Quality Love

Quality Love
Episode 67


__ADS_3

*Pertemuan Ke Dua


Saat Salwa berjalan ke luar,Qiyas sama sekali tak melerainya, ia menganggap setiap perdebatan yang terjadi barusan, ialah titik kesalahannya ada pada Salwa, dari kejauhan Qiyas masih saja menatap Salwa dengan wajah yang berkalut namun kadang-kadang egonya mulai berbisik lagi "Itu bukan salahmu, biarkan dia pergi" hingga Qiyaspun menuruti bisikan itu, dan Salwa sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.


Dengan menggenggam Jacket cokelat muda ditangannya, Qiyas kemudian berjalan ke arah sepatu boots, ia lalu memilih sepasang sepatu yang menurutnya paling bagus, setelah itu juga ia mengambil beberapa shall, dan juga penutup telinga, saat ia akan mengambil penutup telinga, tiba-tiba ia kebingungan akankah Salwa suka dengan penutup telinga yang diambilnya itu, untuk lebih meyakinkan Qiyas segera meminta saran pada seorang penjaga toko yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ada yang bisa di bantu mas?" tanya penjaga toko.


"Ahm...menurut mbak mana yang bagus, ini atau yang ini?" sahut Qiyas seraya menunjukkan dua buah penutup telinga yang ada di tangannya.


"Maaf sebelumnya, kira-kira mas akan membelikan untuk siapa? ibu, kakak, isteri atau pac..." belum selesai pelayan toko itu berucap tiba-tiba Qiyas menindih dengan cepat.


"Isteri"


"Ouw untuk isteri, kalau untuk isteri sih sebaiknya yang itu mas" ia menunjuk penutup telinga yang ada di tangan kanan Qiyas.


"Soalnya yang itu warnanya soft dan gak terlalu mencolok juga motifnya" tambahnya.


Qiyas yang setuju dengan saran tersebut, pun segera bergegas ke kasir untuk membayar semua barang belanjaannya.


"Pacarnya mana pak?" tanya seorang wanita yang berjaga di kasir, sembari menghitung satu-satu barang belanjaan Qiyas, sebaliknya Qiyas sama sekali tak menggubris pertanyaan itu.


"Yang tadi itu pacar baru ya pak? cantik yah.." lagi-lagi Qiyas hanya fokus dengan handphonenya.


"Bapak kan sudah tiga tahun menjadi customer setia kami, ada sedikit kabar bahagia, kami mau berikan hadiah itupun kalau bapak tidak keberatan, kira-kira bisa gak kalau pacar bapak kami ajak kerja sama dengan kontrak minimal setahun buat promosiin barang-barang kami, mengenai budget bisa kami bicarakan" Qiyas yang mulai berkabung kalut langsung menjawab omongan kasir itu dengan suara tegas.


"Dia bukan publik figure, dia juga gak punya sosial media, bisa gak di hitung cepat belanjaan saya?"


"Baik pak, jadi total belanjaan bapak semuanya 205 juta rupiah" sesegera mungkin Qiyas menyedorkan kartu debitnya, setelah urusan bayar membayar selesai iapun langsung bergegas dari situ, namun saat di depan pintu utama toko, tak sengaja ia melihat Salwa yang tengah berbincang dengan seorang pria, kelihatannya perbincangan mereka cukup serius, saat itu juga Qiyas tertegun seraya memandangi ke duanya.


"Kamu gak ingat sama aku?" tanya pria itu, namun Salwa masih merasa asing dengan wajahnya, ia hanya bisa mengernyitkan alis seraya berpikir siapa pria yang tengah menyapanya ini.


"Kamu Salwa kan?" sekali lagi pria itu mencoba meyakinkan dirinya kalau ia tidak mungkin salah menyapa.


"I..iya..."


"Ini aku Zeyn, sahabatnya Kiran dan Qiyas, waktu itu pertama kali kita bertemu di bandara, kamu ingat gak?" Salwa menggaruk pelan kepalanya, namun tidak lama dari itu, ia mulai mengingat moment yang baru saja di sebutkan Zeyn padanya.

__ADS_1


"Owh mas Zeyn...iya iya aku ingat, uhm mas apa kabarnya?"


"Aku alhamdulillah sehat, Ini kedua kalinya kita bertemu yah, bener-bener gak nyangka kita bisa ketemu disini, dan jujur aku seneng banget aku gak tau harus ngomong apa lagi" Zeyn kelihatan sedikit gugup di hadapan Salwa, pun Salwa turut tersenyum kecil sambil sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah sepatunya, sementara dari kejauhan terlihat Qiyas yang terus menyimak obrolan mereka.


"Ow ya kamu kesini sama siapa?"


"Aku sama...sama...sama temen" Salwa yang bingung mencari alasan hanya bisa menjawab dengan suara terbata-bata.


"Ouw sama Kiran?"


"Bu..bukan...sama...sama Arni" dengan acak Salwa menyebut nama itu, namun tak ada tatapan curiga di mata Zeyn.


"Ouw Arni"


Tidak lama kemudian, terjadi beberapa obrolan ringan dari mereka, dengan selingan tawa yang juga sesekali membalut wajah ke duanya, hingga Qiyas yang melihat kedekatan itu mulai menyuguhkan tatapan tak suka, berselang beberapa waktu Zeyn mulai menanyakan Kiran dan sejak kapan Salwa mulai mengenal Kiran hingga mereka bisa menjalin hubungan persahabatan sampai hari ini.


"Ahm...aku dan Kiran, Uhm..." jelas saja Salwa kebingungan dengan pertanyaan itu, karena skenario itu di ceritakan berdasarkan versi Kiran dan Qiyas yang secara tiba-tiba hanya untuk menutup semuanya, tanpa kompromi dengannya.


"Hai..." namun tiba-tiba terdengar suara Qiyas yang datang menghampiri mereka, dengan lagak yang seakan-akan keberadaan Salwa begitu asing dimatanya.


"Kalau ini Qiyas pacar Kiran, kamu ingat gak sama dia?" Zeyn yang tidak menyadari apa-apa ia mencoba mengenalkan Qiyas pada Salwa, pikirnya mungkin saja Salwa sempat lupa dengan wajah Qiyas, pun salwa hanya bisa mengangguk pelan tanpa melihat wajah Qiyas.


"Lu sendiri aja dateng kesini?" tanya Qiyas pada Zeyn.


"Iya...gua kesini cuman mau jemput mamah, tuh lagi di dalem juga" ia menunjuk toko pakaian yang tadi mereka masuki.


"Ow yah Kiran mana?" Tiba-tiba Qiyas mulai kebingungan akan memberikan jawaban apa, namun dengan cepat Zeyn kembali meralat ucapannya saat melihat beberapa parsel yang saat ini di tenteng Qiyas.


"Ohw iya, gua tau, lu pasti mau ngasih surprise kan ma dia makanya lu kesini sendirian?" Qiyas hanya menampilkan senyum tertekan, setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega atas pertanyaan menghimpit itu, sambil sesekali ia melihat wajah Salwa yang sejak tadi enggan beralih pandangan.


"Ow yah...Salwa boleh aku minta kontak kamu gak?" ucapan santai Zeyn ini sontak membuat wajah Salwa dan Qiyas kompak menatap kaget Zeyn, tidak lama kemudian Salwa melirik ke arah Qiyas, pun Qiyas menatapnya dengan tatapan tak suka, sekilas ia melihat tatapan Zeyn yang penuh harap, namun hati Salwa benar-benar berada di ambang kebimbangan, hingga akhirnya Zeyn kembali meneduhkan suasana.


"Kalau kamu keberatan, gak apa-apa, kamu gak perlu ngasih kontak kamu ke aku" sikapnya yang sangat dewasa ini membuat Salwa cukup terpukau, sampai-sampai ia merasa tak enak hati dengan Zeyn.


"Ak...aku..." belum sempat terucap banyak kata dari Salwa tiba-tiba terdengar suara teriakan.


"Zeyn...." dari kejauhan ibunya menyapa.

__ADS_1


"Eh...mah" sesegera mungkin Zeyn menghampiri ibunya, lalu mengambil beberapa parsel yang ada di tangan bu Denaw, seraya memboyong sang ibu bergabung dengan Salwa dan Qiyas.


"Halo tante" Qiyas segera menyapa.


"Hai nak Qiyas..."


"Assalamu'alaikum tante..." Salwa lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, pun bu denaw yang mendapati perlakuan hangat dari Salwa cukup terkesima dengan attitude perempuan yang cukup asing dimatanya kala itu.


"Waalaikumusalam"


"I..ini siapa?" tanya bu Denaw sangat penasaran.


"Ini Salwa mah...." Zeyn langsung menanggapi pertanyaan ibunya, sontak ekspresi bu Denaw langsung berubah semringah, ia kemudian berjalan selangkah mendekati Salwa.


"Masya allah....cantik sekali kamu sayang, ini..ini Salwa yang sering kamu ceritain ke mamah itu bukan?"


"Iya mah" Zeyn menjawab dengan tampilan wajah yang sedikit malu-malu, rupanya selama ini Zeyn sudah banyak bercerita tentang Salwa pada ibunya.


"Sayang...kamu sudah punya pacar belum?" mendengar pertanyaan bu Denaw barusan, dari samping Qiyas sedikit terkejut, jelas saja ia tahu apa maksud bu Denaw selanjutnya namun ia tak bisa berbuat banyak, selain memasang wajah datar, dengan tatapannya yang sekali-kali menajam ke arah bu Denaw dan juga Salwa.


"Be...belum tante" Pun Salwa terlihat cukup ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan sensitif itu, sambil sesekali ia melihat wajah Qiyas, di matanya saat ini, melihat Qiyas bagaikan melihat papan pengintai yang di hadapannya.


"Ouwh bagus dong kalo gitu, tante bisa minta kontak kamu gak? siapa tau nanti Salwa punya waktu, kan bisa mampir ke rumah, Salwa mau request makanan apa aja pasti tante akan siapin untuk Salwa, kebetulan tante juga suka masak, dulu Qiyas sama Kiran sering kok maen ke rumah"


"Mah..." Lerai Zeyn, melihat ibunya yang begitu cerewet dengan Salwa apa lagi sampai meminta kontaknya, Zeyn merasa sedikit tak enak hati, karena ia tahu Salwa pasti akan keberatan dengan hal itu, karena mungkin ia punya alasan sendiri yang Zeyn hanya bisa memahami tanpa harus tahu apa alasannya namun tiba-tiba Salwa mulai menyebutkan nomor telponnya.


"08121233...itu kontak saya tante" sontak Qiyas menatap jengkel wajah Salwa, Salwa yang mnyadari sikap Qiyas hanya bisa menunduk lama seraya meredam ketakutannya karena ia tau saat ini Qiyas tengah marah padanya.


"Ok sayang, makasih ya sayang" dengan wajah bertumpuh bahagia bu Denaw langsung mencatat nomor tersebut di handphonenya, bahkan ia juga memasukan nomornya dalam daftar favourite kontak, setelah itu ia segera memeluk Salwa seraya berpamitan pada ke duanya.


Namun sebelum mereka pergi, Zeyn sempat melempari Salwa pertanyaan kecil.


"Salwa nanti pulangnya sama siapa? Kalo gak pulang bareng kita aja, nanti aku anter " Begitu perhatiannya Zeyn pada Salwa, sampai-sampai Qiyas mulai terlihat muak dengan semuanya, hampir saja ia akan menyahuti ucapan Zayn, namun dengan cepat bu Denaw menambahkan.


"Iya sayang pulang bareng kita aja" wajahnya cukup excited menyambut Salwa.


"Aham...Gak apa-apa mas, tante, aku pulangnya sama temen, ada kok nanti juga dia nelpon" tuturnya, setelah itu Zeyn dan bu Dellaw berlalu pergi hingga tersisa Salwa dan Qiyas dengan suasana yang begitu canggung mengekang ke duanya.

__ADS_1


__ADS_2