
*Kehadiran Wanita Yang Tak Dinanti
Bak tengah janjian, hari ini Fasya juga turut menyambangi rumah sahabatnya itu, saat mengetok pintu, kebetulan bi Lijah yang sudah ada disitu tengah merapihkan ruang tamu dan langsung membukakan pintu untuknya.
"Halo bi...." Fasya menyapa seraya memeluk bi Lijah.
"Hai Neng...apa kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat bi, Salwanya ada?"
"Ada lagi di dapur, ayo masuk Neng, masuk..masuk"
Dikira sang mertua yang datang, Salwa langsung bergegas ke ruang tamu.
"Siapa bi?"
"Eh Fasya...." saat melihat Fasya,Salwa langsung kegirangan dan buru-buru memeluk sahabatnya itu.
"Kamu kok dateng gak bilang-bilang sih?"
"Iya, sengaja biar surprise gitu..."
"Surprise, surprise, eh sebulan ini kamu kemana aja, gak ada kabar, gak ada apa-apa" Salwa mulai melancarkan interogasinya.
"Iya sorry banget Wa, aku ditugasin ke kantor cabang sama bos aku, dan disana tuh jaringannya ya ampun...lelet banget tau gak" keduanya terus mengobrol sembari bergegas menuju dapur.
"Eh, ini cakenya mau aku taroh dimana?"
"Ya ampun Sya, pake repot-repot bawa cake segala, udah taroh aja di atas meja"
"Gak repot kok, ini juga cake khas daerah sana sih, enak kok cobain deh nanti" terang Fasya sembari menyalin cake-cake tersebut pada toples kaca yang ada di atas meja.
Setelah itu, Fasya lalu menghampiri Salwa yang tengah sibuk mengaduk-ngaduk masakannya, seraya mengamati begitu banyak bumbu-bumbu halus dan potongan dedaunan yang ada di atas kitchen set.
"Ini bumbunya banyak banget, emang mau masak apa Wa?"
"Ya macem-macem..."
"Emang kamu lagi ada acara apa sih?"
"Gak ada acara apa-apa"
"Terus?"
"Mamah sama papah mertua aku mau kesini"
"Owh...Ya sudah sini, mana yang bisa aku bantu?"
"Itu tuh, ikan bandengnya di potong-potong dulu Sya, terus di campurin garem, kunyit, jeruk ama merica halus disitu udah aku siapin semua bumbunya" teranganya, Seraya menoleh ke arah Fasya.
"Ow ya, sama campurin 3 lembar daun jeruk ya Sya, daun jeruknya ada di kulkas"
"Oke...emang ini mau diapain ikannya?"
"Mau dimasak kuah bumbu kuning, itu kesukaan papah mertua aku banget tuh..."
"Ow gitu, yaudah aku cuci dulu ikannya ya..."
"Hu'um...."
__ADS_1
Sambil memasak, Salwa dan Fasya terus saja bercengkrama dengan segala topik pembahasan yang ada, terkadang mereka mengulik kembali kisah-kisah SMA yang dulu yang menurut ke duanya begitu kocak jika dikenang lagi, di beberapa waktu, Salwa juga sempat menyinggung kisah pahitnya saat dulu ia berusia 15 tahun dan terpaksa harus berkerja demi biaya pengobatan saudari kembarnya.
Hingga tak terasa obrolan itu mulai terhenti saat semua masakan tersebut sudah siap, kini Salwa bergegas mengambil mangkuk besar dan beberapa wadah lainnya untuk menaruh jenis olahan sayur, ikan dan daging-dagingan tersebut, untuk disajikannya di atas meja.
"Trinding...trinding..." diwaktu yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu.
Bi Lijah yang hari ini tugasnya merapihkan seluruh ruangan kini ia berlari kembali menuju ruang tamu untuk membukakan pintu, diikuti Qiyas yang baru saja keluar dari kamarnya, sementara di dapur Salwa dan Fasya juga buru-buru menuju ruang tamu seraya menyambut kedatangan sang mertua.
"Eh...bapak, ibu...!" sambut bi Lijah, yang saat itu tengah membuka pintu, namun tiba-tiba tatapan Bi Lijah mulai berubah saat mendapati kedatangan pak Fahry dan bu Lela ternyata tidak hanya berdua melainkan ada Elda di sebelahnya yang saat ini tentu bi Lijah merasa asing dengan kehadiran Elda.
"Bi, Qiyas mana?" bu Lela langsung mencari-cari keberadaan putra semata wayangnya itu.
"Tuan Qiyas ada di dalam bu" tidak lama kemudian terdengar suara Qiyas yang langsung menyapa.
"Mah....Pah..." Qiyas menghampiri ayah dan ibunya seraya mengalami punggung tangan ke duanya.
"Mamah sama papah sehat?"
"Alhamdulillah mamah sama papah sehat, Nuge sama Salwa sehat?" jawab pak Fahry seraya melontarkan pertanyaan yang sama.
"Alhamdulillah sehat pah..."
"Ow ya, ini Elda" bu Lela mengenalkan Elda pada Qiyas, Elda kemudian tersenyum kecil seraya menatap Qiyas malu-malu.
"Udah tau mah..."
Salwa dan Fasya akhirnya nongol juga di ruang tamu, keduanya sempat tertegun melihat kehadiran Elda disitu, namun tak berlama-lama lagi, Salwa segera menghampiri sang mertua sembari menyalami punggung tangan ke duanya, pun Fasya turut melakukan hal yang sama.
"Ini....?" tutur pak Fahri yang belum mengenali Fasya saat itu.
"Fasya Om, temennya Salwa..." Sambil tersenyum kecil Fasya mengenalkan diri dihadapan pak Fahry.
"Owh...."
"Itu siapa Nuge? pacar baru kamu lagi?" tandas bu Lela yang mulai seudzon dengan kehadiran Fasya.
"Ya gak lah Mah, itu temennya Salwa"
"Yang bener kamu Nuge?"
"Bener Mah..."
"Owh..." mendengar jawaban Qiyas, setidaknya bu Lela bisa bernafas lega.
*****
Semua mulai duduk di kursi masing-masing, kecuali Salwa dan Fasya, mereka berdua masih sibuk bolak-balik menyajikan makanan di atas meja, sebaliknya Elda yang melihat ada peluang segera buru-buru mengambil tempat duduk di samping Qiyas.
Sikap Elda barusan, diperhatikan langsung oleh pak Fahry dan Fasya, meski baru pertama kali bertemu Elda, kelihatannya Fasya mulai tak suka dengan keberadaan wanita itu.
"Siapa perempuan itu?" tanya Fasya sangat pelan saat mereka tengah berada di kitchen set untuk mengambil menu lainnya.
"Ow, itu Elda, mamahnya temenan baik sama mamah mertua aku"
"Memangnya kalian akrab?" Salwa langsung menggeleng.
"Terus ngapain dia disini?"
"Ya...maen aja!"
__ADS_1
"Maen? kok aku gak suka ya dia ada disini"
"Huss...kamu ngomong apa sih, udah ambil sayur itu bawa ke meja" Salwa segera membawa lauk-lauk lainnya ke meja diikuti Fasya di belakangnya.
"Ayo mah...pah..dimakan"
"Iya Salwa, udah lama papah gak makan masakan kamu" Pak Fahry segera menuang nasi, diikuti oleh bu Lela yang mengambilkan lauk untuk suaminya itu, sebaliknya Salwa hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan ayah mertuanya.
"Elda makan yah...tuh ada sayur asam, ada ikan tumis, ada...." tiba-tiba Qiyas memotong ucapannya.
"Ahm, Salwa ambilin nasi..." baru saja Salwa akan meraih piring suaminya, tiba-tiba dari samping Elda langsung merebut piring itu dari tangan Qiyas, dan segera menuangkan nasi untuknya, lagi dan lagi Fasya dan pak Fahry kompak memerhatikan sikap Elda.
"Mas mau lauk yang mana?" mendengar itu Fasya yang duduk tak jauh dari mereka mulai geram menyaksikan sikap Elda yang kebangetan itu, tetapi Fasya juga sadar kalau dia tak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatnya, terlebih lagi dihadapannya saat ini duduk pasangan ayah dan ibu mertua Salwa.
"Amm...ayam goreng" sahut Qiyas sedikit tak ikhlas, Elda yang tak tahu diri itu langsung mengambilkan ayam goreng, tak berhenti sampai disitu saja, dia kembali menanyai Qiyas dengan lauk yang lain.
"Mas mau yang mana lagi?" Qiyas langsung menatap Salwa dengan tatapan tak enak atas sikap Elda padanya.
"Gak usah, aku bisa ambil sendiri kok"
"Gak apa-apa Mas biar aku yang ambilin"
Pak Fahri yang sejak tadi sudah sangat geram dengan sikap Elda kini menemukan celah untuk bisa memotong perdebatan kecil itu.
"Amm...Elda? gak apa-apa Elda makan aja dulu, nanti biar Salwa yang ngambilin lauk untuk Qiyas"
"Ya gak apa-apa lah Pah, biarin aja Elda yang ngambilin..." cegah bu Lela sedikit membela Elda, namun pak Fahry hanya mematap isterinya dengan sinis, dan sama sekali tak menghiraukan ucapan isterinya itu.
"Salwa? ayo ambilin lauk untuk Qiyas" sengaja pak Fahri berkata seperti itu, agar Elda mau menyerahkan piring Qiyas pada Salwa.
"Iya pah..." Salwa langsung berdiri seraya meminta piring Qiyas yang sejak tadi terus digenggam Elda, karena merasa malu setelah ditegor pak Fahry, Elda langsung memberikan piring itu pada Salwa, namun raut wajahnya terlihat seolah kesal dengan Salwa dan juga pak Fahry.
Fasya yang menyaksikan langsung bagaimana Elda menahan muka di hadapan "Fahry Family" ini terlihat sangat puas dengan sikap tegas pak Fahry pada perempuan tak tau diri itu, anggap Fasya.
Mendapati suasana yang mulai kaku, pak Fahry kembali mencairkan suasana, dengan membicarakan topik yang lain.
"Ahm, berapa lama Nuge ama Salwa nanti di Italy?"
"Sekitar 2, 3 mingguan gitulah pah..." sahut Qiyas, sementara Fasya yang tak tahu menahu dengan rencana Salwa tersebut, langsung menyolek Salwa dan bisik-bisik mengajukan pertanyaan padanya.
"Emang kamu mau keluar negeri?" Salwa lantas mengangguk.
"Umm...nanti ajak Salwa ke tempat-tempat yang bagus disana, ow ya di sana kan lagi musim salju sekarang, sekalian aja Salwa diajak maen ke snow mountain..." Qiyas hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan sang ayah.
"Salwa bisa maen sky kan?" lanjut pak Fahry.
"Hah? Gak bisa pah..."
"Nanti diajarin sama Qiyas" Salwa hanya terdiam seraya melirik ke arah Qiyas, yang saat ini tak terlalu menanggapi ucapan pak Fahry barusan.
"Umi sama Abi gimana kabarnya sehat?"
"Alhamdulillah Umi sama Abi sehat pah..."
"Alhamdulillah, Abi sama Umi gak ada rencana maen kesini?"
"Nanti hari minggu, sekalian nganterin di bandara pah..."
"Owh...."
__ADS_1