
~ Jangankan hanya bendera, seluruh dunia pun akan kuberikan (Zaid) ~
"Ayo turuuun!!" teriak Ave bahagia.
Tanpa menunggu lagi, gadis cantik itu sudah beranjak dari tempat duduknya di dalam bis, meninggalkan Zaid yang baru terbangun dari tidurnya. Dengan girang, Ave merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Akhirnya... mereka benar-benar berlibur. Sebuah resort hotel di Bogor menjadi pilihan akhir para staf.
Satu persatu para karyawan dan staf dua departemen yaitu Creative dan Management juga mulai turun dari bis. Beberapa sibuk membongkar muatan koper dan ransel, yang lain sibuk memeriksa sekeliling hotel bintang empat itu. Setelah itu mereka pun bersama-sama bergerak menuju lobby, dibantu oleh beberapa porter untuk mengangkat barang bawaan. Zaid turun paling akhir. Wajahnya masih tampak mengantuk. Semalam, ia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan hanya agar bisa berlibur bersama Ave dan para stafnya.
Setelah berbicara sejenak dengan sang Manajer hotel di lobby, Hazmi dibantu Jenny mulai membagikan kunci kamar sesuai dengan nama-nama yang telah diatur sebelumnya. Setelah itu Jenny mulai memberitahu beberapa agenda mereka. Untuk hari ini setelah sampai seluruh peserta bebas menikmati resort dan baru nanti malam mereka berkumpul lagi untuk makan bersama. Esok pagi, setelah sarapan pagi, aneka permainan telah disiapkan pihak hotel. Saat Ave mendengar kalau salah satu permainan yang akan mereka mainkan adalah Paintball. Ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Asyik! Asyik! Ave jago tau maen tembak-tembakan gitu, Mas!" kata Ave menyombongkan diri pada Zaid saat mereka berjalan beriringan menuju kamar hotel. Kamar Ave tepat di sebelah kamar Zaid.
"Hmmm." Zaid hanya menoleh sekilas. Ia tahu itu, karena itulah ia khusus meminta Hazmi untuk mengadakan permainan itu. Ave memasukkan permainan itu sebagai hobinya dalam CV-nya. Zaid ingin melihat sisi tangguh kekasihnya itu.
"Entar Mas ikut tim Ave aja! Pasti menang deh!"
Zaid menyeringai. "Aku bukan anak kecil kayak kamu, Ve! Kalo mau main, ya main saja. Aku datang ke sini buat istirahat, ngerti kamu?"
"Jeessh, dasar orangtua! Ya udah kalo gak mau ikut seru-seruan. Ave juga tadi nawarin cuma main-main aja kok. For.ma.li.tas. Oke? Huh!"
Zaid hanya menghela napas. Ia makin terbiasa menghadapi ulah Ave yang suka membantah. Seperti kata Zahra, ia harus memperbanyak sabar untuk menghadapi kekasihnya ini.
Sore hari itu, Ave bersama dengan Jenny memilih berenang. Tak lama, beberapa staf juga menyusul mereka. Namun, tanpa disadari Ave, Jenny menghilang bersama Hazmi entah ke mana. Lalu setelah Zaid menyusulnya, Ave pun memilih berhenti berenang.
Malam itu, setelah makan malam bersama seluruh staf, Zaid mengajak Ave ke kamarnya.
"Ih, Mas, ini kan bukan di rumah. Entar ada setan di antara kita gimana?" tanya Ave menggoda saat mereka masuk ke kamar Zaid.
Zaid menoleh. "Ngapain takut? Aku udah biasa ngadepin setan kok."
"Hah, masak? Setan apa coba?"
"Setan cantik namanya Ave," jawab Zaid tersenyum kecil.
"Iiissh," desis Ave dengan bibir manyun. Gadis itu berhenti melangkah.
Melihat wajah Ave, raut wajah Zaid berubah. Sekali jangkauan, ia menarik Ave ke dalam pelukannya. "Maaf, Sayang! Kan hanya becanda sedikit."
"Mas tuh kalo becanda garing deh. Gak lucu. Sebel iya!" tukas Ave, meronta sedikit.
Tapi Zaid sudah menunduk, menekan bibir Ave dengan bibirnya, membuat tangan Ave berhenti bergerak. Perlahan, tangan Ave mulai bekerja sama, memeluk punggung Zaid. Merasa diterima, Zaid memperdalam ciumannya, menikmati aroma kue vanila bercampur susu di mulut Ave. Makanan penutup yang tadi ditolak Zaid dan dihabiskan oleh sang kekasih.
"Ve, kamu cantik banget malam ini. Sungguh... sangat cantik," bisik Zaid di telinga Ave ketika ia mengakhiri ciuman dengan pelukan.
Ave tersenyum. "Mas habis makan gula ya? Ngomongnya manis banget sih."
Zaid tertawa kecil sebelum mempererat pelukannya. Ave juga. Keduanya tenggelam dalam kebahagiaan. Mereka saling memuja dan berpelukan, juga mengucapkan kata-kata cinta bergantian sepanjang malam. Malam sudah sangat larut sebelum Ave kembali ke kamarnya dengan perasaan enggan. Namun malam itu, Ave tertidur dengan wajah penuh senyuman. Cinta benar-benar membawa sejuta rasa di hatinya.
Begitu selesai sarapan pagi di hari berikutnya, Ave paling duluan tiba di arena permainan perang-perangan, Paintball. Tak sabar ia mulai memilih masker dan baju pelindung. Setelah itu, dibantu pengawas dan pelatih arena, Ave melatih ulang kemampuannya menembak. Saat ia tengah berlatih, barulah rombongannya tiba.
"Waaah, udah di sini aja, Ve!" seru Hazmi sambil menepuk bahunya.
Ave membuka goggle-nya. "Udah datang ya? Ayo dah buruan siap-siap! Ave gak sabar nih mau nembakin orang!"
Satu persatu para peserta mulai memilih pakaian pelindung dan masker mereka. Tapi trio ceriwis, Rose, Alina dan Gita malah bersungut-sungut.
Tangan Rose melambai di depan sebuah helm. Mulutnya mencibir. "Ih, helmnya jelek!"
"Yaaah rambutku kan baru ditata!" Alina meraba tatanan rambutnya yang sudah susah payah ia atur tadi pagi.
__ADS_1
Jack, Mike, Rizal dan Pak Bambang hanya bisa menatap mereka tanpa bisa berkata apa-apa. Tapi untunglah, Ave sudah terbiasa. Dengan cekatan gadis itu meminta kain pelapis kepala kepada pengawas arena, lalu mulai membantu ketiga gadis memasang pakaian pelindungnya. Kali ini tak ada lagi keluhan muncul. Malahan tiga gadis itu sibuk berselfie-ria. Bergaya bak Charlie's Angels.
Saat para peserta tengah bersiap-siap, Zaid muncul bersama Pak Wiryo. Mereka berdua memang tak ikut permainan ini. Dengan tenang, Zaid duduk memperhatikan mereka. Alina dan teman-temannya yang melihat kehadiran Zaid, buru-buru mendekati sang bos.
"Foto bareng ya, Pak?" rayu mereka.
Zaid hanya mengangguk. Tak sabar, ketiganya sibuk mencari posisi terbaik di dekat Zaid. Awalnya foto bersama, lalu satu persatu minta foto berdua. Zaid menuruti semua keinginan itu sambil melirik Ave dengan tatapan penuh arti. Ave justru membalasnya dengan tatapan sebal sebentar sebelum Akbar dan Denny membuatnya sibuk dengan pertanyaan cara bermain Paintball.
Setelah selesai bersiap, sang pengawas tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia menoleh pada Hazmi.
"Mas, ini anggotanya jadi kurang satu orang nih!" serunya.
Hazmi pun menghitung ulang. Benar saja. Masih kurang satu orang. Lalu tanpa diperintah, semua orang menoleh pada Zaid yang sedang memeriksa ponselnya. Merasakan tatapan semua orang ke arahnya, Zaid mendongak. Ave sudah berlari mendekatinya.
"Ayooo, Paaak! Ikut main dong! Kurang satu nih!" pinta Ave setengah memaksa. Ia menarik tangan Zaid.
"Apa sih, Ve? Aku gak pernah main beginian!" tolak Zaid sambil menepis tangan Ave.
Ave merengut. "Ya udah, Ave gak main deh!"
Melihat wajah Ave, dan tatapan semua orang padanya yang seperti menyalahkan dirinya, akhirnya Zaid hanya bisa mengangguk. Dengan patuh ia memakai baju pelindung yang diberikan oleh Ave.
Hazmi mendekatinya. Mengerti kalau bosnya hanya menuruti keinginan sang kekasih. "Pokoknya Bapak cukup jaga bendera aja. Biar saya dan teman-teman aja yang main," ujarnya dalam bahasa formal. Zaid hanya menjawab dengan anggukan.
Sebelum bermain, tiga pelatih mengajarkan teknik-teknik menembak dan menghindar. Juga memberitahu peraturan permainan. Kemenangan ditentukan dengan perebutan bendera milik lawan.
Setelah berbagi tim dengan cara mengundi akhirnya Zaid bersama Akbar, Hazmi, Alina, Rose, dan Gita serta tujuh anggota dari Creative lainnya menjadi satu tim. Sementara Jenny, Ave, Denny, Jack, Mike, Aam, Pak Bambang dan enam anggota lainnya menjadi tim lawan. Satu persatu mulai melengkapi diri dengan masker dan senapan yang terisi peluru cat.
Peluit panjang pun dibunyikan oleh sang pelatih dan kedua tim segera bersembunyi di antara drum dan tumpukan karung. Ada juga yang bersembunyi dalam barikade tanah yang membentuk lubang-lubang besar. Hanya Zaid yang berjalan santai menuju tiang bendera timnya, sebelum duduk di atas drum sambil memegang senjata. Ia lebih mirip penonton daripada peserta permainan.
Tak ada suara tembakan hingga lima menit pertama, karena setiap orang sibuk mengatur rencana dan strategi. Juga sibuk memasang telinga mencari posisi lawan.
Blep! Blep! Blep!
Salah satu senjata mengenai punggung lawannya. Tapi yang lain berhasil berlari menghindar dan segera membalas dengan tembakan ke arah dinding seng tempat Hazmi dan tiga gadis bersembunyi.
Blep! Blep!
Dua tembakan balasan itu mengenai seng. Tapi jeritan yang memekakkan telinga justru terdengar nyaring dari belakang Hazmi. Belum lagi Hazmi sempat menguasai diri karena kaget, tangan ketiga gadis itu sudah sibuk memeluk Hazmi yang akan balas menembak. Ada yang memeluk pinggangnya, tangannya dan sebelah kakinya.
"Aaaaaggh!!! Aaaagh!" teriak Alina.
"Gue nyerah! Nyerah! Gue takut!" jerit Rose ketakutan.
"Maass! Tolong Gita! Gita takut, Mas! Ya Alloh... Ya Alloooh...!! " Gita bahkan melempar senapannya begitu saja. Memeluk salah satu kaki Hazmi.
Tim Zaid yang lain, Akbar bersama dua orang pria dari tim Creative tak bisa berkata apa-apa saat menatap tak percaya ke arah Hazmi yang malah kebingungan melepas pelukan tiga gadis itu.
Sementara Jenny, dari tim Ave, yang paling dekat dengan dinding seng tempat Hazmi berada menatap marah pada tiga gadis yang bisa terlihat dengan jelas sedang berebut memeluk kekasihnya. Tanpa peduli lagi dengan aturan, gadis itu mendatangi dinding seng tempat Hazmi dan tiga gadis itu berlindung dengan langkah tegap. Ave yang tadinya sibuk mengatur strategi, tak sempat lagi menahan gadis itu.
Akbar hendak menembak Jenny yang tak merunduk dan berjalan biasa itu, tapi tangannya ditahan oleh anggotanya sendiri. "Biarin aja dulu! Itu perang cinta. Lagian cewek-cewek itu ngerepotin aja. Bikin kita kalah aja. Kalo udah selesai, baru kita matiin Mbak Jenny."
Lalu ketiganya memilih menonton 'pertunjukan' di depan mereka. Jenny, tanpa ragu menembaki para gadis itu dengan keji, menghujani mereka dengan peluru sebanyak mungkin.
Blep! Blep! Blep! Blep! Blep! Blep! Blep!
"Aaagh! Sakit! Sakit!!"
"Aduuuh! Sakiiiit! Udaaah!"
__ADS_1
"Awwww! Awwww! Nyerah! Gue nyerah!"
Hazmi tak bisa berkata apa-apa ketika ia juga kebagian tiga peluru sekaligus dari Jenny. Bahkan setelah ia mengangkat tangan, Jenny masih menambah satu lagi. Ia tahu, Jenny sedang mengamuk. Terdengar peluit peringatan dari pengawas permainan.
Usai 'kematian' empat anggota Zaid, dengan satu peluru, Jenny juga ditembak oleh Akbar. Setelah itu, kelimanya menyingkir. Hazmi buru-buru mengejar Jenny yang tampak masih kesal saat melepas masker pelindungnya.
Melihat salah satu anggotanya 'mati', Ave mulai membaca arah asal tembakan dan mulai mengendap-endap menuju tempat Akbar bersembunyi. Tapi saat ia tiba di sana, hanya ada satu anggota yang bersembunyi. Akbar dan yang satu lagi sudah berlari menuju tumpukan drum lain. Tapi Ave tetap menembak anggota tim Zaid yang tinggal itu.
Setelah itu, terdengar tembakan dari berbagai sudut lapangan. Ave berhasil 'membunuh' Akbar dan tiga anggota lain. Tapi ia juga kehilangan empat anggotanya sekaligus. Peperangan tersebut berlangsung seru. Sesekali terdengar teriakan kesakitan di balik dinding seng atau drum. Juga ada pekikan peringatan atau peluit dari pengawas, kadang karena ada yang senapannya macet, ada juga yang terlupa melepas kunci pengaman dan lupa cara menembak.
Sebenarnya, beberapa kali juga anggota tim Zaid berhasil membidik Ave, tapi mereka tak berani menembaknya. Sebelum permainan dimulai, Zaid sudah memberi instruksi pada mereka. "Awas kalau ada yang berani menembak Ave!"
Maka Ave pun menjadi satu-satunya yang tersisa dari pertempuran itu. Dengan riang gadis itu mendatangi Zaid yang ternyata sudah berdiri menunggu. Di belakangnya bendera tim mereka berkibar-kibar tertiup angin.
"Mas Zaid sayang, menyerah aja ya! Ave gak tega nih buat nembak!" rayu Ave di balik maskernya dengan suara riang.
Suara riuh terdengar dari tempat para penonton dan anggota yang telah tertembak. Sebagian membujuk Zaid untuk bertahan, yang lain sibuk meminta Ave segera menembak bos mereka.
"Kamu kasih apa ke aku kalo aku nyerah?" tawar Zaid dengan dada membusung. Masih dengan posisi santai, ia hanya memegang senjatanya tetap tegak tanpa membidik.
Ave terkekeh di balik maskernya. "Kan Ave udah ngasih segalanya buat bos ganteng Ave. Hati, cinta... ha ha ha ha!"
"Huuuuu!" Suara para anggota Zaid meningkahi perang aneh itu.
"Udaaah, Ve! Tembak! Tembak!" teriak anggota Ave memberi semangat.
"Kapan lagi nembak bos, Ve? Ha ha ha!" Entah suara siapa itu, tapi kalimat itu membuat Ave menoleh ke arah penonton. Ia melambai pada mereka. Namun, tiba-tiba...
Blep!
Satu tembakan berhasil disarangkan senjata Zaid ke punggung Ave saat ia berbalik, membuat suasana seketika menjadi hening. Ave memutar tubuhnya, menatap Zaid tak percaya. Sementara Zaid tersenyum puas dengan seringai khasnya.
"Aku bosan kelamaan nunggu kalian selesai main," ujar Zaid singkat.
Bahu Ave merosot, sementara terdengar teriakan dan pekikan girang tim Zaid di belakangnya.
"Pak Zaid, aku padamu!!!" pekik Alina girang. Berjoget riang.
Masih dengan santainya, Zaid melepas bendera timnya sendiri lalu berjalan mendekati Ave yang sudah duduk di tanah dengan bibir maju karena kesal, pria itu berjongkok di dekatnya.
"Aku menembakmu supaya permainan ini segera selesai, Ve. Tapi kalau kamu ingin seluruh dunia jadi milikmu, apalagi cuma bendera begini, pasti kukasih semuanya," ucapnya perlahan sambil meletakkan bendera di atas paha Ave.
Ave mendongak lalu melepas masker dan senapannya dengan cepat, sebelum kedua tangannya memeluk leher Zaid. "I love you so much, Snowy Devil!!"
Tubuh Zaid menegang. Ave jarang sekali mengucapkan kata cinta padanya. Maka tanpa peduli tatapan semua orang, Zaid membalas pelukan Ave jauh lebih erat. Seakan ingin membuat tubuh Ave selamanya menempel padanya.
Di kursi penonton, para anggota tim Zaid hanya memandang pasangan itu tanpa bisa berkata apa-apa. Sedangkan tim Ave sibuk menertawai mereka. Bagaimanapun, permainan ini memang disiapkan Zaid hanya untuk gadisnya, Avelia.
Ave memamerkan bendera tim Zaid dengan puas pada semua orang, bahkan akhirnya meminta agar Pengawas memberikan untuknya. Buat kenang-kenangan karena ia bisa mengalahkan Zaid untuk pertama kalinya. Melihat tawa puas kekasihnya, Zaid juga tersenyum bahagia.
Zaid dan Ave tak lagi merasa perlu menyembunyikan hubungan mereka di depan para staf dan karyawan lain. Seakan maklum dengan keduanya, tak seorangpun yang menganggap hal itu aneh. Malah mereka tampak jelas ikut bahagia. Wajah bos mereka yang biasanya dingin, kini nampak hangat dan selalu ada senyum tipis tersungging.
Maka ketika jemari Zaid mengunci jemari Ave saat rombongan mereka kembali ke hotel, semua orang juga terlihat senang. Kecuali... Jenny yang masih cemberut namun terus menerus diikuti oleh Hazmi yang kebingungan membujuknya.
*****
__ADS_1