Quality Love

Quality Love
Episode 41


__ADS_3

*Tangis Yang Sesenggukan


"Salwa kamu mau kemana?" teriaknya ketika melihat Salwa berjalan dengan arah yang berlawanan, namun tak ada respon dari Salwa terus saja ia menapaki jalan yang tengah disusurinya itu, sementara Qiyas masih terus berjalan di belakangnya semakin jauh ia mengikuti Salwa semakin jauh juga ia dengan mobilnya yang masih terpakir di pinggir warung makan tadi.


Kelelahan mengejar Salwa iapun berbalik arah untuk kembali ke parkiran mobil, sesampainya di sana dengan peluh yang terus bercucuran ia kemudian mengendarai mobil itu sembari matanya terus melihat-lihat ke sisi jalan, sekitar 500 meter ia menyusuri jalan itu dengan kecepatan lambat namun belum juga ia melihat sosok Salwa, terbesit lagi di ingatannya jika ia berjalan balik dengan waktu beberapa menit tadi maka pada saat ia kembali sudah seharusnya di titik ini ia akan menemui Salwa.


"Duuh...dimana sih dia!" keluhnya sembari terus mencari-cari keberadaan Salwa di sisi jalan.


Hingga jaraknya hampir satu kilo-an Qiyas kemudian membelalakkan ke dua matanya saat melihat di depan sana Salwa yang tengah berlari dengan cepat, ia kemudian menaikkan sedikit kecepatan mobilnya hingga tubuhnya mulai sejajar dengan Salwa.


"Hei kamu mau kemana sih?" teriak Qiyas dari dalam mobil, sementara di sisi jalan itu Salwa terus saja membungkam sambil berlari tanpa sedikitpun mengarahkan pandangannya pada suaminya itu.


Setelah berlari sekian meter, Salwa kemudian berbelok memasuki sebuah gang, yang syukur saja gang itu masih terlihat sedikit lebar untuk dilintasi kendaraan beroda empat hingga memudahkan Qiyas berbelok untuk terus mengikutinya.


"Salwa! kamu mau kemana sih, tengah-tengah malem kek begini?" Qiyas kembali bersuara namun lagi-lagi tak ada jawaban dari Salwa.


Hingga tepat di salah satu rumah kumuh tak berpenghuni yang letaknya juga paling ujung dari beberapa rumah sebelumnya, kini terlihat lahan selanjutnya sudah menyisakan hutan rimba yang gelap gulita, Salwa mulai terduduk lemas di sisi pagar besi yang mulai karatan itu, dengan posisi duduk meninggikan ke dua tungkainya, terlihat salwa yang mulai menutupi ke dua matanya dengan pergelangan tangan yang ia taroh di atas lutunya, dari depan Qiyas tetap menyalakan mesin mobil untuk terus menyinari Salwa dengan lighting mobilnya, dengan ragu-ragu ia pun keluar dari mobil lalu menghampiri Salwa.


"Ihiiiks...hiks...ihiiks...ihiiks!" terdengar Salwa yang mulai menangis, dengan tubuhnya yang terlihat sesenggukan berkali-kali.


"Salwa?" panggil Qiyas seketika


"Pe..pe..pergi..gi..kah..kamu..dd..da..dari sini hiiks...hiiiks.." terdengar jawaban Salwa yang semakin sesenggukan saja dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu marah sama aku karena Hp tadi?" ujarnya lagi.


"Hiiks...hiiks...hiiiks" terus saja ia menangis dan tak mau melihat wajah suaminya itu.


"Salwa?" panggilnya lagi, namun kali ini Salwa mulai menengadahkan wajahnya untuk melihat Qiyas yang tengah berdiri di hadapannya saat ini tanpa mampu berkata apa-apa lagi.


Qiyas cukup merasa bersalah hingga membungkam beberapa menit, saat melihat betapa merahnya ke dua bola mata Salwa, dan begitu sesenggukannya ia saat menangis, layaknya tangisan anak kecil, saat segalanya tampak keterlaluan semua anak pasti akan menangis sejadi-jadinya, begitupun dengan orang sedewasa Salwa, saking sedihnya ia bahkan sampai mengalami kesulitan untuk berkata-kata.


Qiyas kemudian mulai menjongkok dihadapan Salwa, tanpa bersuara ia hanya terpaku menatap isterinya yang tengah di rundung kesedihan itu, sesekali ia hanya mengircutkan kening sambil menggaruk-garuk pelan dahinya berasa ia hampir mati akal untuk membujuk Salwa, jika sebelumnya dengan suster kiran ia hampir tak pernah berurusan dengan drama bujuk membujuk mungkin karena suster Kiran jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Qiyas sendiri, namun saat menghadapi ambekan Salwa ia hampir kehilangan seluruh IQnya untuk berfikir bagaimana mengembalikan moody seorang Salwa yang usianya 2 tahun lebih muda darinya.


Dengan ragu-ragu ia mulai mengelus-elus pundak Salwa yang tengah bersedih itu, mendapati perlakuan itu Salwa terkejut bukan main berasa murkanya hampir memuncak, Salwa kemudian menangis sekeras-kerasnya hingga mengejutkan telinga beberapa orang warga yang rumahnya tidak jauh dari situ, selang beberapa waktu para warga pun mulai menghampiri keberadaan mereka.


"Hei...kalian ngapain disini malem-malem?" tegur seorang bapak-bapak yang masih terlilit sarung di pinggangnya, dengan perlahan Qiyas kembali terperanjat maksud hati ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada pria bersarung itu.


"Kalian mau mesum ya? apa kalian gak punya rumah? sampai harus ke hutan tengah-tengah malem kek begini? ganggu orang aja!"


"Atau kamu mau berniat jahat sama perempuan ini?" tambah emak-emak yang lainnya.


Tak ada habis-habisnya jiwa kekepoan of emak-emak ini, tampak si emak yang berdiri tepat di samping Salwa saat ini mulai mencurahkan rasa penasarannya dengan memberikan pertanyaan sensitif pada wanita cantik yang tengah menangis itu.


"Eneng kenapa menangis? kamu dipaksa sama laki-laki ini?" mendengar pertanyaan itu Qiyas kemudian melebarkan bola matanya, berasa tak terima atas pertanyaan sensitif itu ia pun kembali bersuara.


"Aahm..maaf ya bu, saya dan dia ini sama sekali gak....." lagi dan lagi seakan tak perduli dengan ucapan Qiyas, si emak tadi kembali melontarkan pertanyaan pada Salwa.

__ADS_1


"Kamu mau diperkosa kan sama laki-laki ini?" Salwa hanya menatap sendu wajah si emak-enak itu, tak ada sehelai kata yang bisa dilontarkannya ia pun terperanjat lalu berjalan pergi meninggalkan Qiyas dan para warga yang masih berkerumun di depan rumah kosong itu.


"Maaf ya pak, bu, sebenarnya wanita itu tuh isteri saya, dia menangis karena...karena Hp kesayangannya baru saja di curi orang" dengan terburu-buru ia berdalih di hadapan para warga, agar tak ada pertanyaan beruntun lagi dari mereka, Qiyas pun segera masuk ke dalam mobil.


*****


Qiyas terus saja mengikuti sambil membujuk Salwa yang sedari tadi masih enggan untuk masuk ke dalem mobil.


"Salwa ayo masuk, sekali lagi kamu keras kepala seperti ini, liat aja aku gak akan segan-segan ninggalin kamu sendiri disini" dengan wajah lelahnya itu, Qiyas terdengar mulai serius atas ucapannya.


"Peh..pergi a..aja, si..si..siapa yang nyu..nyuruh kah..kamu untuk ngi..ngiku..ngikutin aah..aku" masih saja terdengar suara Salwa yang sesenggukan, seakan rasa sedih itu semakin mengabuti seluruh hati dan pikiran Salwa saat ini.


Tepat di sebuah gang kecil Salwa menegunkan langkahnya, dengan pelototan mata yang cukup menegangkan ia memandangi tiga ekor anjing yang tengah mengaung di hadapannya saat ini, Salwa yang mulai ketakutan namun masih tetap tenang menghadapi situasi mencekam ini secara perlahan ia lalu memundurkan langkah kakinya sambil mencari-cari celah untuk beralih haluan.


Tepat beberapa meter di belakangnya, sudah terlihat Qiyas yang baru saja keluar dari mobil sambil berjalan menghampiri isterinya yang tengah ketakutan itu.


"Jangan kesini!" teriak Salwa berkali-kali namun tak di hiraukan oleh Qiyas, terus saja ia berjalan mendekati Salwa.


"Jangan kesini..jangan kesini...kamu dengar gak sih apa yang aku bilang?" teriak Salwa sambil menjinjit ketakutan, semakin Qiyas mendekatinya semakin ganas juga ngaungan anjing-anjing itu, dengan cepat Qiyas menarik tangan Salwa namun saat itu juga ke tiga anjing tadi mulai melompat lalu mengejari mereka sambil terus menggonggong di belakang sana, Salwa yang terus berlari dengan tangannya yang digenggam suaminya itu sekilas ia melancipkan senyumannya berasa tidak ada hal apapun yang tengah di takutinya saat ini meski fakta terburuknya saat ini ada tiga ekor anjing yang siap menerkamnya dari belakang.


Hingga sampai di mobil, dengan cepat Qiyas membuka pintu mobil lalu secepat mungkin ia menyuruh Salwa untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu iapun berpindah pintu ke sebelah mobil, saat Qiyas hendak masuk kedalam salah satu kakinya sempat di gigit seekor anjing orange, segera saja ia menghentakan kakinya hingga anjing itu terpental sedikit jauh dari mobilnya, setelah itu Qiyaspun segera mengunci pintu mobil, lalu secepat mungkin ia berlalu dari tempat itu.


"Kaki kamu gak apa-apa?" tanya cemas Salwa, namun Qiyas hanya menatapnya sekilas tanpa memberinya jawaban apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2