Quality Love

Quality Love
Episode 45


__ADS_3

*Kehadiran Sang Pengagum Baru


"Berhenti jadi wanita pengecut Salwa, berehenti jadi wanita lemah, jika dia bisa egois maka kamu juga harus bisa belajar lebih egois dari dia, kamu cantik kok Salwa, masih banyak pria di luar sana yang mau menerima kamu seadanya saja tanpa harus melihat status sosialmu dan seberapa tinggi IQmu" bisikan tajam ini tiba-tiba saja terbesit di benakku, tak ingin mengunyah banyak waktu di depan cermin yang semakin menyadarkanku betapa menyedihkannya diri ini, segera saja aku bergegas menuju bandara.


Setibanya aku di bandara, dengan baju rumahan juga tanpa polesan make up aku berlarian mengitari ruang pengunjung sembari mencari-cari keberadaan mas Qiyas, satu demi satu ku datangi kerumunan pengunjung di setiap get pintu masuk.


"Hati-hati ya, nanti kalau ada kesempatan maen lagi kesini" terdengar kalimat perpisahan dari salah satu pengunjung yang berdiri tepat di sampingku, saat ini ia tengah melambai sembari menyeka air matanya dengan segopok tisu yang terjmus ia genggam ditangannya, tak peduli siapapun mereka yang jelas kita sama-sama pengunjung disini, ku pegangi beberapa pundak pengunjung yang ada di depanku saat ini sembari menjinjitkan kaki ini dengan harapan agar aku bisa melihat mas Qiyas di dalam sana.


Aku yang hampir putus asa kini memutuskan untuk kembali saja, rasanya percuma juga aku harus berlama-lama di bandara yang sebesar ini tentu saja semakin menyulitkanku untuk menemukan mas Qiyas namun saat aku bergegas menuju pintu keluar sekilas ku lihat mas Qiyas di get sebelah yang tangannya terus saja di gandeng oleh suster Kiran, seketika itu akupun membuntuti mereka dari belakang.


"Whatsaap brow? hehe" terdengar sapaan hangat dari seorang pria yang juga berseragam pilot pada mas Qiyas.


"Halo...aku alhamdulillah sehat Zen, kamu sendiri?" sahut mas mas Qiyas, mereka kemudian saling bersalaman sembari menyenggol bahu kelihatannya pria itu cukup dekat dengan mas Qiyas.


"Mungkinkah mereka hanya sekedar teman seprofesi?" gumamku lirih sambil terus mengendap-endap memerhatikan mereka.


"Aku sama brow sehat juga, wehe..makin lengket aja kalian yah?" sahut pria yang disebut mas Qiyas dengan nama Zen itu.


"Aah gak juga, emang dari dulu kita kan seperti ini ya sayang ya?" mas Qiyas terlihat malu atas pertanyaan sahabatnya itu sembari menatap wajah suster Kiran, pun sebaliknya suster Kiran hanya memberikan anggukan atas pertanyaan mas Qiyas.


"Haduuh nih jujur yah, aku tuh heran sama kalian, udah semesra ini, kalian juga udah punya pekerjaan masing-masing, apa lagi kamu Qiyas, aku rasa kamu cukup mampu untuk hidupi Kiran, tapi kenapa sih kalian tuh masih nyaman-nyaman aja dengan status kalian yang seperti ini?"


"Maksud kamu?" tanya mas Qiyas dengan tatapan yang cukup serius menyoroti sahabatnya itu.


"Ya maksud aku, kenapa sih kalian gak nikah aja gitu, mau sampai kapan Kirannya di anggurin terus Qiyas, aku dari dulu nih udah gak sabar nunggu undangan kalian loh hahah" ujar sahabatnya itu dengan nada bercanda.


"Iya sebenarnya aku juga pengen secepatnya nikahin Kiran, tapi ya gitulah, kita masih nunggu waktu yang tepat aja"


Mendengar percakapan mereka yang cukup serius itu, sesekali ku tatihkan langkahku ke depan sana agar bisa dengan jelas ku dengar seluruh percakapan mereka.

__ADS_1


"Auuh..hiikss..hiiiikss...hiiikss mamah!" tiba-tiba terdengar tangisan hebat seorang anak kecil yang saat ini tengah berdiri di sampingku, sontak ku tatap wajah anak itu dengan tangannya yang masih menggenggam setangkai ice cream ia terus saja menjerit hebat sembari memukul-mukul kedua betisku, sampai-sampai celana jeans yang ku kenakan saat ini hampir seluruhnya terbaluri ice cream akibat ulah si kecil itu, seketika akupun mulai menjongkok di hadapan si kecil ini.


"Aam..adek, adek kenapa?" tanyaku dengan lembut sembari mengusap pelan ubun-ubunnya, makin ku tanya makin menjerit saja suara anak itu berteriak hingga pengunjung yang lain mulai menyoroti kami, seketika itu akupun mulai panik saat melihat pilot tadi yang juga mulai mengarahkan pandangannya kesini.


"Waduuh gawat..gawat..gawat kenapa dia ngeliat kesini" gumamku sembari mengalihkan pandanganku, dengan pelan ku topang tulang pelipisku untuk menyembunyikan setengah wajahku agar sahabat mas Qiyas tadi tidak menyadari gerak-gerikku yang tengah membuntuti mereka dari sini, saat ku tundukkan pandanganku seketika itu akupun tercengang, ternyata saat ini kaki mungil si kecil itu tengah tertindih oleh kakiku.


"Ya allah dek, maaf..maaf kakak gak sengaja" bisikku pada anak kecil itu, sambil sesekali ku usap punggung kakinya, lalu ku coba untuk memeluk tubuhnya namun ia malah menghindariku sembari menjulur-julurkan tonjokan mungilnya itu ke wajahku.


Sekilas akupun tersenyum lucu dibuatnya, kemudian akupun mendekatinya lagi dengan menyuguhkan dua tangakai permen susu untuknya, namun si kecil itu hanya menatapku dengan tubuhnya yang masih saja sesenggukan.


"Nih..." ujarku lagi, sembari tersenyum padanya, seketika si kecil itu kemudian meraih ke dua permen susu yang ada di tanganku saat ini.


"Thank you" ucapnya terdengar sangat lucu bagiku hingga akhirnya terdengar suara ibunya yang tengah mencari-cari keberadaan si kecil ini.


"Ya ampun Jack sayang kamu dari mana aja sih, dari tadi mamah nyariin kamu sayang" cetuh ibu itu.


"Ini..ini siapa ya? kok bisa sama anak saya?" lanjutnya lagi.


"Ow gitu, saya Marissa mbak" cetuhnya sambil menyalami punggung tanganku.


"Makasih banyak ya mbak Salwa, mbak udah jagain Jack disini, kalo gak ada mbak saya gak tau lagi nasib anak saya seperti apa, bukan apa-apa sih mbak, takutnya anak saya di bawa kabur sama orang jahat mbak" jelas bu Marissa sedikit khawatir, aku hanya memberikan anggukan sambil sesekali tersenyum padanya hingga percakapan kecil ini mulai berakhir.


Setelah itu akupun kembali membuntuti Mas Qiyas di depan sana, tiba-tiba saja sahabatnya tadi kembali mengarahkan pandangannya ke arahku, entahlah sepertinya ia mulai curiga atas sikapku yang sangat hati-hati ini, bagaimana tidak meskipun ia tengah bercengkrama dengan mas Qiyas tapi tetap saja sesekali pandangannya itu ia arahkan padaku.


"Haduuh kok dia ngeliatin aku terus sih? apa dia curiga sama aku?" gumamku sembari melangakah mundur secara perlahan.


"Ow ya itu siapa? cantik banget, temen kamu ya?" seketika itu ia mengajukan pertanyaan pada suster Kiran yang cukup membuat jantungku meletup-letup didalam sana.


"Hmmm?" erang suster Kiran, sambil kompak ia dan mas Qiyas berbalik badan lalu mendapatiku yang tengah salah tingkah disini.

__ADS_1


"Helo?" seketika itu juga ia melambai kepadaku, tak banyak yang bisa ku lakukan disini selain menyuguhkan senyuman ragu-ragu padanya.


"Itu siapa sih? aku ngeliat dia tuh dari tadi memerhatikan kita loh disini?" ujarnya lagi yang masih saja penasaran siapa sebenarnya aku ini.


"Aham..di..dia itu..." ucap mas Qiyas terbata-bata yang seketika itu ditindih oleh suster Kiran.


"Dia itu sahabat aku"


"Ya allah Kiran, kamu tuh ya punya sahabat secantik ini kok kamu gak pernah ngenalin sama aku" sontak dengan senyum semringahnya ia berjalan menghampiriku, tanpa permisi ia kemudian meraih tanganku lalu menggiringku untuk bergabung bersama mas Qiyas dan suster Kiran di depan sana.


"Hai, aku Adzen Anderson panggil aja aku Zen" cetuhnya sembari menyedorkan telapak tangannya seraya berjabat tangan padaku.


"Aa...aku..aku Salwa" sahutku dengan perasaan tidak enak dihadapan mas Qiyas.


"Ouw yah face aku emang kebarat-baratan tapi tenang aja aku muslim kok, duh aku kalau jadi pasien pasti bakalan betah di rawat sama kamu" cetuhnya dengan nada bercanda, namun kali ini kulihat ekspresi mas Qiyas seperti berbeda.


"Ma..maksudnya?" tanyaku dengan gestur yang luamayan kaku, sekilas ku lihat tatapan datar mas Qiyas, yang sepertinya ia benar-benar tak suka jika aku harus menanggapi setiap ucapan sahabatnya itu.


"Iya kamu Perawat kan?"


"Bukan, saya..saya hanya pelayan cofee" sahutku sontak saja mas Qiyas menatapku sinis namun ku coba abaikan dia dan terus ku tatap wajah pilot blasteran indo-bule ini.


"Ouw pelayan cofee? it's ok, gak ada masalah kok, kita bisa berteman kan?" sahutnya terdengar cukup friendly.


"Haah? berteman?"


"Ya..why?"


"Umm..tap..tapi...." seketika itu mas Zen pun memenggal ucapanku.

__ADS_1


"Bersahabatlah tanpa ada kata 'karena' dan 'tapi' karena ketika alasan 'Nyaman' sudah mengikat maka sahabat ialah makna yang ternilai dan tak terukur" sahutnya yang cukup membuatku terkesima meskipun baru pertama mengenalnya namun aku tau kalau mas Zen ini ialah orang yang baik.


Berbeda dengan mas Qiyas, ia hanya terdiam dengan tatapan jengkelnya saat menyaksikan obrolan ringanku dengan sahabatnya itu, hingga akhirnya ia harus berpamitan untuk segera masuk ke dalam pesawat karena jadwal penerbangannya hampir tiba.


__ADS_2