Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 41 - Like Uncle, Like Niece


__ADS_3

~ Paman dan Keponakan setali tiga uang. Sama-sama bermulut pahit, tapi sama-sama jatuh dalam cengkeraman Ave (Avelia) ~


Ave bernyanyi riang saat menunggu lift untuk kembali ke kantor, usai menemui Papa. Ternyata Papa hanya ingin menemui sebentar sebelum berangkat ke Hongkong bersama Ajie. Dengan alasan ia harus bekerja lagi, Ave meminta Papa segera pergi. Walaupun tampak berat, tapi akhirnya Papa pun kembali.


Di depan lift ia bertemu dengan Hazmi.


"Loh mau ke mana, Mas?" tanya Ave melihat asisten Zaid yang tampak terburu-buru itu.


"Ah, kebetulan kamu di sini... Ada kakaknya Pak Zaid datang, Ve. Kamu bisa pulang dan sambut dia dulu gak? Pak Zaid masih ada meeting dan saya gak tau sampe kapan," pinta Hazmi tergesa-gesa.


Dengan sigap, Avelia mengangguk. "Tenang aja, Mas! Tapi Ave minta tolong nitip pesan izin ke Pak Bambang ya."


Hazmi mengangguk cepat. Setelah itu keduanya berpisah. Dengan terburu-buru, Ave segera memesan taksi online.


Sesampainya di rumah Zaid, Ave bernapas dengan lega saat melihat belum ada siapapun di halaman depan. Sambil tersenyum santai, ia membuka pintu. Perlahan ia menggeser daun pintu dan...


"BAAAA!" teriak seseorang dari dalam.


"AAAKH!!" jerit Ave hingga ia mundur dan jatuh terjengkang.


Teriakan ditambah melihat sebuah wajah dengan mata merah melotot, lidah panjang menjulur dan bulu-bulu yang memenuhi wajah, berhasil mengejutkan Ave. Mata gadis itu nyaris melompat keluar karena terkejut dan takut, sebelum menutup mata dengan kedua tangannya yang gemetar.


"Ha ha ha ha ha!" Suara tawa keras membahana dari depan pintu, membuat Ave memberanikan diri membuka matanya yang ia tutup dengan tangan.


Seorang gadis kecil berusia antara 14-15 tahun tampak berdiri sambil memegang sebuah topeng menyeramkan. Ia tertawa tergelak. Masih shock, Ave hanya bisa diam tak mengerti. Tak lama muncul seorang wanita dari dalam.


"Aduh, ya Allah, Laylaaa!! Nakalnya awak ni!" seru wanita itu melotot pada gadis kecil itu sambil membantu Ave berdiri. "Maafkan budak saya, ya! Maafkan budak saya!"


Ave tersenyum pahit, "Gak papa, Kak! Gak papa, Kak... Ini kakaknya Mas Zaid?"


Wanita di depan Ave itu mengangguk sambil tersenyum. "Awak ini... "


"Saya karyawannya Mas Zaid. Juga yang jadi tukang masak di sini," ucap Ave memperkenalkan diri. Tangannya menyalami tangan wanita itu. Untung ia ingat kalau kakak Zaid  seorang warga negara Malaysia.


"Panggil ja saya dengan Kak Zahra. Dan itu... yang nakal tu, ponakan si Zaid. Budak saya. Layla namanya," kata Zahra dengan logat khas Melayu yang sangat kental.


Ave tersenyum manis. "Selamat datang, Kak Zahra dan Layla."


Tangan Zahra melambai di depan wajahnya sambil menarik tangan Ave. "Sudah, sudah. Jangan jadi formal. Sila masuk, kita cakap di dalam sahaja."


Ave dan Zahra pun masuk bersama-sama, diikuti Layla yang melangkah di belakang mereka. Ave memperhatikan Zahra yang tampak sangat berbeda dengan Zaid. Tubuh Zaid menjulang tinggi, jauh berbeda dengan kakaknya yang hanya setinggi Ave. Jika mata Zaid hitam kelam bagai sumur tak berdasar, maka mata Zahra jauh lebih terang, lebih kecoklatan dan penuh keramahan. Kulit Zahra juga lebih gelap, tekstur wajahnya yang bulat telur dan lebih mirip orang Melayu pada umumnya. Sangat berbeda dengan Zaid yang berkulit lebih terang dengan tekstur wajah tegas dan dagu yang tajam. Apa benar keduanya berhubungan darah?


Zahra mengajak Ave ke dapur. Ternyata wanita itu memasak. Ada sayur sup, sambal, tumisan kentang dan ayam goreng di meja dapur.


"Kerana Layla lapar, saya cek ke peti sejuk dan lihat banyak sekali bahan. Semua bahan sudah siap tinggal dimasak, jadi mudah. Maaf kalau mengganggu kerjaan awak."


Buru-buru Ave menggeleng. "Gak papa kok, Kak. Beneran Ave malah senang karena ini kan harusnya kerjaan Ave. Kakak mau makan? Ayo! Ave bantuin nyiapin ya."


Mereka berdua pun menyiapkan makan siang bersama, sambil mengobrol. Saat hendak memanggil Layla, Zahra menahan langkah Ave.


"Awak sedang datang bulan ya, Ve?" tanya Zahra tiba-tiba.


Sesaat Ave tak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan yang tiba-tiba itu. Tapi ia mengangguk.


Zahra bertepuk tangan. "Aduh! Harusnya tadi saya memasak sayur bayam. *Huff*h!" serunya dengan mata berbinar.

__ADS_1


Entah mengapa, Ave merasakan sebuah kejanggalan di balik pertanyaan itu, tapi ia menepiskan perasaan itu dan segera memanggil Layla.


"Sejak kapan awak mulai kerja di sini, Ve?" tanya Zahra lagi saat mereka sudah duduk bersama untuk makan siang. Walaupun tadi sempat bertemu Papa, tapi Ave memang belum sempat makan.


"Sekitar tiga bulan lalu, Kak. Waktu saya melamar di The Crown."


"Oh lalu kenapa bisa kamu jadi tukang masak di sini jua?"


"Pak Zaid mencari tukang masak, dan saya tidak punya tempat tinggal."


Zahra mengangguk-angguk. "Pasti berat buat awak ya, Ve. Zaid itu pemarah kan?"


"Mamah gimana sih? Uncle Zaid itu paling baik dan paling ganteng. Dia gak ada duanya. Harusnya orang kalo kerja sama Uncle itu bersyukur," seru gadis kecil di sebelah Ave dengan sengit. Ia menatap jengkel pada Ave. Bahasa Indonesia-nya jauh lebih fasih dibandingkan Zahra yang masih sangat Melayu.


Wew... Pemuja Zaid rupanya!


Ave meringis. Ia memilih memasukkan nasi ke dalam mulutnya daripada harus menjawab pertanyaan absurd itu. Di sisi pemuja Zaid, ia tak berani menjelekkannya.


"Waah nasinya habis. Sekejap, Kakak ambilkan dulu!" Zahra berdiri menuju dapur.


Saat itulah, terdengar Layla berkata pelan tapi sampai ke telinga Ave, "Uncle tidak beruntung kalo sampai awak yang jadi istrinya. Sudah jelek, penakut, bodoh pula!"


What the... 


"Awak mau nambah lagi, Ve?" tanya Zahra yang sudah kembali lagi sebelum Ave sempat membalas pernyataan remaja judes itu.


Cengiran terpaksa muncul di wajah Ave. "Ooh, engga, Kak! Ave sudah kenyang."


"Kalau begitu, sehabis makan awak temani Layla kejap ya, Kakak ada perlu sebentar. Nak jumpa dengan teman Kakak di luar. Bolehkah?" tanya Zahra tersenyum manis.


"Boleh, boleh, boleh, Kak!" seru Ave. Mendadak ia merasa menjadi salah satu pengisi suara dalam serial Upin dan Ipin.


Setelah mengantar Zahra di depan pintu, Ave pun berkeliling mencari Layla. Ia mencari ke kamar Zaid, kamar tidur tamu yang akan digunakan Zahra dan Layla, ruang kerja Zaid bahkan kembali ke dapur. Tapi remaja bermulut pedas itu tak terlihat.


Karena belum berganti pakaian, maka Ave segera ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dan di sana ia menemukan Layla, sedang melihat dan memeriksa meja kecil tempat Ave biasa bekerja.


"Hei! Ngapain kamu di sini?" tanya Ave kaget sambil berjalan cepat merampas buku agenda yang dipegang Layla.


"Ck, ck, ck, ck... Tak pantas awak jadi aunty. Awak jorok! Bilik cam kapal pecah ini. Teruknya!"


Walaupun Ave tak terlalu mengerti maksudnya, tapi ekspresi melecehkan di wajah Layla membuatnya kesal. Susah payah ia menahan emosi, kini semua meledak tak terkendali.


"Heh! Dengar ya, om kamu... atau apanya kamu itu. Mr. Snowy Devil bin Galak itu yang ngejar-ngejar gue! Ngerti gak? Nih, hp ini aja gue dikasih sama om kamu," kata Ave sambil menggoyang-goyangkan ponsel barunya di depan Layla.


Ekspresi Layla malah berubah menjadi semakin dingin. "Itu kerana dia kasian sama awak. Tak beza awak dengan pengemis! Tinggal percuma, bilik kotor."


"Pengemis? Helllooo... jelas-jelas Mama kamu tadi manggil kamu apa coba? Budak! Budak... You know what the meaning of that? Slave in English."


"Awak yang bodoh! Tak paham Melayu!"


"Biarin bodoh, Wew! Buktinya Om kamu cinta sama gue!" Ave meleletkan lidahnya dan ia bisa merasakan sinar permusuhan dalam sorot mata Layla.


Ave mendorong tubuh Layla keluar kamar. "Udah sana, sana... Keluar sana! Di sini daerah teritorial warga negara asli Indonesia. Orang Malaysia, Melayu atau siapapun gak boleh masuk. Pokoknya NKRI... harga mati! Awak keluar sana!"


Lah kenapa jadi ikut panggil awak coba? pikir Ave. Tapi tangannya tetap mendorong Layla keluar. Wajahnya saja yang cantik, ternyata remaja kecil ini lebih mirip serigala kecil. Tak ada bedanya dengan Zaid. Like uncle, like niece.

__ADS_1


Layla seperti masih ingin bicara lagi, tapi kemudian gadis kecil itu pun berjalan menjauhi paviliun dan masuk kembali ke rumah utama.


Ave menghela napas lega melihat anak itu pergi. Dengan terburu-buru, ia mulai membereskan kamarnya yang memang berantakan. Bukannya Ave tak mau, tapi ia tak punya banyak waktu. Tapi sekarang, Ave akan merasa malu kalau sampai dilihat oleh Zahra. Sedangkan respon Layla saja seperti itu. Memalukan.


Setelah beberes, Ave memutuskan mandi dan berganti pakaian, sebelum ia kembali ke rumah utama. Di rumah utama, Ave mencari Layla.


Remaja itu sedang duduk menonton di ruang tengah yang juga menjadi ruang keluarga. Ruangan yang sebenarnya jarang dipergunakan oleh Zaid atau Ave. Melihat gadis itu tampak asyik menonton sebuah tayangan reality show berbahasa Korea, Ave merasa Layla hanyalah gadis biasa.


Sebagai orang dewasa, Ave merasa tadi ia sedikit keterlaluan. Maka sebagai tanda gencatan senjata, Ave berniat membuatkannya camilan sore. Apalagi dilihatnya tak ada apapun di atas meja di depan gadis itu.


Dengan wajah sumringah, Ave membawa nampan berisi sepotong tart strawberry, puding buah dan dua gelas susu coklat.


"Peace! Peace, Ok? Makan dulu nih!"


Layla menatap pada Ave dengan kesal, tapi matanya jelas berbinar saat melihat isi nampan. Tanpa malu-malu, ia mengambil salah satu gelas begitu Ave meletakkannya di atas meja kopi.


"Say thank you dulu, Non!" kata Ave tersenyum senang, sambil duduk di samping Layla.


"Thank you!" kata Layla dengan mulut masih menempel di ujung gelas.


Ave mengusap kepala gadis itu yang buru-buru dihindari Layla. Tapi Ave tampak tak peduli, ia menunjuk ke nampan. "Kamu makan yang tart atau yang puding?"


Layla menurunkan gelasnya. Ia menatap keduanya. "Aku mau semua!"


"Ya udah silakan! Kamu emang perlu banyak makan yang manis-manis. Gue sih gak perlu." Ave bersandar di sofa, menatap televisi, mulai menonton.


Sementara Layla sudah mengganti gelasnya dengan piring berisi tart dan mulai menyendok ke mulutnya. "Khenapah akhu harush mhakan yang mhanis?"


Ave menoleh. "Soalnya kamu itu jelek banget, jadi biar cakepan dikit, gih makan yang manis yang banyak yaaaa. Gue mah udah manis, cantik pula. Jadi gak perlu makan lagi deh," jawab Ave seraya menyeringai.


"Uhuk!" Layla tersedak. Ia melotot pada Ave.


Tawa Ave membahana. Tapi dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus punggung Layla. "Pelan-pelan makannya, Non! Jangan sambil marah-marah!"


Meskipun kesal pada Ave yang selalu berhasil membalik kata-katanya, Layla menghabiskan semua sajian yang diberikan Ave. Setelah itu keduanya menonton televisi dan tertawa bersama.


Usai tayangan itu berakhir, Ave hendak membereskan nampan. Saat itulah tangan Layla menghentikan gerakannya.


"Kenapa, Lay?" tanya Ave lembut. Ia tak ingin memusuhi gadis kecil ini. Layla adalah keponakan Zaid. Ia harus menjalin hubungan yang baik dengannya.


Mata Layla tampak berusaha membaca mata Ave, sebelum akhirnya ia bertanya, "Apa Aunty benar-benar cintakan Uncle Layla?"


Ia telah mengganti 'awak' dengan 'Aunty'. Juga menyebut namanya dibandingkan 'aku'. Sungguh jauh perbedaannya. Sepertinya gadis ini mulai menerima Ave.


Ave duduk lagi. Tersenyum dengan tulus. Gadis kecil ini sedang mengujinya, sejak ia datang sore tadi. Zaid pasti pamannya yang paling berharga, makanya gadis itu memeriksa kamar Ave, menguji kesabaran Ave bahkan mengajaknya berdebat.


"Hai, gadis kecil! Apa kamu tahu kalo kamu itu mirip sekali dengan Uncle kamu? Dia sepertimu. Selalu berkata tak seperti hati kalian. Tak gampang menyukai orang-orang seperti kalian berdua. Tapi sekalinya kalian disukai, maka itu pasti tak terlupakan," kata Ave sambil menyentuh ujung hidung Layla lembut.


"Jadi Aunty suka padaku, atau cintakan Uncle?" tanya Layla polos.


Ave tertawa kecil. "Tentu sama kalian berdualah. Suka dan cinta."


Layla tersenyum. Lalu ia memiringkan sedikit kepalanya. "Uncle, awak dengar tak? Aunty cintakan Uncle!" serunya dengan riang sambil melompat turun dari sofa, menyongsong seseorang di depan pintu. Memeluk... Zaid.


Senyum Ave lenyap seketika dan berbalik. Di depan pintu masuk, Zaid berpelukan dengan keponakan kesayangannya sambil tertawa lebar. Saat tatapan mata Zaid bertemu dengan Ave yang masih kaget, ada kelembutan jelas di mata yang biasanya terlihat tajam dan dingin itu. Di balik punggung Layla, Zaid menatap Ave penuh arti.

__ADS_1


Terima kasih untuk menyukaiku, Ve!


*****


__ADS_2