
* Flight Ke Italy
3 hari kini terlewati, tibalah waktu dimana Salwa dan Qiyas akan berkunjung ke Italy, saat ini mereka sudah berada di bandara seraya menunggu kedatangan Bela dan Sheila mereka masih tetap berdiri di pelataran parkiran gate 5, mereka juga ditemani oleh Umi, Abi dan Fasya, tidak lama kemudian mobil pak Fahry yang dikendarai oleh Sheila mulai menepih.
"Lama amat sih..." Cetus Qiyas menghampiri Sheila yang baru saja turun dari mobil.
"Sorry Nuge, tadi jalanan macet banget, tanya tuh Bela..."
Bela yang juga baru turun dari mobil, tak terlalu menyimak obrolan 2 saudaranya itu segera saja ia menghampiri Umi dan Abi dengan sopan ia lalu menyalami tangan ayah dan ibu mertua dari adik bungsunya tersebut.
"Halo Abi, Umi apa kabarnya?"
"Halo, Alhamdulillah sehat, nak..." kompak Umi dan Abi menyahuti Bela.
"Ini Bela yah?" tanya Umi antara yakin dan tak yakin bersamaan dengan ia yang tengah memerhatikan Sheila, dikarenakan mereka yang jarang bertemu sudah pasti Umi dan Abi tak terlalu mengahafal nama ke dua putri pak Fahry itu.
"Iya Umi hehe, kalo ini Sheila kakak aku..." Bela turut mengenalkan Sheila.
"Ow, Iya...iya, maaf ya kadang tuh Umi suka kebalik-balik nama kalian"
"Hehe gak apa-apa Umi, ow yah ini siapa?" seraya menunjuk Fasya, sontak Fasya langsung menyebutkan namanya.
"Fasya, kak..."
"Bela..."
Melihat sikap Bela yang sok akrab itu, Sheila sedikit risih seraya memanyunkan bibir, meski tak suka dengan Salwa dan orang tuanya, mau tidak mau Sheila tetap harus bersikap sopan dengan pasangan paruh baya itu.
Sheila enggan untuk menyalami melainkan hanya tersenyum kecil pada Umi dan Abi, namun senyuman Sheila dimata Bela seperti senyuman yang tak natural dan sengaja di buat-buat hanya untuk menutupi rasa tak sukanya pada keluarga besan tersebut.
"Yaudah yuk masuk, ngapain sih berdiri lama-lama disini!" tandas Sheila, sontak Fasya langsung menatap tak suka pada kakak ipar Salwa yang satu ini.
*****
Sambil menunggu waktu keberangkatan, Salwa, Umi dan yang lainnya masih berdiri di area bebas pengunjung, seraya menunggu Qiyas yang tengah melakukan check-in, sementara Sheila dari tadi tengah sibuk menelpon dengan seseorang, setelah selesai check-in Qiyas bergegas kembali di tempat Salwa dan yang lainnya tengah berkumpul saat ini.
"Sini koper kamu" Qiyas terlihat sangat buru-buru.
"Hah? mau dibawa kemana?" sejenak Qiyas menghela napas, pikirnya Salwa benar-benar mengajukan pertanyaan tak penting yang hanya terus menyita waktunya.
"Mau disimpan ke bagasi"
Melihat Ekspresi Qiyas yang mulai datar, Salwa langsung menyerahkan kopernya, setelah itu Qiyas segera berdiri di antrean penimbangan bagasi, masih di tempat yang sama Salwa terus memerhatikan suaminya yang tengah mengantri di ujung sana.
"Eh Wa? kamu bawa cemilan gak?" Tiba-tiba Bela mengejutkankannya dari samping.
"Ada aku bawa kak"
"Nih bawa juga nih, tadi aku sempet beli cemilan disana" paparnya seraya menyedorkan parsel cokelat pada Salwa.
__ADS_1
"Wah...makasih banyak ya kak, udah repot-repot"
"Halah gak repot kok..."
Tak beberapa lama Qiyas kembali menghampiri, seraya berpamitan pada semuanya, dengan hangat Qiyas lalu memeluk Abi.
"Kalian hati-hati ya..." ucap Abi, langsung yang di angguki oleh Qiyas.
Di saat yang sama Salwa juga terlihat langsung memeluk Umi, dengan pesan yang sama dengan Abi, Umi menutur seraya meneteskan air mata saat memeluk Salwa, setelah selesai berpamitan dengan Umi dan Abi keduanya segera berpamitan pada Bela, Sheila dan juga Fasya.
"Kalian hati-hati ya..." semua kompak mengatakan kalimat yang sama.
Salwa dan Qiyas perlahan mulai berjalan masuk ke ruang tunggu penumpang, sambil sesekali mereka menoleh kebelakang dan mendapati Umi, Abi dan yang lainnya yang masih berdiri disitu seraya melambaikan tangan perpisahan.
*****
Di ruang business class nomor kursi Qiyas dan Salwa tertera, saat duduk Qiyas langsung memasang seat belt nya, Salwa yang berada di sampingnya segera mengamati bagaimana cara suaminya itu mengaitkan seat belt.
Setelah seat beltnya terpasang, Qiyas lantas menyenderkan kepala seraya beristirahat sejenak, sementara Salwa mulai berusaha untuk mengaitkan seat belt, sesekali ia terlihat gagal, tak menyerah ia terus mencoba lagi namun karena tak pernah naik pesawat tetap saja ia tak tahu bagaimana cara memasangnya.
Ia melirik ke kiri, tak lama kemudian ia menoleh lagi kebelakang, hal ini lantas menarik perhatian Qiyas, namun bapak Pilot ini tak langsung menanyakan apa yang tengah di cari-cari Salwa sebenarnya.
Di saat yang sama terlihat seorang pramugari tengah menggiring salah satu penumpang, ia lalu menunjukkan nomor kursinya, beruntung sekali penumpang tersebut duduk berseberangan dengan Salwa.
"Over here your seat sir..." (Sebelah sini kursi anda pak) papar sang pramugari mengarahkan.
"Ok, thankyou..." jawab pria tersebut.
Salwa terus memerhatikan pria itu hingga ia duduk di kursinya, tidak lama kemudian pria tersebut mulai mengenakan seat belt, yang langsung di contoh oleh Salwa, namun karena pria itu melakukannya sangat cepat lagi-lagi Salwa tak berhasil memasang seat beltnya, tanpa ia sadari sejak tadi Qiyas terus memerhatikannya.
Salwa kembali duduk dengan perasaan yang tentu saja tak tenang, tiba-tiba Salwa dikejutkan Qiyas, saat suaminya itu tengah meraih seat beltnya.
"Bagian ini dengan bagian yang ini, kamu masukin ke dalam kayak gini..." Qiyas mengajari bagaimana cara memasang dan melepaskan seat belt.
"Setelah itu, kamu kencengin tarik tali yang ini, sesuai nyamannya kamu aja, jangan terlalu kenceng juga"
"Kalo mau lepas, nanti pencet aja yang bagian tengah ini.." Salwa hanya mengangguk-ngangguk mendengarkan penjelasan Qiyas.
Setelah selesai memasangkan seat belt untuk Salwa, ia kembali merapihkan duduknya, seraya mengajukan pertanyaan kecil pada isterinya itu.
"Kamu baru pertama kali naik pesawat ya?"
"iya..." Salwa menjawab dengan malu-malu.
"Ya udah kalo kamu butuh apa-apa dan kamu gak tau, kamu nanya aja ke aku..." Salwa kemudian mengangguk.
Sesaat setelahnya pesawat mulai take off, Salwa yang terlihat ketakutan, mulai menutup matanya sembari meremas kuat pegangan kursi, di sertai dengan mulutnya yang terus komat-kamit melafadzkan zikir-zikir.
Berbeda dengan Qiyas, sebagai seorang Pilot tentu hal-hal seperti ini bisa dibilang adalah hal yang biasa untuknya, ia duduk dengan tenang namun saat pandangannya merekam ketakutan Salwa ia turut khawatir juga dengan keadaan isterinya itu.
__ADS_1
Sontak Qiyas kembali mengikat rasa malunya, dengan gestur yang sangat canggung perlahan-lahan ia meraih tangan Salwa lalu menggenggamnya dengan erat, Salwa tak memikirkan apapun yang ada dikepalanya hanyalah rasa takut yang datang bertubi-tubi, tak lama kemudian badan pesawat mulai mengayun stabil disitulah Salwa baru menyadari bahwa sejak tadi ia tak lagi meremas pegangan kursi melainkan telapak tangan suaminya.
"Ya ampun mas...aku...aku minta maaf" tuturnya, melihat wajah Salwa yang begitu serius Qiyas lantas mengabaikannya seraya menyeting saluran televisi.
*****
Saat semua penumpang hampir terlelap, namun tidak sebaliknya dengan Salwa, saat ini ia benar-benar terlihat gelisah, beberapa kali ia menoleh ke arah Qiyas yang sudah terlelap itu, ingin rasanya ia membangunkan Qiyas namun disisi lain ia juga tak cukup berani untuk hal itu.
"Duuuh...kenapa sih, di jam-jam begini aku pengen pipis" lirihnya.
Merasa sudah tak tahan, Salwa pun mulai terperanjat lalu buru-buru menuju ke arah pintu penyeberangan seraya menoleh ke segala sisi mencari-cari keberadaan toilet, tak lama dari itu seorang pramugari yang kebetulan melintas dan mendapati Salwa dengan ekspresi bingungnya lantas pramugari tersebut langsung mengajukan pertanyaan pada Salwa.
"Hai Mam? you need help?" (Hai, ibu? apakah anda butuh bantuan?" tanya pramugari tersebut.
"Hah? Umm...ya...yes..." sepertinya hari ini benar-benar double kill untuk Salwa, belum lagi ia menahan kencingnya kini sudah dihadapkan lagi dengan obrolan rumit yang dia sendiri tak mengerti dengan bahasa inggris yang dilontarkan pramugari tersebut.
"Ok, what can I do for you mam?" (Ok, apa yang bisa saya bantu bu?)
"Hah? Mmmm...."
"Haduuuh dia ngomong apa sih!" Salwa melirih dengan muka yang sangat cemas.
Atas percakapan ke duanya, sontak Qiyas terbangun dan samar-samar ia menyaksikan obrolan dua wanita itu, dan menyadari kalo yang ada di depan sana ternyata Salwa, sontak ia terbangun lalu bergegas menghampiri Salwa.
"Ahm, Execuse me?" (Ahm...permisi?) Qiyas memotong obrolan mereka.
"Yes sir?" (Iya pak?)
"She's my wife" (Dia isteri saya) dengan cepat Salwa berbisik pada Qiyas.
"Aku mau ke kamar mandi mas...bilangin ke dia"
"Ow, ok...I was see her like she look something or she need something I dont know, thats why I come here to asking her" (Ow, ok...sebelumnya saya melihat dia seperti sedang mencari-cari sesuatu, itulah mengapa saya datang dan menanyakan langsung padanya)
"Thankyou before, but it's ok she just need to go inside" (Terimakasih sebelumnya, tapi dia hanya ingin ke toilet) sambung Qiyas sambil menunjuk pintu kamar kecil.
"Ow, ok..." setelah mendapatkan jawaban pramugari itupun langsung meninggalkan keduanya.
"Huufftttt...aku kan udah bilang, kalo kamu gak tau, nanya ke aku..." tutur Qiyas sedikit kesal.
"Maaf mas, aku cuman gak enak aja mau bangunin mas..." tak ingin memperpanjang debat, Qiyas segera menunjukan toiletnya.
"Itu toiletnya..."
"Amm...ini gimana cara bukanya ya Mas?" Qiyas mencoba melapangkan dadanya seraya membukakan pintu tersebut untuknya, saat sudah berada di dalampun Salwa masih saja memanggil-manggil nama Qiyas.
"Mas?"
"Hmmm...?"
__ADS_1
"Mas tunggu disitu ya? jangan pergi ya? takutnya nanti ada yang masuk" meski tak suka, namun Qiyas hanya bisa menuruti saja kemauan isterinya tersebut.