Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 23 - Two Devilish Witches


__ADS_3

~ Ketika sesama nenek sihir saling menyihir, lebih baik semua orang menyingkir ~


Zaid melirik Ave yang makan terburu-buru di depannya, lalu masih dengan mulut penuh, gadis itu mengumpulkan semua piring dan gelas di atas meja makan. Ia bahkan masih terus mengunyah saat mencuci piring.


Namun saat Zaid masih memikirkan cara menegur gadis itu, Ave sudah menghilang kembali masuk ke kamarnya. Zaid menoleh ke dinding, melihat jam. Pukul 07.00. Saatnya berangkat kerja.


Tapi Avelia tak terlihat. Apa ia harus menunggu? Atau gadis itu akan pergi sendiri?


Zaid memilih berdiri dan baru saja ia hendak meraih tas ranselnya, tiba-tiba...


"Eiits! Biar Ave yang bawa, Pak!" kata Ave yang tahu-tahu sudah berada di sisi Zaid. Ia sudah memakai pakaian kerja dengan tas yang tersampir menyamping di bahunya. Tas Zaid malah sudah berada dalam pelukan. Cengiran khas di wajah mungil itu merekah lebar. "Tuan muda yang ganteng, biarkan pembantu cantik ini yang bawain ya ya ya!"


Bukannya bersyukur, kening Zaid malah berkerut. Ia mulai mengingat kebiasaan Ave. Jika cengir jahil itu muncul di wajah cantiknya, biasanya ada sesuatu.


"Tumben. Kali ini kamu rencanain apalagi?" tanya Zaid curiga sambil berjalan keluar. Alisnya terangkat sebelah saat melirik Ave, yang mengiringinya dari belakang dengan patuh.


"Jadi gini, Pak. Saat ini kan lagi ada kampanye* Go Green.* Untuk mendukung itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik ini sudah seharusnya memulai dengan mempraktekkan gerakan menyehatkan bumi kita ini. Ya menghemat pemakaian plastik, mendaur ulang sampah, menanam pepohonan, menghemat sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, memaksimalkan sumber daya alam yang bisa diperbaharui dan... "


Kaki Zaid berhenti melangkah. Ia menoleh pada Ave. "Langsung intinya aja, Ve!"


Ave tersenyum manis. "Jadi untuk mendukung kampanye itu, Ave pikir lebih baik kalo Ave numpang mobil Bapak. Menghemat bahan bakar dan kertas."


Baiklah, Zaid mulai bisa membaca pikiran gadis ini. Tapi apa hubungannya dengan kertas? Merasa janggal, Zaid bertanya, "Bahan bakar mungkin saja. Tapi kertas? Emangnya kamu bakar kertas kalo gak numpang mobil saya?"


Ave menggeleng kuat. "Bukan! Bukan! Tapi Ave jadi menghemat uang. Nah uang terbuat dari apa? Dari kertas kan, Pak!"


Zaid menatap Ave. Tak bisa berkata apa-apa. Lalu ia melangkah keluar, menuju tempat parkir. Tapi di teras, sesuatu yang iseng terbit muncul di kepala Zaid. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia menoleh pada Ave.


"Kamu yakin mau numpang saya, Ve?" tanyanya lagi dengan senyum penuh arti.


Seperti yang ia duga, Ave mengangguk penuh semangat. Masih sambil memeluk tas Zaid.


Zaid mengangkat bahu dan bergerak menuju garasi. Bukan untuk mengambil mobil, tapi motor besarnya. Saat pria itu mengendarai motor keluar dan bergerak mendekati Ave yang menunggu dekat pagar, ia bisa melihat mulut Ave yang terbuka lebar.


"Naiklah!" kata Zaid seraya menyodorkan helm.


Ave tak bergeming. Dia menunduk menatap rok mini yang ia kenakan. Bagaimana ia naik ke atas motor besar tanpa memperlihatkan isi roknya?


Zaid menahan senyumnya. "Nunggu apalagi? Ayo buruan! Saya mau ke studio lagi. Kalo pakai mobil udah gak keburu lagi ke kantor. Hari ini syuting dengan Natasha. Saya ada perlu sama dia."


Ave menggigit bibirnya, mencari cara. Ia hampir kehabisan uang bulanan dan menumpang pada Zaid untuk bekerja hanyalah salah satu taktik untuk berhemat. Siapa sangka sekarang taktiknya malah menjadi senjata makan tuan.


"Pak! Ave juga mau ketemu Mbak Natty dan mau belajar proses syuting. Boleh kan, Pak? Waktu itu ke studio, Ave belum sempat."


Sesaat Zaid menatap Ave sebelum mengangguk.


"Kalau gitu, Bapak tunggu bentar yah. Kita masih punya banyak waktu kan? Ave mau ganti celana dulu. Bisa kan, Pak?" tanya Ave penuh harap.


Zaid mengangguk. "Lima menit!"


Tanpa berkata apa-apa lagi, Ave melesat kembali ke dalam rumah. Menyambar celana yang paling mudah terjangkau. Tak lagi peduli kombinasi warna yang pantas atau tidak. Bahkan memakainya sembari berjalan kembali ke pintu. Tak sampai lima menit, gadis itu mengambil helm yang diserahkan Zaid, memakainya dan naik ke atas sadel motor. Duduk dengan tegak.

__ADS_1


"Yakin kamu duduk begitu?" tanya Zaid. Tangannya sibuk mengaitkan kunci helmnya.


"Yakin!" kata Ave.


Senyum tipis muncul sekilas di wajah Zaid sebelum ia menutup wajahnya dengan kaca depan helm dan mulai menstarter motor. Suara gerungan motor 300 cc itu terdengar menggetarkan hati Ave. Belum lagi motor Zaid bergerak, ia telah menempel erat di punggung Zaid.


Tapi gerakannya itu justru mengejutkan Zaid. Belum pernah ia merasakan tubuh perempuan sedekat ini dengannya. Sentuhan yang hangat dengan bentuk tubuh berbeda bisa dirasakan punggungnya yang menggelenyar geli. Tak sadar ia menggeliat. Namun, Ave yang kuatir terjatuh malah mempererat pelukannya.


"Ve, gimana saya mau nyetir kalo kamu kek anak monyet minta gendong begini?" ujar Zaid sedikit keras meningkahi suara gerungan motornya.


"Kok monyet sih, Paaak? Koala kaaan lebih cuteee. Mentang-mentang Bapaaak ngaku monyeeet, Ave diakui anaknyaaa. Iiish, udaaah jalaaan! Entaaar kitaaa telaaat!" jawab Ave sekeras mungkin mengalahkan deru motor.


Kening Zaid berkerut-kerut. "Veee! Saya gak tuliii!"


"Ya udaaah, jalaaan!" teriak Ave makin kencang di samping telinga Zaid.


Kenapa mereka jadi berteriak-teriak begini, pikir Zaid geleng-geleng kepala. Bersama gadis ini, ia berubah menjadi manusia abnormal. Tak lagi peduli, Zaid memilih untuk melepaskan rem.


Motor melaju cepat di jalan raya yang mulai macet. Makin cepat, makin erat pula pelukan tangan Ave di punggung Zaid. Kini Zaid mengerti mengapa dulu teman-temannya sering menggoda. Percuma punya motor besar kalau tak punya pacar. Rupanya inilah yang dimaksud mereka. Ternyata... Zaid harus mengakui kalau ia menyukainya.


Sementara di belakangnya, Avelia sibuk berkomat-kamit dalam hati. "*Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ave tobat dari semua kenakalan Ave. Ave tobat suka maki-maki. Ave tobat suka jahilin Papa dan Mas Ajie. Ave tobat godain orang. Pokoknya Ave tobat. Jadi tolonglah perpendek jalan ini ya Allah. Kasihanilah hambaMu yang cantik, cute, soleha dan baik hati ini. Aamiin." *


Begitu motor berhenti, Ave buru-buru melompat turun. Sedikit oleng dan untunglah tangan Zaid juga cepat memegang tangannya. "Hati-hati dikit!"


"Lagian Bapak ngapain cepat-cepat sih! Kayak ada yang ngejar aja!" keluh Ave. Kedua tangannya sibuk memencet dan menggoyang-goyangkan kunci helm. Tapi tetap tak bisa lepas.


Ih ini kenapa sih kunci helmnya susah banget? pikir Ave mulai kesal. Hari masih pagi, tapi batinnya sudah berulangkali diuji masalah.


Tak jauh dari mereka, seorang gadis yang sedang berjalan masuk ke studio diikuti dua asistennya melihat pemandangan itu dengan geram di balik kacamata hitam. Ia mulai yakin kali ini dugaannya benar. Ada sesuatu antara Zaid dengan gadis cantik yang hanya disebut staf biasa oleh Zaid itu.


"Mas Zaid!" panggil gadis itu sambil mendekati keduanya. Ia mengibaskan tangan agar kedua asistennya tak mengikutinya. Dua orang itu memilih langsung masuk ke dalam membawa semua perlengkapan yang mereka bawa.


Ave dan Zaid sama-sama menoleh. Begitu Ave menyadari siapa gadis itu, ia menatap Zaid dengan kesal. Pagi-pagi begini kenapa malah bertemu dengan Maya, artis pembohong ini?


"Apa kabar, Mas? Makasih loh udah mau nemenin aku ngambil foto hari ini!" kata Maya. Tanpa ragu, ia bergelayut manja di lengan Zaid. Spontan Zaid menepis perlahan.


"Halo, Mbak Maya. Selamat pagi! Permisi!" sapa Ave sambil mengangguk seadanya sebelum menyingkir secepat mungkin. Ia tak mau menjadi bahan fitnah lagi seperti sebelumnya. Dengan terburu-buru gadis itu masuk ke dalam studio.


Zaid hanya bisa memandangi punggung Ave yang berjalan setengah berlari itu dengan kecewa sebelum menoleh pada Maya. "Saya datang ke sini karena mau bicara dengan Natasha, May! Kebetulan aja kalian satu jadwal hari ini."


Punggung Maya menegak. "Oh, Natty juga ke sini? Dia juga dikontrak produk kosmetik Cloud itu?" tanya Maya cepat.


Zaid menggeleng. "Jangan kuatir! Saya gak mungkin memakai dua model utama untuk satu kosmetik."


Maya tersenyum puas. Setidaknya dengan Zaid, ia bisa tenang menghadapi saingan berat yang selama ini membayangi karirnya. Usia mereka hampir sama, juga memulai dari agensi yang sama, tapi hanya karena Natasha pernah berpacaran dengan Ajie Al Farizi, gadis itu mendapatkan lebih banyak pekerjaan dibandingkan dirinya. Belum lagi status mereka yang masih sama-sama single, membuat jurnalis dunia hiburan selalu membandingkan dirinya dengan Natasha. Ketika Natasha berpindah agensi, Maya sangat bersyukur. Walaupun ternyata, setelah bertahun-tahun berlalu, Natasha tetap saja menjadi saingannya.


Mereka berjalan beriringan masuk ke studio. Rasa ingin tahu Maya meningkat ketika ia melihat Natasha tengah berpose di salah satu sudut studio. Rambut Natasha yang tebal dan panjang itu tampak bergelung indah membingkai wajah cantiknya. Dengan gaya yang profesional, Natasha mengikuti perintah fotografer yang terdengar jelas menyukai semua yang ditunjukkannya.


"Memangnya dia dapet iklan apa sih, Mas?" tanya Maya.


Sudut mata Zaid memandang Maya. "Kamu yakin gak tau? Biasanya malah kamu yang komplin ke saya kalo dia dapet yang bagus."

__ADS_1


Maya menatap bingung.


"Shampoo Lusso yang mengontraknya. Langsung tiga tahun," jawab Zaid sambil kembali memperhatikan proses pemotretan Natasha lagi.


Merek shampoo itu terkenal selalu memilih brand ambassador dari model-model bertaraf internasional. Nilai kontraknya sangat menggiurkan. Belum lagi ketenaran yang dijamin berkali lipat dari sebelumnya. Maklum saja, pihak perusahaan dari merek shampoo itu selalu membuat iklan-iklan berkualitas yang selalu memenangkan berbagai kompetisi periklanan.


Maya sudah tahu dari agensinya kalau model sebelumnya sudah selesai kontrak dan perusahaan shampoo itu mencari model baru. Ia malah meminta tim manajerialnya untuk menghubungi salah satu orang dekat petinggi perusahaan shampoo itu. Siapa sangka justru Natasha yang mendapatkannya!


Sekelebat informasi muncul seketika dalam benak Maya. Ia baru ingat sekarang. Perusahaan shampoo itu juga bagian dari grup Golden Eagle. Perusahaan yang dimiliki keluarga Al Farizi. Mantan kekasih Natasha.


Pantas saja, pikir Maya. Mungkin ini kompensasi Ajie Al Farizi untuk menenangkan hati mantan kekasihnya. Tapi Maya teringat sesuatu.


Sudah bukan rahasia lagi kalau hubungan Zaid dan Ajie sangat buruk. Keduanya saling bersaing di dunia advertising. Itu juga yang menyebabkan Ajie memiliki perusahaan iklan sendiri, walaupun dari segi kreatifitas, perusahaan Zaid jauh lebih terkenal di bidangnya.


"Mas, ini kan proyeknya GE, kok bisa perusahaanmu yang dapat?" tanya Maya, tak bisa menyembunyikan keheranannya..


Bibir Zaid tersenyum simpul. "Bisa saja, istrinya Ajie itu sahabat baik saya. Sangat baik," jawabnya sebelum meninggalkan Maya, mendekati Natasha.


Maya memperhatikan Zaid yang menyapa Natasha dengan hangat. Sungguh berbeda saat tadi mereka bertemu. Keduanya saling bersalaman akrab. Dari kejauhan, Maya bisa melihat tawa kecil Zaid mengembang, diiringi anggukan Natasha yang juga tersenyum.


*Dasar Nenek Sihir! *bisik Maya kesal dalam hati. Tapi gadis itu memasang senyum terbaik, mendatangi keduanya.


"Selamat pagi, Mbak Natty! Apa kabar nih?" sapanya. Maya hendak mencium pipi Natasha, namun gadis itu menghindar.


"Maaf, May! Gue masih ada sesi foto. Lu ada sesi juga?" tanya Natasha.


Maya mengangguk. "Iya, Mbak Natty. Capek deh. Kemarin sih sebenarnya udahan, tapi mau di-retake," serunya manja menahan malu. Berusaha tetap stabil setelah ditolak secara halus. Diliriknya para staf yang memenuhi studio. Semuanya tampak sibuk, tak memperhatikan kejadian barusan*. Syukurlah.*


Bibir Natasha membentuk garis lurus sebelum berdesis pelan. "Kirain lama gak ketemu, lu bakal lebih profesional. Tetap aja kek model kampungan. Ngambil foto gitu aja lu pake retake. May... May... " Lalu Natasha menoleh ke asisten yang sedang memperbaiki make-upnya, meminta tisu. Kembali tak peduli.


Tidak seperti tadi. Kali ini beberapa staf yang berada di sekitar mereka pasti mendengar kalimat itu, karena mereka segera menyembunyikan senyumnya masing-masing. Hanya Zaid yang tampak biasa-biasa saja. Maya menahan geram dan berusaha tetap tersenyum. Ia tak boleh menjadi headline berita saat menyerang nenek sihir bernama Natasha ini.


"Gimana ya Mbak, namanya lagi mau yang paling terbaik. Mmm... Habis nih masih lama di sini, Mbak? Mau nungguin aku gak? Sekali sekali kita makan siang bareng yuk!" Maya tak ingin menyerah. Ia ingin mendengar cerita Natasha hingga mendapat proyek besar ini.


Natasha berpaling pada Maya. Menatapnya malas. "Lu pikir gue ada waktu buat ngegosip, May? Gue bukan elu, banyak nganggurnya. Jadwal gue seminggu udah* packed*." Lagi-lagi sindiran tajam terdengar.


Maya terdiam. Meneguk liur. Kuatir kalimat apapun yang ia katakan selanjutnya akan dibalas dengan sindiran tajam dari Natasha lagi. Ia tak bisa berkata apa-apa. Cukup rasa malu ini. Tepat saat itu, Zaid melambai memanggil tim fotografi yang akan memotret Maya. Dua model cantik ini harus segera dipisahkan atau studio akan menjadi ring cakar mencakar dan keduanya benar-benar berubah menjadi sepasang penyihir jahat di berita hiburan.


"Mbak Natty!" pekikan itu membuat semua orang menoleh.


Lalu terlihat pemandangan paling aneh bagi semuanya.


Natasha mengembangkan kedua tangannya dan membiarkan Ave memeluknya dengan hangat. Tak lagi peduli lagi pada make-up atau bentuk rambutnya yang sudah diatur sedemikian rupa. Mereka berpelukan lebih dari semenit, berputar-putar dan kalimat 'kangen, miss you so much, long time not see' berhamburan di antara mereka tanpa peduli tatapan orang-orang yang keheranan.


Sejak kapan artis yang dikenal sangat dingin itu bersikap sehangat itu dengan gadis berpenampilan biasa? Jangankan tertawa lebar seperti itu. Tersenyum saja Natasha jarang. Bahkan banyak yang merasa kalau hanya saat difoto, Natasha mau tersenyum. Hanya pada orang-orang terdekat, ia bisa bersikap akrab. Dan teman-teman dekatnya bukan orang-orang biasa.


Zaid menatap dengan tatapan dingin, tapi menyelidik.


Maya menatap dengan mulut terbuka dan tatapan tak percaya.


Avelia pasti bukan gadis biasa.

__ADS_1


*****


__ADS_2