
*Rahasia Pernikahan
"Hwuuhw...kenapa sih semua orang di rumah ini pada nyebelin, tuh juga si dokter satu, ngapain juga dia sibuk ngurusin keluarga orang, mau dia nunda kek, mau dia gak hamil kek, ya suka-suka sayalah orang dia menantu saya" masih saja bu Lela menggerutu saat beranjak dari kamar Salwa, yang seketika itu langsung di sambut oleh pak Fahri yang sejak tadi menunggu di ruang tamu.
"Gimana Salwa?" tutur pak Fahri dengan tatapan yang sangat khawatir.
Mendengar pertanyaan suaminya, bu Lela langsung menghela nafas dalam-dalam seraya menenangkan jiwanya yang tengah emosi itu, lalu dengan suara agak sinis ia menjawab pertanyaan suaminya.
"Tenang aja menantu kesayangan papah itu gak kenapa-kenapa kok, cuman demam pilek dan masuk angin aja"
"Alhamdulillah!" sontak bu Lela menatap jengkel sumainya yang menurutnya terlalu berlebihan ia menaruh rasa khawatir pada Salwa.
"Menantunya cuman sakit pilek doang khawatirnya minta ampun, udah kek orang yang sakit stroke aja" cetus lirih bu Lela namun tak di tanggapi apa-apa oleh sang suami.
"Yaudah lah pah, ayo kita pulang sekarang"
"Ow yah..mamah pulangnya sama pak Dirman aja dulu yah?"
"Loh papah gimana sih, jam 10 kan kita ada rapat!"
"Iya papah tau, papah udah nyuruh Ilham untuk gantiin papah hari ini, lagian papah juga masih ada urusan disini" tiba-tiba bu Lela bersuara lantang pada pak Fahri.
"Urusan apa? urusan sama anak menantu papah itu? kalo dia butuh apa-apa juga bi Lijah kan ada disini, kenapa jadi papah yang sibuk sih" merasa geram atas omongan bu Lela, pak Fahri pun turut bersuara lantang padanya.
"Mah...?" bu Lela terkejut bukan kepalang, juga terlihat sangat jelas betapa gemetarnya tubuh ibu tiga orang anak itu.
"Ya sudah, terserah papah ajalah" iapun segera beranjak pergi dari situ.
*****
Melihat pak Fahri yang masih duduk di ruang tamu, dengan segera bi Lijah menyajikan secangkir kopi dan beberapa toples cake kering untuknya.
"Silahkan di minum pak!" tutur bi Lijah sangat hati-hati.
"Iya.." pak Fahri lalu meneguk kopi yang baru saja di suguhkan oleh bi Lijah, dengan suasana hati yang masih sungkan bi Lijah mulai melangkah untuk berpindah dari situ namun tiba-tiba pak Fahri kembali bersuara padanya.
"Aaam, bi Nuge gak nitip kunci kamarnya?"
"Ahm..gak tuan"
"Kunci cadangan ada gak?"
"Gak juga tuan" tuturnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya sudah!"
__ADS_1
Tidak lama kemudian pak Fahri mulai menghubungi beberapa ahli bangunan dan furniture yang sempat berkali-kali ia kontrak untuk pembangunan hotelnya, namun kali ini ia menghubungi mereka hanya untuk menyelesaikan satu titik permasalahan yang masih membumbung di kepalanya saat ini.
Sembari menunggu kedatangan para ahli bangunan itu, pak Fahri kembali duduk menikmati kopinya, dengan tatapan kosong ia menyoroti sekotak tissue yang ada dihadapannya saat ini, namun fikirannya mulai melayang jauh kemana-mana, bahkan berulang-ulang kali ia menafikkan apa yang baru saja ia simpulkan dari pernikahan anak bungsunya itu namun tetap saja hatinya terus berkata bahwa rumah tangga anaknya imsaat ini sedang tidak baik-baik saja.
Tidak lama kemudian tiga orang yang sudah di hubungi pak Fahri tadi pun telah mengucapkan salam di depan pintu, dengan sedikit rasa kejut pak Fahri kemudian terbelalak lalu terperanjat menghampiri mereka.
"Silahkan masuk!" lantun sopan pak Fahri, dengan segera ketiga pria itupun melangkah masuk ke dalam.
"Pak Fahri Radihul Anugerah ya?" ujar pak Adam selaku ketua team, sembari menyuguhkan telapak tangannya seraya ingin berjabat tangan dengan pemilik hotel terkenal itu.
"Ya..." sahut pak Fahri, sembari berjabat tangan dengan pria yang baru saja menyapanya.
"Wah saya beruntung sekali hari ini bisa bertemu langsung dengan bapak, asal bapak tau saya salah satu penggemar bapak hehe"
"Terimakasih" balas pak Fahri sambil tersenyum kecil pada pak Adam, sesaat setelahnya, dengan rada sungkan dua orang anggota yang di bawa Adam tadi mulai membungkukkan badan seraya bersalaman dengan pak Fahri.
"Ow yah pak, kalo boleh tau ada masalah apa yah dengan rumah ini? kelihatannya semua dalam kondisi yang baik" tutur pak Adam.
"Jadi gini, kamar yang di sebelah situ tuh pintunya masih terkunci dan saya gak tau kuncinya saya jatohkan kemana, dan hari ini saya sengaja mengundang ahlinya langsung untuk membuka pintu kamar itu"
Setelah mendengar penjelasan pak Fahri, para ahli bangunan itupun mulai melancarkan aksinya dengan mengeluarkan beberapa peralatan untuk mencopot daun pintu yang ada di kamar Qiyas.
Hingga menghabiskan waktu kurang dari 15 menit, hampir semua mur yang mengekang daun pintu itupun mulai terlepas namun masih tersisa tiga mur lagi, Salwa yang merasa terganggu dengan ributnya suara mesin dan bunyi-bunyian tambahan di luar sini, tiba-tiba keluar lalu menghampiri pak Fahri.
"Pah, ini kenapa ya? kok rame-rame?"
Tak menanggapi ucapan sang mertua, Salwa kini membelalakan matanya lalu berjalan terburu-buru mendekati Pak Adam dan dua orang lainnya yang tengah berusaha melepas mur yang masih menempel di engsel pintu tersebut.
"Lah..kenapa pintu kamarnya di bongkar?"
"Salwa...Salwa!" Dari belakang pak Fahri mencoba menghalau Salwa akan tetapi Salwa tetap kekeuh dan terus mencoba menghalang-halangi pekerjaan pak Adam.
"Stop...pak, stop saya bilang stop..stop"
"Salwa...Salwa denger papah, berhenti membela suami kamu dalam keadaan salah, karena semakin kamu seperti itu maka Qiyas akan semakin menjadi-jadi"
"Pah, apa papah kek begini karena Salwa tidur di ruang tamu?" kini mata Salwa mulai terlihat berkaca-kaca.
"Pah...Salwa tidur di ruang tamu itu karena kemauan Salwa sendiri pah, bukan karena perintah mas Qiyas"
"Sudah...sudah...kamu butuh istirahat sekarang Salwa, kamu gak boleh banyak fikiran, ini biar urusan papah"
"Pah..."
Pak Fahri mulai menyentuh ke dua pundak menantunya itu, dengan tekun ia menatap matanya, sontak pak Fahri memejamkan mata betapa ia tak tega melihat kondisi Salwa seperti ini, ia kemudian mulai bersuara lirih pada menantu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Papah lebih tau tipikal Qiyas itu seperti apa"
"Bi...bi Lijah?"
"Iya pak" dari kejauhan sudah terdengar suara bi Lijah menyahuti pak Fahri, hingga terlihat dirinya berlari terburu-buru menghampiri sang majikan.
"Tolong bawa masuk Salwa ke dalem, dia masih butuh istirahat"
"Baik pak!"
*****
Setelah pintu berhasil di buka, secara perlahan ia mengamati pemandangan yang ada di dalam kamar itu, satu per satu di periksa oleh pak Fahri, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala saat melihat lemari pakaian lima pintu itu hanya berisi pakaian Qiyas, handuk dan peralatan mandi, juga peralatan wajah dan tubuh yang tersusun di meja rias, pun semuanya milik Qiyas, tidak ada yang berubah dari kamar itu, masih seperti beberapa bulan yang lalu saat Qiyas belum berubah status.
Ia kemudian duduk diatas tempat tidur, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya, serasa masih belum percaya bahwa hal terburuk yang dulu pernah dibayangkannya kini benar-benar terjadi.
"Hwaaah....bener...bener" gumamnya seorang diri.
Sebagai orang tua, tentunya pak Fahri turut merasakan sakit hati atas kejadian ini, sampai-sampai ia hampir kehilangan tenaganya untuk berpindah, dengan wajah lesuh ia kemudian berjalan menemui Salwa yang masih berbaring di kamar tamu, melihat sang mertua salwapun berganti posisi setengah duduk.
"Pah?" sapanya, pak Fahri kemudian terduduk lalu menatap sayu menantunya itu.
"Ini rahasia yang ke berapa?"
Salwa yang sangat paham atas pertanyaan pak Fahri, ia hanya terdiam lalu menangis tanpa suara.
"Jawab pertanyaan papah" Lagi-lagi Salwa tak mampu berkata-kata, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya di hadapan pak Fahri.
"Kalian tega yah, bohongin papah, mamah, umi sama abi kamu"
"Pah..."
"Ayo cerita ke papah, perlakuan tega apa lagi yang sudah Qiyas kasih ke kamu" Salwa kembali menggeleng-gelengkan kepala, sambil sesekali ia menyeka air matanya yang terus membasahi ke dua pipinya itu.
"Ya sudah...kalo Salwa gak mau cerita gak apa-apa"
Pak Fahri segera mengeluarkan handphonenya, lalu menghubungi kontak putra semata wayangnya itu.
"Halo...pah?" jawab Qiyas di balik telpon.
"Kapan balik ke indonesia?"
"Aam..sekitar dua harian lagi pah, ada apa ya pah?"
"Kalo pulang nanti, setelah dari bandara langsung ke rumah papah"
__ADS_1
"Haaah? emangnya ada apa pah?" saking jengkelnya mendengar suara Qiyas, tanpa bertanya kabar bahkan tanpa berpamitan, tiba-tiba pak Fahri segera memutus obrolan mereka begitu saja.