
~ Akhirnya, memasak di istana sang Pangeran Salju! (Avelia) ~
Avelia bersenandung riang memasuki kastil Snowy Devil. Hmm... Hmm... Hmmm...
Ini benar-benar kastilnya pangeran Salju. Semuanya berwarna putih, abu-abu, dan silver. Warna-warna membosankan yang dingin. Sofa tamu kulit berwarna abu-abu tanpa bantal. Dinding putih dengan gambar-gambar abstrak besar. Lampu-lampu silver dan kursi abu-abu berbagai versi yang menghiasi sudut ruangan. Kursi makan berwarna senada dari bahan metal. Dapur stainless steel yang masih mengkilap dan bersih dari segala pernak-pernik khas dapur.
Masih bagusan gambarnya Kak Lily lagi ngamuk daripada beginian, pikir Ave sambil memiring-miringkan kepalanya berusaha memahami gambar abstrak berupa sapuan campuran warna yang tak jelas.
Seantero ruang tamu sampai ke dapur, semuanya seperti keluar dari majalah furniture. Tapi... tak ada tanda-tanda kehangatan yang bisa membangkitkan semangat di seluruh rumah. Bersih memang. Namun, tetap saja Avelia takkan tertarik tinggal di rumah ini.
Home sweet home.
Mendadak Avelia kangen dengan rumah Papa yang penuh dengan furniture dan hiasan rumah yang ia pilih sendiri. Ave bahkan membeli beberapa produk Emak berupa bantal-bantal untuk sofa di ruang tamu. Unik dan sangat penuh warna. Lukisan-lukisan dari murid-muridnya saat praktek kerja dulu juga turut menghiasi salah satu dinding ruang keluarga di rumah Papa. Lukisan dari anak-anak Kindergarten itu jauh lebih baik dari semua gambar abstrak di kastil dingin ini.
Tapi sudahlah. Itu nanti. Yang jelas Ave di sini bukan untuk tinggal. Ia akan menumpang dan bekerja. Lumayan bisa berhemat biaya tempat tinggal, makan dan... hei! Ave baru sadar kalau di kastil ini wifi-nya sangat kencang. Asyiiik! Dia bisa berselancar sesukanya, mengaktifkan blog resepnya lagi. berdemo di akun Youtube-nya dan tentu saja nonton drama-drama kesukaannya.
Tapi apa passwordnya yak?
Itu urusan belakangan. Dia bisa bertanya pada Jenny nanti. Sekarang, dia harus mulai bekerja. Memberi makan Zaid agar perutnya kenyang dan otaknya yang dingin itu sedikit hangat. Ave pikir, hari ini mungkin enaknya masak sesuatu yang pedas kali ya? Ave ingin membuat bibir tipis si Snowy Devil itu lebih tebal karena mencecap Ayam Gepruk dengan sambal cengek spesial. Pasti kelihatan lebih seksi.
Hi hi hi...
Dengan sigap, Ave mulai mengeluarkan bahan-bahan dan segera menyiapkan pisau kesayangannya. Pisau hadiah dari Mas Ajie dan Lily saat ia berulang tahun beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Oh ya, tidak lupa Ave memakai celemek, mengantongi hp setelah menyetel daftar putar yang sudah disiapkannya dan mengenakan earphone. Hingar bingar musik berdentam di telinganya, otomatis memancing kepalanya bergoyang sedikit. Yups! It's time to start.
Memasak bukan sekadar hobi. Bagi Ave, memasak adalah caranya untuk bergembira. Menikmati musik, sambil menggerakkan tangan dan kaki dalam dunianya sendiri. Meramu bahan makanan untuk menghasilkan rasa yang enak dan decak kagum serta bersyukur dari penikmatnya, adalah kebahagiaan lain yang menjadi bonus.
Tapi yang paling penting, memasak selalu mengingatkannya pada almarhumah Mama.
Bagian terbaik bersama Mama adalah ketika memasak. Setiap hari di dapur, Mama selalu meminta Ave membantunya. Hanya untuk mengaduk telur, mengambil sendok, bahkan kadang sekadar mencicip hasilnya. Seiring waktu ketika Ave makin dewasa, tugasnya terus bertambah dan ketika Mama tak lagi mampu berdiri dari kursi rodanya saat penyakitnya makin parah, itulah pertama kalinya ia memasak sup untuk Mama. Pertama sekaligus terakhir kalinya.
Ave takkan pernah melupakan raut wajahnya Mama saat itu. Ia masih SMP saat itu. Tapi Mama berbisik dengan lirih, "Enak, Ve. Mama suka sekali. Bagus sekali, Nak. Nanti kalo Mama gak ada, masak untuk Papa dan Mas Ajie ya, Nak."
Itulah sebabnya mengapa dapur selalu menjadi tempatnya melepaskan rindu itu. Pada Mama, yang pergi bahkan sebelum Ave sempat memamerkan hasil masakan yang lebih baik. Baginya, siapapun yang memakan masakannya, selalu ada bayangan wajah Mama di belakang mereka. Wajah dengan ekspresi bahagia dan bersyukur. Ekspresi yang takkan pernah dilupakan oleh Ave sampai kapanpun.
"Aaakhh!" Ave menghembuskan napas sekuat-kuatnya. Tidak boleh sedih lagi. Tidak di depan masakan. Nanti rasanya tidak enak. Kata Mama, memasak itu harus dalam keadaan gembira, penuh cinta dan tidak boleh sedih agar rasa bumbunya bertambah enak.
Tangan Ave mulai sibuk membumbui ayam, memastikannya bumbu merata. Ia kembali ke wajan, menuangkan minyak dan saat itu lagu berganti dengan irama menghentak. Sambil menggoyang-goyangkan pundak dan kepala, Ave menjulurkan tangannya di atas wajan, mengukur panas. Ia kembali lagi ke ayam dan memindahkannya agar lebih dekat dengan kompor. Sambil menunggu minyak panas, Ave mulai bernyanyi.
Suara riuh minyak menyentuh ayam basah berbumbu, beradu dengan suara Ave yang sedang menyanyi dengan suara hilir mudik tak karuan nada tinggi rendahnya. Tapi gadis itu tak peduli, ia kembali ke kitchen island, dan menyiapkan bahan lain. Kali ini ia akan menyiapkan samb
Peduli amat. Toh, Snowy Devil itu belum pulang. Rumah ini kosong melompong. Mumpung tak ada orang. Mengerjakan dua hal yang sudah lama tak dilakukannya. Bernyanyi sambil memasak. Menikmati 'me time' ala Avelia.
Di luar rumah, Zaid yang baru keluar dari mobil, memandang ke arah rumah dengan heran. Seperti ada yang hal yang tak biasa. Ah ya, mungkin itu Elang, si juru masak yang baru. Bukankah ini hari pertama pemuda itu mulai bekerja? Baiklah. Bukan salah pemuda itu kalau masih bekerja jam segini. Hari ini memang Zaid pulang lebih cepat. Ia ingin menyapa juru masaknya yang baru. Paling tidak, ia ingin memastikan pemuda itu tahu apa yang paling ia inginkan. Percuma pandai memasak, kalau tak bisa menjaga aturan.
Aroma pedas menyeruak saat Zaid membuka pintu. Cukup pedas, hingga Zaid hampir bersin. Tapi urung karena ia mendengar suara seorang gadis bernyanyi... tidak, itu teriakan. Teriakan yang sangat menyakitkan telinga!
__ADS_1
Siapa itu? Apa yang dilakukan seorang gadis di rumahnya?
Dengan langkah cepat Zaid berjalan cepat mencari asal suara nyanyian fals itu. Ia bahkan merasa tak perlu membuka sepatunya lagi. Ia harus menyeret perempuan itu keluar dari rumahnya sesegera mungkin.
"DESPASITO!!! KUIERO RESPIRA TU SELO DESPASITO!!" teriakan itu berasal dapur. Bergegas Zaid menuju dapur.
Namun langkahnya terhenti di dekat dinding antara dapur dan ruang keluarga. Baru kali ini ia melihat dapurnya yang biasa bersih dan rapi berubah rupa.
Berbagai jenis bahan makanan bertebaran di atas kitchen island besar bertopping marmer itu. Kotak-kotak plastik bening bertumpuk di sudut lain, sebagian sudah terisi dan sebagian lagi masih kosong. Sebuah talenan kayu terlihat di tengah-tengah meja besar itu. Dua kompor menyala di sisi berlawanan dipenuhi dengan panci dan penggorengan. Suara desis minyak dan air mendidih terdengar sahut menyahut, ditambah suara gadis yang sesekali berteriak itu. Entah menyanyi atau berteriak. Definisi yang tidak jelas bagi Zaid saat ini.
Tangan gadis itu sangat sibuk. Sesekali memotong, berhenti sebentar, memeriksa masakan di atas kompor dan kembali memotong. Ia begitu asyik bekerja sampai tak melihat Zaid. Atau mungkin juga karena ada headset menyumpal telinganya, hingga ia tetap santai bekerja. Zaid mengenali gadis itu dengan baik.
Itu Avelia!
Kenapa gadis itu yang ada di sini? Kenapa dia yang memasak? Mana Elang? Gadis itu bisa memasak?
Aneka pertanyaan berseliweran dalam pikiran Zaid. Tapi anehnya, kakinya tak bergeming. Ia diam memperhatikan tingkah Avelia yang saat itu bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang didengar gadis itu, namun tangan dan mata Ave sibuk bekerja sama menyelesaikan masakan.
Avelia terlihat berbeda. Ia tak tampak tegang, gugup atau bingung. Ia juga tak terlihat kampungan. Gadis itu malah... terlihat seksi.
Kaos oblong kebesaran dengan jins pendek sampai lutut, apron pink menyala berbentuk hati besar di dada dengan tali pita satin yang dikenakannya hanyalah pakaian biasa yang tak seharusnya membuat jantung seorang pria berdetak cepat karenanya. Atau mungkin itu karena rambut hitam kecoklatan itu digelung asal-asalan di puncak kepala gadis itu yang menyebabkan leher jenjang putihnya terlihat jelas.
Entahlah. Zaid tak mengerti. Kakinya malah mundur dan benar-benar bersembunyi di balik dinding. Kuatir jantung yang berdetak terlalu cepat ini akan terdengar oleh gadis itu. Setelah sepersekian detik, ia memilih berbalik. Memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dulu. Ada sesuatu yang sedang terjadi, dan ia ingin tahu apa sebabnya.
__ADS_1
Yang jelas sekarang ia jadi ingin tahu ada hubungan apa Elang dan Avelia?
*****