
Layar ponsel menunjukkan foto Natasha. Ave juga melihatnya. Zaid menghela napas lalu memutuskan sambungan dan mematikan telpon.
"Loh kok dimatikan? Itu Mbak Natty loh," tanya Ave heran.
"Paling dia mau ngomelin aku. Dia pikir aku pasti lupa ultahmu," kata Zaid sambil menaruh ponselnya di meja makan begitu saja.
Ave tertawa malu. Ia ingat kalau tadi sempat mengirimkan pesan soal itu pada Natasha. Lebih tepatnya bukan pesan, tapi mengadu pada sahabatnya itu kalau Zaid melupakan hadiah ulang tahunnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Zaid mengeluarkan sesuatu yang lain dari kantong celananya. Ada untaian kalung berkilauan yang terkait di jemari Zaid. Ave tak bisa menyembunyikan matanya yang bersinar melihat kalung dengan liontin yang berbentuk rumit itu.
"Untuk putri matahariku yang cantik... dan imut-imut," bisik Zaid mesra.
Tak banyak bicara, Zaid segera memasangkan kalung itu ke leher Ave.
Ave tertawa. "Maen pasang aja... Kan Ave belum bilang apa-apa," ujarnya sambil memperhatikan liontin itu sekali lagi.
Ave baru sadar kalau liontin yang rumit itu ternyata terbentuk dari gambar hati dan huruf yang dijadikan satu. Saat menyadari kalau huruf itu adalah huruf Z, ia tertawa geli.
"Sign in! Avelia Shamsiah, kamu gak bisa lari ke mana-mana lagi!" kata Zaid sembari menyentil ujung liontin dengan perasaan bangga.
Sekali lagi Ave tertawa dan ia memeluk Zaid dengan bahagia. Zaid membalasnya juga dengan tersenyum lebar. Tanpa malu, Ave mencium bibir Zaid dan pria itu tak menyia-nyiakannya. Dengan penuh semangat, ia menjelajahi mulut Ave. Semakin lama, Zaid makin paham cara membuat Ave tak bisa menolaknya. Zaid baru melepaskan gadis itu ketika wajah Ave mulai memerah kekurangan oksigen.
Setelah mengobrol sebentar, mendengar Zaid menyiapkan semua kejutan itu, Zaid pun meminta Ave untuk mandi dan bersiap-siap, sementara ia menyiapkan makan malam. Ave mengangguk gembira.
Sebelum memasak, Zaid menyempatkan diri menyalakan kembali ponselnya sambil berjalan ke dapur. Begitu ponsel menyala, beberapa pesan dan notifikasi masuk. Zaid membaca pesan dari Natasha.
[Natasha: Ajie sudah tahu semuanya]
Membaca pesan itu, langkah Zaid berhenti dan senyumnya lenyap. Untuk beberapa detik ia memandangi layar ponsel dengan pikiran kosong. Lalu Zaid menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya.
Ia tahu. Cepat atau lambat, inilah yang akan terjadi.
Baru saja Zaid akan mengenakan celemek, terdengar bel pintu berbunyi yang ditekan berulangkali dengan tidak sabar. Karena lantai rumah dipenuhi oleh kelopak bunga, Zaid tak bisa melangkah dengan cepat. Ia yakin yang datang itu pasti Natasha, yang panik karena tak ada jawaban dari Zaid.
Tanpa berpikir panjang, Zaid segera membuka pintu. Ia tak ingin Ave tahu masalah ini.
"Tung... "
Buk!
Sebuah tinju melayang tepat di rahang Zaid, membuat ia terhuyung mundur dan nyaris jatuh. Seorang pria setinggi dirinya merangsek maju, bersiap melayangkan satu tinju lagi. Zaid tak bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi ia segera memasang kewaspadaan.
"Hei!" teriak Zaid. Kali ini ia sigap mengelak.
"Brengsek lo, Id!" Pria di depannya itu memakinya dan ia menarik kerah baju Zaid hingga mereka berdiri berhadapan. Pandangan mereka bertemu. Sepasang mata tajam saling menatap satu sama lain.
Saat jarak mereka sangat dekat itulah, Zaid yang hendak membalas memukul melihat pelakunya. Ajie. segera menghentikan gerakan tinjunya di udara.
"Jie, tunggu dulu! Tunggu dulu!" pinta Zaid sambil mengangkat kedua telapak tangannya di depan Ajie.
__ADS_1
"Apa gak cukup gue aja yang lu sakiti? Kenapa adik gue juga lu... " Ajie tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia melepaskan cengkeramannya dan melihat ke dalam. "Mana dia? Mana adik gue?"
Tangan Zaid menangkap lengan Ajie, menahan langkah. "Jie, tunggu dulu! Ini hari ulang tahun Ave. Please! Kalau lu muncul sekarang, dia pasti sedih."
"Apa maksud lu?"Ajie berhenti bicara dan memperhatikan sekelilingnya. "Kalian... " Lidah Ajie kelu saat ia baru memperhatikan semua hiasan dalam rumah itu. Melihat semua itu, jelas Zaid sedang berusaha keras menyenangkan adiknya. Ia merayakan ulang tahun Ave.
"Gue ngasih kejutan buat adik lu. Untuk ulang tahunnya. Dia sekarang sedang bersiap di kamarnya. Kami akan makan malam. Please, Jie! Jangan rusak malam ini karena masalah kita. Ave gak tau apa-apa. Dia juga gak tau apapun tentang masalah kita," kata Zaid menjelaskan secepat yang ia bisa. Sesekali ia melihat ke belakangnya, kuatir Ave mengetahui kehadiran Ajie.
Ajie terdiam. Berdiri tegak sambil menatap Zaid, berusaha untuk membaca pikiran orang yang pernah menjadi temannya itu.
Melihat Ajie terdiam, Zaid melanjutkan, "Gue janji akan temui lu besok dan gue janji akan ceritakan semua yang terjadi antara Ave dan gue. Hubungan kami tidak melenceng. Gue berani bersumpah, Jie. Adik lu tinggal di paviliun. Sendirian. Gue gak pernah sedikitpun berniat menyakiti dia."
"Meski lu tau dia adik gue? Lu mau gue percaya itu?"
Zaid mengabaikan seringai tak percaya di wajah Ajie. "Soal lu percaya atau enggak itu urusan lu, Jie. Tapi kebahagiaan Ave... lu gak mau tau juga? Ini ulang tahun pertamanya di Indonesia kan? Lu yakin?"
Ajie tak berkata apa-apa. Sekali lagi memandangi sekelilingnya dan dalam hati ia menekan dugaan buruk terdalamnya. Ia tak ingin berpikir Zaid tengah berniat menikahi Ave.
"Malam ini juga lu anter dia pulang kembali ke rumah Papa gue. Kalau tidak... "
"Please, Jie! Gue minta sampai besok. Gue janji. Gue benar-benar janji. Gue juga harus menjelaskan sama Ave. Tapi gue gak mau merusak hari ini."
Cukup lama Ajie berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk. Melihat anggukan itu, Zaid baru bisa bernapas lega.
Dengan berat hati Ajie melangkah keluar. Tapi tepat di depan pintu ia berbalik lagi dan berkata lagi, "Berdiri yang tegak, Id!" perintahnya mendadak.
Meski tak mengerti, Zaid menurutinya dengan kening berkerut. Belum sempat ia bertanya, tinju keras menyarang di perutnya. "Akh!"
"Maaas! Mas Zaid!"
Teriakan di dapur membuat Zaid bergegas menutup pintu dan masuk lagi. Sambil menggigit rahangnya yang masih terasa berdenyut dan perutnya yang sakit, Zaid berusaha memasang senyum di wajahnya.
Ketika melihat Ave berdiri di ruang tamu, seluruh rasa sakit mendadak hilang begitu saja. Untuk Ave, semua ini tak seberapa.
"Siapa yang datang?" tanya Ave sambil melirik ke pintu depan.
Zaid menggeleng. "Salah alamat," jawabnya. Lalu tanpa berkata apa-apa, Zaid memeluk Ave. Memeluknya dengan erat.
"Kenapa, Mas?" tanya Ave bingung. Pelukan Zaid terasa jauh berbeda.
"Gak ada. Cuma pengen nyium gadisku yang wangi. Segar."
Ave tersenyum. Ia tahu, walaupun sering bersikap dingin, kadang-kadang Zaid seperti anak kecil yang manja. Kata Lily dan Tiar, pria memang seperti itu.
Ave mulai mengerti itu. Ia juga suka berpelukan seperti sekarang. Seakan ada vitamin yang menambah semangatnya untuk mencintai Zaid lebih baik.
Setelah itu, Zaid menggandeng Ave ke dapur, mengajaknya menyiapkan makan malam. Dengan senang hati, Ave menyambut ajakan itu.
Meskipun pada akhirnya, mereka lebih banyak bercanda, saling menggoda dan sesekali saling bersentuhan. Zaid tak ingin mengingat masalahnya. Ia ingin menikmati saat-saat bersama Ave.
Baru ketika malam tiba, mereka mulai makan bersama. Wajah Zaid tak lagi bisa memakai topeng senyumnya. Hatinya yang dipenuhi kekuatiran tak lagi bisa disembunyikan. Ia tak bisa makan dengan lahap. Hanya dua kali suapan, Zaid sudah menyerah. Ia hanya minum jus jeruknya perlahan. Lalu setelah itu, ia fokus memandangi Ave yang menikmati makannya dengan maksimal.
__ADS_1
"Kok diam aja? Makan dong ah!" kata Ave yang tengah mengunyah potongan daging.
Zaid tersenyum. "Lihat kamu makan, jadi kenyang."
"Idih, rayuannya... Entar Ave abisin juga tuh steak Mas."
Tanpa membalasnya lagi, tangan Zaid mulai sibuk memotong steak di depannya.
"Ve... "
"Hmmm... "
"I love you."
"I know."
"I love you so much."
"I know. I know, Mas Zaid."
"I really love you, Avelia."
Kali ini Ave mengangkat wajahnya, berhenti makan dan menatap Zaid. "Ada apa, Mas? Kenapa sampai gitu banget mengucapkannya sih?" tanyanya heran. Hatinya bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi.
Zaid kembali tersenyum. Menatap Ave dalam-dalam. "Hanya mau ngomong ke kamu. Agar kamu yakin kalau aku gak pernah main-main sama kamu."
"Iya, Mas. Ave yakin," ucap Ave lembut. Lalu ia teringat sesuatu. "Kalau Mas kuatir soal masa lalu Mas dengan Mas Ajie, Ave gak akan berubah. Ave gak tau dan gak akan peduli karena semua itu hanya masa lalu. Yang jelas, Ave juga akan bantu meyakinkan Mas Ajie."
Mendengar itu Zaid menghembuskan napas lega. Tapi ia tak ingin mengatakan apapun saat ini. Diambilnya gelas berisi jus jeruk di depannya. "Selamat ulang tahun, Avelia. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Apapun yang terjadi, aku mencintaimu," ucapnya sambil mengangkat gelas itu pada Ave.
Ave juga meraih gelas jusnya, menatap Zaid dengan mata yang mulai basah. Mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa dan mengikuti cara Zaid. Keharuan memenuhi hatinya.
Setelah sekian lama, ia tak lagi merayakan hari lahirnya dalam kesendirian. Baginya, bagian terbaik dari malam ini bukanlah kalung yang sekarang melingkari lehernya, tapi karena kehadiran seseorang yang spesial di hatinya. Seseorang yang menghargai kehadirannya, berterima kasih atas kelahirannya di dunia dan mencintainya dengan sungguh-sungguh. Itu hadiah terbaik bagi Ave.
Terdengar suara denting gelas beradu, sebelum suasana sunyi merambah di antara mereka. Lalu Zaid memaksa Ave untuk makan lagi dan wajahnya sudah terlihat biasa lagi.
Malam itu usai makan malam, Zaid dan Ave duduk di ruang tamu yang hanya diterangi cahaya dari taman, memandang keluar jendela yang dibiarkan tetap terbuka. Tangan mereka saling menggenggam di bawah selimut besar yang menutupi sebagian tubuh mereka, tak ada yang bicara. Ave yang kekenyangan karena sempat memakan separuh bagian makan malam Zaid yang tersisa, pun tertidur dengan cepat. Sementara Zaid tak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Ditatapnya gadis yang tidur bersandar di dadanya, membelai rambutnya perlahan, mengelus pipi dengan lembut sebelum memandang keluar jendela, pada langit malam yang gelap.
Setelah bertahun-tahun tak pernah merasakan ketakutan, ini pertama kalinya hati Zaid kembali diusik perasaan itu. Hanya saja, kali ini Zaid akan melakukan segalanya untuk mempertahankan Avelia agar tetap di sisinya.
Apapun itu... Malam ini ia ingin menikmati kebersamaan ini. Apapun itu, besok semuanya akan dimulai dan Zaid berjanji akan berusaha keras meyakinkan Ajie.
*****
__ADS_1