
*Empat Tahun Kemudian
"Selamat yah! akhirnya kamu udah sarjana juga, ouw yah? um ...kalau minggu depan bisa kok aku ambil cuti sehari, iya Fasya Insya Allah aku dateng di acara graduation day kamu, ok wa'alaikumussalam!" ucapku menutup telepon.
Akhirnya satu demi satu teman-teman aku sudah menyandang gelar sarjana dan diploma, sementara aku hanya sebatas menduduki bangku SMA saja, dikota metropolit seperti ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang sedikit layak jika hanya mengandalkan ijazah SMA saja, paling jatoh-jatohnya hanya sekedar menjadi pelayan toko, pelayan restaurant, laundry ataupun pelayan warung cofee seperti yang saat ini sudah menjadi rutinitasku.
Sejak lulus SMA, hampir setiap tahunnya aku selalu memohon pada abi agar aku bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang strata satu, namun abi masih setia dengan jawabannya yang hanya satu kata itu "La" yang berasal dari bahasa arab tersirat makna "Tidak" dalam bahasa indonesia, dengan kondisi kak Hilwa yang seakan tak ada mukzizat untuk pulih dari koma, rasanya permintaanku itu sangat mustahil untuk dikabulkan oleh abi.
Beberapa kali aku coba mengikuti tes berbasis online disalah satu perguruan tinggi negeri, yang katanya bebas biaya termasuk biaya SPP tiap semesternya, sudah pasti masuk dalam jalur beasiswa, dan aku sendiri bahkan tidak yakin kalau aku akan punya peluang untuk lulus, dan benar saja namaku sama sekali tidak tertera dalam daftar kelulusan, kuyakinkan diriku dengan seribu anggukkan karena yang memiliki nyali untuk mengikuti jalur beasiswa hanyalah orang-orang dengan IQ diatas rata-rata, bukan orang-orang yang sepertiku, mungkin aku hanya sebatas bermimpi dan mencoba, hasilnya tetap bukan yang terbaik.
Bertatap wajah dengan teman-teman yang saat ini sudah mengenakan pakaian rapih dan terlihat berwibawa, tentunya menimbulkan sedikit rasa kecanggungan untukku bertegur sapa dengan mereka, entahlah akhir-akhir ini aku merasa segala sesuatunya bercampur aduk, terkadang aku merasa bangga melihat mereka yang sudah sukses namun tak mengingkari rasa aku juga lebih sering merasa kecewa dengan diri ini yang hanya bergerak di titik nol saja, bahkan sulit bagiku untuk melangkah ke angka selanjutnya.
"Umi! kira-kira baju apa ya, yang cocok aku pakai nanti ?" tanya ku pada umi, dengan berhamburan beberapa lembar pakaian yang saat ini ku bandingkan untuk memilih yang pantas aku pakai di acara tersebut.
"Memangnya Salwa mau kemana?" tanya umi dengan tatapannya sedikit berbeda, fikirku mungkin umi sedikit mencurigaiku kalau-kalau aku akan bertemu seseorang yang tentunya bukan mahromku.
__ADS_1
"Ini, Fasya ngundang aku di acara graduation day nya nanti minggu depan umi" terangku
"Ouw!!! yang itu aja, kelihatannya cocok untuk Salwa pakai di acara itu" pungkas umi, bagaimana bisa aku akan mengenakan baju yang direkomendasikan umi, bukan apa-apa hanya saja aku sedikit minder, sudah cukup lama aku tidak lagi membeli pakaian baru, diantara semua baju-bajuku, baju itu pula yang hampir setiap hari kupakai.
*******
Usai sholat maghrib, kami bertiga umi dan abi tengah menikmati makanan buka puasa terlihat hanya beberapa hidangan menu sederhana saja, saat ini memang belum waktunya menyambut bulan ramadhan namun sudah menjadi rutinitas kami untuk selalu berpuasa sunah dihari senin dan kamis bahkan puasa-puasa sunnah lainnya.
"Salwa?" kali ini abi memanggilku terdengar sangat lembut.
"Iya Abi?" ucapku dengan terus mengunyah makanan.
"Ouw yang pak Fahri itu yah bi? masya Allah alaika wa alaihissalam! pak Fahri itu orang yang baik yah bi!" rasanya seperti percakapan yang biasa-biasa saja akupun terus melanjutkan kunyahanku, seketika suasana mulai terlihat hening lagi, kali ini ku arahkan pandanganku pada umi dan abi, terlihat wajah umi seakan memberikan isyarat pada abi begitupun sebaliknya dengan abi.
"Umi? Abi? ada apa sih?" ku tatap satu demi satu wajah mereka, tingkah abi dan umi semakin menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala ini.
__ADS_1
"Jadi gini Salwa, tadi abi dengan pak Fahri mengobrol cukup lama, pak Fahri itu bukan orang sembarangan, dia itu seorang direktur, dia punya perusahaan besar di jakarta, kita juga sempat membahas tentang jodoh terbaik" sontak akupun menatap sinis abi, apa iya abi akan menjodohkanku dengan pria yang seumuran dengannya, yang layaknya ku sapa dengan sebutan om.
"Maksud abi?" tanyaku sedikit mempertegas.
"Sejak awal pak Fahri melihat Salwa, dia sudah sangat suka dengan kamu nak! kami sudah sepakat untuk mengenalkan Salwa dengan anak laki-lakinya!" hampir saja jantungku meledak, untung dugaan ku meleset, namun tetap saja tidak ada ekspresi bahagia yang kusuguhkan dihadapan abi dan umi melainkan tatapan mata yang tak bergairah dengan mulutku yang terus membungkam.
"Aalwa? gimana Nak? pak Fahri juga berjanji kalau nanti kalian berjodoh dia akan menanggung semua biaya rumah sakit kakak kamu?" aku sedikit terkejut, mungkinkah abi berniat menjualku pada orang kaya itu.
"Abi? apa abi masih menganggapku sebagai anak abi? sampai-sampai masa depan Salwa pun abi sanggup gadaikan dengan nilai rupiah? abi melakukan semua ini semata-mata hanya untuk kak hilwa, abi gak pernah sekalipun memikirkan perasaan salwa!" tegasku dengan linangan air mata, mungkin kali ini ucapanku terdengar sangat kasar, tetapi itulah simpulan yang aku cerna dari kalimat abi, umi hanya mentapku dengan wajah sedihnya tanpa berucap apa-apa.
"Keterlaluan kamu Salwa! 'tapraaak!' " rupanya abi sangat geram, sampai ia berani melayangkan sebuah tamparan di pipi kiriku, aku belum pernah melihat abi se marah ini, pun ini pertama kalinya aku mendapatkan kekerasan fisik dari abi, umi yang meyaksikan perlakuan kasar abi terhadapku, seketika bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiriku, umi tak bisa berbuat apa-apa selain terus menangis dan memelukku.
"Anak seperti kamu tuh, gak tau diuntung!!! masih mending ada orang kaya diluar sana yang suka sama kamu, disuruh hidup enak malah gak mau! kamu mau hidup menderita terus-terusan? cukuplah saja umi dan abi yang menderita, mau gak mau, suka gak suka minggu depan kalian tetap ta'aruf, itu keputusan abi" belum lagi hilang rasa panas dipipi kiriku, abi terus mengarahkan jari telunjuknya padaku, dengan tatapannya yang tajam membuatku semakin takut untuk melihatnya.
"Abi! sudah abi, hiiikss...hiiikss, umi gak nyangka kalau tangan abi sampai berani menyentuh anak-anak umi" hanya sekedar larangan lembut yang keluar dari mulut umi, sambil sesekali ia menyeka air mataku.
__ADS_1
Abi hanya menatapku dengan sinis kemudian ia bergegas menuju kamar, rasanya kali ini, cukup panjang ku nikmati makan malam sampai-sampai harus terpaksa mengeluarkan air mata.
Eeeiiiittts..🙋Kasih Like👍 dan Komentar🤬 dulu sebelum Next ke Episode berikutnya😊🧐