Quality Love

Quality Love
Episode 24


__ADS_3

*Aku Bukan Prioritas


Masih pagi-pagi perutku mulai tidak bersahabat lagi, dengan langkah yang tergopoh-gopoh aku menunju toilet yang ada di dapur, disana sudah terlihat bi lijah yang tengah menyiapkan sarapan pagi


"Pagi non!"


"Pagi!" balasku terburu-buru sambil ku terus kan langkahku menuju toilet.


Sekitar 10 menit-an aku terdiam didalam toilet untuk menyelesaikan masalah perutku yang sejak tadi malam sampai pagi ini masih saja terasa mules. Sesaat setelahnya akupun beranjak menghampiri bi lijah.


"Sarapan dulu non!" pungkasnya sangat ramah, namun saat ku amati meja makan ia hanya menyiapkan sarapan pagi untuk porsi satu orang saja.


"Loh, buat mas Qiyas mana?"


"Tuan kan udah berangkat tadi"


"Haa! berangkat kemana?" aku sangat terkejut mendengar jawaban bi lijah, serasa nafsu makanku mulai hilang seketika.


"Hari ini kan jadwal fly tuan Qiyas, emangnya non Salwa gak tau?" tampilan wajah kejutnya itu, semakin membuatku merasa kesal saja.


"Ya allah bi, bibi kok gak bilang-bilang sih kalau hari ini jadwal fly mas Qiyas!"


"Maaf non, kirain non udah tau"


"Haduh! emang berangkatnya jam berapa tadi?"


"Ba'da subuh non"


"Hah! sepagi itu?" aku hanya bisa menghela nafas secara perlahan dengan tatapanku yang mulai kosong, entah kesalahan fatal apa yang sudah ku buat sampai ia harus bersikap seolah-olah hanya tinggal sendiri di rumah ini.


Semakin kesini aku malah semakin tidak mengenal tipikal mas Qiyas yang selalu menimbulkan tanda tanya setiap harinya, bahkan dia setega ini tidak memberitahu ku tentang jadwal penerbangannya.


Jika menikah denganku adalah sebuah kesalahan maka takkan ku biarkan mindset itu terus melekat di ingatannya, karena jodoh merupakan takdir yang tak pernah salah, pun hakikat pernikahan ialah ibadah terpanjang yang harus kita jalani bersama-sama, bukannya malah menghambakan diri dari rasa ego atas segala-galanya.


*****

__ADS_1


Rasanya aku hampir menyerah jika setiap detiknya harus berteman dengan rasa sepi, setelah dua minggu resign, kali ini ku sempatkan waktu untuk berkunjung ke warkop yang selama ini sudah cukup menopang keuangan keluargaku, tubuhku masih saja terpaku menatap bangunan kecil itu, kalau dipikir-pikir lagi, rasanya terlalu sulit jika orang sedewasa aku harus menghabiskan masa remajanya ditempat ini.


"Salwa!!!" terdengar suara girang Aliska yang dulu pernah menjadi partner shift aku di warkop ini, ia kemudian berlari kearahku sembari membawa sebuah bingkisan.


"Liska, apa kabarnya kamu sekarang?" ucapku dengan beribu rasa haru.


"Alhamdulillah sehat, ciee pengantin baru" jawabnya sedikit meledek.


"Hiss! jangan ngomong gitu ah, malu, ow yah pak gege mana?"


"Hehe! pak gege gak masuk hari ini, ow ya kamu kesini pasti mau ngambil ini kan?" dengan gemeshnya ia mengayunkan bingkisan itu di hadapanku


"Apa ini?" tanyaku sedikit heran.


"Ini barang-barang kamu yang gak sempet kamu bawa hari itu, tenang aja udah aku masukin semuanya ke dalam box ini kok"


"Ow makasih ya lis! umm nanti sampein salam aku sama pak gege ya?"


"Iya..iya nanti aku sampein ahm salwa?"


"Hmm..?"


"Hehe! kalau mau ngikutin kata hati, sebenarnya aku juga gak mau berhenti kerja lis, tapi..gitulah sebagai isteri kita kan harus ngikut apa kata suami"


"Huum, iyalah suami kamu kan orang besar, pasti dia malu kan kalo kamu kerja di tempat kek begini"


"Bukan gitu, suami aku mampu kok memberiku nafkah tanpa harus aku bekerja" jelas ku dengan lembut.


"Huum, ouw ya kemaren ada cowok cakep nyariin kamu disini"


"Haah!! siapa?"


"Gak tau, pas aku bilang kamu udah resign dia pergi gitu aja" akupun terdiam seketika, entah siapapun pria itu, aku sama sekali tak menaruh rasa pensaran terhadapnya,tak ingin memperpanjang pembahasan lagi, akupun segera berpamitan untuk pulang.


******

__ADS_1


"Iya..iya tuan jaga kesehatan ya disitu, iya waalaikumusalaam" seketika terdengar suara bi lijah yang hendak mengakhiri pembicaraannya lewat telpon, langkahku mulai tertegun, dalam benak seakan berkecamuk berbagai terkaan mungkinkah orang yang baru saja berbicara dengan bi lijah itu adalah mas Qiyas, tak ingin berlama-lama digeluti rasa penasaran, sontak saja ku lontarkan pertanyaan pada bi lijah.


"Bi! siapa yang barusan nelpon?"


"Ouwh hehe! ini non, tuan Qiyas yang nelpon" sahutnya sambil senyum-senyum tak menentu, mungkinkah ia tengah berbunga-bunga saat ditelpon oleh mas Qiyas, gumamku sedikit curiga.


"Udah dimana dia sekarang?"


"Ehehe! alhamdulillah tuan Qiyas udah sampai di turki dengan selamat non" lagi-lagi ia menyahuti pertanyaanku dengan senyuman yang semakin membuatku merasa risih saja.


"Ouw...jadi rute penerbangannya dari indonesia ke turki?"


"Iya non"


"Ahm! mas Qiyas nitip pesan gak sama aku bi?"


"Gak ada non" mendengar jawaban bi lijah, segera saja ku ekspresikan kekesalanku dengan membuka kulkas lalu mengambil sekotak susu putih untuk kuminum.


"Uum! kalo nanyain kabar aku?" tanyaku lagi.


"Umm! gak juga non" rasanya aku hampir tak punya muka jika harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada bi lijah yang jawabannya terdengar semakin menyudutkanku.


"Terus tadi dia nelpon, dia ngomong apa aja ke bibi?" kali ini tatapanku terlihat serius menyoroti bi lijah, memang bukan kesalahan bi lijah tapi setidaknya dengannya pun aku turut merasa geram kenapa tidak hampir setiap aktivitas harian mas Qiyas ia hapal sampai luar kepala sementara aku yang berstatus sebagai isteri bahkan tidak tahu apa-apa tentang aktivitas suamiku sendiri.


"Cuman nanyain stock makanan aja, sama uang belanja bulanan non"


"Haaa? jadi dia ngasih bibi uang belanja bulanan juga?" ucapku sangat kaget


"Iya non" sahutannya terdengar pelan sambil menunduk, mungkin bi lijah merasa tersindir atas pertanyaan ku barusan yang cukup sensitif itu.


"Huufft! ya sudahlah bi, aku masuk kamar dulu ya!" tak ingin menambah kekesalan lagi, segera saja aku bergegas meninggalkan bi lijah.


"Astaghfirullah hal adzim!!" gumamku lirih, harus ku akui hampir saja aku berada diluar kendali amarahku.


Bukan hal yang konyol jika aku benar-benar merasa tersaingi dengan seorang asisten rumah tanggaku sendiri, jika wanita tua sudah menjadi idaman mas Qiyas sejak dulu, maka sudah sepantasnya akupun harus berhati-hati dengan wanita paruh baya ini, jika dilihat dari CV-nya ada banyak alasan bagi para lelaki untuk mencintai bi lijah dengan statusnya sebagai single parent dan hanya memiliki satu orang putri, wajahnya pun masih terlihat awet di usianya yang sudah mencapai 38 tahun ini, dan dia juga sangat lihai dalam mengerjakan pekerjaan dapur seperti tak ada cacat celah untuknya.

__ADS_1


Memang benar aku bukanlah prioritas dalam hidup mas Qiyas, bahkan dengan status kita saat ini semakin mencerminkan betapa asingnya aku di matanya, namun takkan kubiarkan kondisi asing seperti ini mampu menggerogoti kehidupan rumah tanggaku, akan kubuat dia merasa sangat dekat denganku bahkan lebih dekat dari urat nadiku, itu adalah janjiku.


Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗


__ADS_2