
~ Cinta itu datang diam-diam, penyesalan datang belakangan ~
Tanpa bertanya lagi, Natasha mengambil tumpukan dokumen yang didekap Ave dan meletakkannya begitu saja di atas meja yang paling dekat dengannya. Lalu ia menatap Elang, "Bawa dia turun! Biar gue yang ngomong sama Zaid."
Elang hanya mengangguk sebelum merangkul Ave menuju lift.
Dengan langkah anggun, Natasha mendatangi Zaid. Raut wajahnya tampak jelas sangat marah. Namun tersembunyi di balik senyum tipis penuh makna. Tanpa peduli pada semua yang memperhatikan dirinya, ia menatap Zaid.
"Gue bawa Ave dulu," desisnya sebelum berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban Zaid.
Zaid hanya bisa memandangi dalam kebisuan. Ia tak menyangka perbuatannya menjadi bumerang. Jika Ave sampai sesedih itu, berarti gadis itu benar-benar tak menyukainya. Sekarang Natasha juga terlibat. Pasti Natasha tahu tentang mereka. Jelas sahabatnya itu juga tak terima Ave menjadi seperti itu. Sungguh bukan ini yang diharapkan Zaid.
Ia hanya jatuh cinta. Ia hanya sekali lagi mengikuti perasaannya sendiri. Ia mengikuti nalurinya yang susah payah ia sembunyikan selama beberapa minggu terakhir. Hati siapa yang mampu bertahan menghadapi gadis secantik Ave setiap saat? Tapi Zaid tak menyangka, menyukai gadis itu adalah kesalahan.
Dulu ia melakukan kesalahan yang nyaris sama. Menuruti kata hatinya. Namun akhirnya membuat seluruh dunianya hancur dalam sekejap, termasuk persahabatan dengan Ajie. Sekarang itu terjadi lagi. Ia tak peduli Natasha akan memaafkannya atau tidak, tapi melihat airmata kembali mengalir di wajah Ave, Zaid merasa dirinya benar-benar manusia yang jahat.
Zaid kini mengerti, selama ini Ave hanya bermain-main. Gadis itu memang pada dasarnya suka bercanda dan bermain. Perbedaan usia membuat Zaid lupa memperhitungkan hal itu sebelumnya. Gadis itu menganggapnya sama seperti yang lain. Sekarang semua sudah terjadi.
"Pak?" Jenny menatap Zaid heran. Gadis itu memberi kode ke arah para tamu yang kini sudah berjalan masuk ke dalam lift. "Meeting kita... "
"Ayo!" potong Zaid sebelum Jenny selesai bicara, sambil melangkah cepat, disusul Jenny yang membawa setumpuk dokumen.
Para tamu sudah lebih dulu naik, jadi tinggal Zaid dan Jenny dalam lift berikutnya. Setelah berpikir, Zaid hanya punya satu cara saat ini.
"Jen, booking flight ke KL secepatnya. Kalau bisa malam ini juga," ucap Zaid datar.
Jenny menoleh kaget. "Eh tapi besok... "
"Re-schedule semua, yang gak bisa biar Hazmi yang tangani. Saya ingin ketemu kakak saya," potong Zaid lagi sambil memasukkan tangan ke kantung celananya lalu menghembuskan napas panjang. "Harus," lanjutnya dengan mata menerawang.
Melihat raut wajah sang bos yang muram, Jenny bisa merasa ada sesuatu yang terjadi. Mungkin ada hubungannya dengan Ave atau... Natasha. Entahlah. Sudah lama Jenny bekerja dengan Zaid, tapi baru kali ini ia melihat Zaid tampak berbeda jika di hadapan dua gadis itu. Jenny tak bisa berbuat apa-apa. Mau tak mau malam ini ia harus lembur lagi, mengatur semuanya agar tak berantakan saat sang bos pergi.
"Tapi bilang ke semua orang kalo saya ada kerjaan di luar. Jangan bilang siapapun kalau saya pulang. Terutama pada Ave."
__ADS_1
Tatapan 'Aha! Benar kan!' terlihat jelas di sorot mata Jenny. Tapi ia hanya mengangguk-angguk. Kini ia yakin seyakin-yakinnya, pucuk masalahnya adalah Ave.
"Mulai besok, Ave akan pindah ke Creative. Setelah meeting, saya akan ke Pak Bambang untuk jelasin semuanya," ujar Zaid. Lagipula sudah lama ia menceritakan soal proposal itu pada Bambang, manajer di departemen Creative.
Kali ini Jenny tak bisa menyembunyikan keheranan di wajahnya. "Tapi.... Tapi... Bukannya Ave itu belum 3 bulan jadi karyawan magang?"
Kali ini Zaid menoleh. "Lakukan saja! Ini hanya sementara."
Sunyi sejenak, sebelum terdengar bunya 'Ding!'. Mereka keluar bersama-sama.
"Pak... " Ragu-ragu, kaki Jenny berhenti melangkah. Zaid juga. "Dulu Bapak pernah bilang agar saya mengingatkan Bapak kalau mungkin akan mengambil keputusan yang salah."
Zaid hanya mengangguk kecil. Tentu saja. Itu salah satu tugas sekretarisnya. Bagi Zaid, sekretaris adalah rekan kerja yang memiliki kesamaan kepentingan dengannya. Mereka harus saling mendukung satu sama lain. Maka pendapatnya harus dihargai.
Inilah salah satu alasan Zaid menerima Jenny dulu. Gadis itu sosok pemberani yang tegas, namun cerdas dan cekatan. Penampilannya yang sederhana tak berarti dibanding kemampuannya membaca reaksi dan keinginan Zaid. Berkali-kali Jenny dan dirinya membuktikan diri sebagai pasangan rekan kerja yang kompak. Dibanding menganggapnya bawahannya, Zaid lebih menganggapnya sebagai sahabat baik.
"Boleh kali ini saya ingatkan, Pak?" tanya Jenny pelan. Kembali anggukan kecil yang terlihat.
Sambil membusungkan dadanya sedikit, Jenny juga mengangkat kepala. Ia ingin terlihat serius agar mampu meyakinkan Zaid. "Jangan melibatkan perasaan pribadi untuk kepentingan perusahaan, Pak. Perusahaan ini memang hanya perusahaan kecil, tapi ada banyak orang yang bergantung pada keputusan Bapak. Saya, Hazmi dan semua karyawan di sini berharap Bapak melihat kepentingan yang lebih besar untuk semua keputusan itu."
"Saya tahu Ave bukan karyawan lama. Dia juga tak punya kemampuan spesial. Tapi jika menyingkirkan dia karena masalah pribadi dan secara gak langsung memintanya melakukan sesuatu yang bukan keahliannya, saya rasa itu sedikit berlebihan dan hanya memaksanya untuk resign secara halus."
"Jadi kamu meragukan keputusan saya?" desis Zaid penuh arti.
Jenny menunduk. Ia tak bisa berdusta. Ia memang meragukan keputusan Zaid kali ini. Ave gadis yang baik dan rajin, terlepas hasil kerjanya yang kadang-kadang salah atau kurang, Jenny menyukai teman barunya itu. Satu-satunya gadis yang bekerja di departemen yang sama dengannya. Bahkan dari seluruh departemen, hanya Ave yang enak diajak bicara dan humoris. Gadis yang juga sama-sama tak peduli tentang penampilan. Nyaman lebih penting. Karena itulah, Jenny yang tomboy merasa punya teman.
Zaid menghela napas. "Saya akui, saya dan Ave memang ada masalah pribadi. Tapi, kepindahan dia ke Creative sudah saya rencanakan sejak beberapa hari lalu, Jen. Saya tidak akan memindahkan seseorang ke departemen yang saya andalkan di perusahaan ini kalau saya tidak mempertimbangkan kemampuannya."
Sebelum ia berbalik, Zaid kembali melanjutkan. "Atau begini saja, kamu bisa bilang ke Ave kalau dia tak mampu menyelesaikan tugasnya, dia bisa kembali ke Manajemen. Sekarang kamu setuju?"
Senyum mulai merekah di wajah Jenny, sebelum ia mengangguk-angguk. Hanya Zaid yang tampak makin murung. Ia tak sendirian menyukai gadis itu. Bahkan Jenny yang sedikit anti sosial itu saja berani membela Ave. Mungkin inilah yang terbaik.
Tanpa berkata lagi, keduanya berjalan beriringan menuju ruang meeting.
__ADS_1
Sementara di basement, Elang dan Natasha menggiring Ave menuju mobil hitam besar yang sudah menunggu. Tak ada satupun yang bersuara. Hanya suara kaki-kaki yang berjalan. Ditingkahi suara ponsel yang terus berbunyi di kemeja Elang.
"Kalian masuk aja dulu ke mobil, gue jawab telepon dulu, Nat," kata Elang. Natasha hanya mengangguk.
Pintu mobil van itu terbuka secara otomatis, dan saat Ave mendongak, Tiar dan Lily menatapnya. Bibirnya langsung melengkung turun, ingin menangis lagi. Namun kali ini buru-buru Natasha mendorongnya untuk masuk.
"Sebenarnya ada apa, Ve? Kami kaget tadi liat pesanmu yang dihapus itu. Ini Mas Ajie lagi gak ada loh. Papa juga. Kamu dicium siapa? Dia maksa? Dia ngelecehin kamu?" cecar Lily sambil memperbaiki letak duduknya. Gerakannya tampak pelan, mengimbangi perutnya yang makin besar.
Tiar mengelus rambut Ave. "Cerita ke kita, Ve. Biar kita bantuin kamu. Jangan disimpan sendiri!"
"Lagian Ve, lu kerja buat impian lu. Bukan untuk nerima pelecehan. Siapapun yang ngelakuin itu, gak boleh maksa. Kalo lu gak suka, kita semua bakal bantuin. Ciuman, atau bahkan sekedar megang tangan lu aja itu gak boleh kalo lu gak mau. Ayo, Ve! Jangan takut! Jangan diam aja!" desak Natasha yang juga sudah ikut masuk.
Airmata Ave kembali berjatuhan. Mereka semua salah paham. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan itu... Bukan itu... " keluh Ave sedih.
Tiga pasang mata menatapnya bingung. Lalu apa yang membuat Ave menangis begitu sedih?
Dengan bahu naik turun, bergetar karena sedih, Ave menjawab pertanyaan di benak ketiga sahabat baiknya.
"Ave nyesel nolak Pak Zaid. Ave nyesel nyakitin dia! Ave nyesel banget!" raung Ave mengeluarkan seluruh isi hatinya yang tertahan.
Lily melongok.
Mulut Tiar menganga.
Tubuh Natasha kaku di tempat duduknya.
Bukan ini yang mereka duga sebelumnya.
Saat itu pintu bagian kemudi terbuka, Elang masuk ke dalam sambil menengok ke belakang. "Jadi siapa yang mau dihajar sekarang, Ibu-ibu?"
Semua tatapan para penumpang berpindah pada Elang dan menjawab dengan kompak. "Eluuu!"
__ADS_1
*****