Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 7 - The Snow Prince and Seven Dwarfs


__ADS_3

~ Pada zaman dahulu, ada seorang Pangeran Salju dengan tujuh kurcacinya ... ~


The Crown...


Nama perusahaan ini sangat unik bagi Ave. Ia langsung menyukainya saat melihat kartu nama yang disodorkan oleh Natty. Tapi masalahnya, ia baru tahu kalau TC memiliki direktur menyebalkan.


Saat keluar dari gedung, bahu Ave merosot turun seperti menggendong tas yang dipenuhi batu. Walaupun di sisi lain ia gembira bisa mendapat pekerjaan. Tapi membayangkan bertemu direktur berwajah tampan tapi dingin itu setiap hari, sungguh berhasil mencabut kegembiraannya itu seketika.


Tadi setelah interview menjengkelkan itu, Ave berkenalan dengan seluruh penghuni ruangan manajemen itu. Enam orang staf yang saat itu sedang bekerja. Lima laki-laki dan satu perempuan. Nanti ditambah dirinya akan ada tujuh orang. Ave tadi mencatat nama mereka satu persatu. Jenny, sang sekretaris. Hazmi, sang asisten sekaligus orang kepercayaan Zaid. Lalu lima staf lainnya yaitu Akbar, Aam, dan Denny. Dirinya adalah staf ke-tujuh, staf magang.


Ketika tangan Ave menelusuri nama-nama itu untuk mengingat-ingat, ia teringat sesuatu. Ada tujuh orang staf... Tujuh... Sementara si direktur bermuka dingin itu, seperti seorang pangeran tampan dengan kelakuan seperti raja yang jahat. Jadi membuat para staf ini lebih mirip... kurcaci? Bedanya bukan putri salju... Tapi pangeran salju!


Senyum Ave tak tertahankan saat mendapatkan kesamaan itu.


Si pangeran salju dan tujuh kurcacinya!


Iya benar! Ini pangeran salju dan tujuh kurcaci. Hahahaha, tawa Ave sambil mulai mencoret-coret buku agenda di depannya.  Oke, besok ia harus tahu ke-enam kurcaci... eh staf-staf itu. Sesama kurcaci harus saling mengenal bukan?


Tapi rencana tinggal rencana...


Begitu tiba di kantor, Ave hanya bisa menyapa singkat dengan keenam staf lainnya termasuk Jenny, sekretaris dan Hazmi, asisten Zaid. Walaupun Zaid memang lebih tampan, tapi Hazmi lebih ramah dan itu menaikkan standar pria tampan di hati Ave. Ave langsung menyukai pria itu.


Ave ditempatkan sebagai tenaga magang sementara yang menangani pekerjaan administrasi internal departemen managemen. Istilah kasarnya, dia hanya menjadi tenaga pembantu. Tapi setelah duduk sekitar sepuluh menit, Ave kemudian paham arti kata 'tenaga pembantu itu'.


"Gadis magang, kamu ngerti bahasa Inggris kan? Biasa ngedit?" tanya Aam tanpa ekspresi. Dengan penuh semangat Ave mengangguk.


Lalu tiga berkas proposal diletakkan Aam ke atas meja. "Ini coba kamu edit lagi. File softcopynya ada di folder F. Tapi kalo bisa kamu edit hardcopy-nya dulu. Kalo bisa kamu selesaikan hari ini yang ini dulu!" kata Aam lagi sambil menunjuk berkas paling tebal.


Ok, pekerjaan pertama. Ave langsung mulai membuka file berkas yang dimaksud Aam itu.


Tapi tak sampai lima menit Hazmi datang terburu-buru.


"Ve, ini kamu fotokopi dulu! Yang ini copy 20 lembar, yang itu 10 ya. Jangan ketuker! Buruan sekarang!" Lalu ia berbalik, tapi baru dua langkah dan saat Ave sudah berdiri, ia kembali lagi. "Then make sure every failed copy have to go to the shredder machine ya! It's important!"  lanjutnya lagi dalam bahasa Inggris.


[A/N: Ind. Dan pastikan setiap copy yang gagal/batal, harus masuk mesin penghancur (kertas)! Ini penting!]


Pasti Hazmi sedang berurusan dengan orang asing, sampai lupa pada siapa ia bicara. Dulu Ave juga sering mengalaminya. Menjadi bilingual kadang membingungkan. Kadang tak sengaja memakai bahasa Indonesia pada orang asing atau malah sebaliknya.


Ave mengangguk dan segera ke ruang fotokopi. Sambil menunggu mesin fotokopi melakukan tugasnya, Ave juga memeriksa berkas dari Aam. Ternyata tidak terlalu sulit. Setelah selesai fotokopi dan memastikan tak ada copy yang tertinggal, Ave menyerahkan pada Hazmi yang masih sibuk menelepon. Seperti dugaan Ave, pria tampan itu sedang berbicara dalam bahasa Inggris. Ia terlihat tampan saat melakukan itu.


Luar biasa. Pria idaman! Sayangnya... Jenny sudah melambai padanya.


"Ave, nanti kamu bisa cek lemari di fotokopi. Tolong periksa stock ATK ya! Saya minta laporannya besok pagi. Mau request."


[A/N: ATK: Alat Tulis Kantor]

__ADS_1


Ave hanya bisa mengangguk. Tapi saat ia berjalan melewati Pak Wiryo untuk melakukan tugas itu, pria setengah baya yang paling tua di departemen ini memanggilnya.


"Bisa minta tolong bikinkan kopi untuk tamu di meeting room nanti, Ve? Mereka sedang ke studio sekarang. Sekitar 10 menitan lagi," pintanya.


Ave mengangguk. Tak mungkin ia menolaknya, kan?


"Tolong bikinkan 3 kopi susu dengan gula, 2 kopi tanpa gula dan susu dan 1 kopi susu tanpa gula."


Setelah itu, Ave kembali ke mejanya dan mulai mengerti arti kata 'tenaga pembantu'. Mendadak Ave teringat para asisten rumah tangga di rumah Papa. Papa yang manja, abang yang otoriter, kakak ipar perempuan yang tak bisa melakukan apapun dan dirinya yang hanya peduli pada dapur. Nanti saat ia kembali ke rumah, Ave berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik.


Ia baru menyelesaikan setengah dari berkas pertama, ketika tamu-tamu Pak Wiryo datang. Buru-buru Ave membuatkan sesuai dengan pesanan yang ia ingat.


Harusnya Ave tahu pentingnya catatan karena ia membuat kesalahan. Ia salah membuat 2 gelas dan terpaksa membuat yang baru sesuai pesanan. Sementara yang dua gelas tersisa, akhirnya meluncur masuk ke perutnya semua.


Ave baru akan duduk lagi setelah mengedarkan keenam gelas kopi di meeting room ketika ia mendengar perintah dari Jenny lagi. "Ve, kamu temani Pak Zaid meeting di lantai 9. Sekalian kamu bawain semua dokumen ini ya!"


Ave buru-buru berdiri, dan ia terkesima melihat tumpukan file setinggi gunung di depan meja Jenny. Astaga, ini orang mau meeting apa mau bangun Monas baru? Setinggi itu...


Saat itu Zaid keluar dan sekilas menatap Ave. Tanpa kata, ia memberi kode pada gadis itu untuk segera mengikutinya. Bergegas Ave mengambil tumpukan dokumen itu dan ia hampir menjatuhkan. Untung ada Zaid yang menahan tubuhnya.


"Pelan-pelan!" kata Zaid dengan suara berat. Ave hanya mengangguk sedikit.


Pria itu berjalan lebih dulu di depan Ave yang mengikutinya sambil menggerutu dalam hati.


"Berat ya?" tanya Zaid saat mereka sudah masuk ke dalam lift.


Ave merasa mendapat lampu hijau. "Iya, Pak! Sebanyak ini soalnya."


"Hmmm, baguslah buat latihan otot-ototmu! Model kamu mending nguatin otot daripada otak," gumam Zaid. Perlahan tapi seperti mengiris-iris hati Ave.


Hanya bukan Ave namanya kalau tetap diam. "Sebenarnya mau dilatih bagaimanapun namanya perempuan pasti lebih lemah daripada laki-laki, Pak. Harusnya urusan yang berat-berat itu dilakukan para lelaki. Bukan perempuan."


Tangan Zaid menyelip di saku celananya saat menoleh pada Ave, bertanya dengan seringai tipisnya. "Jawab dulu, ada 2 mobil, satunya 20 km/jam, yang satunya 40 km/jam. Jarak perjalanan dua mobil ini 120 km. Jadi menurutmu kapan waktu keduanya berpapasan? Kalo kamu bisa jawab ini, apapun yang kamu mau saya turuti."


Ave bengong. Maksudnya? Tapi itu gampang banget. Anak kecil juga bisa. "Waktu mereka berpapasan ya Pak?" ulangnya lagi memastikan. Biar kesannya ia benar-benar serius berpikir.


Zaid mengangguk.


"Mereka berpapasan waktu di lampu merah, Pak!" jawab Ave penuh keyakinan.


Bibir Zaid bergerak-gerak. Ave bahkan bisa melihat mata pria itu seperti tertawa. Tapi alih-alih melakukan itu, Zaid malah menatap Ave penuh arti. "Antara berpikir dan pakai otot, udah jelas buatmu berpikir itu sangat berat. Jadi seperti katamu, tugas yang berat adalah tugas para pria. Maka biar saya yang berpikir, kamu yang pake otot. Mengerti?" katanya dengan senyum mengejek.


Sumpah! Ave ingin sekali melemparkan semua dokumen di tangannya itu ke kepala si boss super iseng ini.


Bilang aja kalo dia gak mau bantu kan! Pake nunjukin orang **** aja! kata Ave dalam hati.

__ADS_1


Ave menarik napas dalam-dalam, memperbaiki posisi berdirinya agar tak menjatuhkan barang bawaannya, sambil menoleh ke dinding lift. Lebih aman melihat dinding daripada muka boss pangeran salju jahat di sebelahnya.


Ting!


Pintu lift terbuka dan Zaid lebih dulu keluar meninggalkan Ave yang tertatih-tatih mengangkat sembari mengintip dari balik tumpukan dokumen. Ia baru dua kali ke gedung ini, semuanya asing. Ave kuatir ia akan menabrak sesuatu atau seseorang di lorong yang baru kemarin ia masuki.


Untungnya, karena lorong menuju ruang rapat cukup sepi, Ave tiba dengan mulus di depan pintu ruang rapat yang tertutup. Ia baru akan membuka pintu dengan susah payah ketika pintu terbuka lebar. Ave akan mengucapkan terima kasih ketika melihat orang yang membukanya.


"Lama sekali! Cuma bawa itu, jalanmu sudah kayak kura-kura," omel Zaid.


Hissh! Makanya bantuin! sungut Ave dalam hati lagi.


Tapi di wajahnya ia tersenyum meminta maaf. "Maaf, Pak. Ave kan belum hafal jalannya."


Zaid tak menjawab, hanya berjalan keluar dari ruang rapat. Akan meninggalkan Ave.


Ave kebingungan. "Loh, ini ditaruh di mana, Pak?" tanya Ave cepat.


Kaki Zaid berhenti melangkah, berpaling. "Bawa ke ruangan saya lagi. Meetingnya gak jadi. Saya salah tanggal." Lalu dengan langkah santai, Zaid meneruskan langkahnya, menuju lift.


Tobat punya boss sejahat ini ya Allah!!! jerit Avelia dalam hati. Ia benar-benar ingin melempar semua dokumen itu ke wajah Zaid sekarang!


Tapi hanya suara gemerutuk gigi-giginya yang terdengar saat ini. Ave menahan diri untuk tetap bersabar. Zaid akan tertawa sangat lebar kalau emosinya terpancing. Dengan berat hati, Ave berbelok dan kembali seperti tadi, tertatih-tatih membawa tumpukan dokumen itu ke depan lift.


Anehnya si pangeran salju itu menunggunya. Ia menekan pintu lift untuk Ave. Tapi kali ini Ave malas bicara padanya, ia memilih bersembunyi di balik tumpukan dokumen. Tak sengaja saat ia mengintip, bibir Zaid melengkung membentuk tawa tertahan di balik tangannya saat menggosok hidung. Pria itu tertawa! Pasti dia sedang menertawainya!!!


Baiklah, ini tidak bisa dibiarkan! Di sini hanya mereka berdua. Tidak ada siapapun. Kalau ia menggoda si Zaid ini sedikit, pasti tidak ada masalah bukan?


Ave pun tertawa terbahak-bahak, membuat Zaid menatapnya heran.


"Ada apa? Ada yang lucu?" tanya Zaid penasaran.


Ave masih tertawa, dan ia mengangguk-angguk. "Soalnya lucu banget lihat monyet lagi nahan ketawa, Pak!" jawabnya di sela tawanya.


"Monyet? Di mana?" tanya Zaid dengan dua alis melengkung nyaris menyatu. Mereka hanya berdua di lift itu. Tak ada siapapun.


"Lah ini saya lagi ngeliatin monyetnya!" Ave menatap Zaid masih sambil tertawa-tawa. Malah makin kencang saat melihat ekspresi di wajah Zaid berubah kelam.


Tepat saat itu pintu lift terbuka, Zaid menatap Ave dan satu kali melangkah, tangannya membentang menyenggol tumpukan dokumen. Dokumen-dokumen itupun berjatuhan bagai menara runtuh ke lantai.


"Pak Zaaaid!" teriak Ave tak tahan lagi.


Dengan tenang, Zaid melambai tanpa melihat ke belakang, berjalan menuju ruang kerjanya meninggalkan Ave yang menatap putus asa pada seluruh dokumen yang bertebaran di lantai. Tapi saat ia memunguti semua itu, ada senyum tipis di wajah Ave.


*****

__ADS_1


__ADS_2