Quality Love

Quality Love
Episode 32


__ADS_3

*Kursus Masak


"Mamah? Kak Bela?" aku sedikit terkejut saat membuka pintu dan medapati dua wanita cantik nan glamour yang juga sudah berstatus sebagai ibu mertua dan kakak iparku ini hendak bertamu ke rumah tanpa berkabar terlebih dahulu, tak berlama-lama lagi akupun menyilahkan mereka untuk masuk.


"A..ayo masuk mah, kak" ucapku sedikit kaku.


Kusilahkan mereka berjalan lebih dulu, lalu ku ikuti mereka dari belakang dengan sedikit menjaga sikap dan ucapanku, kalau-kalau aku kepeleset kata atau sikap kan bisa panjang urusannya, ku coba memberanikan diri untuk bersikap lebih akrab dengan mereka.


"Mah..kak, kalian kesini kok gak bilang-bilang sih, setidaknya yah Salwa kan bisa nyiapin makanan spesial buat mamah dan kak Bela"


"Gak apa-apa, mamah sama Bela jauh-jauh dateng kesini bukan mau minta makan sama kamu, tapi mau ngajarin kamu masak beberapa menu makanan yang paling disukai Nuge" ucapan mamah terdengar pelan namun cukup menusuk dihatiku.


"Jadi gini Salwa, dulu kan aku pernah kanji sama kamu, mau ngasih kursus masak kan tentang beberapa menu kesukaan Nuge, nah kebetulan hari ini aku free makanya aku dan mamah menyempatkan waktu kesini, ow ya semua bahan-bahannya juga udah kak Bela beli kok, kita tinggal masak aja" tutur kak Bela meluruskan jawaban mamah yang mungkin menurutnya juga terdengar sedikit berasap ditelinga.


"Rumah kok sepi kek begini, Nuge mana?" lanjutnya.


"Aam! tadi...tadi mas Qiyas keluar mah" jawabku sedikit ragu-ragu.


"Keluar kemana?" tanya mertuaku yang mulai terdengar sinis.


"Aam...gak tau mah soalnya tadi mas Qiyas keluar gak bilang-bil....." seketika itu dengan nada suara agak tinggi ia menyambar ucapanku.

__ADS_1


"Loh, suami sendiri keluar kok kamu gak tau dia pergi kemana, isteri macam apa kamu ini?"


"Mah, kita kesini kan bukan cari Nuge!" pun kak Bela turut bersuara.


"Ya tidak Bela, setidaknya dia tuh tau lah kemana suaminya pergi, ternyata benar feeling mamah, dari awal tuh papah kamu terlalu percaya diri untuk menjodohkan Nuge dengan perempuan ini, katanya sih dia bisa ngerubah kebiasaan buruk Nuge lah, bisa ini lah, bisa itu lah, nyatanya apa? Gak ada yang berubahkan sama sekali dari Nuge, dia tetap aja masih keluyuran, kemana lagi kalau bukan ke rumah perempuan tua itu!"


Kelopak mataku terasa perih lagi saat mendengar omelan ibu mertuaku itu, lagi-lagi diahadapan semua orang akulah wadah yang paling layak untuk menumpahkan segala emosi dan amarah mereka atas kesalahan mas Qiyas, bahkan sedikitpun mereka sulit untuk mengerti kalau aku ini juga salah satu makhluk yang memiliki hati dan perasaan, aku juga punya air mata yang jika mungkin aku bisa melihatnya, kemungkinan stocknya hanya tersisa beberapa mili lagi, saking seringnya kugunakan untuk menetralisir rasa kecewa dan sakit hati yang hampir setiap harinya menjangkiti tubuhku.


"Mah udahlah, kita kesini kan mau ngasih kursus masak buat Salwa kok pembahasannya jadi panjang lebar kek begini sih, Salwa ayo kita ke dapur, gak usah dengerin mamah tu" ternyata kak Bela tidak seperti apa yang aku fikirkan, setidaknya dia terlihat sedikit ramah dari kak Sheila dan juga ibu mertuaku.


Ia kemudian menarik tanganku, lalu memboyongku kedapur, aku kemudian berjalan menuju kitchen set sementara di meja makan kak Bela mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ia bawa didalam parsel jumbo untuk menu kursus yang akan ia praktekan denganku, melihatku yang terus mematung di depan kitchen set ia lalu berjalan menghampiriku.


"I..iya kak" segera saja ku ambil wadah itu dan bergegas menunuju wastafel.


"Gak usah di ambil hati ya ucapan mamah tadi" ucapnya pelan, aku hanya mengangguk mendengar ucapannya itu, diantara keluarga konglomerat ini, setidaknya allah masih menyisakan dua orang yang masih sedikit peduli dengan posisiku saat aku mulai tersudutkan di tengah-tengah mereka, siapa lagi kalau bukan ayah mertuaku dan juga kakak iparku yang saat ini tengah berdiri di sampingku.


"Mamah tuh emang kek gitu orangnya, terlalu jujur dengan perasaanya, sampai-sampai mamah lupa kalau ia sedang menyakiti menantunya, terkadang mamah juga tuh gak sadar kalau ucapan dan tindakannya itu sudah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya" ungkapannya kali ini mematik kata tanya dibenakku.


"Maksud kak Bela?"


"Yah...aku dan Sheila gagal dalam berumah tangga itu karena ulah mamah, mamah turut mencampuri urusan rumah tangga kita, sampai-sampai suami aku dan juga suami kak Sheila lebih memilih untuk menceraikan kita karena gak sanggup dengan sikap mamah" aku hanya melongo mendengar kisah pahit rumah tangga kak Sheila dan kak Bela sekilas aku juga sempat membayangkan nasib rumah tanggaku kedepannya akan seperti apa.

__ADS_1


"Jadi kak Bela harap, Salwa harus bisa lebih sabar menghadapi sikap mamah, kalau bisa jangan ada kata perceraian dalam pernikahan kalian, buktikan ke mamah kalau kamu itu tidak seperti apa yang mamah fikirkan" lanjutnya lagi.


Saat ia menyinggung tentang pernikahanku dengan mas Qiyas, sumpah saat itu juga mataku mulai berkaca-kaca lagi, nayatanya kata perceraian itu sudah terlayangkan dengan 5 syarat yang sudah kita sepakati bersama dalam keadaan sadar, segera saja kualihkan pandanganku kesegala arah, seolah-olah hendak mencari sesuatu agar kak Bela tak memperhatikan ke dua mataku yang mulai berkaca-kaca ini.


"Kok jatohnya jadi sesi curhat ya, hehe ya udah Salwa tolong siapkan beberapa sosis sapi ya lalu dipotong-potongin" cetuh kak Bela mengalihkan topik pembicaraan.


"Hehe syiap kak, ow ya hari ini kita masak menu apa kak?" ucapku bersuara girang tanpa berani melihat wajahnya, sambil terus ku kedipkan kedua bola mataku.


"Hari ini kita akan memasak dua menu yang paling disukai Nuge yaitu stoemp dan boudin blanch, pernah dengar nama makanan itu gak? Banyak kok di restaurant indonesia yang menyediakan makanan ini"


"Hehe boro-boro kak, aku mah jarang makan di restaurant, seringnya sih makan dipinggiran hehe" jawabanku terdengar amat jujur ditelinganya, ia kemudian memandangku dengan senyuman kecil.


"Jadi...ini tuh makanan khas Belgia, Nuge suka banget nih dengan makanan ini"


*****


"Masukin bumbunya sekarang, itu kentangnya jangan lupa di geprek yah" ucap kak Bela, sesekali memberi arahan padaku, dengan tekun ku ikuti step by step setiap arahan kak Bela terkait resep membuat makanan khas Belgia ini.


Hampir dua jam kami berkreasi di dapur, akhirnya boudin blanch dan stoemp ala Salwa sudah siap dihidangkan, orang pertama yang mencicipinya ialah mamah, aku mulai deg-degkan menunggu komentarnya, entah komentar jenis apa lagi yang akan ia lontarkan padaku setelah ini.


"Huum...Enak! Mamah suka...mamah suka" ucapnya dengan senyum semringah sungguh komentar mamah diluar dugaanku, sontak akupun mengekspreikan kegiranganku dengan memeluk erat kak Bela, begitupun kak Bela, ia juga membalas pelukanku, sementara mamah masih terus melanjutkan makannya dengan berpindah tempat ke ruang TV, rasanya tak lekang dari pandangan begitu bahagianya mamah saat menikmati sajian itu.

__ADS_1


__ADS_2