
~ Menemukan Zaid untuk senyum Avelia ~
Sementara Ave yang masuk ke ruang kerja Presdir menemukan Ajie dan Jaya tengah mengobrol di sofa. Tak hanya mereka berdua, ada Elang duduk di kursi meja kerja Presdir. Ia sedang memeriksa sesuatu dalam berkas yang dipegangnya.
"Assalam... Mas Elang ngapain duduk di situ?! Sana sana pindah!" kata Ave yang baru membuka pintu. Ia segera bergegas mendekati Elang.
"Apaan sih, Ve? Gue lagi periksa laporan bulanan ini. Sebentar aja!"
Ave tetap kukuh, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya tapi kan bisa di sofa. Gak boleh di sini!" katanya sambil memegang tangan Elang, menariknya agar berdiri dari kursi. Ave tak peduli, meski salah satu tangannya masih memegang karton berisi kopi dan kue.
Meski bingung, Elang menuruti kemauan Ave. Sambil bersungut-sungut, ia duduk di dekat Ajie.
"Udah lu terima aja, Lang. Gue aja gak boleh lagi duduk di situ sejak dia masuk kerja. Apalagi elu," kata Ajie yang duduk santai di sofa. Juga sambil memeriksa beberapa dokumen.
Elang menatap Ave yang sibuk membereskan kursi dan mengelap meja yang terlihat mengkilap itu, dengan mata berkilat kesal. "Padahal ini gue lagi meriksa laporan keuangan TC juga. Mana ada Direksi yang kayak kita. Diusir-usir gini padahal lagi kerja juga. Jagain perusahaan lakinya juga. Perusahaan macam apa sih ini?"
Jaya tertawa melihat ekspresi wajah Elang yang bersungut-sungut saat pindah ke sofa. "Lu juga sih Lang, waktu Zaid dan Ajie bermasalah, bukannya dukung Zaid."
"Loh, kok gue yang disalahkan, Bang? Kalo bukan karena Ajie yang bilang dia mau ngetest Zaid, gue pasti ngedukung Zaid. Gue juga kan kakaknya Ave, pasti ingin tahu seberapa penting Ave buat dia. Itu hal biasalah. Zaid aja yang terlalu serius nanggepin."
Ave yang sudah selesai membereskan meja kerja Zaid lagi berbalik sambil kembali membawa kopi dan kuenya dan meletakkannya di atas meja depan sofa. "Oh thank you so much, Kakak-kakak Ave yang baik. Karena kasih sayang kalian berdua, sekarang Ave dan Mas Zaid benar-benar berpisah kan? Wonderful job!" sindirnya dengan wajah masam, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bang Jaya enggak loh, Ve. Abang pendukung Ave dan Zaid."
Ave tersenyum padanya. "You are the best, Mas! Pokoknya Ave doain entar anaknya Mas jadi anak paling baik sedunia."
Jaya mengangguk puas. "Aaamiiin... " Sambil mengeluarkan ponsel dari jaketnya, Jaya kembali berkata, "Oh iya, soal Zaid... ini gue dapet informasi dari rekening banknya. Zaid ternyata gak ke mana-mana. Dia ada di sini."
"Di sini???" Tiga suara terdengar bersamaan.
__ADS_1
"Iya, sebentar gue kirim laporannya ke elu, Jie," kata Jaya sambil mengirim softcopy file yang ia dapat pada Ajie. "Itu... transaksinya di luar Jakarta memang ada. Tapi gak banyak. Itu pun hanya sekitar satu minggu. Di Kualalumpur dan di Singapur. Setelah itu semuanya ada di Jakarta. Bahkan transaksi terbaru adalah penarikan uang tunai di Jakarta."
"Oh ya? Bisa kita tahu dia narik di mana?" tanya Ajie sambil meletakkan dokumen di atas tumpukan dokumen di atas meja teh.
Jaya mengangguk. "Bisa. Dan gue udah cek juga lokasinya."
"Di mana?" selidik Ajie.
"Di ATM, gedung di samping gedung TC ini, kemarin siang sekitar jam 12," jawab Jaya singkat.
Semua orang terperangah. Lalu saling melemparkan tatapan. Tapi akhirnya semua menatap Ave.
"Maksud Abang, di mal gedung sebelah?" tanya Ave sedikit tak percaya.
Jaya mengangguk. "Iya Ve. Oh iya, transaksi sebelumnya penarikan itu adalah pembayaran via debit di kafe mal itu. Barusan tadi Abang cek ke sana dulu, dan dia baru aja membeli Strawberry Cake, 3 croissant, satu Americano, 2 Latte, 1 Cappucino dan 1 Espresso." Jaya melirik Ajie lagi. "So, gue pikir dia bertemu seseorang... tidak... ini lebih dari satu orang saat ia berada di kafe itu."
Ave diam saja. Ia sibuk mengira-ngira. Jenny, Hazmi, orang-orang di Manajemen, atau teman-temannya di Creative Dept. Tapi Ave dan Ajie sudah memancing dan bertanya pada hampir semua orang. Tak ada seorang pun yang mengaku.
"Oh iya, tapi satu hal yang gue perhatikan. Transaksinya di Kafe itu rutin terjadi seminggu satu kali, bahkan meningkat seminggu terakhir ini. Jadi gue pikir, dia pasti bertemu orang-orang itu secara teratur. Mungkin untuk memeriksa keadaan The Crown atau mungkin... entahlah. You know better than me, Jie," lanjut Jaya lagi sambil menyerahkan lembaran kertas dari sakunya yang berisi copy transaksi kafe lain yang ia dapat pada Ajie.
Ajie mengangguk-angguk sambil melihat copy transaksi itu sebelum menyerahkannya pada Ave.
"That's all what I've got! Entar kalo ada lagi gue info ke kalian segera. Kuharap ini membantu," kata Jaya sambil mengelus kedua pahanya yang terbalut celana coklat. "Gue gak bisa lama-lama di sini."
"Thanks banget, Jay! Ini udah bantu gue dan adik gue. At least, kami tahu Zaid baik-baik saja. Gue udah kuatir tuh anak melonya kumat, trus patah hati," kata Ajie sembari terkekeh.
Jaya melirik kopi di atas meja. "Ngomong-ngomong gue kan tamu lu berdua. Bukannya dikasih kopi atau apa kek gitu? Atau itu buat gue ya, Ve?" tanyanya sambil menunjuk karton.
Ave menggeleng cepat. "Iih enak aja! Ini juga Ave dibeliin. Entar Ave buatin deh di pantry. Abang minum dulu baru pulang ya. Bang Jaya mau kopi apa?" tanyanya sembari berdiri.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Ave, Jaya dan Ajie sama-sama saling memandang. "Tunggu, Ve! Kamu bilang ada yang beliin?"
Ave mengangguk.
"Apa ini yang pertama kali?" selidik Jaya cepat. Intuisinya mulai bekerja.
Ave menggeleng. "Hmm... Kemarin Ave dibeliin bubur Manado. Kemarinnya lagi dibeliin Es Cappucino, Strawberry cake... "
Sementara Ave bicara, Ajie sibuk memeriksa lembaran copy transaksi yang baru diberikan oleh Jaya.
"Itu dia!!! Orang itu pasti tahu soal Zaid, Ve. Siapa yang memberimu semua itu?" potong Jaya secepatnya.
"Mbak Alina, Mbak Rose dan Mbak Gita," jawab Ave perlahan. "Tadi... Bang Jaya udah ketemu mereka di lift."
Tiga orang itu tersenyum lebar. Setuju dengan hasil analisa sang polisi. Melihat ekspresi ketiga pria di depannya, Ave segera memahami apa yang mereka pikirkan.
"Kalau begitu, Ave tanya mereka deh," kata Ave sambil berdiri.
"Tunggu, Ve!" Ajie menghentikannya. "Jangan dulu! Mereka pasti tidak akan memberitahumu. Zaid juga pasti tidak akan mengizinkan mereka. Dan mereka itu... lebih patuh pada Zaid daripada aku atau pun kamu."
"Tapi... "
"Kamu masih ingat waktu Mas ajarin kamu main petunjuk ala Sherlock Holmes saat kamu masih kecil, Ve?" tanya Ajie dengan senyuman penuh arti.
Mata Ave berbinar dan ia mengangguk sembari tersenyum lebar. Sementara Ajie tahu, inilah awal langkah untuk mengembalikan senyum adiknya lagi. Kali ini Ajie ingin memastikan, senyum itu akan ada di wajah Ave untuk selamanya.
Dan tentu saja, menemukan sahabat baiknya kembali.
*****
__ADS_1