimkan ke Mulia Property tak kunjung bersambut dengan tanggapan apapun. Setiap kali menghubungi Khalif, ia hanya bisa berbicara dengan sekretaris pribadi pria itu. Tak menyangka, tiba-tiba hari ini Hazmi ditelepon oleh sang sekretaris yang mengatakan kalau bosnya akan datang beberapa jam lagi untuk membicarakan kelanjutan proposal itu.


Setelah mendengarkan Hazmi, Khalif lalu memperkenalkan Elang sekali lagi. Wajah Zaid hanya berubah sedikit. Ia tak tampak kaget ketika Khalif menjelaskan siapa Elang yang sebenarnya. Selesai penjelasan, tangan Elang mengibas di depan wajahnya.


"Sudah, sudah... tidak perlu bertele-tele. Saya ingin tahu, kenapa Pak Zaid menawarkan ini pada perusahaan saya? Saya bahkan tak tahu menahu soal bisnis periklanan. Saya ini seorang engineer."


Sudut bibir Zaid terangkat. "Jangan lupa, Mulia Property adalah bisnis properti. Lagipula apa salahnya mencoba bisnis lain? Anda bahkan bisa mencoba memahami dunia kuliner dengan berpura-pura menjadi Chef. Kenapa tidak menjadi seorang pebisnis iklan?"


"Ha ha ha, Anda ternyata seorang pendendam!" Tawa Elang terdengar membahana. Tapi melihat wajah Zaid semakin gelap, Elang kembali mengangkat tangan. "Baiklah, saya tahu ini saatnya kita bersikap serius. Tapi sungguh... saya tak bisa mengambil resiko apapun dengan sembarangan menerima sesuatu yang di luar jangkauan. Soal Mulia Property, sejak kecil saya sudah tahu soal ini dan secara tidak langsung sudah mempelajarinya sejak dulu. Tentu saja berbeda. Anda juga tahu, saya gagal menjadi Chef hanya dalam hitungan hari."


Lagi-lagi Elang memotong kalimat Hazmi dengan mengangkat tangan. "Saya tahu soal itu, Muis sudah menjelaskan. Masalahnya... jika sesuatu terjadi pada The Crown, saya bahkan tak tahu apa yang harus saya lakukan untuk membantu. Sekarang... bisa saja The Crown sedang untung besar, tapi bagaimana nanti? Apalagi situasi negara saat ini benar-benar tidak baik untuk mengembangkan bisnis. Perubahan politik mungkin saja berakibat fatal untuk perusahaan yang baru berkembang seperti The Crown."


Zaid mendengarkan dengan baik semua alasan Elang. Tapi ia terjun ke dunia bisnis bukan seumur jagung. Kalimat Elang hanyalah sebuah kalimat pembuka. Tak mungkin Elang datang ke kantornya hanya untuk menolak. Pasti ada sesuatu yang diinginkan pria di depannya ini.


"Kalau begitu, apakah karena jumlah yang Anda inginkan tidak cukup? Berapa persentase yang Anda inginkan agar mau menerima penawaran kami?" tanya Zaid tanpa ragu.


Khalif berpaling pada Zaid yang sedari tadi hanya diam mendengarkan Elang. Sungguh, baru kali ini ia mengerti mengapa Elang mengatakan padanya bahwa Zaid bukan pria biasa.


Elang tertawa. "Ah, Anda sangat bisa menebak saya rupanya. Baiklah, to the point, saya maunya segini!" kata Elang sambil memberi isyarat tiga jari pada Zaid.


Jantung Hazmi seketika berdebar. Dengan cepat ia menoleh pada Zaid yang tampak terpaku. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya yang dingin itu. Tapi Hazmi tahu permintaan Elang keterlaluan. Jumlah itu dua kali lipat dari yang ditawarkan oleh Zaid. Itu sama saja menjual The Crown!


"Saya tak peduli apapun yang kalian ingin lakukan pada The Crown. Semua akan sama seperti dulu. Tapi bagian minimal yang saya inginkan adalah sejumlah itu. Take it or leave it!" kata Elang tegas. Senyum malas di bibirnya lenyap seketika berganti dengan raut wajah serius.

__ADS_1


Hazmi tak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa menatap Zaid. Pria itu hanya diam membatu.


"Satu lagi... Saya punya satu syarat lagi."


Zaid tetap diam. Sementara Hazmi sudah mulai berkeringat dingin. Kini Hazmi paham mengapa kemarin Jenny berulangkali mengingatkannya soal pengusaha bertangan dingin di balik Mulia Property yang tak pernah muncul selama ini. Tak mungkin Mulia Property bisa berkembang pesat hanya dalam lima tahun sejak berganti kepemimpinan jika direktur yang baru itu orang biasa saja.


 Elang menyandarkan punggungnya santai. Wajahnya sudah berubah rileks lagi. "Sebagai ambassador The Crown Models, saya ingin Natasha kembali ke Indonesia dan untuk seterusnya tidak lagi meneruskan kontraknya di Jepang."


"Apa maksudmu?" Nada sopan tak lagi terdengar dari pertanyaan Zaid.


"Saya. ingin. Natasha. kembali," ulang Elang pelan tapi tegas dengan wajah serius.


Wajah kaku Zaid perlahan berubah. Ada kerut halus muncul di dahinya. "Natasha adalah sahabat baik saya, sebelum The Crown berdiri. Dia dan karirnya adalah bagian dari sesuatu yang tidak bisa saya negosiasikan dengan siapapun. Jika Anda meminta saya untuk memaksa Natasha, saya tidak bisa," kata Zaid.


Elang menatap Zaid. Berusaha membaca maksud ucapannya itu. Lalu perlahan ia menghela napas panjang. "Jadi dia sendiri yang menginginkan kontrak Jepang itu?" tanya Elang.


Bukan Zaid yang menjawab, tapi anggukan Hazmi dan Jenny yang nyaris bersamaan menjawab pertanyaan Elang.


Mata Elang yang ceria berubah sedih. "Apa pernikahan kami tidak lebih penting dari karirnya?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri.


Tapi efek ucapannya membuat semua mata tertuju pada Elang, terutama Zaid.


"Pernikahan?" ulang Zaid penuh arti.


Kepala Elang yang sedang menunduk, terangkat tiba-tiba. "Oh... saya belum cerita? Baiklah." Ia menatap satu persatu ke arah empat orang lain yang ikut melihat ke arahnya. "Kalian boleh dengar ini, tapi ingat... this is very very very confidential!"


Lalu dengan suara dalam yang tegas, Elang berpaling dan menatap Zaid tajam. "Jika dalam enam bulan ke depan, saya tidak menikahi kekasih saya Natasha, maka Avelia Shamsiah yang akan menjadi istri saya. Setidaknya itulah yang saya dengar dari Papa saya dan Papa Avelia semalam."


Kini tatapan semua orang berpindah pada Zaid. Wajah Zaid yang tadinya mulai biasa seketika berubah menjadi kelam lagi sebelum ia berdiri dan mengulurkan tangan.


"Deal! Take your 30% dan besok pagi Natasha akan kembali ke Indonesia!"


Senyum Elang mengembang dan ia juga berdiri, menyambut uluran tangan Zaid. "Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Pak Zaid!"

__ADS_1


Empat pasang mata di sekitar mereka hanya bisa memandangi dengan takjub. Mungkin baru kali ini mereka melihat ada kesepakatan bisnis paling aneh dalam hidup mereka.


*****


__ADS_2