
*~ Tiga kalimat yang paling disukai perempuan*~
Seharian, Ave dan Zaid tak lagi bertemu di kantor. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Karena Ave tak lagi marah padanya, Zaid memilih untuk berkonsentrasi mengurus masalah The Crown yang belakangan ini bertambah banyak.
Beberapa bulan terakhir, proyek yang diterima The Crown mengalami penurunan tajam. Kondisi ekonomi yang memburuk, ditambah kompetitor yang makin banyak membuat perusahaan Zaid kehilangan beberapa klien penting.
Bukan sekali ini The Crown mengalami masalah. Hanya saja belakangan ini fokus Zaid terbagi-bagi. antara perusahaan dan... hatinya. Selama ini dengan langkah strategi yang terencana, Zaid bisa menyelesaikan semuanya. Tapi ketika menyangkut Ave, ia selalu mendapatkan hasil yang mengejutkan. Benar kata orang, kadang kita harus memilih antara cinta atau pekerjaan.
Tapi Zaid tak ingin memilih. Ia ingin semuanya berjalan lancar. Syukurlah, Ave adalah tipe gadis easygoing, yang kemarahannya gampang diredam. Hari ini ia bisa kembali pada tumpukan berkas di meja kerjanya. Namun tak lupa, ia mengetik di agenda ponselnya untuk mengingat hal penting yang harus ia lakukan bersama Ave.
Berbelanja.
Sesuatu yang begitu sederhana bisa sangat berarti jika dilakukan bersama kekasih hati. Zaid kini memahami maksud kalimat itu. Senyumnya membayang saat terakhir kali berbelanja dengan Ave. Insiden kecil itu begitu membekas di hatinya. Teringat pada wajah jengah Ave saat tak sengaja mengambil ******. Tapi ia mengerti, Ave menyukai makanan yang manis.
"Kenapa, Pak?" tanya Jenny heran. Ia tengah membacakan jadwal Zaid saat melihat bossnya itu senyum-senyum sendiri.
"Ah... Oh gak, Jen. Gak ada apa-apa. Teruskan!" sahut Zaid menggeleng.
Jenny hanya menunduk, kembali membaca. Juga menahan senyum. Ia tahu, pasti Ave-lah yang mengubah wajah dingin itu menjadi sehangat itu. Hazmi yang sedang duduk di sofa, dengan tumpukan dokumen yang harus diperiksa bertebaran di depannya juga menoleh dan tersenyum. Tapi matanya melirik Jenny. Dua pria yang sama-sama sedang menikmati indahnya jatuh cinta.
Sebelum pukul 4 sore, Zaid sudah berdiri meninggalkan ruang kerjanya. Dengan kebahagiaan yang tergambar jelas di wajahnya, ia menyapa sekaligus pamit pada semua staf Manajemen. Begitu sang Boss masuk lift, keempat pria dalam beragam usia itu mulai bergosip.
"Sekarang Boss pulang cepat terus ya."
"Dan selalu ke lantai 7 dulu."
"Gue ya... walau Ave bilang dia cuma koki atau cuma teman atau cuma anak buah, gak akan percaya. Menurut Pak Wiryo bagaimana? Bener kan feeling saya ini?" kata Akbar.
Pak Wiryo yang masih mengetik, berhenti dan mengangguk. "Makanya saya kan udah berapa kali ngasih tahu Mas Akbar agar hati-hati kalo bercanda dengan Ave."
Denny menepuk bahu Akbar. "Makanya Bar... Sudah gue kasih tau kalo Boss naksir Ave, eh lu masih nyoba-nyobain deket sama dia. Ave pindah deh. Jadi sepi lagi di sini!"
"Yaah, masih mending Boss ke lantai 7, jadi kita gak liat kalo mereka lagi mesra-mesraan. Lah ituuu... " Akbar melirik meja Jenny sambil menunjuk dengan kode bibirnya, tiga pasang mata lain milik para staf pria Manajemen mengikuti arahan kode itu.
Tampak Hazmi bersandar di meja kerja Jenny, setengah duduk menyamping. Tangannya memainkan anak rambut gadis yang tengah mengetik itu. Keduanya mengobrol, tertawa kecil dan sesekali saling melemparkan tatapan. Jelas sekali kebahagiaan menjadi milik mereka, melupakan empat pria beragam usia yang menatap iri. Bagai sepasang merpati yang sedang jatuh cinta.
Empat orang yang berada di ruangan yang sama dengan mereka seakan terlupakan. Mereka sama-sama menghela napas, hanya bisa saling melempar tatapan tak berdaya. Bahkan Pak Wiryo, satu-satunya yang berkeluarga di antara mereka, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Boss mereka berjalan penuh semangat keluar dari lift, sedikit berusaha mengendalikan senyum di wajahnya. Dari informasi Jenny, Ave sudah siap pergi dengannya. Tapi tadi gadis itu yang berjanji akan ke lantai 8. Sayangnya, Zaid sudah tak sabar.
Ave kuatir kalau Zaid datang, ia akan mendapat masalah dengan para gadis di Creative. Sepanjang hari ini saja, mereka berulangkali menyinggahi meja kerja Ave. Bertanya macam-macam. Mulai jam berapa pria itu makan? Adakah wanita yang sering berkunjung? Apa makanan kesukaannya? Bahkan sampai bertanya kapan Zaid tidur saat malam hari?
"Aduh, Mbak-mbak Ave yang cantik dan manis. Ave itu pulangnya aja lewat samping, gak lewat rumah. Kalo lagi masak, Pak Zaid gak pernah bantuin atau nongol ke dapur. Entar kalo udah selesai, Ave panggil dan Pak Zaid makan. Setelah itu, beliau balik lagi ke kamar atau kamar kerjanya. Ave gak berani ganggu," cerita Ave setengah berdusta. Bisa mati dia kalau menceritakan semua dengan sejujurnya.
Kekecewaan disertai desah napas panjang pun terdengar, sebelum satu persatu kembali ke meja kerjanya masing-masing.
"Tapi, kamu janji ya ngajakin saya ke rumah Pak Zaid, " kata Alina mengingatkan dari kubikal sebelah.
Ave mencondongkan tubuhnya. "Tapi Mbak sendiri deh yang izin. Pak Zaid itu suka marah sama Ave. Ave gak berani."
Alina mengangguk penuh semangat. Ave bernapas dengan lega, lalu mulai membereskan meja kerjanya. Ia harus segera ke ruangan Zaid sebelum pria itu ke sini.
Tapi tak lama, suara langkah kaki berlari-lari terdengar, membuat Ave mendongak ke arah pintu masuk. Dua gadis muda berlari-lari masuk.
"Ada Pak Zaid! Ada Pak Zaid!" kata salah satu di antara mereka sambil berlari ke arah meja kerjanya, sementara yang lain sibuk bersiap.
Pemandangan kontras terjadi dengan serempak di lantai khusus para kreator muda itu. Jika para pria tersenyum geli, memperbaiki posisi duduk dan semakin menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka, para gadis muda justru berlaku sebaliknya.
Ada yang memakai lipstik dengan kecepatan cahaya, ada yang memperbaiki rambutnya dengan sisir yang entah datang dari mana, ada yang menegakkan punggung menatap layar monitor komputer padahal barusan tadi sibuk menelpon entah-siapa yang diputus begitu saja. Bahkan saat Ave melirik ke Alina, gadis itu sudah selesai mewarnai bibirnya seperti habis menyedot darah, memasukkan semua snack yang tadi berserak di atas meja dan mengganti tampilan monitornya dari jejeran tas-tas model terbaru dengan sketsa storyboard.
Bukan main hebatnya pengaruh si Pangeran Salju itu!
__ADS_1
"Hei!"
Tepukan di bahu Ave membuat ia menoleh pada si penepuk. Ia terlalu asyik memperhatikan sekelilingnya hingga tak melihat Zaid sudah ada di belakang.
"Sore, Pak Zaid!" sapa Alina dengan senyuman paling terbaik. Zaid hanya mengangguk dan kembali melirik Ave.
"Buruan! Udah sore! Entar kemalaman lagi!" serunya santai, tak mempedulikan sekitarnya.
Ave yang tak enak hati pada semua gadis di lantai 7, menoleh pada Alina. Setidaknya ia harus memperbaiki keadaan. "Mau ikutan gak, Kak? Ave sama Pak Zaid mau belanja." Ajakan itu membuat mata Zaid sedikit menggelap.
Mulut Alina siap menjawab tapi Zaid lebih cepat menyela.
"Kamu itu digaji buat kerja, Ve! Bukan nyuruh-nyuruh orang lagi!"
"Tapi saya gak keberatan kok, Pak. Saya juga bisa bantu-bantu," tawar Alina penuh harap. Matanya bersinar terang. Harapan yang juga muncul di hati para gadis di sekitar mereka.
Zaid menatap Alina. "Dia ini kalo ditemani kerja suka ngelunjak, Lin. Ini aja kalo gak diawasi saya, belanjaannya pasti gak sesuai. Boros." Lalu ia mendekati Alina, menepuk bahu gadis itu dua kali. "Saya lebih suka lihat hasil sketsamu daripada lihat tangan berhargamu itu terluka karena memasak," lanjutnya dengan lembut. Senyum bahagia penuh cinta merekah di wajah Alina.
Mata Ave menyorot kesal dengan bibir dikatup setipis mungkin. Saat Zaid kembali berpaling padanya, pria itu hanya memandanginya sekilas tak peduli sambil menarik tangannya. "Buruan!" perintahnya tak sabar dengan nada yang kasar.
Dengan wajah cemberut, Ave mengikuti langkah Zaid. Mood Ave seketika memburuk. Ia tak menyangka Zaid bisa bersikap manis seperti itu pada gadis lain. Dasar cowok! Tak bisa melihat perempuan cantik!
"Maaf Ve, kalo gak begitu, nanti mereka malah manfaatin kamu," kata Zaid menjelaskan saat mobil meluncur menuju hipermarket.
"Jadi Bapak tau kalo mereka itu suka sama Bapak?"
Zaid menoleh sekilas. "Kamu pikir saya sebodoh kamu sampai gak tau? Saya beda, Ve. Sekarang... kamu gak ngaku aja saya tahu kamu cinta sama saya."
"Idiih kepedean!" Ave membuang muka. Tapi gadis itu tak membantah seperti biasa.
Zaid hanya tertawa kecil. Sedikit lagi.
Saat tiba di hipermarket, semangat Ave sudah kembali. Sebagai seorang perempuan sejati, berbelanja adalah me time terbaik yang selalu dinanti. Ia segera mengeluarkan daftar belanjaan. Dengan riang ia menarik keranjang dan masuk. Zaid mengikuti langkahnya dari samping. Suasana di swalayan besar itu sedikit ramai, tapi tak terlalu padat.
Ave tertawa kecil. "Ya iyalah, Pak. Ave kasih tau ya, Pak... Tiga kalimat yang paling disukai perempuan itu adalah You're pretty, I love you dan Let's go shopping!"
"Then... You are very pretty, I love you, and let's go shopping, Ve!" bisik Zaid ringan lalu berjalan menuju jajaran troli, mengambil troli paling depan, meninggalkan Ave yang berdiri sambil tersenyum-senyum sumringah memandangi sang Pangeran Salju. Buru-buru Ave menyusul langkah Zaid.
Mereka langsung menuju bagian lauk pauk. Ave mulai memperhatikan rak-rak bersuhu rendah yang berisi berbagai jenis daging, ikan dan hewan laut.
"Pak, bisa makan udang?" tanya Ave.
Zaid mengangguk.
Ave mengangkat bahu. "Tapi Ave gak bisa. Jadi gak usah aja ya. Kalo ikan kakap?"
Tak peduli pertanyaan Ave, Zaid malah balik tanya, "Kenapa gak bisa makan udang? Alergi?"
Ave mengangguk. "Iyap, udang dan cumi. Kalo yang lain bisa."
"Mmm... " Zaid kembali diam. Mencatat informasi berharga itu dalam ingatannya. Ia pernah mendengar alergi bisa menyebabkan seseorang tak bisa bernapas dan mungkin saja bisa berakibat fatal.
"Kalau ini bisa makan kan, Pak?" tanya Ave sambil menunjuk pada tumpukan ikan-ikan di atas es di depan mereka.
"Terserah, Ve. Saya gak ada pantangan makanan."
Lalu Ave mulai memilih. Usai memilih ia kembali bertanya, "Pak, Ave boleh belanja agak banyak gak? Biar sekalian ngisi stok kulkas."
Kembali Zaid mengangguk. "Belanjalah apapun yang kamu, Ve. Kalo kamu mau beli permen atau snack juga, atau apapun yang kamu pengen makan, ambil saja!"
"Asyiiik! Makasih Bapak ganteng!" pekik Ave senang.
__ADS_1
Pasangan muda yang berdiri tak jauh dari mereka tak sengaja ikut mendengar obrolan itu. Apalagi penampilan keduanya sungguh menarik mata. Sang pria tinggi dan tampan, santai mendorong troli. Sementara di depan troli, seorang wanita berparas cantik dan cantik, berpakaian modis sibuk memilih dan mengambil barang dari rak.
Sang istri yang bertubuh gemuk menoleh pada suaminya. "Tuh... Kalo sama istri itu begitu! Mau beli apa aja dikasih. Mau makan apa aja dibeliin."
Sang suami hanya diam. Hanya melempar tatapan iri pada Ave dan Zaid. Tentu saja ia akan melakukan hal yang sama jika punya istri secantik perempuan yang sedang sibuk memilih sayur itu.
Seperti janji Ave, ia berniat memilihkan sabun mandi yang baru untuk Zaid.
"Pak, Pak! Sini deh! Ini sabun khusus cowok. Bapak mau yang mana? Atau mau merek yang lama aja?" tanya Ave sembari menunjuk ke barisan botol dan sachet sabun mandi di rak.
"Terserah kamu, Ve. Pilih wangi manapun yang kamu suka, untukmu dan untuk saya, " kata Zaid sambil tersenyum. Saat itulah ponselnya bergetar. Zaid mengambil ponsel dari saku jaketnya.
Pasangan yang tadi juga sedang memilih di rak yang sama. Kembali sang istri menatap suaminya. "Tuh gitu suami yang baik. Nurut sama pilihan istri! Mau sabun apa juga diiyain semua!"
Sang suami hanya bisa menghela napas pasrah, menatap iri pada Zaid. Jelas saja dia mau, karena istri pria muda di depannya itu memilihkan merek sabun mandi dan shampoo yang mahal khusus pria. Beda dengan istrinya, yang memilihkan sabun mandi murahan sesuka hatinya. Ketika ia bilang tak suka, istrinya justru mencak-mencak menganggapnya terlalu pemilih.
Setelah selesai, keduanya antri bersama. Zaid masih sibuk dengan ponselnya, hingga tak lagi memperhatikan keranjang belanja yang terus diisi makanan dan minuman kesukaan Ave. Ia hanya mengangguk mengiyakan setiap kali Ave meminta izin.
Lalu, sebuah pesan masuk lagi. Kali ini wajah Zaid memancarkan aura dingin. Ia menoleh pada Ave dengan perasaan tak enak. "Ve, saya harus ke studio sekarang. Maya mau ketemu saya."
Ave mengangguk-angguk. "No problem, Pak. Pergilah! Ave kan sudah bilang kalo Mbak Maya hari ini syuting. Pasti ngambek kalo gak ditemani Bapak."
"Saya tetap makan di rumah loh."
"Iya, iya... Udah sana, Bapak pergi aja! Entar Ave bisa pulang sendiri. Ditungguin tuh sama pujaan hatinya. Yang sabar ngurus pacarnya ya, Bapak ganteng! Ave tunggu di rumah," kata Ave sedikit bercanda.
Zaid mengangguk sambil melemparkan senyum kecil. Tak lupa ia mengambil kartu dari dalam dompetnya, lalu membisikkan pin pada gadis itu. Ave mengangguk mengerti. Setelah itu Zaid pergi dengan langkah terburu-buru.
Pasangan yang sama tadi, tepat berada di belakang Ave juga mendengar obrolan singkat itu lagi. Kali ini bukan sang istri yang bicara, tapi sang suami. "Nah gitu... Jadi istri itu kayak gitu. Suaminya mau ketemu pacarnya malah didukung. Ditunggu di rumah lagi. Mamah mau apa aja juga pasti Papa turuti kalo bisa kayak gitu, Mah!" serunya riang dengan senyum lebar.
Sang istri menoleh, melemparkan tatapan tajam ."Awas aja kalo Papa berani!"
Sementara Ave menoleh ke belakang, menatap pasangan itu bingung sebelum mengangkat bahu. Pasangan yang aneh!
Setelah membayar semua belanjaan, Ave pulang dengan taksi. Tiba di rumah, tak lupa ia menelpon Lily. Menanyakan kabar keponakan kecilnya.
"Buruan beli hp, Ve! Mas Ajie dan Papa tuh bingung gak bisa hubungi lu!" kata Lily.
"Iya, Kak! Besok sih udah gajian. Ave mau beli pakai uang sendiri aja."
"Loh, terus tabungan lu gimana? Jangan boros! Nanti misi lu gagal loh!"
"Tenang aja, Kak! Gak akan. Ave udah perhitungkan dengan baik. Sekarang kerjaan Ave udah pindah ke tempat yang lebih baik. Ave bisa ngumpulin uang dari bonus juga. Makin banyak proyek, makin banyak insentifnya."
"Waah, luar biasa! Tapi jaga kesehatanmu ya Ve! Besok ke sini gak?"
"Weekend aja sekalian ya, Kak. Insya Allah!"
"Ajak Zaid juga, Ve! Kangen ngebully dia."
"Hahaha.... Dia lagi banyak kerjaan, Kak. Tapi ini... tadi Pak Zaid nitip kado buat Dedek," kata Ave sambil menatap pada kotak berisi pakaian bayi yang ia pilihkan atas nama Zaid. Biarlah... Zaid sudah bilang ingin memberikan sesuatu untuk Lily.
Usai menelpon, seperti biasa Ave bersiap memasak. Setelah mengatur semua stok makanan ke dalam kulkas, ia mulai menyiapkan bahan. Tapi baru beberapa menit, Ave mulai meringis. Sakit menusuk terasa di bagian bawah pinggangnya. Setelah beberapa detik, sakit itu berhenti. Ave mulai kuatir.
Ia meraih ponselnya dan memeriksa. Ah ya, ini saatnya tamu bulanannya datang. Ave melupakan hal itu karena kesibukannya belakangan ini. Tangan Ave segera sibuk mematikan kompor, dan kembali ke kamarnya dengan segelas air.
Tapi obat pengurang rasa sakit yang biasanya tersedia di dalam tasnya sudah habis dan Ave lupa membeli yang baru.
Rasa nyeri itu datang lagi. Kali ini Ave menyerah. Ia memilih berbaring sebentar hingga nyeri itu berhenti.
*****
__ADS_1