Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 29 - Panic Attack! The Cold War End


__ADS_3

~ Kuatir, bingung dan panik. Perang selesai. Saatnya menyerah ~


Ave ingin langsung menekan tanda hati merah di sisi komentar Zaid. Tapi Ave tak ingin terkesan terlalu berharap. Jadi ia menunggu.


Baiklah. Menunggu.


Ave meletakkan ponsel di atas meja, memandanginya sebentar. Lalu berdiri untuk ke kamar mandi. Tapi saat sedang menyikat gigi, ia seolah-olah mendengar suara dering ponsel. Dengan sikat gigi masih terselip di mulut, Ave mendekati meja. Layar ponsel tampak hitam. Tak ada telepon masuk. Baru saja hendak berbalik, terpikir hal lain.


Bagaimana kalau Zaid menelponnya? Bagaimana kalau ada notifikasi komentar lain dari Zaid masuk saat ia di kamar mandi?


Baiklah. Bawa saja ponselnya ke kamar mandi!


Sampai di kamar mandi, Ave kebingungan. Taruh di mana? Matanya berkeliling mencari posisi yang tepat. Lalu senyumnya mengembang saat melihat rak tempat handuk bertumpuk. Di situ kering dan sudah pasti aman dari air. Dengan sedikit berjinjit, Ave meletakkan ponsel di atas handuk-handuk yang bertumpuk. Lalu ia melanjutkan sikat gigi.


Sambil bersenandung kecil, Ave menyelesaikan perawatan kebersihan sebelum tidurnya. Setelah sikat gigi, ia mencuci mukanya dan karena terlalu bersemangat, matanya terkena sabun. Buru-buru Ave mencuci matanya yang terasa perih. Lalu dengan mata masih terpejam sebelah karena perih, Ave meraih handuk.


Dia lupa kalau ada ponsel bertengger di situ. Maka ketika tangannya menarik handuk...


Duk! Drak!


Tangan Ave yang sedang mengusap handuk ke wajahnya berhenti. Tubuhnya membeku sebelum perlahan melirik ke belakang. Ke arah lantai kamar mandi. Telepon jatuh terbanting dalam posisi terbalik. Belum lagi ia sempat memungutnya, ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk.


Bergegas Ave berjongkok memungutnya. Tapi kaca layar justru berserakan jatuh. Pecah tak karuan. Namun masih sempat menampilkan nama Natasha sebelum lenyap dan mati.


Bagaimana ini? Bagaimana sekarang? Aduh! Tolong Ave!  jerit Ave dalam hati, kebingungan sambil bolak balik di kamar mandi.


Buru-buru Ave keluar dan berlari menuju rumah utama. Ia ingat ada telepon biasa di rumah itu. Ia bisa memakainya untuk menghubungi Natasha dan setidaknya ia bisa memberitahu kalau ponselnya rusak.


Benar saja. Ave menemukan telepon di ruang keluarga. Ia duduk di sofa dan meraih gagang telepon. Namun sekali lagi ia terdiam.


Tak ada nomor ponsel siapapun yang bisa ia ingat. Teknologi penyimpan data kontak di ponsel menyimpan semua ingatan itu tanpa perlu repot-repot ia lakukan. Sekarang baru Ave sadar pentingnya menyimpan sesuatu secara manual. Ia bahkan tak bisa menampilkan data kontak apapun di ponsel yang hanya bisa bekerja dengan disentuh.


Bahu Ave merosot turun. Bingung. Masak ia harus menunggu sampai besok? Oh tidak! Di antara semua penderitaan, kehilangan ponsel adalah puncak dari stress. Dan Ave berteriak kesal, "Aaakh!! Dasar sial!"


Merasa sia-sia, Ave meletakkan kembali gagang telepon. Namun matanya tak sengaja melihat notes kecil. Ia meraihnya dan mulai melihat-lihat isinya.


Buku telepon! Alhamdulillah. Alhamdulillah, jerit Ave kesenangan.


Namun, satu-satunya nomor ponsel yang ia kenal orangnya hanyalah Zaid. Sisanya nama-nama dan nomor yang tak ia ketahui. Sepertinya daftar ini hanya berisi  nomor ponsel keluarga atau teman Zaid.


Tapi Ave senang. Sekarang ia punya alasan untuk bicara dengan Pangeran Saljunya. Masa bodoh dimarahi. Masa bodoh dianggap bodoh. Ave kangen dengar suaranya.


Dengan penuh semangat Ave menekan angka-angka sesuai nomor Zaid. Lalu menempelkan telepon di telinganya. Menunggu.


Tut! Tut! Tut!


The number you are calling is busy...


Heh, sibuk? Jam segini? Ave melirik jam dinding. Nyaris pukul 11 malam. Siapa yang menelpon Zaid semalam ini? Siapa? Kekasihnya? Tidak mungkin. Zaid mencintainya. Lalu.... Apa itu mantan kekasihnya? Tidak! Bisa saja itu rekan bisnisnya yang berbeda negara. Mungkin jam kerja mereka berbeda.


Mungkin...


Jadi Ave mengulang sekali lagi. Masih sibuk. Ia menunggu semenit. Mengulang sekali lagi. Masih sama. Ave menunggu lebih lama dan hasilnya tetap sibuk.

__ADS_1


Siapapun itu pasti ada seseorang yang sangat penting sedang berbicara dengan Zaid. Seseorang yang bukan dirinya.


Dengan lesu, Ave meletakkan gagang telepon dan memandangi layar ponselnya yang sudah berantakan. Sudahlah, sudah berakhir semua. Ia hanya bisa menunggu sampai Zaid pulang. Lalu menjelaskan semuanya. Zaid tak boleh marah lagi dengannya. Dunia Ave benar-benar terasa suram tanpa Pangeran Salju. Pangeran berwajah dingin yang kehadirannya saja cukup untuk menghangatkan dunia Ave.


Sementara di negeri tetangga, Zaid menghela napas panjang mendengar kemarahan Natasha.


"Gue masukin Ave ke kantor lu, bukan untuk lu jamah-jamah sembarangan gitu, Id! Anak baru kemaren sore lu gituin, ya nangislah dia! Gue kalo tahu lu yang berbuat, gue tampar lu. Setelah ngelakuin gitu... lu malah pergi. Ninggalin anak orang yang kebingungan. Lu pikir lu Don Juan apa?"


"Gue kerja di sini, Nat. Ada meeting... "


"Meeting meeting apaan!? Gue tahu lu dadakan ke KL. Ngadu sama Kak Zahra kan? Buat apaan? Lu masih kek dulu, Id! Masih kayak anak kecil. Dulu juga lu cuma bisa melarikan diri. Sekarang juga gitu! Lu tau gimana tadi Ave nangis gara-gara lu cuekin?"


"Please, Nat! I'm so sorry." Zaid benar-benar tak bisa berkata apa-apa selain meminta maaf. Ia tak menyangka kalau hubungan Ave dan Natasha jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan.


"STUPID! Lo emang stupid, Id! Bener-bener stupid! Cepat lu balik! Jelasin sama Ave kalo ini bukan salah dia! Gue gak enak sama kakaknya."


"Beri gue waktu, Nat! Gue hanya weekend ini aja kok di sini. Biarkan tiga hari ini gue mikir apa yang harus gue lakukan. Minggu sore gue pulang."


"Oke. Tapi lu mesti clear-kan semuanya sama Ave. Gimana anak orang gak bingung? Lu biasa kerasin dia, tiba-tiba nyatain perasaan. Jelas dia nolak... Jangankan dia! Gue aja gak sudi. Cuih!"


Kalau saja tak mengenalnya sejak SMA, takkan mungkin Zaid menerima omelan panjang lebar begini. Tapi begitulah Natasha. Bahasa dan sikap kasarnya justru hanya diketahui orang-orang yang sudah sangat dekat. Jadi ia tak kaget lagi dengan perlakuan begini. Zaid malah senang ada seseorang yang mengingatkan kesalahannya. Walaupun dengan cara yang sangat tak biasa.


"Ave itu masih muda, Id. Dari kakaknya dan teman baiknya, gue tahu kalau Ave itu belum pernah pacaran. Hidupnya gak kayak lu bayangin. Hidupnya habis untuk ngurus almarhumah mamanya. Wajar kalo dia gak ngerti perasaannya sendiri. Wajar juga dia kaget dan milih nolak lu. Emangnya lu nyatainnya gimana? Maksa?"


"Gue hanya bilang... " Zaid terdiam. Ia baru sadar kalau saat ia mencium Ave, ia hanya mengucapkan pesan tersirat. Tak pernah benar-benar jelas. "... Dia boleh ngomong kalo gak suka gue... " Kalimat Zaid terhenti, wajahnya menahan pias karena malu.


"Kalo lu cium?" sambung Natasha. Mendadak kemarahannya menguap. Ia baru ingat. Usia Zaid mungkin lebih tua darinya, tapi ini pertama kalinya Natasha melihat sahabatnya itu dekat dengan seorang gadis. Ia berusaha menahan tawanya.


Dengan senyum simpul, Natasha berujar. "Nah, itu yang bikin Ave menolak lu, Id. Dia jelas takut. Lu kan berubah-ubah. Kemarin lu bilang dia gak boleh pacaran, trus lu marah dia dekat sama Ajie dan sekarang... tiba-tiba lu bertingkah begitu. Pekerjaan dia kan jadi taruhan. Siapapun pasti ketakutan."


Terdengar suara helaan napas Natasha di ujung telepon. "Zaid, gue rasa sebaiknya tunjukkan dulu perasaan lu lewat perlakuan yang baik sama dia! Yakinkan dia dulu, baru nanti lu coba ngomong lagi sama dia. Gue rasa itu yang terbaik saat ini."


Lalu tak lama setelah itu telepon berakhir. Semua menjadi lebih baik sekarang. Natasha berjanji akan membantu Zaid jika ia sudah selesai dengan promo film terbarunya. Tapi sebelum itu Zaid akan bicara dengan Ave.


"Siapa itu, Bang? Temanmu?" Pertanyaan itu membuat Zaid mendongak. Ada Zahra, kakaknya keluar dari kamar.


Zaid mengangguk. "Iya, Kak. Temanku di Jakarta. Kakak belum tidur? Maaf kalo suaraku ngebangunin Kakak."


Zahra tersenyum dan duduk di samping adiknya. "Enggaklah, Bang. Kita kan jarang bisa bertemu. Gak papa kok. Kakak biasa kok belum tidur jam segini. Beberes buat besok. Tapi ngomong-ngomong... kamu muncul dadakan begini, terus telepon temanmu yang seperti orang berteriak itu... Ada masalah di Jakarta, Dek?"


Saat itu layar ponsel Zaid menyala. Beberapa notifikasi masuk. Zaid urung menjelaskan. "Sebentar, Kak! Ada yang nelpon aku tadi."


Zahra mengangguk sambil berdiri. "Ya udah, kamu telepon balik aja. Siapa tau penting. Kakak ngambil minum dulu."


Mata Zaid menatap nomor telepon yang tertera. Itu nomor telepon rumahnya. Siapa ini? Dengan satu kali mengusap, Zaid menelpon balik. Satu kali, dua kali, tiga kali... lalu ketika dering ke sekian kalinya, kesabaran Zaid mulai menipis.


Hanya ada Ave di rumahnya. Perlahan-lahan kekuatiran menyusup masuk. Kali ini Zaid mengganti nomor yang ia tuju dengan nomor ponsel Ave. Sekali lagi ia mengulang-ulang hingga berkali-kali, tapi jawabannya sama. Nomor Ave tidak aktif.


Zaid mulai putus asa. Ia berdiri, berjalan bolak-balik sambil terus menghubungi nomor telepon rumah dan ponsel Ave bergantian. Sama sekali tak ada yang menjawab. Tingkahnya membuat Zahra yang keluar membawa segelas air putih heran.


"Ada apa, Bang? Kok kamu panik gitu?" tanya Zahra bingung.


Zaid menoleh sekilas. "Ada yang nelpon, tapi kutelpon gak jawab, Kak. Telepon rumah dan ponselnya. Semua gak dijawab."

__ADS_1


"Mungkin dia udah tidur, Dek."


"Tapi ini... ini... "


"Kamu terlalu panik. Sudahlah! Istirahat saja dulu. Besok saja kamu cerita," ujar Zahra tenang sambil naik tangga.


Merasa Zahra mungkin benar, Zaid pun masuk ke kamarnya sendiri. Namun, tetap saja hatinya merasa tak tenang. Ia mencoba menelpon sekali lagi. Tetap saja tak ada jawaban. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan. Kekuatirannya makin menebal.  Jam bergerak normal, tapi Zaid merasa semuanya berjalan terlalu lamban dari biasanya.


Lewat tengah malam, seluruh kekuatiran Zaid tak lagi bisa dibendung. Dengan satu usapan, ia memilih aplikasi pemesanan tiket. Hari ini juga, secepatnya ia harus kembali ke Jakarta. Lalu ia mulai memasukkan kembali barang-barang ke dalam koper kecil dan tas ranselnya yang semalam baru ia keluarkan.


Usai sholat subuh, ia berpamitan pada kakaknya. Meski pesawatnya baru terbang jam 7 pagi, tapi Zaid meminta diantar sesegera mungkin ke bandara. Walaupun heran, Zahra tak banyak bertanya. Ia sudah terbiasa menghadapi adiknya yang tertutup itu.


Tak hanya sekadar menunggu, Zaid menghubungi Jenny dan Hazmi untuk memeriksa rumahnya memakai kunci cadangan yang disimpan di laci kantornya.


Tak sampai tiga jam berikutnya, Zaid sudah berada dalam taksi menuju rumahnya. Pikirannya tak tenang, namun terus mendengungkan doa. Semoga tak terjadi apapun pada Ave.


Saat Zaid turun dari taksi dengan terburu-buru dan nyaris meninggalkan kopernya, Hazmi sudah berdiri di depan pintu menunggunya.


"Ave gimana? Dia baik-baik aja?" tanya Zaid.


"Ave?" Hazmi tampak bingung.


Zaid menatap Hazmi. Ia juga tak mengerti. "Mana Jenny?" tanya Zaid sambil melangkah masuk.


"Oh, kami baru tiba juga, Pak. Jenny di dalam. Tadi masuk duluan mau ke toilet sebentar. Tapi rumah Bapak baik-baik saja. Tidak ada yang aneh."


Zaid menoleh cepat. "Bukan rumah saya yang saya suruh kalian periksa. Tapi Ave! Keadaan Ave gimana?" tanyanya sambil melewati Hazmi. Masuk ke dalam rumah.


Hazmi berdiri kebingungan. Menatap punggung bosnya penuh tanda tanya, tapi supir taksi sudah memanggilnya dan menyodorkan koper Zaid yang baru diturunkan.


Di dalam, Zaid bertemu Jenny yang baru keluar dari toilet. Gadis itu tampak heran. Ia tak menyangka Zaid kembali secepat ini. Baru saja semalam bosnya itu berangkat, tapi paginya sudah berada di Jakarta lagi.


"Ave gimana?"


"Ave?" Jenny bingung, menatap Zaid lalu berpindah pada Hazmi yang sedang mendorong koper masuk. Ia hanya bisa menggeleng.


Kaki Hazmi juga berhenti melangkah. "Maksud Bapak... Ave tinggal di sini?" tanya Hazmi.


Zaid baru ingat. Tak ada satupun orang yang tahu kecuali mereka berdua dan Elang. Tidak juga dua orang kepercayaannya yang justru membantunya merekrut Ave sebagai Chef di rumahnya. Zaid memandangi kedua wajah bengong di depannya sebelum akhirnya menghela napas.


"Nanti saya jelasin di kantor. Kita lihat dulu keadaan Ave. Semalam saya dapat telepon darurat darinya." Tanpa menunggu lagi, Zaid berjalan cepat menuju paviliun kecil di belakang rumahnya.


"Ve?" panggil Zaid sambil mengetuk pintu. Tak ada jawaban, jadi ia memilih mencoba mendorong pintu. Dengan mudah gagang pintu itu terputar. Tidak dikunci.


Jantung Zaid seakan berhenti berdetak. Ia mempercepat gerakannya. Masuk tanpa pikir panjang lagi dan menatap ke sekeliling ruangan, mencari Ave.


Gadis yang ia cari tertidur pulas sambil tengkurap di atas tempat tidur. Ada laptop terbuka di depannya dan telinganya tersumbat headset.  Perlahan-lahan Zaid masuk, mendekati Ave. Gadis itu tampak baik-baik saja. Ia hanya tertidur. Telinganya yang tersumbat menjadi jawaban dari telepon yang tak terjawab.


Lalu Zaid memindahkan laptop dan tanpa sengaja monitor yang istirahat itu menyala. Menunjukkan sebuah proposal yang sedang dikerjakan Ave. Santai, Zaid duduk di ujung tempat tidur dan melihat-lihat isi proposal yang tampaknya sudah selesai itu. Sampai tubuh Ave bergerak, berpindah posisi yang lebih nyaman.


Zaid tersenyum, berdiri meletakkan laptop Ave di atas meja. Tapi ia malah menemukan ponsel Ave yang rusak tergeletak di meja. Lega hati Zaid melihatnya. Semua pertanyaannya sepanjang malam terjawab sudah.


Setelah menyelimuti Ave, Zaid duduk di  tepi tempat tidur memandangi gadis itu. Melihat Ave yang tertidur pulas, ia mulai mengantuk. Sejak kemarin ia bolak balik naik pesawat, tidak tidur sama sekali dan sekarang matanya sudah tak lagi bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Sebentar saja... hanya sebentar.


*****


__ADS_2