
~ Bukan Zaid yang bucin, Ave yang menjadi budak cinta. AVE!!! ~
Meski Ave masih belum bisa melupakan saat ia menyaksikan tubuh Zaid yang tertabrak, ternyata keadaan pria itu tak separah yang ia kuatirkan. Setelah menunggu semalam suntuk, selain luka dan benturan di kepalanya yang membuat dokter memilih melakukan beberapa pemeriksaan lebih mendalam dan mengobservasinya, tak ada luka berarti lain.
Dua orang petugas polisi datang bersama pria yang tak sengaja menabrak Zaid.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya, Pak. Saya baru selesai menurunkan penumpang, dari Bandung. Jadi saya sedikit lelah, makanya kaget pas Bapak menyeberang," ucap sang supir dengan penuh penyesalan.
Ave bisa melihat senyum pahit di bibir Zaid yang dipaksakan. Pasti dia malu. Banyak orang yang menjadi saksi kecerobohan Zaid. Anak kecil saja diajarkan untuk melihat ke kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan. Bagaimana bisa orang dewasa seperti Zaid menyeberang seperti banteng mengamuk?
"Saya yang minta maaf, Pak. Saya yang bersalah. Terima kasih sudah bersedia membantu saya saat itu," balas Zaid bijak.
Ave memutar bola matanya. Apa pria ini tidak tahu kalau supir mobil itu hampir ditinju banyak orang karena kecerobohan Zaid? Untung saja para polisi melindunginya, dan dia juga yang mengurus semua urusan rumah sakit sebelum Hazmi datang.
Tak tahan melihat situasi yang sedikit canggung itu. Ave melambaikan tangan. "Gak papa, Mas! Dia sih ditabrak truk juga gak papa!"
"Aveee... " Dua suara seketika berdesis mengingatkan bersamaan. Jenny dan Hazmi. Bahkan tiga pria yang tak terlalu mengenal Ave juga kaget.
Tatapan tajam di sebelahnya, membuat Ave menelan ludah. "Maaf... Ave becanda... " bisiknya pelan, sebelum menunduk.
Ada sesuatu menyentuh kepala Ave. Tangan Zaid. Gadis itu menoleh pada Zaid.
"Ini Pak yang buat saya kuatir sama dia. Kalo becanda suka keterlaluan. Saya menyeberang tidak lihat-lihat dulu karena saya lihat calon istri saya lagi sama bapak-bapak polisi ini. Saya kuatir dia menyinggung orang lain dan ditangkap." Lalu Zaid menatap Ave. "Saya udah kebal sama candaannya, jadi tidak masalah. Tapi orang lain belum tentu."
Rupanya, Zaid ingin memindahkan kesalahannya ke dirinya. Ave tidak terima! Dia yang salah menyeberang sembarangan, kenapa sekarang malah berkesan seperti budak cinta yang menjadi korban?
Mulutnya sudah gatal ingin membalas, tapi salah satu polisi sudah berseloroh "Oh enggak, Pak Zaid. Justru kami senang bisa kenal sama Bu Avelia. Biasalah... tanpa canda hidup tak menarik. Benar kan, Bu Ave?"
Ave tersenyum saat menatap Zaid. "Tuh dengerin tuh Bapak ganteng! Ave itu becanda keterlaluan itu tergantung siapa yang dihadapi. Gunung es kalo dilelehkan pake air anget aja gak bakal berhasil."
Ucapan penuh arti itu dilontarkan dengan nada bercanda, membuat semua orang dalam ruang perawatan itu tersenyum tanpa memikirkan maksud Ave. Mereka bisa melihat pasangan ini benar-benar saling mencintai.
Kemarin, mereka menjadi saksi airmata Ave yang tak berhenti, dan itu juga masih terlihat jelas di kedua matanya yang membengkak saat ini. Sekarang, gadis ini bisa bercanda. Zaid juga tak terlihat marah sama sekali. Dari tadi entah tangannya mengelus rambut Ave, atau menggenggam tangan gadis itu, atau mata yang selalu menatap Ave dengan hangat, mereka juga bisa melihatnya. Di antara mereka hanya ada atmosfir cinta yang sangat jelas.
Setelah memberikan koper dan ransel Zaid, juga tas dan kunci mobil Ave yang tertinggal, para polisi dan supir mobil itu pun pamit. Tak lama Jenny dan Hazmi juga pamit.
Sebelum pulang, Hazmi sempat berkata pada Ave, "Sore nanti Pak Zaid akan pindah rumah sakit. Sebaiknya sebelum itu kalian berdua tidur deh, terutama kamu, Ve. Kamu keliatan capek banget."
Sebenarnya Hazmi sudah menawarkan jasa perawat untuk menjaga Zaid, tapi Ave menolak. Gadis itu bahkan melarang Hazmi memberitahu keluarga Zaid di Malaysia. Saat Zaid sadarkan diri, pria itu juga memintanya melakukan hal yang sama. Sama seperti Ave, Zaid juga menolak berpisah dengan Ave.
Hazmi bukannya tak tahu hubungan mereka yang mendingin belakangan ini. Jenny juga. Mereka sempat merencanakan sesuatu untuk keduanya, tapi ternyata Tuhan justru bekerja lebih cepat. Mungkin ini kesempatan baik membuat hubungan mereka kembali seperti dulu.
Begitu kamar sepi. Ave menatap Zaid dengan mata bersinar marah. "Awas kalo besok-besok masuk rumah sakit lagi! Ave panik tau!"
"Bukan aku yang minta dirawat, kalau bukan gara-gara kamu yang bikin aku panik... "
"Bisa gak sih Mas pake otak dikit! Kalau Ave ketangkap juga kan polisi gak bisa sembarangan masukin orang ke penjara. Think before act, Mas!"
Zaid terdiam sesaat. Sorot matanya yang tadi sedikit tajam, berubah hangat. "Aku cinta sama kamu, Ve. Jangankan ditangkap, lihat mata kamu bengkak begini aja, aku pengen mati rasanya."
"Muluuut! Omongan itu doa loh."
"Tadi siapa yang bilang aku ditabrak truk?"
Ave menggembungkan pipinya, merasa kalah sebelum duduk berbalik membelakangi tempat tidur Zaid. Suasana pun menjadi hening beberapa saat. Zaid memandangi punggung gadis itu murung.
Dalam hati Ave menggeram. Bujuk Ave, Calon laki ****! Bujukin! Kenapa dia diem aja sih? Ave kan pura-pura aja! Uuuh... Dasar Snowy Devil!
Saat Ave berniat berbalik dan mengakui kekalahannya, terdengar panggilan lembut dari belakangnya.
"Ve... "
__ADS_1
Ave menahan diri tidak menjawab.
"Aku lapar."
Mendengar suara pelan dan nyaris seperti keluhan di belakangnya, ditambah sentuhan di tangannya, Ave tak lagi tega mempermainkan Zaid. Ia pun berdiri, mengambil tray berisi makanan di atas meja dekat sofa yang tadi diantarkan saat Zaid menerima tamu-tamunya.
Usai meletakkan tray di depan Zaid menggunakan meja lipat, Ave menyodorkan sendok. Saat Zaid makan nanti, Ave ingin mencoba tidur di sofa. Sejak semalam ia tidur hanya beberapa jam. Saat ini ia benar-benar mengantuk dan lelah. Tapi Zaid malah menatapnya sambil memasang sorot mata anak kucing.
"Suapin!"
Ave menggigit rahangnya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Dengan sabar, gadis itu membuka plastik penutup bubur yang masih panas itu dan mulai menyendok.
"Panas... " keluh Zaid, enggan membuka mulutnya.
Ave menghembuskan napas perlahan-lahan. Sabaaar, bisiknya dalam hati sambil meniup dua kali bubur di sendok sebelum menyuapi Zaid. Pria itu menerimanya seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan keinginannya. Ia tersenyum puas.
Agar bisa cepat menyelesaikan tugasnya, Ave menyendok bubur sampai nyaris tumpah dari sendok.
Zaid menggeleng. "Kebanyakan... "
Saat itu juga Ave ingin sekali menumpahkan seluruh isi mangkok ke atas kepala Zaid. Tapi keinginan itu hanya ada dalam otaknya, ia melakukan permintaan Zaid dengan sabar.
Tapi Zaid memang berniat memancing kemarahan Ave.
"Jangan terlalu cepat! Aku bisa tersedak."
Mungkin lucu kali ya kalau ada berita, pria dewasa tersedak bubur encer. Sekali lagi Ave hanya bisa menatap dengan tatapan kosong dan pikiran penuh kutukan pada Zaid.
"Minum... "
Bertahanlah Ave! Bertahanlah!
Ave menatap telur, sebelum mencincang telur rebus bulat itu menjadi orak arik telur tanpa berkata apapun. Meluapkan emosinya melalui sendok.
Zaid harus menekan bibirnya untuk menahan tawa. Ia tahu Ave berusaha bertahan menghadapi keisengannya.
"Sayurnya?"
Tak bisa berbuat atau berkata apapun, Ave menyendok sayur bayam itu dan menyuapkan ke mulut Zaid.
Setelah makan hingga benar-benar habis, masih ada satu buah tersisa dan Zaid tak ingin menyia-nyiakannya meski perutnya sudah kenyang.
Ave mulai bisa tersenyum saat melihat piring dan mangkuk yang kosong.
"Pengen pisangnya juga."
Senyum Ave lenyap seketika. Kali ini Ave membuka kulit pisang dengan kecepatan tinggi sebelum menyodorkannya dengan emosi. "Tangan Mas kan gak patah, gak ilang, gak putus, gak diamputasi. Pegang sendiri! Ave ngantuk!"
Zaid tak lagi berani bercanda. Gadisnya benar-benar marah sekarang. Jadi ia menerima tanpa suara, mengunyah pisang perlahan sambil memperhatikan Ave.
Gadis itu membawa tray ke luar kamar sebelum kembali membereskan meja lipat. Saat ia kembali, Zaid sudah selesai makan dan kulit pisang itu pun diambil serta dibuang Ave ke tempat sampah. Tapi baru saja Ave mengira pekerjaan sudah selesai.
"Ve... "
Ave menghela napas. "Apalagi sekarang?" tanyanya dengan mata mendelik.
"Aku pengen ke toilet."
Ave menatap Zaid tak percaya, lalu ia bersiap menekan tombol panggil saat Zaid menepuk tangannya. "Kenapa?"
"Aku gak mau dibantu perawat. Aku maunya kamu," tegas Zaid.
__ADS_1
Tak ingin ribut, Ave pun menurut lagi. Memapah Zaid ke toilet. Walaupun ada luka cukup besar dengan jahitan di betis Zaid, tapi ia sudah bisa berjalan.
Tapi pasien super manja seperti Zaid sepertinya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dengan sengaja ia memeluk pinggang Ave hingga menempel seperti dilem. Saat Ave melotot padanya, Zaid berkata dengan tenang, "Takut jatuh, Sayang! Kalo jahitannya terbuka lagi gimana?" katanya dengan memelas.
Maka dengan senang hati Ave akan meminta pada perawat untuk membiarkannya menjahit luka Zaid sendiri. Tanpa suntikan bius sama sekali. Kalau perlu mulut Zaid sekalian dijahit.
Rupanya efek obat dan pengaruh tubuhnya yang belum benar-benar sehat, membuat Zaid berhenti menggoda Ave. Saat keluar dari toilet, wajahnya menjadi lebih pucat dan ia tak lagi bicara. Ave tahu kali ini Zaid benar-benar merasa sakit.
Dokter bilang Zaid mengalami gegar otak ringan. Itu sebabnya ia akan merasa pusing dan mungkin sakit kepala saat bergerak.
Tapi ketika Ave mengira ia sudah bersiap tidur di sofa, Zaid yang sudah terbaring di tempat tidur memanggilnya.
"Punggungku gatal, Ve. Garukin!"
Ave menatap Zaid tak percaya. Laki-laki ini... Wajah sudah seputih kertas begitu, tapi masih bisa berpikir untuk mengerjainya!
Tanpa pikir panjang lagi, Ave menepuk punggung Zaid. "Pinggiran dikit! Ke sana!"
Zaid heran tapi ia melakukan perintah Ave.
"Hadap sana! Biar Ave garukin sambil tidur. Ave juga ngantuk!" ucap Ave sambil berbaring di tempat tidur sempit itu juga. Tubuhnya yang mungil berbanding kontras dengan Zaid.
Lalu gadis itu mulai menggaruk punggung Zaid yang membelakanginya. Karena ia tahu ada beberapa lebam akibat benturan di tubuh Zaid, Ave menggaruk seperti mengelus. Namun, lama kelamaan tangan itu bergerak makin pelan sebelum akhirnya berhenti.
Zaid tersenyum. Ketika ia bisa mendengar napas teratur di belakangnya, perlahan pria itu berbalik, memandangi Ave yang telah tertidur.
Sembari menahan sakit di tubuhnya saat bergerak pelan mendekatkan diri pada Ave, Zaid membagi selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Lama ia menatap wajah Ave.
"Terima kasih sudah membuatku tahu rasanya panik dan kuatir lagi, Ve. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan menjadi matahariku. Terima kasih sudah membuatku yakin, Sayang," bisik Zaid sambil mengelus pipi lalu mengecup ujung hidung Ave.
Ave hanya menggeliat, kesempatan yang digunakan Zaid untuk membuat gadis itu bergelung dalam pelukannya sebelum akhirnya ia juga memejamkan matanya.
Suara pintu terbuka terdengar tak lama kemudian. Beberapa staf dari Creative dan Management berdiri membeku di depan pintu. Ini masih jam besuk, dan mereka berniat membesuk bos mereka. Hanya saja mereka tak menyangka saat melihat sepasang kekasih sedang tertidur bergelung di atas ranjang pasien yang sempit.
Mereka tahu Zaid dan Ave adalah sepasang kekasih. Mereka juga mendengar saat Pak Bambang yang prihatin bercerita tentang kepanikan dan kesedihan Ave kemarin. Mereka juga tahu Zaid berubah sangat banyak sejak Ave hadir dalam hidup pria itu. Tapi mereka masih tak percaya saat mendengar penyebab kejadian tabrakan itu meski keluar dari mulut Pak Bambang.
Tidak mungkin pria seperti Zaid yang kaku, tegas, dingin, dengan tatapan setajam pisau dan mulut sepedas cabai bisa bertindak seceroboh itu seperti orang yang tergila-gila karena cinta.
Tapi melihat sendiri keduanya tidur berpelukan seperti ini... Mata mereka pun dipenuhi kekaguman. Bahkan dalam keadaan tangan, kaki dan kepala yang dibalut perban, Zaid masih melindungi kekasihnya. Dia masih menunjukkan perasaannya dengan jelas.
Para pemuja Zaid yang kebetulan juga hadir tak bisa menyembunyikan kekaguman itu usai menutup pintu kamar dan keluar lagi.
"Pak Zaid benar-benar jadi bucin ya... "
Entah siapa yang mengatakannya, tapi semua orang sepakat akan hal itu dengan mengangguk beramai-ramai, meninggalkan ruang perawatan VVIP.
Beberapa hari kemudian, saat Ave kembali bekerja dengan mata sayu dan pundak turun, ia menatap bingung pada Rose yang memeluknya dengan hangat. "Akhirnya selesai juga liburannya. Selamat ya, Sayang! Punya pacar bucin banget sama kamu kayak Pak Zaid itu adalah keberuntungan luar biasa. Jagain idola kami baik-baik ya!"
Bucin? Pak Zaid? Liburan?
Ave tersenyum miris. Rose mungkin belum tahu rasanya menyuapi manusia manja setiap hari, setiap kali makan. Atau menyediakan air hangat lalu mencuci dan mengeringkan rambutnya. Atau memijat sambil menyuapi snack ke mulutnya yang seperti penyedot debu ketika pria malas itu justru asyik menonton televisi. Atau membacakan buku membosankan. Bahkan Rose mungkin tak tahu rasanya saat harus memegangi IPad sambil menggesernya setiap kali Zaid memerintah, "Geser!"
Luka Zaid sebenarnya cukup ringan. Selain sakit kepala dan luka robek di betisnya. Dokter bahkan bilang ia sudah bisa bekerja jika mau. Tapi Zaid memilih istirahat selama lebih dari 10 hari. Tiga hari di rumah sakit berikutnya setelah pindah dan tujuh hari di rumah. Ave juga ikut istirahat. Selama itu pekerjaannya dialihkan semua.
Ave tak hanya lelah lahir batin menjadi budak sejati Zaid di rumah, tapi ia juga stress saat melihat bonus impiannya melayang satu persatu karena berbagai proyeknya dialihkan.
Tak ada yang bisa dilakukan Ave selain mengaju protes dalam hatinya.
*Bukan Zaid yang bucin, Ave yang menjadi budak cinta. AVE!! *
*****
__ADS_1