
*Nasi Goreng Mang Apong
Sesegera mungkin Qiyas mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu keluar dari kamar namun sejenak ia menatap sayu pintu kamar tamu, dia tau kalau Salwa saat ini tengah menenangkan diri di dalam sana, namun tak lama ia mematung disitu, ia segera menghampiri bi Lijah.
"Bi...aku mau keluar bentar, ini kunci kamar ya, sekarang Salwa ada di kamar tamu, nanti kalau dia udah bangun tolong kasiin kuncinya"
"Baik tuan"
"Ow ya tolong beliin dia makan ya, nanti kalo mang Apong lewat pesanin aja nasi goreng, Salwa suka banget nasi goreng mang Apong, nanti bibi juga beli aja sekalian" tambahnya lagi seraya menyedorkan uang pada bi Lijah, tak ada kecurigaan apapun yang timbul dari raut wajah bi Lijah, karena ucapan Qiyas seolah membungkus semuanya menjadi baik-baik saja.
"Aam tuan, ini duitnya kebanyakan, nasi gorengkan harganya cuma 15 rebu seporsi"
"Gak apa-apa, sisanya buat bibi aja" sahutnya, setelah itu Qiyaspun bergegas keluar untuk menemui Kiran yang tengah dirawat di rumah sakit.
*****
Di kamar tamu, aku mengurung diri selama 2 jam, di dalam sini aku menangis lirih sepuas-puasnya, seraya menatap pintu kamar yang sejak tadi tak pernah bergetar itu, bodohnya aku kenapa aku masih saja berharap alur dramatis seolah-olah mas Qiyas akan datang lalu mengetuk pintu kamar itu beberapa kali dan berusaha untuk membujukku dengan kalimat yang menggetarkan telinga hingga aku mulai luluh dan keluar dari sini untuk memeluknya, aackh sial...angan yang ingin ku tepis namun tak bisa.
Jujur saja aku mulai lelah dengan tangisan ini, hingga tiba-tiba perutku mulai berdengung hebat di dalam sana, tersadar sejak tadi aku belum juga menuang makanan untuk mengisi perutku, seketika itu akupun mulai berhenti menangis, lalu berjalan tertatih-tatih menuju pintu, dengan sangat hati-hati akupun membuka pintu lalu mengintip suasana di luar, untungnya keadaan tengah berpihak padaku, suasananya sangat sepi seperti apa yang ku harapkan.
Dengan langkah yang mengendap-endap aku berjalan menuju dapur, namun untuk ke dapur tentunya aku harus melewati sebuah lorong yang berpapasan langsung dengan kamar mas Qiyas, meski aku tahu dia sedang tidak ada di dalamnya, namun hal yang tak bisa ku kendali ialah tentu saja hatiku mulai gugup lagi saat melewati kamar yang nampak tertutup rapat itu.
__ADS_1
"Eh...non? Udah bangun?" Tiba-tiba bi Lijah menyapa dari belakang.
"Aaach..." sontak aku bererang jengkel di dalam hati seraya memeram kesal atasnya, kenapa bisa bi Lijah sampai mengetahui keberadaanku disini fikirku spontan.
"Bi...bibi kok belum tidur?" tanyaku sambil terus membelakanginya, jelas saja aku tak berani menampakkan mataku yang sembab ini pada bi Lijah, tidak lama kemudian ku dengar langkah kakinya yang mulai menghampiriku, Ia lalu berdiri tepat di samping kananku, seraya mengambil sesuatu dari sakunya, melihatku yang tak bereaksi apa-apa bi Lijah kembali menyapaku.
"Non?"
"Humm? ada apa?" jawabku yang mungkin saja terdengar gugup olehnya.
"Nih tuan Qiyas nitip kunci kamar tadi" tuturnya seraya menyedorkan kunci itu, dengan cepat akupun mengambil kuncinya.
"Dia kemana?" Tanyaku seraya merapatkan gigi, rasanya aku mulai kesal lagi jika terngiang kejadian tadi.
"Keluar 2 jam, itu namanya bukan keluar bentar bi" bentakku seketika, sontak bi Lijah menatapku bingung, aku yang tiba-tiba tersadar, kenapa bisa rasa jengkel ini ku lampiaskan pada bi Lijah, namun tak berfikir panjang lagi akupun segera berjalan ke dapur, pun bi Lijah terus saja mengikutiku dari belakang.
"Ahm...non?" sapaannya terdengar ragu-ragu.
"Houuft...apa lagi?"
"Di meja ada nasi goreng non, nanti dimakan ya?" tiba-tiba hatiku luluh mendengar ucapannya itu, rasanya bi Lijah sangat tau kalau saat ini aku tengah di landa rasa lapar yang teramat, dengan senang hati akupun menoleh ke arahnya lalu menganggukan kepala.
__ADS_1
Sungguh bersemangatnya aku saat membuka tudung saji sudah terlihat sepiring nasi goreng disitu, dengan sigap ku raih sendok makan yang ada di hadapanku lalu ku icip sesendok nasi goreng itu.
"Uummmht..." aku bererang nikmat saat menyantap nasi goreng ini.
"Tau aja bi, kalo aku lagi pengen nasi goreng"
"Iya tadi bibi beli sama mang Apong, mang Apong juga nanyain non tadi"
"Hmm?" erangku sedikit terkejut.
"Ow jadi ini bibi beli? kirain bibi yang masak, tapi makasih loh bi sumpah ini aku suka banget nasi goreng buatan mang Apong, berarti aku berutang 15.000 ya sama bibi" cetuhku sedikit heboh, sambil ku lanjutkan suapanku.
"Eh..eh bukan utang non, itu bibi belinya pake duit tuan Qiyas"
"Hmm....?"
"Iya, tadi sebenarnya bibi mau masak, cuma kata tuan Qiyas gak usah masak, beli aja nasi goreng sama mang Apong, katanya non suka banget nasi gorengnya, ya udah bibi di kasih duit sama tuan"
"Ough gitu..." tuturku pelan, berasa tak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh bi Lijah.
"Non? tidurnya pasti pulas banget yah?" tiba-tiba bi Lijah sedikit mengejutkanku.
__ADS_1
"Hmm? masa sih?"
"Iya, tuh matanya ampe merah begitu, ya udah non makan yah, bibi mau ke kamar dulu bibi udah ngantuk" tuturnya sembari berlalu, untungnya bi Lijah sedikit lugu hingga ia tak menyadari kalau sebelum ini aku tengah menangis hebat tadi di kamar tamu.