Quality Love

Quality Love
Episode 40


__ADS_3

*Kekecewaan Yang Beruntun


"Ikut aku!" sekali lagi ia memaksaku dengan tangannya yang terus mengunci pergelangan tanganku, dalam benak ku coba berfikir, tumben-tumbennya ia sebermohon ini padaku, entah turunan jin apalagi yang tengah memasuki tubuhnya kali ini.


"Gak, lepasin tangan aku sekarang!" sahutanku tak menimbulkan respon apa-apa darinya, berasa makin naik pitam saja aku dibuatnya.


"Lepasin..lepas...lepas...lepas!" terus saja aku menggerutu sembari menepuk-nepuk keras punggung tangannya yang tengah melingkari pergelangan tanganku saat ini.


"Aauuh!" teriaknya yang mulai kesakitan, ia pun melepaskan tanganku sembari terus saja ia menghempas-hempaskan tangannya yang kepanasan itu, sambil sesekali ia meniup pelan punggung tangannya, sekilas kulihat punggung tangannya yang sudah berubah warna menjadi merah jambu akibat ulahku itu, namun bukannya kasihan aku malah merasa puas karena setidaknya sudah ku lampiaskan sedikit kekesalanku padanya.


Ku tarik nafasku yang mulai tak beraturan ini, sambil berbalik arah menuju kamar, namun dengan cepat ia kembali meraih tanganku, lalu menarik paksa tubuhku yang hampir tak bertenaga ini.


"Hei kamu apa-apaan sih, lepasin tangan aku, aku bilang lepasin tangan aku, lepasin"


"Gak!" terus saja ia menarik tubuhku keluar rumah, tepat di depan mobilnya yang masih terpakir di halaman itu, ia mulai bersuara lagi padaku.


"Malam ini kamu kena sanksi akibat kelalaianmu dengan syarat yang ke dua" tuturnya tanpa melihat wajahku.


"Lah..lalai bagaimana? didalem kulkas kan sudah ku sediakan stok cake untuk kamu"


"Kamu pikir aku ini kucing? yang hanya mau makan cake doang?" sahutnya yang semakin mengundang kekesalanku.


"Biasanya juga kalau malam kamu cuman ngemil kan? beberapa kali aku nyiapin makan malem untuk kamu, tapi tetep aja kamu gak pernah nyentuh makanan itu!"


"Pokoknya gak ada alasan apapun, jelas-jelas kamu sudah lalai dengan syarat ke dua, jadi kamu harus siap menerima sanksi dari aku" tetap saja ia kekeh pada pendiriannya.


"Huuuft..ya allah!" aku yang bergumam kesal dihadapannya, sama sekali tak berhasil mengetuk sedikit saja hati nuraninya, seketika itu mas Qiyas pun membukakan pintu mobil lalu menyuruhku untuk masuk, namun tetap saja aku masih terpaku menahan emosiku yang tak kunjung reda ini.

__ADS_1


"Ayo masuk!" pintanya sekali lagi, sekilas kulihat wajahnya dengan tatapan sinis, tak ada kata bantahan lagi akupun segera masuk ke dalam mobil, mas Qiyaspun segera menyusul ke dalem sambil terus berceloteh ringan padaku.


"Aku gak minta banyak kok simple aja, cuman nemenin aku makan, bisa kan?" pertanyaannya ini terdengar seperti sya'ir ledekan yang semakin mematik kejengkelanku saja, saking kesalnya aku, tak ku gubris apa-apa atas pertanyaannya itu, segera saja ku alihkan pandanganku ke sisi jendela, ku tatap dengan sayu pemandangan bangunan di sekitar jalan yang terus berganti senada dengan pacuan mobil mas Qiyas, setidaknya tepi kota lebih sedikit menenangkan dibanding harus menatap wajah tampan pria kulkas di sampingku ini, tanpa perdebatan lagi kami pun menikmati perjalanan santai ini anggapku, hingga ia mulai menepihkan mobilnya tepat di samping warung makan yang letaknya hanya beberapa meter dari jalan raya.


Dengan perasaan yang masih berkabung kesal, ku ikuti lagi langkahnya menuju warung itu, ia kemudian memilih sepasang kursi yang ada di pojokkan sana, saat kami hendak melintasi beberapa pelanggan yang tengah menikmati sajiannya tiba-tiba ku dengar beberapa pelanggan wanita yang mulai merayu mas Qiyas.


"Ya allah..." teriak salah satu wanita yang mulai histeris.


"Hai mas ganteng, boleh minta nama Ignya gak?" teriak salah satunya lagi, seketika ku lihat wajah mas Qiyas yang tak bersekpresi apa-apa atas rayuan itu, yah sejak dulu mas Qiyas memang tidak terlalu menanggapi rayuan-rayuan receh dari orang-orang yang baginya mungkin hanya sebatas aah sudahlah mungkin aku juga termasuk salah satu orang yang di anggapnya hanya "sebatas" itu.


Setelah kami sampai di meja pojokkan ia kemudian mulai membaca lembaran menu yang hanya tercetak sederhana di selembar kertas HVS putih.


"Kamu mau mesen apa?"


"Gak!" jawabku sangat jengkel.


"Kenapa?" ia bertanya dengan ekspresi lugu yang dibuat-buatnya.


"Gak aku udah kenyang"


"Kenyang? emang kamu makan apa?"


"Makan hati!" sahutku dengan rapatan gigi yang semakin menunjukkan betapa ku coba meredam emosi ini.


"Mau pesen apa mas? mbak?" tanya bapak penjual baso yang seketika itu menghampiri kami.


"Ahm..saya gak mesen pak, dia aja yang mesen" ujarku sembari menunjuk mas Qiyas.

__ADS_1


"Um...mie ceker aja ya pak, satu"


"Baik mas, pedas gak?"


"Sedang aja pak!"


"Baik mas"


Si bapak penjual baso itu kemudian kembali untuk menyiapkan pesanan mas Qiyas, meski terjadi jedah waktu sesaat namun sama sekali tak mengundang komunikasi diantara aku dan mas Qiyas, ia yang mulai fokus dengan Hpnya sementara aku hanya melongo melihat pelanggan di sekelilingku, entahlah aku sampai bingung harus berbuat apa dengan kondisi fikiranku yang carut-marut seperti ini, selang beberapa waktu kini terlihat si bapak tadi mulai mengantarkan semangkuk mie ceker pesanan mas Qiyas.


"Ini mas!" ucap bapak itu, Pun mas Qiyas mulai menikmati mie ceker itu.


"Hyuurrr!" sesendok demi sesendok terdengar suara mas Qiyas ketika menyedot kuah mie ceker itu, jujur saja aku mulai ngiler melihatnya tapi aku rada gengsi untuk mengatakan pada mas Qiyas kalau saat ini lambungku tengah berteriak "Lapar" didalam sana, takut ketahuan oleh mas Qiyas dengan pelan-pelan ku telan ludahku karna jika ia sampai tau, maka rasa malu yang aku dapatkan nanti, bisa menyebar sampai ke ubun-ubunku.


Ku coba lagi alihkan pikiranku dengan memainkan game yang ada di Hp baruku, sebenarnya sih aku rada malu untuk menunjukkan Hp pemberian Arief ini dihadapan mas Qiyas, namun tak ada lagi cara lain yang bisa ku lakukan untuk mengalihkan ileranku saat ini selain menatap layar Handhphone baru ini.


Tiba-tiba ada seorang pengemis ibu-ibu dengan membawa anaknya yang berumur sekitar 7 tahunan, terlihat baju mereka yang sangat lusuh dengan penampilan ucek-ucekan datang menghampiriku sembari menengadahkan ke dua telapak tangannya dihadapanku, aku yang sangat iba melihat ibu itu kemudian menyedorkan selembar rupiahku yang tidak perlu kusebutkan nominalnya berapa, yang jelasnya cukuplah untuk mengganjal perut mereka selama 2 hari.


Berpindah dari hadapanku, ibu tadi kemudian melakukan hal yang sama pada mas Qiyas, namun ia tak memberinya apa-apa, ia malah bersuara padaku.


"Hei boleh minjam Hp kamu?"


"Untuk apa? Hp kamu kan ada"


"Minjam dulu, bentar doang kok" aku yang begitu polosnya tanpa berpikir semenit lagi, segera saja ku sedorkan Hp itu padanya.


"Nih buat ibu" dengan ramahnya ia kemudian memberikan handphoneku pada ibu itu, aku hanya melongo dengan mataku yang mulai berkaca-kaca, disisi lain ku coba tahan sakit hati ini karena aku masih memikirkan perasaan ibu itu, sesaat setelah ia menjauh dari pandanganku saat itu pula aku bersuara sejengkel-jengkelnya pada mas Qiyas.

__ADS_1


"Kamu udah gila yah?" ucapku dengan tiba-tiba air mataku menitih begitu saja, aku yang bener-bener tak tau lagi harus berkata apa atas sikap mas Qiyas yang sangat keterlaluan itu, bahkan bukan hanya sekali ini adalah kali ke dua ia tega melakukan hal yang baginya mungkin hanya sekedar lelucon tapi tidak bagi aku yang masih menilai segala sesuatunya berdasarkan harga, rasanya kali ini ia berhasil merampas seluruh oksigen di dalam paru-paruku.


Antara sadar dan tidak sadar, pikiranku saat ini bener-bener kosong, berasa otakku mulai meradang seluruhnya, dengan separoh tenaga ku coba terperanjat lalu berjalan seorang diri untuk keluar dari warung makan ini, mas Qiyas yang melihatku berlalu begitu saja, ia kemudian mengakhiri kunyahannya lalu menyedrokan selembaran uang pada bapak penjual mie baso itu tanpa menunggu kembaliannya lagi ia kemudian berjalan terburu-buru mengikutiku dari belakang.


__ADS_2