
*Permintaan Yang Terlambat
"Salwa! Salwa bangun Nak!" terdengar suara Umi, yang seketika mengejutkanku di pagi-pagi buta ini.
"Haa? Umi!" sontak akupun terbangun kaget, dengan bola mataku yang terus melebar memandangi wajah datar Umi saat mendapatiku terlelap diruang TV ini.
"Salwa kok tidur di sofa sih, kenapa gak tidur dikamar semalam?"
"Aam, ini Umi Salwa ketiduran, soalnya semalam salwa nontonnya sampe jam setengah dua Umi" sahutku sedikit manja sambil sesekali ku usap punggungku.
"Hmm! pasti Salwa gak sholat subuh lagi kan?" aku hanya mengangguk, tanpa melontarkan kalimat apapun lagi untuk menyahuti pertanyaan Umi.
"Ya sudah, Salwa mandi sekarang, entar ikut Umi ke toko cake ya?"
"Iya Umi!" jawabku tak bersemangat.
"Umi mau bantuin bi lijah dulu di belakang"
Terus saja ku perhatikan langkah Umi dari sini, setelah Umi sudah tak terlihat lagi dari pandanganku, segera saja ku terperanjat menuju kamar bi lijah untuk mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya.
"Salwa? Salwa?" tiba-tiba terdengar lagi suara Umi yang semakin membuatku menggaruk kepala.
"Iya Umi" sahutku sedikit kesal, dengan langkah yang tertatih, ku hampiri Umi dibelakang yang saat ini ia tengah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sini Nak! sini"
"Ada apa sih Umi, masih pagi-pagi gini udah tereak-tereak aja, malu sama tetangga Umi"
"Nih..liat ini, baju suami kok dibikin kek begini, baju seragam putihnya lagi, Salwa tau kan, ini kalo direndam lama-lama bisa menumpuk titik-titik noda hitam di baju"
Mendengar omelan Umi, aku hanya bisa mengurut dahiku yang tiada henti-hentinya berdenyut ini, lalu ku arahkan pandanganku pada bi lijah yang tengah menyiapkan roti tawar di meja makan, ia yang menyadari tatapan kesalku seketika berucap pelan meminta maaf padaku, akibat ulahnya yang lupa menyelesaikan cucian kotornya kemaren, aku sampai di omelin habis-habisan sama umi.
"Udah jadi isteri seperti ini, Salwa harus pintar-pintar ngurus pakaian suami, apalagi pekerjaan dapur udah di urus sama bi lijah, sampai kapan sih Salwa harus bersikap malas tau kek begini!" terus saja Umi mengomeliku, sementara aku hanya terus membungkam dan berdiri di samping Umi sambil memerhatikan Umi mengucek semua pakaian-pakaian mas Qiyas.
*****
"Kamu duduk disini dulu ya nak, bentar lagi dia datang"
__ADS_1
"Emang siapa yang mau dateng Umi?"
"Temen kamu, yang ngajak Umi kerja sama itu"
"Umm!"
"Ya udah, umi mau nyusun beberapa box cake dulu di belakang, yang belum sempat dirapihkan kemaren"
"Um! iya Umi, tapi jangan lama-lama ya?"
"Iya Nak, kalau mau ngemil ambil aja cake-cake itu ya nak!" balas Umi, dengan langkahnya yang terus menuju ruang belakang.
"Iya Umi" ujarku.
Semenjak Umi memiliki toko cake, Umi terlihat sangat sibuk bahkan kalau dipikir-pikir lagi, senyumannya seakan tak pernah sirna dari bibirnya layaknya ia tengah merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda, aku makin penasaran saja dengan pria yang mengaku-ngaku sebagai temanku itu, rasanya sambutan pertama yang akan aku berikan padanya nanti, ialah ucapan terimakasih.
"Happy birthday! happy birthday! birthday to you!" seketika terdengar suara nyanyian pria, dari depan sana terlihat Arief dengan stellan jas mahalnya berjalan menghampiriku sembari bernyanyi lagu ulang tahun dengan memegang box cake berlilinkan usiaku saat ini. Sontak ku kerutkan dahiku, seraya menyesali kenapa aku harus mendatangi tempat ini.
"Ouw jadi kamu?" ucapku tak bertenaga.
"Maksudnya kamu?" ia melambatkan ucapannya, dengan tatapan mata yang membingungkan seolah-olah tak memahami pertanyaan ku barusan.
"Ngelakuin apa?" tetap saja ia masih terlihat tenang dalam menanggapi ucapanku
"Huum! ngajak umi aku kerja sama untuk bangun toko cake, trus ngerayain ulang tahun aku, apa maksudnya semua ini?"
"Kamu jangan salah paham dulu, aku ngajak kerja sama umi kamu, karena memang salah satu perusahan aku mengembangkan bisnis cake, dan aku rasa umi kamu adalah orang yang tepat untuk diajak kerja sama" ia terdiam seketika, lalu menatapku
"Mengenai ulang tahun kamu, anggap aja sebagai bonus atas kerja sama kita!"
"Huum! maaf aku gak butuh" seketika aku mulai terperanjat, maksud hati ingin beranjak pergi dari hadapannya, namun dengan lihainya ia meraih tanganku, sepertinya masih ada banyak hal yang harus ia ceritakan padaku.
"Salwa! ok aku minta maaf atas sikap aku selama ini ke kamu"
"Udah lupain aja, aku juga punya salah sama kamu, anggap aja gak pernah ada kesalahan di antara kita!"
"Salwa, please dengerin aku dulu, ok mengenai ulang tahun kamu sebenarnya aku masih ingat tanggal lahir kamu, dan asal kamu tau, sampai saat ini semua tentang kamu aku masih hapal diluar kepala, please! kasih aku satu kesempatan lagi?" rasanya aku makin kesal, mendengar permohonannya yang sudah sangat terlambat ini.
__ADS_1
"Kamu tau kan, aku udah nikah?"
"Ya! tapi aku tau kamu gak bahagia"
"Jangan pernah ganggu aku lagi"
"Aku gak akan ganggu kamu, aku juga gak akan maksa kamu, tapi aku akan tunggu kamu!"
"Arief!" sontak aku berteriak kesal dihadapannya, rasanya ucapannya semakin keterlaluan.
"Aku udah punya suami, aku udah punya kehidupan sendiri sekarang, jadi tolong, buang harapan itu jauh-jauh dari otak kamu!" tegasku, sembari menghempas tangannya lalu beranjak pergi dari hadapannya.
Tanpa pamit lagi ke Umi, akupun bergegas pulang ke rumah, rasanya benakku mulai lelah untuk berhadapan dengan Arief yang selalu membuat ubun-ubun ini terasa panas.
*****
Tepat didepan pintu rumah, ku lihat sepasang sepatu berwarna hitam berserakan di atas lantai, akupun terdiam sejenak sembari bergumam mungkin saja sepatu ini adalah sepatu yang dipakai mas Qiyas saat fly kemarin.
"Bi...? bi..?" panggilku sedikit girang, bi lijah yang tengah sibuk di dapur, kini berlari pelan menghampiriku.
"Iya non, ada apa?"
"Mas Qiyas udah pulang?"
"Iya, tapi baru aja keluar lagi"
"Haah! keluar kemana?"
"Yang sempat bibi dengar sih, kayaknya tuan Qiyas mau kerumah ka...ki..kk.." ucapnya tersendat-sendat sambil mengingat-ngingat nama seseorang, seketika ku tindih ucapannya.
"Kiran?"
"Iya, iya ke rumah Kiran, katanya sih mau nganter oleh-oleh"
Apa yang baru saja ku dengar, bagaikan ledakan keras yang mampu menyulutkan rasa bahagiaku yang baru saja kusambut dengan tawa semringah, namun hanya bertahan beberapa detik saja, selebihnya hanya menyisakan puing-puing kerinduan yang tak bertuan ini.
"Mas Qiyas!" gumamku tak bertenaga.
__ADS_1
Ia pergi karena tuntutan pekerjaan, kembalinya pun karena tuntutan rindu, namun sayang, rasa rindu itu tak bisa ia temukan di rumah ini.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗