
Ajie baru saja selesai menekan saklar lampu, mematikan penerang listrik terakhir. Pendaran cahaya lilin berpijar di matanya menggantikan lampu-lampu yang dimatikan, saat ia menatap pesan masuk di ponselnya. Pesan dari adiknya.
[Avelia: Kak Lily dan Kak Tiar udah otw to Bogor, Mas]
[Ajie: Ok. Thanks.]
[Avelia: Ave juga nitip makanan buat Papa dan Mas. Ayam goreng mentega, udang cah jamur dan puding susu cappucino.]
[Ajie: Thanks, Lil Sis. Mas juga kangen masakanmu.]
[Avelia: You're welcome, Mas. Miss you too. Maaf gak bisa pulang.]
[Ajie: Take care, Ve!]
Suara helaan napas terdengar sebelum Ajie mengantongi kembali ponselnya, menoleh pada Jaya dan Danu. "Gimana? Udah kelar nyiapin lilin-lilinnya?"
Jaya memamerkan deretan gigi putihnya. "Kelaaar! Istri-istri kita pasti kelepak kelepek."
Danu yang berjongkok di depan jejeran lilin di lantai mendongak ke arah mereka dengan kesal. "Sejak kapan asisten direktur punya job desc. harus memastikan lilin-lilin tetap menyala begini, Mr. Boss?"
"Ya jangan jadi asisten direktur. Atau kamu mau dimutasi ke Papua jadi direktur cabang sana? Amy udah berapa kali tuh minta lo dikirim ke gurun pasir terjauh. Dia capek diajak nikah mulu sama elu," ujar Ajie santai sambil memandangi jajaran lilin-lilin yang menyala di dalam ruang tamu hingga keluar menuju halaman depan.
Jaya yang sedang menyebarkan kelopak bunga mawar di sepanjang lantai yang dipenuhi lilin itu terkekeh saat melihat Danu hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan kembali menyalakan lilin yang mati.
Ketika melihat Jaya sedikit menjauh, Ajie menepuk bahu Danu. "Sudah lo urus soal Ave?" tanyanya dengan wajah serius.
Danu hanya mengangguk. Ia tahu Ajie tak ingin mereka membahas masalah itu di depan Jaya. Beberapa jam sebelumnya, wajah Jaya terlihat aneh ketika mendengar percakapan Ajie dan Danu soal perusahaan tempat Ave bekerja. Sesuatu yang malah memancing keingintahuan Ajie.
Setelah Jaya mendekat, Danu kembali sibuk menyalakan lilin. Ajie juga sudah berpaling lagi padanya.
"Sudah sampai mana mereka berdua?" tanya Ajie pada Jaya.
"Dikit lagi. Katanya sih lima menitan lagi juga udah nyampe."
Ajie mengangguk. "Lebih baik kita nunggu di depan, sekalian ngecek kali aja ada lilin yang mati. Kue sama hadiah buat mereka udah siap." Ia menoleh pada Danu lagi. "Lo nunggu di dalam. Jagain tuh lilin-lilin! Nyalakan lagi kalo mati!"
"Iya, iya, iya!" jawab Danu setengah menggerutu.
Tapi saat mereka berada di depan pintu, Emak tampak sibuk mengipasi lilin-lilin yang berjejer hingga mati. Di belakangnya ada Ayah yang menggendong Ali, juga sambil memadamkan lilin.
"Aduuuh, ini kerjaan siapa lagi sih?!! Bisa kebakaran rumah kalau masang lilin sebanyak ini. Kalo mati lampu itu mbok ya komplen ke PLN sana!" Emak menoleh ke Ayah. "Itu Yah... yang deket Ayah itu padamin semuanya tuh!"
__ADS_1
Jaya dan Ajie berdiri tak berdaya. Hanya bisa terdiam melihat sang ibu dan ayah sibuk mematikan semua jajaran lilin-lilin kecil yang menyala.
"Ini lagi! Ngapain coba nyampah buang-buang mawar di sini?? Eh ini dari kebun Emak ya? Siapa ini yang metikin? Ya ampun... " Emak berpaling pada dua pria yang berdiri diam di depan pintu dan menyipitkan mata. "Jangan bilang ini kerjaan kalian berdua!"
Keduanya hanya bisa terdiam seribu bahasa. Jaya menyikut lengan Ajie. "Ajie yang punya ide, Mak!"
Ajie menoleh pada Jaya. Tak bisa berkata apa-apa. Tapi sorot matanya yang menatap Jaya seakan berkata, 'kan elu bilang Emak dan Ayah akan stay di hotel malam ini!?!'
Emak berkacak pinggang. "Kalian tau gak repotnya bersihin sampah ini nanti! Awas aja kalo nanti kalian gak bersihin ya! Emak bakal suruh istri-istri kalian berdua ngerjain. Enak aja."
Dua kepala lelaki muda yang bertubuh lebih tinggi dari Emak itu hanya bisa tertunduk.
Ayah menyentuh lengan istrinya. "Sudahlah, Mak. Mereka hanya mau sedikit romantis sama istri. Gak papalah sekali ini. Kan mereka juga yang urus nanti."
Dua kepala yang tertunduk di depan Emak terangkat, mengangguk kompak. Secercah harapan muncul di wajah mereka saat mendongak menatap Ayah.
Emak berpaling ke Ayah. Wajahnya suram. "Romantis? Tau ya bilang romantis? Terus Ayah sendiri kenapa gak pernah romantis? Dulu pacaran sambil nelepon relasi. Begitu nikah, ke mana-mana bawa si Lily. Sekarang malah bawa cucu. Kapan Ayah tahu itu romantis?"
Seketika wajah Ayah berubah kelam. Dalam hati Ayah ingin sekali ikut memarahi dua pria muda di depannya. Mereka yang berulah, kenapa dia yang ikut kena getahnya? Tak tahukah mereka kalau Emak itu mantan pengacara yang tak mudah dikalahkan saat berdebat?
Tepat saat itu sebuah mobil berwarna silver berhenti di halaman. Dua wanita keluar dari dalam mobil. Mereka tersenyum lebar melihat kehebohan di depan rumah.
"Waaah, wah, wah... Ada apakah ini?" tanya Lily penuh arti. Ia mengerling pada Ajie yang buru-buru mendekat padanya. Wajahnya sumringah melihat kejutan di depan rumah sang emak.
"Ini kejutan buat kalian berdua. Tapi..." Kalimat Jaya menggantung dan ia hanya menatap pada Emak yang masih tampak kesal. Sebelum Emak kembali mengomel, ia merangkul istrinya.
Lily dan Tiar sama-sama tertawa. Hanya mengangguk. Mereka sudah mengerti.
"Udaaah, gak papa. Kita maklum." Tiar mendekati Emak, merangkulnya hangat. "Makku sayang, maaf ya kalo Bang Jaya lagi nakal. Maklum aja ya Mak. Kan kita jarang bisa mesra-mesra begini. Mak jangan kuatir deh, Tiar akan selalu sayaaaang sama Emak. Pokoknya lebih sayang Emak daripada Bang Jaya deh."
Emak tak menjawab. Tapi bibirnya sudah menyunggingkan senyum. Di antara semua menantu dan anaknya, hanya Tiar yang paling mengerti dirinya.
Ajie menyenggol Lily. Memberinya tatapan perintah untuk meniru Tiar. Sambil menarik napas panjang dan sedikit tidak rela, Lily juga merangkul tangan Emak yang lain.
"Iya, Mak Lily yang cantik. Jangan marah ya Mak! Mas Ajie hanya ingin menghibur Lily kok. Jadi orangtua itu kan gak mudah. Apalagi ini baru pertama kalinya. Bukannya Mak sendiri yang bilang, kalo seorang ibu bisa saja mengalami stress saat mengurus bayi itu?"
Emak menoleh pada putrinya dengan mata menyipit. "Punya kamu itu sampe Emak jadi nenek juga masih stress mulu bawaannya. Tapi Emak gak ngerasa perlu tuh beginian."
Tiar terkekeh-kekeh. Jaya juga. Mulut Lily sudah terbuka, siap membalas, tapi keburu ditutup oleh sang suami.
"Oke, oke Mak. Nanti semua saya dan Jaya yang urus. Emak dan Ayah boleh istirahat dulu. Titip Ali sebentar ya Mak." Hanya itu yang bisa dikatakan Ajie sebelum dua gunung api di dekatnya meledak. Kemampuan Emak berdebat sama tangguhnya seperti Lily. Like mother like daughter.
__ADS_1
Emak hanya mengangguk, sebelum masuk ke dalam rumah. Tapi tangannya masih sempat mengipasi lilin-lilin yang masih menyala sepanjang tangga dan ruang tamu hingga padam. Ajie dan Jaya hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
Tapi kejutan tidak sepenuhnya berakhir kecewa, mereka berhasil menghadiahi kue tart strawberry coklat untuk Tiar dan Lily. Kejutan untuk kedua istri mereka yang beberapa bulan terakhir melewati perubahan besar.
Hari ini bukan hari khusus bagi kedua pasangan, tapi Ajie dan Jaya ingin menjadikannya sebagai salah satu hari spesial. Hanya kejutan kecil biasa. Sebelum kehadiran Emak sedikit mengusik rencana mereka.
Sambil mengobrol tentang keadaan Avelia, tanpa membuka informasi mengenai Zaid sama sekali, mereka berempat mulai duduk mengeliling meja makan. Lily dan Tiar berbagi kue dan makan bersama di depan para suami. Sedangkan Danu segera pamit ketika tugasnya sudah selesai. Ia harus kembali ke Jakarta malam itu. Lagipula ia tak ingin menjadi nyamuk pengganggu bagi kedua pasangan itu.
"Oh iya, tadi kata Ave dia nitip makanan. Mana?" tanya Ajie sambil duduk.
"Oh itu. Masih di mobil, Ji. Bang... Abang gih tolong ambilin kotak makanan di mobil!" kata Tiar. Jaya mengangguk dan bergegas bergerak keluar, mengambil kotak-kotak makanan titipan Ave.
Tak lama Jaya kembali lagi. Keningnya berkerut saat meletakkan kotak-kotak makanan itu di atas meja. "Ini kok ringan banget ya? Apa gak bocor?" tanyanya heran.
Tiar mengulum bibirnya. Lily tersenyum aneh. Sementara Ajie dan Jaya mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam plastik besar.
Saat Ajie membuka kotak yang berbau ayam goreng kesukaannya. Imajinasinya membayangkan sekotak penuh potongan daging ayam berwarna keemasan yang lezat, salah satu masakan terbaik Ave.
Tapi saat tutup kotak dilepaskan, Ajie termangu.
Di dalam kotak, hanya terlihat tulang-tulang sisa daging ayam. Baru setelah meneliti lebih lama, hanya ada tiga potong paha ayam yang masih utuh
Ajie mengangkat wajahnya heran. "Kok ini... ?"
"Mmm, itu tadi niatnya kita cuma nyicipin sih. Entah kenapa tiba-tiba tangan sama mulut kita jadi keterusan. Tau-tau pas nyampe udah tinggal segitu aja," kilah Lily dengan nada manja sambil sedikit meringis.
Saat yang sama, Jaya juga membuka kotak makanan berisi puding susu cappucino. Tapi di dalam kotak itu hanya ada jejak-jejak susu dan noda air kecoklatan serta dua sendok plastik.
Lily menunjuk ke arah Tiar. "Habis sama bini lo, Bang! Lily cuma nyicip dikit. Beneran! Cuma nyicip dua tiga sendok doang."
Tiar menatap suaminya sambil tersenyum manis. "Bawaan jabang bayi, Sayaaang. Udah lama gak ngopi. Gak papa puding ini rasa kopi dikit aja kok." Lalu berpaling pada Lily dan melotot. "Apaan lo, dua tiga sendok doang... yang ada lo tadi ngabisin separo kali."
Ajie dan Jaya tak bisa berkata apa-apa. Tak lagi terlalu berharap ada sisa untuk kotak makanan terakhir. Hanya harapan selalu ada. Tapi sebelum mereka sempat membuka, sepasang tangan lain sudah menyambarnya. Tangan Emak yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka.
"Tadi Ave kirim pesan, udang cah jamur khusus ini khusus buat Ayah dan Emak! Kalian masak mie instan aja sana! Atau pesan food delivery." Lalu wanita setengah baya itu menenteng kotak makan menuju dapur, tanpa beban meninggalkan dua pria muda yang menelan ludah kelaparan.
Lily mengangguk pada Tiar. "Padahal tadi cuma kotak itu yang gak kita sentuh sama sekali ya, Yar."
Tiar mengangguk sambil memasukkan potongan tart ke mulutnya. Mengunyah dengan bahagia.
Sementara dua pria muda saling berhadapan tanpa bisa berkata apa-apa selain memandangi kotak-kotak kosong di depan mereka.
__ADS_1
Rencana indah, perut kenyang dan hati senang hanyalah impian semata. Ini hanya perut kenyang para istri yang senang.
*****