
*Dirahasiakan Tapi Bukan Rahasia
"Duuz...." perlahan-lahan mobil Qiyas mulai menepih, tepat didepan sana sudah terlihat istana kecil mereka dengan suasana yang begitu sepi, tampak dari jendela rumah beberapa ruangan sudah dimatikan bolam lampunya oleh bi Lijah, cukup lama setelah Qiyas menyetop mobil, keduanya masih saja duduk dan terdiam disitu tanpa bereaksi untuk turun dari mobil.
Melihat wanita di sebelahnya masih saja terdiam, Qiyas lalu melirik ke arah Salwa beberapa kali seraya menggaruk pelan alis tebalnya itu, mungkin saja ia ingin mengatakan sesuatu namun kelihatannya dia juga sangat canggung terhadap Salwa.
Kali ini mulutnya mulai terbuka ingin mengatakan sesuatu namun tiba-tiba ia urungkan lagi, beberapa kali ia mengumpulkan keberanian namun tetap saja ia tak bisa berkata apa-apa, hingga sesaat setelahnya Qiyas pun mulai memberanikan diri membuka percakapan.
"Kamu masih marah ya sama aku?" saat Salwa menoleh ke arahnya, dengan cepat Qiyas segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebaliknya iapun tak mendapatkan jawaban apa-apa dari Salwa.
"Kamu mau tidur di mobil semalaman?" ucapan to the pointnya itu, lagi-lagi tak bersambut jawaban dari Salwa.
Tak tahan menghadapi bungkaman Salwa, Qiyas pun memutuskan untuk segera turun dari mobil, dengan acuh Qiyas meninggalkan Salwa disitu, kelihatannya pria yang sering di sapa "Es batu" ini tak begitu peduli atas Salwa tengah yang duduk seorang diri di dalam mobil, pikirnya dia bukan lagi anak kecil yang harus di rayu-rayu dan di papah untuk masuk kedalam rumah.
Lambat laun Qiyas mulai terlihat jauh dari pandangannya, Salwa kemudian menarik napas lalu mengambil tas yang ia taroh di kursi belakang, sejenak ia mencari-cari handphonenya lalu mendapati sebuah pesan dari Arief.
"Wa, udah sampe di rumah?" tulisnya dengan perasan yang cukup khawatir, saat itu juga Salwa langsung mereply pesan Arief dengan mengetik kata "Iya"
Di saat yang sama, Qiyas sudah berada tepat di depan pintu, perlahan ia mengambil kunci rumah dari saku celananya lalu menusuk kunci tersebut pada lubang kunci yang ada dibawah gagang pintu.
"Prak..." pintu terbuka, Qiyas mulai menunduk untuk melepaskan tali sepatunya, namun tak sengaja ia sedikit menoleh ke arah mobil, siapa sangka ekspresi wajah datar itu langsung berubah menjadi panik saat melihat dari kejauhan wajah Salwa disinari oleh cahaya handphone kelihatannya ia tengah berbalas pesan dengan seseorang, yang dicurigainya ialah Umi, sontak Qiyas mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.
Baru saja Salwa akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ia kembali tertegun saat melihat Qiyas yang terburu-buru berjalan ke arahnya, ekspresi wajah itu membuat Salwa beberapa kali menelan ludah karena ketakutan, sejenak matanya terbelalak dan hanya bisa bergeming dari tempat duduknya, Salwa mulai bersiap pasang badan kalau-kalau Qiyas akan menumpahkan amarahnya kali ini, dari luar Qiyas lalu membuka pintu mobil hingga ke dua bahu Salwa sedikit terangkat dibuatnya.
"Turunlah...emang kamu pikir kamu itu tuan puteri?" tegasnya seraya merapatkan gigi.
3 detik kemudian, Salwa sudah bisa menghembuskan nafas lega meski dadanya masih membengkak.
"Hmmm..gak usah repot-repot aku bisa buka sendiri kok"
__ADS_1
Saat Salwa akan bersiap-siap untuk turun, namun tiba-tiba Qiyas menopang telapak tangannya di pintu mobil seraya menghalangi jalan Salwa.
"Lebih baik repot membukakan pintu mobil daripada harus repot ke rumah Umi selarut ini"
Rupanya sejak tadi Qiyas sangat ketakutan kalau-kalau Salwa akan berniat lagi melarikan diri ke rumah Umi, mengerti maksud ucapan suaminya itu, dengan cepat Salwa menepis tangan Qiyas lalu buru-buru turun dari mobil, tanpa berbalik badan lagi Salwa terus berjalan masuk ke dalam rumah.
*****
Usai sholat subuh tanpa melepas mukenahnya lagi, Salwa segera mengambil script lalu bergegas keluar dari kamar, ia berjalan melewati Qiyas yang kala itu tengah menaruh kopiahnya di atas meja, Qiyas hanya terdiam seolah tak peduli namun arah matanya diam-diam mengikuti langkah Salwa.
Setelah Salwa menghilang dari pandangannya Qiyas masih saja terdiam seraya menyoroti daun pintu yang baru saja di tutup Salwa, namun pikirannya mulai melayang seolah ia turut penasaran dengan apa yang akan di lakukan Salwa yang terlihat sangat terburu-buru itu.
Iapun turut keluar dari kamar, berjalan ke ruang tamu, menatap ke segala sudut namun tidak ada Salwa di sana, Qiyas kembali berjalan ke arah dapur, 3 menit ia menegap namun tetap saja ia tak menemukan apa-apa disitu selain suasana dapur yang masih belum tersentuh oleh telapak tangan bi Lijah, saat ia akan bergegas tiba-tiba ia berbalik lalu sedikit menoleh ke kamar mandi namun lagi-lagi ia hanya menemukan tumpukan pakaian kotor saja disitu, hingga Qiyas pun mulai terpikirkan sebuah ruangan yang belum ia datangi.
Mengendap-endap Qiyas berjalan mendekati kamar tamu, tampak pintunya tak tertutup rapat hingga Qiyas bisa mengintip suasana di dalam lewat secelah pintu, benar saja ia melihat Salwa yang duduk sambil menopang dagu di meja rias seraya tengah mempraktekan sesuatu dengan suara lirih.
"Iih....tuh kan salah lagi..."
Tanpa disadari, posisi Qiyas malah semakin maju mendekati daun pintu, tampaknya Qiyas di buat makin penasaran olehnya, jika mengintip dari luar hanya akan membuat kaki pegal-pegal saja, maka option yang dipilih Qiyas yakni memutuskan untuk masuk ke dalam lalu menyaksikan secara clear apa yang tengah diparodikan istrinya saat ini.
"Kreeek...." Qiyas mendorong pintu dengan sangat hati-hati, mendengar gesekan pintu tersebut, tentu saja Salwa langsung menoleh ke arahnya hingga tatapan ke duanya tepat bertemu, sejenak mereka sama-sama terpaku mungkin sinyal-sinyal itu mulai menyambung ke benak mereka lalu menimbulkan tanda tanya yang tak terucap "Kamu sedang apa?" kira-kira seperti itu kompaknya.
Melihat Qiyas yang datang menghampiri, Salwa sedikit terkejut, lalu dengan terburu-buru ia menyembunyikan script itu di tengah-tengah tumpukan buku yang ada di atas meja, seraya matanya terus memerhatikan Qiyas yang saat ini mulai mengatur posisi duduknya di atas tempat tidur, tepat dimana Salwa duduk di hadapannya.
"Ahm...ke...kenapa?" Salwa bertanya dengan ragu-ragu.
"Gak..." kelihatannya Salwa mulai kehabisan kata, tetapi tidak dengan Qiyas
"Kamu ngapain disini?"
__ADS_1
"Aku...ya, duduk-duduk" kilahnya sedikit berakting.
"Itu apa?" Qiyas menunjuk lipatan HVS yang masi terlihat olehnya di sela lembaran buku, Sebaliknya Salwa sangat terkejut melihat jari telunjuk Qiyas yang mengarah tepat ke tumpukan buku-buku tersebut.
"Haah?"
"Itu kertas putih yang kamu sembunyiin dari aku" merasa rahasianya sudah di ketahui Qiyas, mau tidak mau Salwa terpaksa harus mengatakan yang sebenarnya.
"Ini...ini script..." Salwa lalu mengeluarkan Script itu.
"Script?" Salwa mengangguk.
"Buat apa?" Lanjutnya.
"Buat iklan cake Umi..."
"Coba sini aku liat scriptnya" Salwa segera memberikan script itu pada Qiyas, beberapa menit Qiyas membacanya dari awal hingga akhir dari script tersebut, setelah itu ia berikan kembali pada Salwa.
"Jadi kamu yang bakal jadi modelnya?"
"Iya..." sejenak Qiyas terdiam seraya menatap isterinya.
"Kamu kok gak bilang-bilang sih sama aku?" dengan cepat Salwa menatap kaget suaminya, namun ia masih menyimak apa yang akan dikatakan Qiyas selanjutnya.
"Emang uang bulanan yang aku transfer ke kamu masih kurang?"
"Gak, malah lebih, ini bukan soal uang...aku cuman mau bantuin Umi, udah itu aja" Salwa menjelaskan dengan lembut.
"Setidaknya kamu izinlah sama aku, aku ini..." merasa hampir keceplosan Qiyas langsung menghentikan ucapannya, Salwa yang begitu polos tak mampu memaknai kalimat Qiyas yang tak berlanjut itu.
__ADS_1
"Aku waktu itu udah mau izin sama kamu, tapi kamu gak pernah ngasih aku kesempatan buat ngomong, kamu selalu bilang terserah aku dan kamu gak peduli dengan apa yang aku lakuin"
"Lagian kan kita sudah sama-sama sepakat, di syarat perceraian kita yang kelima, kita tak boleh ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing kan?" ucapan Salwa barusan terdengar sangat polos namun bagaikan tamparan keras berkali-kali di pipi Qiyas, hingga ia membungkam sangat lama, tak ingin berdebat lagi, Qiyas pun bergegas keluar kamar.