
~ Di antara semua bintang, hanya satu bintang bersinar yang terlihat ~
Sungguh Ave tak berani mengangkat wajahnya usai menyatakan perasaannya secara tak sengaja. Ia tahu, semua itu hanya spontan, tapi ia tak menyangka kalau Layla sama seperti Zaid. Sama-sama cerdik.
Untunglah, tak lama Zahra datang dan ia mengajak Ave untuk menyiapkan makan malam. Ave pun bisa menghindari Zaid yang kemudian dibuat sibuk oleh ponakannya itu. Hanya sesekali terdengar suara teriakan senang Layla yang sepertinya diajak bermain games bersama Zaid di ruang keluarga.
"Kami bukan saudara kandung. Zaid hanyalah adik tiri saya," ucap Zahra tiba-tiba ketika Ave tersenyum-senyum mendengar suara riuh Layla yang ditingkahi suara berat Zaid dari ruang keluarga yang terletak persis di samping dapur.
Tangan Ave yang sedang menyendok sayur dari panci ke mangkuk besar terhenti seketika, gadis itu berpaling pada Zahra. Sorot mata sedih kini terlihat di wajah wanita berpipi chubby itu. Bibir Zahra masih tersenyum, tapi senyum itu malah memperjelas kesedihannya. Setelah menghela napas panjang perlahan-lahan, Zahra mulai bicara.
"Bapa saya berkahwin dengan Mama Zaid ketika Zaid berusia 12 tahun. Pada mulanya kita tak pernah bertemu, kerana saya tinggal di KL dengan ibu saya sejak ibu bapa saya berpisah. Saya tidak tahu permulaan yang tepat, tetapi saya tahu Zaid tak menerima Bapa saya. Dia fikir ... Bapa saya adalah orang yang membuat Mama dan Papanya terpisah. Saya juga... sempat tak suka dengan perkahwinan mereka."
Ave memilih berhenti memindahkan sayur ke mangkuk dan seksama mendengarkan Zahra. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kakak tiri Zaid ini.
"Suatu kali saya melawat ke Jakarta dengan nenek saya untuk memberitahu ayah saya bahawa ibu saya meninggal dunia. Di sana saya berjumpa dengan Zaid, dia sangat sopan dan hormat pada saya tapi dia seorang pemberontak bagi Mama dan Bapa. Setiap hari Mama sentiasa marah dan marah kepadanya. Hingga menangis. Saya kesian pada Mama, dia tu ternyata baik hatinya. Sejak tu saya dan Mama mulai sering menelfon."
Jemari Zahra menyusut airmatanya yang mulai merebak.
"Setiap telepon, Mama selalunya mengeluh soal Zaid. Zaid tak suka sekolah, tak suka belajar, suka mengganggu teman, melawan Mama dan... akhirnya dia kena diusir dari sekolah. Mama menangis menelfon saya, minta bantuan saya untuk nasehatkan Zaid. Tapi saat Bapa dan Mama cuba bicara pada dia... tiba-tiba dia pergi dari rumah."
Seseorang yang begitu disiplin, terlihat pintar dan jarang sekali melanggar batas bisa memiliki masa lalu seperti itu membuat dada Ave sedikit sesak. Andai bukan Zahra yang bercerita, mungkin Ave takkan pernah bisa mempercayainya.
"Ketika mereka mencari Zaid di Puncak, Mama dan Bapa saya mendapat kemalangan kereta dan... kedua-duanya tiada seketika. Saya bersama keluarga arwah Bapa dari KL yang memakamkan keduanya di Jakarta, tapi kami tak berjumpa dengan Zaid. Kami berusaha mencarinya, tapi tak jumpakan jua."
Mata Ave terasa panas, hidungnya mulai terasa berair dan bibirnya mengatup rapat menahan getar. Ia bisa membayangkan perasaan Zaid sekarang. Ave tahu benar rasanya kehilangan.
"Lalu... apa yang terjadi, Kak?" bisik Ave dengan suara bergetar.
Zahra juga mulai tak bisa menahan tangis. Matanya berkaca-kaca. "Saya memutuskan untuk menunggu Zaid sehingga dia pulang ke rumah. Selepas tujuh hari, Zaid pulang ke rumah. Dia terkejut melihat saya menyapa dia di sebuah rumah yang penuh dengan orang-orang membaca doa. Ia tak percaya, tapi ketika saya tunjukkan kubur arwah Mama dan Bapa, ia memukuli badannya berkali-kali depan kubur mereka. Menyalahkan dirinya tak henti-henti."
Ave kini benar-benar terisak. Bisa ia bayangkan betapa menyakitkan saat berpisah untuk selama-lamanya dengan cara seperti itu. Mereka berdua dalam keadaan marah, dan tak sempat saling meminta maaf.
Kedua tangan Zahra terjulur memeluk bahu Ave. Airmatanya mengalir pelan. "Zaid telah berubah sejak itu. Dia turuti semua apa yang saya nasehatkan dan saya mahukan untuknya. Tapi ... Zaid tak lagi gembira. Dia tak kerap lagi tertawa, tak kerap tersenyum bahkan selalu sibuk. Dulu kuliah dua gelaran sekaligus, habis tu dia hanya sibuk pikirkan perusahaannya. Tak ada lagi Zaid yang jenaka, ceria dan sedikit humor. Dia jadi orang yang sejuk. Seperti manusia robot yang tak berhati."
Perlahan Zahra menghapus air di sudut mata Ave. Ia tersenyum walaupun di matanya sendiri masih ada genangan airmata.
Ave menatap lembut Zahra, "Pasti saat itu juga berat buat Kakak, Ibu Kakak baru meninggal lalu kehilangan Bapak, dan masih harus mengurus Mas Zaid."
__ADS_1
Zahra mengangguk. "Iyalah, berat jika kita fikir. Tapi kerana Zaid, saya kuat. Dialah alasan saya hidup. Dia adik saya, dia keluarga saya juga. Saya jagakan dia untuk Mama dan Bapa."
"Dan Mas Zaid sekarang benar-benar luar biasa. Kakak sungguh hebat!" puji Ave masih dengan mata berkaca-kaca tapi wajah yang gembira. Zahra juga tersenyum lebar.
"Saya tau awak peduli pada adik saya itu. Itu sebab saya cerita ini semua kepada awak. Saya mahu Zaid berhenti merasa bersalah, kerana sejak itu ia tidak pernah lupa tentang kesalahannya. Saya mahukan Zaid gembira, Ave. Buat Mama yang baik hati. Buat saya, kerana dia adik saya satu-satunya. Saya lihat hanya awak yang membuatnya boleh kembali seperti dahulu. Bisakah anda terima adik saya sebagai suami awak kelak? Ia tiada keluarga lain, hanya saya, Layla dan suami saya."
Ave mengangguk dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. Tentu saja. Jika nanti semua misinya selesai, Ave akan memastikan Zaid berbahagia. Sekali lagi Zahra memeluk Ave, mengucapkan alhamdulillah berulangkali.
"Kak... "
"Ibu..."
Kedua wanita itu menoleh pada dua suara yang memanggil bersama. Tampak Zaid mendekati kitchen island bersama Layla yang dirangkulnya.
"Kenapa kalian menangis?" tanya Zaid heran bercampur kuatir. Layla juga memandangi dengan ujung alis nyaris menyatu.
Mata Ave melirik sambal di dekatnya. "Ini loh! Barusan Kak Zahra menggoreng, jadi mata kami pun begini. Ha ha ha... Ya kan Kak?"
Zahra hanya tertawa kecil. Tidak mengangguk, juga tak menggeleng. Malah segera berbalik, mengambil piring-piring untuk disiapkan di meja makan. Zaid masih heran, sedikit tak percaya pada alasan yang dikatakan Ave, tapi ia diam saja.
Ave sendiri merasakan kehilangan, tapi setidaknya ia mengisi hari-hari terakhir bersama almarhumah Mama dengan kenangan-kenangan indah yang menyenangkan. Di hari terakhir, almarhumah Mama menggenggam tangannya sambil bergumam pelan, "I'm happy be with you, Little Monkey! You are half of me, your brother is my heart. Both of you, even your Dad too. I love you all. Thank you for taking care me so well. Let your brother know that I'll always love him like you are, eventhough he isn't here. Make sure he knows ya!"
[AN: Mama bahagia bersamamu, Monyet kecil! Kamu separuh jiwa Mama, kakakmu jantung hati Mama. Kalian berdua, bahkan Papamu juga. Mama sayang kalian semua. Terima kasih sudah jagain Mama dengan baik. Biarkan kakakmu tahu kalau Mama selalu menyayanginya sepertimu, walaupun dia gak di sini. Tolong pastikan dia tahu ya!]
Itu kata-kata terakhir sebelum Mama dan dirinya tertidur saat itu. Menjelang tengah malam, barulah Ave menyadari kalau tubuh Mama tak lagi bernyawa. Ketika itu, sepasang tangan Mama memeluk Ave begitu erat, seakan memberikan hadiah terakhir untuknya. Sesuatu yang sangat berharga untuk dikenang sepanjang hidup Ave, yang memberinya kekuatan untuk tabah menerima kematian almarhumah Mama.
Lalu Ave teringat kakaknya sendiri. Ajie juga mengalami apa yang dialami Zaid. Walaupun tak seekstrim kejadian yang dialami Zaid. Tapi Ajie tak pernah sempat melihat Mama untuk yang terakhir kalinya. Sama seperti Zaid, Ajie juga berubah banyak setelah Mama tiada. Ajie memang tak pernah mengatakan apapun, tapi Ave juga kehilangan sosok kakak yang ia kenal di masa lalu, sampai Lily datang mengembalikan senyum dan kebahagiaan kakaknya.
"Gak ngantuk, Ve?" tanya Zaid yang sudah datang lagi dengan kasur tipis terlipat dan sebuah selimut bulu krem dalam pelukannya.
Ave menoleh dan menggeleng.
Dengan santai, Zaid menggelar kasur tipis di atas kursi pantai yang tergeletak tak jauh dari kursi tempat Ave duduk. Setelah itu ia duduk di atasnya dan menatap Ave. "Sini, duduk sini! Biar gak masuk angin!" panggilnya sambil membuka kedua tangannya.
Ave tertawa kecil, menyuruk masuk dalam pelukan Zaid yang menyambutnya dengan hangat. Setelah mencium kening Ave, Zaid bersandar di kepala kursi pantai, sementara Ave bersandar di dadanya. Selimut bulu itu menutupi tubuh keduanya. Dengan posisi yang nyaman ini, Ave bebas memandang langit. Jari-jari tangan kiri Ave dan tangan kanan Zaid saling terkait, menggenggam dan tertangkup di atas selimut yang menutupi mereka.
"Bintangnya jelas banget malam ini ya, Mas. Pemandangan langka nih!"
__ADS_1
"Hmmm... "
"Mas tahu nama-nama bintang gak sih?"
"Hmmm... Enggak!"
"Rasi bintang gimana?"
"Aku hanya tahu satu bintang, Ve."
"Benarkah? Apa coba?" tanya Ave sambil mendongak ke arah pria yang memeluknya. Tatapannya bertemu mata Zaid yang juga memandanginya. Terlihat pijar aneh dalam sepasang mata gelap itu. Ave tahu, Zaid tak lagi malu-malu menunjukkan perasaannya. Ia bahkan tak lagi menyebut dirinya dengan 'saya'.
Ujung jari dari tangan Zaid yang bebas menyentuh ujung hidung Ave. Kebiasaannya saat merasa bahagia.
"Kamu, Ve... Bintangku satu-satunya cuma kamu. Bintang paling mempesona," bisik Zaid.
Rona merah membias di wajah Ave yang mulai tersipu malu. "Iih, Mas iih... Rayuannya. Gombal ih!"
"Tapi kamu senang kan? Ha ha ha..." Keduanya tertawa bersamaan, sebelum Zaid memeluk Ave lebih erat. "I really love you so much, Avelia!" lanjutnya
Ave tak menjawab, tapi tangannya mengelus pelan tangan Zaid yang mendekapnya. Sungguh ia tak mengira akhirnya memiliki seseorang yang ia cintai lebih dari yang pernah dibayangkan Ave.
"Tadi Kak Zahra cerita soal aku ya?" selidik Zaid. Lagi-lagi Ave hanya menjawab dengan anggukan.
"There is something more about my past, Ve."
Sekali lagi Ave mendongak, membalas tatapan sepasang mata pria yang mendekapnya itu. "Gak papa, Mas. Yang penting Mas yang sekarang. Itu semua masa lalu."
"Walaupun itu artinya mungkin menyakitimu?"
"Menyakiti aku?"
"Aku dan Ajie pernah... ribut. Dulu aku pernah bersalah padanya."
Tubuh Ave menegang. Ia tak pernah menyangka kalau Zaid dan Ajie saling mengenal. Sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Mereka memang memiliki sifat yang mirip, tapi bagaimana bisa mereka saling mengenal?
*****
__ADS_1