Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 62 - The Best Friends


__ADS_3

~ Karena mereka tahu sisi burukku terlalu banyak (Zaid, Natasha, Hazmi) ~


Natasha benar-benar tak mengerti Zaid. Pria itu mengambil keputusan yang sangat bodoh. Bagaimana bisa Zaid berpikir membuat dirinya digantikan oleh gadis sombong dan arogan bernama Maya itu?


Memang benar, Maya juga memegang kontrak eksklusif dengan The Crown Models, tapi semua orang tahu Maya selalu menghasilkan masalah untuk Zaid. Berkali-kali gadis itu hampir menggagalkan kontrak hanya karena sifat egoisnya.


Bukan karena Natasha merasa dirinya lebih mampu, tapi Natasha ingin membantu sahabat baiknya itu mengatasi masalah perusahaan atau setidaknya menghindari masalah. Bagaimanapun, The Crown adalah bagian dari diri Natasha juga.


"Pak Zaid ada?" tanya Natasha begitu berada di depan Jenny.


Jenny tampak terkejut melihat kehadiran Natasha dan hanya mengangguk sambil menunjuk ke arah ruang kerja Zaid.


Ketika Natasha bergerak ke pintu masuk, Jenny melirik jam di dinding. Masih sangat pagi. Model cantik itu pasti menuju kantor ini begitu bangun pagi tadi. Untuk seseorang yang tak suka bangun pagi seperti Natasha, masalah ini pasti tak ringan baginya. Sesuai dugaan Jenny, Natasha pasti ingin tahu alasan Zaid menariknya kembali.


Di dalam wajah Hazmi juga terlihat kecewa. Ia tak mengerti kenapa Zaid harus berkorban sejauh ini. Mereka telah bersahabat sejak masih di SMP. Selama itu Hazmi sudah melihat Zaid dalam berbagai pasang surut kehidupannya. Tapi baru kali Hazmi merasa Zaid kehilangan akal sehat.


"Lu lepas 30% saham lu begitu aja, Id? Lu gak sayang semua hasil kerja lu selama ini?" tanya Hazmi tanpa menggunakan bahasa formal lagi.


Zaid yang sedang membaca dokumen di depannya, hanya diam.


"Kak Zahra menelpon gue semalam. Dia kaget lu sign kontrak itu. Dia nanya ke gue untuk apa lu butuh uang sebanyak itu. Gue gak ngomong apa-apa tapi bagi gue cara lu juga gak benar," keluh Hazmi.


Zaid mengangkat wajahnya. "Lu tau buat apa gue butuh uang sebanyak itu."


"Oke, gue tahu dan gue gak berani kasih tau kak Zahra. Tapi untuk Ave, lu berkorban terlalu banyak, Id. Ave mungkin polos, tapi dia gak bodoh. Dia juga pasti akan menyesalkan cara lu ini. Dia pasti gak setuju."


Zaid mendengus. "Gue perlu sesuatu supaya bisa berdiri di depan Ajie, Hazmi."


"Apa maksudmu, Zaid? Apa ini ada hubungannya dengan aku harus kembali?" tanya Natasha sambil membuka pintu ruang kerja Zaid. Ia telah mendengar semuanya sejak Hazmi bertanya tadi dan nama Ajie membuatnya penasaran.


Zaid berdiri. Menatap Natasha dengan sorot mata menyesal. "Duduklah, Nat. Biar kujelaskan semuanya."


Natasha hanya bisa menghela napas. Ia tahu dari Lily dan Tiar kalau Zaid dan Avelia berpacaran. Tapi ia tak mengerti apa yang terjadi secara keseluruhan. Elang juga tak membantunya. Semalam ia terlalu lelah saat Elang menjemputnya ke bandara, mereka tak membicarakan soal Zaid sama sekali.


"Hazmi, lu tau berapa porsi saham perusahaan ini?"


Hazmi menatap Zaid sebelum menjawab tak berdaya, "10% Kak Zahra, sekarang 60% saham lu sudah terbagi antara lu 30% dan Elang 30%. Natasha 10℅, Ricky dan gue total 10%. Sisanya publik."

__ADS_1


Mata Natasha melotot pada Zaid. "Elang beli sahammu, Id? Buat apa?... Tunggu! Jangan bilang itu alasan kamu panggil aku pulang?"


Tak ada jawaban. Tapi raut wajah Hazmi menjawab telak pertanyaan Natasha. Sementara Zaid hanya menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Kamu udah gila, Id! The Crown ini jerih payah kita berempat! Ngapain kamu jual sebanyak itu ke dia?" kata Natasha nyaris menjerit. Ia benar-benar tak mengenali lagi sahabat di depannya ini.


Zaid tersenyum miris. "Elang kekasihmu, Nat. Setidaknya aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang menyakitimu."


Natasha menatap Zaid tanpa tenaga. Digeleng-gelengkannya kepala. "Hubunganku dengan Elang itu tak seperti yang dibayangkan orang, Zaid. Dia lebih muda dariku. Aku ini siapa juga semua orang tahu. Elang punya orangtua dan keluarga yang bukan tipeku. Mereka belum tentu mau menerimaku sebagai istrinya. Jangankan mereka, aku sendiri meragukan diriku. Mana ada keluarga kaya begitu mau menerima perempuan sepertiku. Artis, lebih tua dan punya banyak sejarah berita yang memalukan."


"Apa Elang sudah memberitahu apa alasan dia melakukan semua ini?" tanya Zaid pelan. Ada senyum di bibirnya tapi sorot matanya tampak sedih.


Natasha terdiam. Perlahan ia menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu, Zaid. Tapi aku tidak mau dia mengatur hidupku karena saham itu. Aku tidak ingin menyulitkan dirinya. Aku sengaja ke Jepang, untuk menyadarkan dia kalau kami tidak cocok."


Diam-diam Hazmi mengagumi keinginan Natasha. Untuk pertama kalinya ia melihat ketidakberdayaan di sorot mata sahabatnya itu. Ia sudah melihat bagaimana Natasha bersikap pada semua pria yang mengejar cinta gadis itu. Tapi setelah Ajie, baru kali ini ia melihat cinta di mata Natasha lagi. Jenis cinta yang berbeda. Jauh dari egoisme untuk memiliki, hanya ada kasih yang merelakan kebahagiaan walaupun harus membuat dirinya sendiri tersiksa.


"Elang akan dijodohkan dengan Avelia. Ia tidak mau. Avelia juga. Aku apalagi. Tapi mereka tidak bisa mengatakan hal itu karena Elang tidak ingin hubungan baik keluarganya dan keluarga Ave berantakan. Aku tidak menjelaskan soal saham pada Ave. Tapi kemarin Ave mengundang Lily dan Tiar untuk memberitahu segalanya ke rumah. Kurasa dia juga sudah tahu, hanya belum menjelaskan padaku."


Natasha mengangkat tangan. "Tunggu dulu! Jangan bilang rumah yang mereka kunjungi itu rumahmu? Kalian hidup serumah?!"


Zaid tak menjawab, tapi lagi-lagi tatapan matanya menjawab pertanyaan itu.


Perlahan airmata Natasha mengalir. Emosinya sudah tak lagi bisa ia kendalikan. Berada dalam situasi yang nyaris sama seperti beberapa tahun lalu. "Aku sayang kalian semua. Kalian semua sahabatku. Kalau kalian kembali seperti dulu. Saling menyakiti. Saling menghancurkan. Aku bisa apa?" bisiknya sedih sambil terduduk lesu.


Zaid berdiri dan pindah ke sebelah Natasha, merangkul pundaknya. Ia membiarkan Natasha bersandar di bahunya. Lalu ia memberi kode pada Hazmi untuk mengambil kontrak lain di atas mejanya.


"Tenangkan dirimu, Nat! Aku akan menjelaskan rencanaku dan rencana Elang. Aku harap setelah itu kamu akan mengerti. Aku harus melakukan ini, bukan hanya untuk aku dan Ave atau kamu dan Elang. Tapi ini juga untuk memperbaiki semuanya. Aku juga menyesal, Hazmi dan Ricky juga sama. Setelah kamu tenang, bacalah ini," pinta Zaid. Tangannya mengambil kontrak yang disodori Hazmi.


Natasha menghapus airmatanya, lalu membaca kontrak itu. Wajahnya terangkat. Terlihat sinar harapan dalam sorot mata indah itu. "Ini... "


"Aku menggunakan semua yang kumiliki untuk membeli itu. Tidak banyak yang bisa kukumpulkan. Tapi itu akan membuat setidaknya... aku bisa duduk bersama Ajie. Soal Elang, aku yakin dia pria yang baik. Elang tidak akan melakukan apapun yang bisa membuatmu tertekan. Dari awal, aku juga tidak setuju kamu sign kontrak di Jepang. Lagipula, Nat... Cinta itu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan. Jika bisa, aku juga tidak ingin jatuh cinta pada Ave. Tapi siapa yang bisa melawannya?"


Suasana hening dalam ruangan itu kini tak lagi sesuram sebelumnya.


"Selain batuk, bersin dan kentut, cinta juga tak bisa ditahan. Lihat Hazmi! Siapa yang menyangka teman paling playboy kita itu bisa tergila-gila dengan Jenny yang tak pernah tersenyum?" kata Zaid sembari melirik Hazmi yang duduk di depan mereka. Ia mencoba mengalihkan suasana tegang.


"Hei! Kenapa gue dibawa-bawa?!"

__ADS_1


Di antara senyum pahit dan perasaan tak berdaya, Natasha bergumam, "Kita pernah membenci para anak orang kaya itu. Siapa sangka hidup kita justru berada di tangan mereka sekarang. Apa ini karma?"


Zaid tertawa. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Entahlah, Nat. Aku pernah mencoba memprotek diriku dari Ave. Tapi sekarang... apapun yang kumiliki tak berarti tanpa dia."


"Gila lu, Id. Kalo Ave denger ini bisa habis lu dikerjain sama dia," kata Hazmi sambil tertawa.


"Dia sudah melakukannya setiap hari, Mi. Anehnya, gue gak sanggup bilang tidak."


Hazmi kembali tertawa. Tapi tawanya terlihat mencurigakan. "Hmmm, sekarang gue tau harus minta ke siapa untuk naikin gaji gue di sini. She is the real boss."


"Awas aja kalo lu berani!" seru Zaid berpura-pura marah. Tapi sedetik kemudian, tawanya juga pecah berderai.


Perlahan hati Natasha jauh lebih tenang. Ia tak tahu apakah ia bisa mempercayai Elang. Tapi Zaid dan Hazmi adalah dua sahabat yang bersamanya sejak dulu. Mereka sudah mengalami susah dan senang bersama. Apapun yang terjadi nanti, Natasha yakin kedua sahabatnya tidak akan meninggalkannya. Mereka membangun The Crown bersama, jika akhirnya harus melepaskan maka mereka hanya perlu membangun The Crown yang lain. Mungkin itu hal yang berat, tapi bukankah inilah arti persahabatan sesungguhnya? Berjuang bersama, melewati susah senang pun bersama.


Natasha menyentuh lengan Zaid. "Kalau aku boleh minta sama kamu, Zaid. Tolong apapun yang terjadi antara kamu dan Ajie, bahkan jika itu artinya kamu harus mengalah, jangan membuat Avelia sedih. Dia baru saja bangkit dari kesedihannya. Semua masalah kita ini mungkin akan membuatnya bingung. Elang cerita padaku, Avelia mengalami depresi saat itu."


"Soal itu, jangan kuatir, Nat," ucap Zaid mengangguk tegas. Ia telah berjanji sejak tahu siapa Ave, ia bisa mengorbankan dirinya, tapi tidak akan membiarkan Avelia sedih.


"Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik untukku, Id. Aku membuatmu berada dalam situasi ini. Seandainya aku tak membawa Ave padamu."


Zaid tersenyum. "Aku malah berterima kasih untuk itu, Nat. Sangat berterima kasih. Kamu mengubah hidup seorang pria yang membosankan."


Natasha bergidik. "Duh, come on, Id! Bahkan cara bicaramu sudah sangat berubah. Oh please, menakutkan!* Are you really my best friend?"*


Tawa Zaid terdengar lagi. "I will always your best friend, Nat. I know too much about you and you know too much about me. Ha ha ha!"


[Aku akan selalu jadi teman baikmu. Aku sangat tahu dirimu dan kau terlalu mengenal baik diriku]


"So, kamu jadi teman baikku hanya karena aku tau terlalu banyak sisi burukmu?"


Mata Zaid menyipit saat melirik Natasha. "Bukannya itu juga yang menjadi alasanmu, Natasha?"


"Jadi lo berdua juga jadiin gue sahabat karena... " Gumam Hazmi menatap keduanya.


"You know our bad side too much," ucap Natasha dan Zaid bersamaan.


[Kamu tahu sisi buruk kami terlalu banyak]

__ADS_1


Lalu tiga orang itu tertawa bersama-sama.


*****


__ADS_2