
*Kali Ke Dua Di Imami Olehnya
Tepat di jam 02.25 dini hari, Qiyas melaju ke rumahnya dengan mengendarai mobil sang mamah, ia menginjak gas hingga ke angka terakhir dengan kecepatan tinggi berasa jalanan umum milik pribadi hingga beberapa pengendara yang lain merasa sangat terganggu di buatnya.
"Wah...gila tuh orang!"
"Woi udah bosan hidup lu ya?"
"Bener-bener gila lu ya, lu pikir ini jalanan bapak lu?" terdengar umpatan beberapa pengendara yang turut dibuat kesal olehnya.
Setalah 30 menit-an menjajaki jalanan aspal akhirnya ia sampai juga di halaman rumahnya, dengan segera ia memarkir mobil lalu berjalan masuk ke dalam, didepan sana sudah terlihat bi Lijah yang tengah menyisihkan sedikit kain gorden seraya mengintip ke arah luar, mengetahui Qiyas yang sudah sampai ia pun segera membukakan pintu.
"Tuan" sapa lembut bi Lijah.
"Salwa mana?"
"Non Salwa di kamar, badanya masih panas tuan" tanpa ungkapan panjang lebar lagi, segera saja ia berjalan masuk lalu berbelok menuju kamar tamu namun tiba-tiba bi Lijah kembali bersuara di belakangnya.
"Ahm...tuan?" sesaat Qiyas menegunkan langkahnya sambil menoleh ke arah bi Lijah yang ada dibelakangnya saat ini, melihat ekspresi datar dari bapak pilot itu, pun bi Lijah kembali bersuara ragu-ragu padanya.
"Maaf tuan, tapi sekarang non Salwa gak pake hijab"
"Pake hijab gak pake hijab memangnya kenapa? dia kan isteri saya"
"Iya tapi tuan..."
"Udah...mending bibi nyiapin aku air panas, entar lagi aku mau mandi" tegasnya.
"Baik tuan"
Terlepas dari kekangan bi Lijah, dengan segera Qiyas meneruskan langkahnya ke kamar tamu, tepat di depan pintu, seperti biasa ia menghela nafas sejenak sembari membuka pintu, dari kejauhan ia menatap isterinya yang tengah terlelap itu sembari mengendap-endapkan langkahnya menghampiri sang isteri.
Tepat disisi ranjang, ia masih berdiri tegap memandangi wajah Salwa yang tengah berbaring tanpa balutan kerudung itu, juga terlihat beberapa tempelan koyo yang masih tertata rapih di dahinya, tampak sesekali Qiyas juga melancipkan senyumanya di hadapan Salwa yang belum menyadari kedatangannya saat ini, hingga perlahan ia menyisihkan sedikit bedcover lalu terduduk tepat di samping tubuh Salwa, dengan ragu-ragu Qiyas menempelkan telapak tangannya di dahi sang isteri.
Tubuh Salwa yang masih teraba hangat itu, seketika mengubah ekspresi wajah sang suami menjadi sedikit khawatir, ia pun kemudian meraih sebuah wadah kecil di atas meja yang terdapat selembar washlap didalamnya, mungkin belum lama tadi bi Lijah juga sempat mengompres kepala Salwa, secara perlahan ia meremas kain washlap itu lalu segera ia tempelkan di dahi Salwa.
Melihat uraian rambut Salwa berceceran kemana-mana hingga nyaris menutupi kelopak matanya, masih dengan tingkah yang sedikit ragu-ragu ia pun mengarahkan jari telunjuknya untuk memperbaiki helai demi helai rambut Salwa yang terlihat acak-acakan itu.
"Dia cantik juga yah ternyata..." gumamnya tak sengaja, tiba-tiba ia mulai tersadar seraya tak menyangka pujian itu terlontar begitu saja bahkan jauh di dalam batinnya juga seakan ikut mengangguk mengiyakan apa yang baru saja terucap pelan dari mulutnya itu.
__ADS_1
"Ummm......" Salwa mulai bererang sembari menggaruk-garuk kepalanya, dengan bebasnya ia membolak-balikan badan seolah-olah tak ada siapa-siapa yang tengah memerhatikannya saat ini, Qiyaspun dibuat geleng-geleng kepala atas tingkah urak-urakannya itu.
"Tidur berantakan gini mau sekamar sama aku?" gumamnya.
Hingga tak lama kemudian saat azan subuh tengah di kumandangkan, Salwa mulai meregangkan ke dua tangannya, tak sengaja kepalan tangan itu mengenai tubuh Qiyas yang saat ini tengah duduk di dekatnya, merasa seakan ada yang aneh Salwapun berusaha keras untuk membuka ke dua matanya namun dengan pandangan yang masih buram ia seakan melihat sesosok pria yang tengah bersila dihadapannya saat ini, masih tak yakin terus saja ia mengusap kedua bola matanya hingga penglihatannya itu benar-benar jelas menyoroti wajah seorang pria yang tidak lain ialah suaminya sendiri.
"Haaaa?" Salwa bersuara kaget seraya terbangun duduk menatap tajam Qiyas yang ada dihadapannya saat ini.
"Ka...kamu ngapain di kamar aku?" lanjutnya, berbeda dengan Qiyas, ia hanya menyahuti pertanyaan panik isterinya itu dengan jawaban yang cukup santai.
"Ow jadi seperti ini cara kamu menyambut kedatangan suami?"
"Huufttt...aku tanya kamu ngapain disini?"
"Aku cuman...cuman ngeliat kondisi kamu aja, kebetulan badan kamu masih anget, yah sekali dua kali aku kompres lah kepala kamu eiitss...tapi kamu jangan kepedean dulu, aku ngelakuin hal itu juga karena semata-mata hanya balas budi aja paham?"
Selang dua menit setelah obrolan pendek itu, Salwa mulai melebarkan ke dua bola matanya, seraya menyentuh kepala yang tak terbaluti itu, ia pun kembali histeris di buatnya, dengan segera ia terperanjat dari tempat tidur lalu berlari terburu-buru menuju lemari.
"Hijab aku mana? hijab aku mana?" cetuhnya semakin panik, seraya mencari-cari lipatan hijabnya, namun tak lama kemudian pandangannya mulai tertuju pada sehelai handuk mandi yang menggantung di samping lemari, benar kata pepatah tak ada rotan akar pun jadi, seketika itu juga Salwa langsung menutupi kepalanya dengan handuk tersebut.
"Udah telat kali" sahut Qiyas.
"Memangnya kenapa mau di pindahin?"
"Pake nanya lagi, gara-gara kamu yang gak hati-hati makanya papah tau rahasia kita"
"Lah...kok gara-gara aku? Bukannya kamu yang ngomong ke papah kalo aku sakit, coba waktu itu kamu gak ngomong sama papah pasti semuanya gak akan ketahuan"
"Stop...pokoknya besok kamu harus mindahin semua barang-barang ini ke kamar aku"
"Gak mau ah, aku udah terlanjur betah di kamar ini"
"Kamu pikir aku suka kamu tidur di kamar aku?"
"Tok..tok..tok" terdengar suara ketukan pintu yang tiba-tiba mengalihkan suasana hiruk pikuk itu.
"Ada apa bi?" tanya Qiyas seketika, di depan pintu yang hanya secelah itu terlihat bi Lijah yang berdiri lalu bersuara padanya.
"Air panasnya udah siap tuan"
__ADS_1
"Ok..." cetuhnya seraya terperanjat lalu beralih dari situ.
*****
"Usholli Fardhu Subhi raka'ataini mustaqbilal kiblati ad'an lillahi ta'a....." baru saja Salwa akan memulai takbiratul ihrom namun lafadzannya terhenti seketika saat Qiyas menyapanya dari belakang.
"Salwa?"
"Apa lagi?" ujarnya sedikit kesal.
"Ahm..." tiba-tiba Salwa memotong erangannya, serasa ubun-ubunnya mulai membengkak akibat kekesalan demi kekesalan yang ditabungnya sejak tadi.
"Kalo kamu punya privasi, aku juga tentu punya privasi, kamu buat aturan di kamar kamu selangkah saja aku gak bisa masuk tanpa seizinmu apa aturan itu gak berlaku sama sekali di kamar ini? meskipun kamar ini hanya sekedar kamar tamu? kalo mulut kamu alergi mengucapkan salam, paling tidak ketoklah pintu sebelum masuk"
"Okey..."
"Okey aja?" Salwa semakin naik pitam saja dibuatnya bagaimana tidak, sejak awal mereka menikah sampai saat ini, kata "Maaf" nyaris tak terucapkan dari mulut seorang Qiyas Fathir Anugerah.
"Terus?"
"Percuma kan? aku ngomong panjang lebar, toh ujung-ujungnya juga kamu tetap bersikap pura-pura gak tau, Bisa gak sih, sedikit aja kamu ngehargain aku? kalo gak bisa sebagai isteri setidaknya anggap aku sebagai tamu kamu di rumah ini"
"Kamu ngomong apa sih?" sontak Salwa menatap sinis wajah pria yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
"Boleh aku sholat di sini?" tambahnya lagi.
"Sholatlah, ini kan rumah kamu, mau sholat dimana aja ya suka-suka kamu" sahutnya sembari menggulung sajadah yang sudah dibentangnya tadi lalu segera ia melangkah pergi dari situ, namun tiba-tiba Qiyas meraih tangannya lalu menyuguhkan pertanyaan dengan suara yang sangat lembut.
"Mau kemana?"
"Mau sholat di ruang tengah" cetusnya, sambil berjalan maju namun dari belakang, Qiyas terus saja menahan lengannya hingga Salwa kesulitan untuk berpindah dari situ.
"Maksud aku tadi, aku mau sholat disini bareng kamu boleh?"
Mendengar permintaan itu, ia kemudian menatap sayu wajah Qiyas, tanpa suara lagi ia terus mematung di hadapan sang suami seraya mengabulkan permintaan batinnya saat ini yang terus berbisik "Gak boleh...kamu gak boleh nangis Salwa"
Pun rasa terkesima yang mulai bersemayam dipikirannya atas permintaan Qiyas barusan, cukup membuat bibir Salwa mulai terlihat manyun tak beraturan dibuatnya hingga tak sadar ia mulai meneteskan air mata yang sejak tadi dibendungnya itu.
Menghadapi suasana seperti ini, cukup membuat Qiyas menggaruk-garuk belahan rambutnya, tentu saja ia di terpa kebingungan hingga membutnya semakin kaku dan tak tau harus berbuat apa, tidak lama kemudian ia meraih sekotak tissue yang ada di atas meja lalu di sedorkan di hadapan Salwa.
__ADS_1
"Nih..." melihat tingkah Qiyas yang seperti itu, semkin mematik rasa jengkel di benak Salwa, masa iya pria setampan ini sama sekali tak tau bagaimana caranya mengambil hati wanita, meski sesederhana harus menyeka air mata atau sekilas mengusap pundak, tak lagi berfikir lama, Salwapun segera meraih tissue yang disedorkannya itu lalu dengan pasrah ia menyeka sendiri air matanya, hingga ke duanya pun mulai mendirikan sholat subuh berjama'ah.