Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 79 - Sad in Silence (2)


__ADS_3

~ Sedih tapi diam-diam itu jauh lebih pedih ~


Melihat suaminya terdiam memandangi meja makan yang penuh, Lily menghela napas.


"Ini untuk pertama kalinya Zaid merespon sesuatu setelah satu bulan, Mas! Wajar kalau Ave kalap begini! Dia mau foto semua masakan ini biar bisa direspon Zaid. Walaupun mereka gak saling bicara, tapi itu cara Ave tahu kalau Zaid baik-baik aja dan supaya Zaid juga tahu dia baik-baik aja. Coba bayangkan kalo Mas yang berada di posisi Zaid."


"Iya, iya... Aku ngerti, Li. Tapi ini... maksudnya setelah itu Ave memotret dan memposting semua fotonya kan? Lalu apa ada respon?"


Bahu Lily merosot. Ia menggeleng lesu. "Itu dia. Lily juga gak ngerti. Hari ini untuk pertama kalinya Ave kembali ceria. Hari ini dia pertama kali juga mau posting lagi di medsosnya. Tapi siapa sangka hanya karena satu postingan pertamanya di-like Zaid, dia langsung ke dapur dan memasak sepanjang hari. Lily juga gak tau apa dia mau posting semua foto makanannya sekaligus, atau hanya untuk stok biar mereka bisa komunikasi. Lily gak tau."


Ajie kembali terdiam.


"Dan Mas bisa tahu gak ini masakan apa?" tanya Lily. Ajie menggeleng.


Mata Lily makin basah. "Yang Mas coba tadi Gulai Kambing Kawah. Yang seperti pastel itu namanya Karipap. Ave bikin dua macam. Yang di mangkuk putih itu Sup Bihun. Di sana itu Ikan Tenggiri kuah Asam Pedas. Itu... Ayam Goreng Halia... Di dalam dia masih menyiapkan Nasi Lemak dan Ayam Percik. Dalam gelas itu Puding Milo... "


Meski Ajie tak terlalu menyukai dunia kuliner, ia kenal dengan baik nama-nama sajian yang biasa dimasak adiknya. Semua yang disebut Lily terdengar sangat asing di telinganya.


"... Mas tahu dari mana asalnya semua masakan ini?" tanya Lily memecahkan lamunan Ajie.


Sekali lagi Ajie memilih menggeleng. Otaknya mengenali, tapi hatinya menyangkal.


Bibir Lily bergetar, memandang suaminya dengan sendu. "Dari Malaysia. Masakan yang ia pelajari agar bisa mengambil hati keluarga Zaid di sana saat nanti mereka berkunjung setelah menikah."


Ajie benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Ia terus terdiam. Suasana berubah hening karena Lily berusaha keras menghapus airmatanya. Hanya celoteh Ali yang terdengar. Tanpa keduanya sadar, Jaya yang berdiri di belakang mereka bersama istrinya juga ikut mendengar. Sama seperti Ajie, pria itu juga terdiam.


"Aku... " ujar Ajie ragu. Tapi kemudian ia menghela napas panjang sebelum kembali berkata, "Aku... hanya ingin menguji Zaid."

__ADS_1


Lily mengangkat wajahnya. Tak mengerti.


Melihat pertanyaan di mata Lily, Ajie melanjutkan, "Aku tahu Zaid sudah berubah banyak. Tapi... Avelia itu adikku satu-satunya, Li. Aku benar-benar kuatir Ave disakiti. Apalagi dengan orang yang kuragukan seperti Zaid. Aku hanya ingin tau dia tulus atau enggak. Aku ingin tahu apa yang berharga bagi dia karena selama ini aku tahu dia sangat loyal pada perusahaannya. Mana ada orang semuda dia bisa mengembangkan perusahaan secepat itu kalau tidak karena kemampuan dan loyalitasnya. Lalu setelah susah payah, tiba-tiba harus ngalah demi cewek. Aku tahu caraku beresiko, Li. Tapi ini soal hidup Ave, aku gak mau main-main. Makanya aku test dengan cara itu. Hanya aku salah perhitungan."


"Papa? Apa Papa tahu soal ini?" tanya Lily cepat.


Ajie menggeleng. Ia menunduk. "Itu dia yang kusesalkan, Li. Aku gak menyangka kalau cara itu malah berhasil membuka rahasia yang selama ini aku dan Papa ingin tahu. Aku tahu hati Avelia terluka sangat dalam karena perceraian orangtua kami, tapi aku benar-benar kaget kalau efeknya begitu luar biasa. Papa juga."


"Mas... "


"Waktu Papa sadar, kami sudah sepakat untuk menerimanya. Tapi aku gak bisa menemukan dia," ujar Ajie tak berdaya.


"Tapi kenapa Mas gak coba ngomong ke Ave?"


"Kamu tau apa yang ditinggalkan Zaid setelah dia menghilang? Aku, Hazmi, dan Danu kelimpungan mengurus The Crown. Elang malah berhenti bicara denganku karena dia juga lagi ribut dengan Natasha. Aku sibuk mengurus dua perusahaan ini, Li. Bukan karena aku sengaja. Lagipula... Ave menghindariku belakangan ini. Dia selalu di rumah sakit tiap aku pulang dan menolak bicara soal Zaid meski sudah dipancing sama Papa."


Ajie menoleh pada Jaya yang berdiri di dekatnya. "Lu bisa nyari Zaid? Gue udah hubungi Kak Zahra dan dia malah bingung. Zaid memang pernah ke Malaysia tapi hanya sebentar. Gue juga udah kontak Rizky, Hazmi, staf di kantornya. Semuanya nihil."


"Tenang saja! Lu lupa gue polisi?" ada seringai muncul saat Jaya mengucapkannya. Ajie tersenyum masam.


Lily juga tersenyum. Setidaknya ada celah yang baik untuk Avelia. Ia menatap suaminya yang belakangan ini selalu mendengar kata-kata ketus dan judes darinya. "Mas tetap harus bicara dengan Ave. Bagaimanapun juga. Siapa tahu Zaid mengirim pesan padanya. Postingan itu buktinya."


Ajie mengangguk. Ia meraih tangan istrinya. "Malam ini... Aku akan ngomong ke Ave malam ini."


Lily mengangguk setuju.


"Terus masakan segini banyak diapain? Gue makan ya?" tanya Jaya dengan lidah nyaris meneteskan liur. Tiar dan Lily sama-sama mengangguk.

__ADS_1


Dengan gerakan bagai kilat, Jaya duduk di salah satu kursi dan meraih karipap yang masih hangat. Mulutnya ber 'hufh hufh' kepanasan saat isi karipap masuk. Sementara Ajie memandangi, menunggu respon seperti dirinya tadi.


Tapi tidak ada. Jaya bahkan mengambil potongan karipap lain begitu yang di tangannya habis. Ia juga mengambil piring kosong dan mulai menyendok hidangan di depannya.


Kening Ajie berkerut dan ia menepuk bahu Jaya, meminta karipap untuk dicoba. Kuatir mendapat sentakan rasa baru yang menyakitkan seperti sebelumnya, Ajie menggigit sedikit.


Tak ada apapun yang aneh. Bahkan sampai karipap di tangan Ajie habis, hanya kulit renyah dan rasa kari gurih yang terasa. Sedap seperti biasanya.


Ini...


Ajie memandangi Jaya yang sudah memindahkan sepotong ikan asam pedas ke piring kosongnya, sementara istrinya mengambilkan nasi untuknya. Polisi muda itu tampak menikmati rasa makanan tanpa masalah. Juga sesekali menyeruput sup bihun dengan kagum. Matanya bahkan merem melek saking enaknya.


Dengan tatapan penuh arti, Ajie menggeser piring berisi Gulai Kambing rasa aneh itu ke depan Jaya. Mengira itu niat baik Ajie, tangan Jaya pun bergerak meraih piring itu, tapi satu tangan menghentikannya.


"Jangan yang itu, Bang! Yang ini... Itu tadi ditambahi garam tiga sendok sama lada oleh si Lily. Gak enak!" kata Tiar sambil menyodorkan piring lain dengan menu yang sama.


Jaya menatap istrinya dengan penuh cinta sebelum menyendok gulai dalam piring yang disodorkan itu.


Sementara kepala Ajie berpaling cepat ke arah istrinya.


Yang ia cari sudah berdiri menuju ruang keluarga lagi sambil bergumam pada putra mereka dalam gendongannya, "Ali cayang anak Mama, entar kalo udah gede jangan suka malah-malah cama Auntie Ave ya cayang. Ental dikacih galam yang banyak sama Mama. He he he he."


Ajie terpaku tak berdaya di kursinya. Wajahnya merah padam menahan malu dan kesal. Hanya bisa mengutuki ketidakberuntungannya. Harusnya ia tidak pernah melupakan kejahilan tingkat tinggi istrinya.


*****


Editor Notes:

__ADS_1


Banyak yang nanya soal Ajie dan Lily. Cerita cinta mereka bisa dibaca di Watt*** berjudul Boss Galak dan Sekretaris Badung. Googling juga ketemu kok. 


__ADS_2