Quality Love

Quality Love
Episode 71


__ADS_3

*Pop Corn


Setelah makan malam, ayah mertuaku mengajak kami semua ke ruang TV, kini satu persatu anggota keluarga mulai terperanjat meninggalkan meja makan, sementara aku yang saat ini sudah selesai makan, hanya bisa terdiam sambil memandangi mereka berlalu hingga hanya tersisa aku dan mas Qiyas saja di meja makan.


Dengan ragu-ragu ku sempatkan waktu untuk menunggu mas Qiyas yang tengah mengusap mulutnya dengan tisu, setelah itu mas Qiyas pun mulai terperanjat namun ia hanya berjalan melewatiku tanpa melihat dan tanpa menyapaku juga.


Sekilas ku pandangi ia dari belakang seraya menarik nafas dan hanya bisa mengatur pikiranku untuk tetap menyimpulkan bahwa "Tidak apa-apa aku tak perlu mengambil hati atas sikapnya ini, toh selama ini juga aku hampir terbiasa dengan sikapnya yang selalu dingin padaku"


Tak lama berfikir lagi, aku pun turut bergegas mengikuti yang lain yang sudah lebih dulu berjalan di depan sana, kulihat mereka semua mulai memasuki lift namun tidak lama kemudian terlihat kak Bela yang melirikan kepalanya ke arahku seraya bersuara.


"Salwa ayo..."


Ayah mertuakupun tak kalah perhatiannya, ia segera berdiri di belakang kak Bela lalu menganggukkan kepala beberapa kali seolah mengisyaratkan aku untuk segera masuk ke dalam lift, setelah tubuhku berada di dalam lift, tak sengaja ku lihat mulut kak Sheila yang tengah komat-kamit dengan ke dua bola matanya berotasi kemana-mana, meski tak terlalu jelas ia berkata apa namun aku tau kak Sheila pasti tengah memaki-makiku saat ini.


"Kita mau kemana?" sontak ku alihkan rasa takut ku dengan menyuguhkan pertanyaan simpel itu pada kak Bela.


"Ke ruang TV yang ada di lantai 3, ow yah kamu belum pernah kesana kan Wa?" sahut kak Bela. hanya ku angguki dengan tatapan bingung.


Hal yang tidak kuketahui ternyata rumah mertuaku memiliki dua buah ruang TV, ruang TV yang ku tau selama ini hanya ada di lantai satu sebuah ruangan terbuka yang bisa dibilang hampir menyatu dengan ruang tamu hanya berbatas tembok transparan yang menjadi sekatnya.


Sementara ruang TV yang ke 2, terdapat di lantai lantai 3, tepatnya di ruangan paling ujung yang dulu memang sempat menimbulkan satu pertanyaan di benakku dikarenakan ruangan itu selalu terkunci "Ruangan apa itu?" namun tak ku hiarukan lagi setelahnya, mungkin hanya sebuah gudang yang terbengkalai anggapku.

__ADS_1


"Ting..." tiba-tiba dering lift mulai berbunyi, pertanda kita telah sampai di lantai 3 pun semua mata mulai tertuju pada pintu lift yang tengah membuka dengan perlahan, hingga semua mulai berbondong-bondong keluar dari lift dengan cengkerama masing-masing.


"Ahm..pah?" ujar mas Qiyas yang kala itu ia masih saja mengabaikan ku, lalu melangkah berdampingan dengan ayah dan ibu mertuaku.


"Hmm?"


"Gimana perkembangan hotel sekarang?"


"Ya...bisa dibilang sangat pesat kemajuannya, bagaimana tidak, yang dulunya berada di angka 85 sekarang malah sudah mencapai 95%..."Cengkerama mereka terus berlanjut, hingga kami semua sudah berada di ruang utama.


Sementara aku terus berjalan di belakang mereka dengan mata yang masih memerhatikan detail ruangan ini, sontak akupun terbelalak beberapa detik, ada rasa sedikit tak percaya menyaksikan keindahan ruangan ini, rasanya aku seperti melihat galeri pribadi secara gratis.


Perlahan aku berjalan mendekati sebuah photo yang menempel di dinding, aku tersenyum gemesh dibuatnya, didalam bingkai yang kira-kira berukuran 30 R itu terdapat beberapa gambar lucu bayi laki-laki dengan senyumannya yang begitu lebar yang cukup membuatku tersenyum sipu beberapa kali.


Saat tak sengaja aku beralih pandangan saat itu juga ku lihat mas Qiyas yang tengah menatapku namun tiba-tiba pun dengan cepat ia menoleh ke arah lain, aku yang melihat mas Qiyas begitu canggung menurutku, hanya bisa tertunduk malu lalu tersenyum kecil atas sikap kita yang cukup kekanak-kanakan ini, entahlah berasa semuanya begitu sulit.


"Mas ini photo kamu waktu kecil?" sengaja ku lontarkan pertanyaan itu pada mas Qiyas, namun mas Qiyas hanya menatapku sekilas, ia lalu melihat bingkai foto yang saat ini menempel jari telunjukku di atasnya, hanya itu saja, ia tak memberiku jawaban apa-apa lagi, dan langsung berbalik badan lalu berbalas kata dengan ayah mertuaku, mungkin saja ia menafsirkan pertanyaan ku itu hanya sekedar omongan basa-basi saja yang tak perlu ia jawab, lagi dan lagi aku masih saja berusaha untuk tetap menanggapinya dengan sikap yang positif.


Namun tanpa aku sadari pertanyaan kecil tadi di saksikan oleh mata kak Sheila dan kak Bela, lantas kak Sheila segera melancipkan setengah bibirnya seraya tersenyum  puas atas sikap mas Qiyas barusan terhadapku, Sementara kak Bela yang menyaksikan pengabaian itu, langsung bergegas menghampiriku.


"Iya ini foto Qiyas, lucu banget kan?" tuturnya sambil tersenyum, sebaliknya aku hanya mengangguk tak enak di hadapan kak Bela.

__ADS_1


"Yang ini Qiyas waktu umur 2 tahun, dan ini waktu umurnya masih 5 tahun, dan fotonya yang itu kira-kira...waktu umur 9 tahun" paparnya.


"Yang sebelah sana itu, foto-foto aku sama Sheila" ia mendetailkan satu per satu semua foto-foto itu.


"Waktu kecil kak Sheila mirip banget sama mamah ya?" ujarku.


"Iya, iya bener, banyak banget yang bilang begitu"


Setelah itu, akupun bergegas mengikuti yang lain ke ruangan sebelah, saat mataku tersorot kesana bisa di bilang aku hampir tak percaya kalau ada galery dan bioskop pribadi di rumah ini, di sink bak ruang ternyaman bagi keluarga ini, bisa di bilang keluarga mertuaku memang sangat jarang menikmati moment kebersamaan seperti ini, dikarenakan kesibukan yang menempel di pundak mereka.


Di depan sana ku lihat mereka mulai memilih-milih kursi untuk di duduki, sementara aku berjalan ke depan dengan perasaan yang sangat canggung, tiba-tiba saja mas Qiyas datang menghampiriku, dengan senyuman manis lalu berkata


"Yuk..." tanpa permisi mas Qiyas langsung menggandeng tanganku lalu memilih dua kursi di pojok kiri untuk kita duduki, disitu sudah tersedia satu cup pop corn ukuran jumbo.


Baru saja aku akan duduk dengan damai namun tiba-tiba mas Qiyas mulai berbisik di dekat telingaku.


"Hmm...ber actinglah sebaik mungkin di hadapan mamah dan papah"


"Jadi selama ini kamu menganggap semua sikap aku hanya sebatas acting?"


"Ternyata benar selama ini kamu gak bisa bedakan mana yang tulus dan mana yang pura-pura, jika kamu menggandeng tangan aku hanya sebatas acting, ya sudah kita tidak perlu melakukan hal ini lagi, kalau hanya untuk dilihat mamah sama papah, toh kalau kita tidak bergandengan tangan pun mereka tidak akan menyimpulkan apa-apa tentang rumah tangga kita" mendengar ucapan ku barusan, mas Qiyas hanya terdiam, entah dia sengaja mengabaikan ku ataupun diam karena berfikir atas ucapan ku, Selebihnya tak ada lagi percakapan lanjutan, akupun memilih untuk menikmati pop corn ini dan melanjutkan tontonanku dari pada harus berdebat lirih dengannya.

__ADS_1


__ADS_2