Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 78 - Sad in Silence (1)


__ADS_3

~ Cerita kerinduan tanpa suara ~


Jemari ramping Ave menekan tombol 'off' pada oven induksi di depannya lalu mengambil loyang yang sedang dipanggangnya. Ia tersenyum bangga melihat *Chiffo*n Cake Teh Tarik yang baru selesai ia buat.


Sambil menunggu suhu kue lebih dingin, Ave memeriksa rice cooker yang sedang memasak nasi lemak. Ketika ia mendekat, aroma khas nasi yang didominasi rempah menggelitik hidungnya. Sebentar lagi nasi itu akan matang. Bibirnya sedikit tersenyum.


Suara seperti rinai hujan terdengar dari penggorengan. Gadis itu pun berpindah ke depan kompor. Tangan Ave bergerak membalik ayam goreng yang ada di dalam penggorengan, sebelum ia bergerak kembali ke kitchen island.


Ave telah menata soun dan toge dalam mangkuk di atas meja besar itu, lalu menggunakan sendok sayur, ia menambahkan kuah Laksa. Setelah itu tidak lupa menyusun aneka topping seperti potongan bakso dan telor untuk mempercantik penampilannya.


Puas melihat hasil tata piringnya, Ave mengambil ponsel di kantung apron pink-nya dan mulai memotret mangkuk berisi Laksa dari berbagai sudut. Ketika ia yakin sudah mengambil foto sisi terbaik dari makanan itu, Ave memanggil Bibik yang sedang membersihkan sisa-sisa kulit udang di wastafel untuk memindahkan mangkuk itu ke meja makan.


Gadis itu kemudian mulai memeriksa potongan daging ayam yang tengah digoreng sekali lagi dan mengangkatnya. Meniriskan untuk mengurangi minyaknya sebelum memasukkan sisa minyak ke mangkuk khusus. Ia memberi kode pada Bibik yang sudah kembali berdiri di dekatnya untuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak Mie Kari.


Sementara dua orang perempuan lain berdiri mengawasi Avelia dengan tatapan iba bercampur sedih.


"Lu udah nelepon Mas Ajie aja, Li?" tanya Tiar sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit dengan masygul.


Bibir Lily merengut. "Sudah! Gue paksa pulang sekarang juga."


"Gimana kalo kita sekalian panggil Danu dan Amy?" kata Tiar lagi memberi ide. Matanya berpindah pada berbagai hidangan di atas meja makan.


"Tadinya gue pikir gitu juga. Tapi gue maunya Mas Ajie dateng dan liat sendiri akibat perbuatannya. Kalo ada orang lain, gue takut rencana kita bubar."


"Lu udah rasain belum makanannya?" tanya Lily dengan wajah murung.


Kening Tiar berlipat. "Belumlah. Gak berani gue ngeliat Ave kalap gitu. Lu udah?"


Lily mengangkat bahu sambil menunjuk hidangan yang paling dekat dengan mereka. "Cobain aja. Tapi jangan yang ini, entar tunggu Mas Ajie aja. Entar lu ngerti maksud gue. Lagian Mas Ajie lagi gak di kantornya. Tadi gue telepon dia di tempat lain. Lu telepon Bang Jaya aja dah, Yar! Biar bantuin kita ngomong ke Mas Ajie kalo gagal."

__ADS_1


"Udah tadi gue telepon. Dia lagi otewe."


Lalu suasana kembali hening dan keduanya kembali ke dekat pintu dapur basah, mengawasi Ave yang masih sibuk berputar-putar. Sesekali tangannya sibuk menata, memotong, menggoreng dan akhirnya memotret hidangan yang sudah selesai.


Hampir satu jam kemudian, barulah terlihat Ajie memasuki rumah. Ia sempat heran melihat istrinya duduk di lantai, bermain dengan Ali di ruang keluarga bersama Tiar, yang duduk bersandar di sofa.


Melihat wajah mereka, Ajie tahu ada yang tidak beres. Matanya segera menelusuri tubuh putranya, Ali. Tapi bayi kecil itu tampak asik menggeliat di atas karpet tipis berpola beruang besar.


"Ada apa? Kenapa kalian kayak ngeliat hantu begitu?" tanya Ajie. Ia berniat duduk ketika istrinya justru mengibas-ngibaskan tangan.


"Hei, hei... siapa yang nyuruh duduk! Bangun, ikuti Lily!" perintah Lily. Kening perempuan mungil itu berkerut-kerut saat mengambil putranya untuk digendong dan berdiri.


Patuh, Ajie mengikuti langkah istrinya ke arah ruang makan dan dapur. Tiar tetap duduk di sofa. Perutnya yang semakin besar, membuatnya malas untuk ikut berdiri. Sebentar lagi, suaminya juga akan datang jadi ia lebih memilih menunggu Jaya.


"Wow! What a feast! Ini... " Ajie kehilangan kata-kata melihat berbagai hidangan yang terhampar di atas meja makan besar dengan 12 kursi itu begitu Lily membawanya ke ruang makan.


Ajie mendekati meja makan dan memeriksa semua hidangan yang ada.


Selama ini, Emak yang punya banyak bumbu rahasia sajian berkat jaringan bisnis warung makannya, yang kemudian menjadi koki khusus akhir pekan bersama Avelia. Bahkan ketika Avelia tinggal di luar sementara, kebiasaan itu masih tetap terjaga. Bukan pemandangan aneh ketika banyak hidangan tersaji di atas meja makan besar itu.


Tapi hari ini bukan akhir pekan. Juga tak seperti kebiasaan sebelumnya dengan menu yang hanya terdiri dari 5-6 macam dengan jumlah banyak.


Kali ini berbeda. Hidangan di atas meja itu semuanya berbeda dalam setiap mangkuk, piring dan bahkan gelas yang berisi puding.


Ajie menoleh pada Lily. "Ini... kamu masak?" tanya Ajie dengan sorot mata menggelap dan mata menyipit. Kekuatiran muncul di hatinya, mengingat pengalaman buruknya selama ini.


"Ish... Enggak mungkin! Lily mana bisa masak! Ini Ave yang masak!" jawabnya sebal. Ali menggeliat dalam pelukannya, menatap mamanya dengan wajah polos.


"Buat apa dia masak segini banyak? Ada yang mau datang?" tanya Ajie sambil menarik salah satu piring dengan hidangan berkuah kuning.

__ADS_1


Melihat piring yang ditarik suaminya, Lily tak menjawab. Ia bergerak menuju lemari kecil di sudut ruang makan itu, mengambil sendok. Disodorkannya sendok itu pada suaminya. "Taste it!" katanya. [Cicipi itu!]


Aroma sedap tercium dari hidangan di piring itu, dan sudah dari tadi Ajie ingin mencobanya. Tanpa ragu dengan kemampuan memasak Avelia yang selama ini sudah ia buktikan sendiri, Ajie menyendok kuah kuning bersama potongan daging di atas hingga sendoknya penuh.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik.


"Hueek!" Ajie menyemburkan kembali gulai yang baru ia masukkan ke mulut ketika serangan rasa tak biasa menyerbu lidahnya.


Untungnya Lily juga sudah mengambil tisu ketika Ajie sedang menyendok hidangan itu. "Gimana?" tanyanya dengan sinis.


Ajie mengangkat wajahnya. Matanya memerah menahan rasa aneh di lidahnya. "Yakin ini bukan kamu yang masak, Li?"


Lily menggeram. "Bukaaan! Tanya aja si Bibik tuh!" Tepat saat itu dari arah dapur, Bibik keluar membawa gorengan berbentuk kerang tertutup.


Ajie tahu istrinya tak mungkin berbohong. Wajah Lily sudah menggambarkan kegundahan hatinya. Bergegas Ajie bergerak menuju dapur basah dan melihat adiknya berdiri membelakangi tengah menggoreng sesuatu di atas kompor.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ajie saat ia kembali mendekati istrinya.


Lily yang sudah duduk sambil memangku Ali, memandang Ajie dengan sedih. Matanya berkaca-kaca. "Hati Mas masih gak tergerak melihat ini semua? Sampai kapan Mas masih keras sama Ave? Ave sedih diam-diam begini jauh lebih pedih ngeliatnya, Mas. Sebagai kakak iparnya, Lily tahu harus patuh sama suami. Tapi sebagai temannya, Lily benar-benar gak tega."


Ajie menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya. "Tunggu dulu, Sayang! Bukan itu masalahnya. Tapi ini kenapa... " Ajie memandangi berbagai hidangan di atas meja dengan tatapan bingung.


"Tadi pagi Ave memposting sarapan paginya dan... Zaid nge-like postingannya itu. Setelah itu, Ave memasak semua ini dan memotretnya... Lalu..." Lily memandang suaminya dengan sendu. Tak sanggup meneruskan ucapannya.


"Semua ini? Hanya untuk foto postingan?" tanya Ajie tak percaya.


Demi seorang Zaid, Avelia yang selalu cuek pada semua orang, rela melakukan ini semua?


Ajie meneguk liur. Ia tahu ia bersalah. Tapi baru kali ini Ajie tahu kesalahan ini bukan kesalahan kecil. Ini kesalahan terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2