Quality Love

Quality Love
Episode 54


__ADS_3

*Pilihan Sulit


Dengan langkah yang terburu-buru dan tanpa menoleh lagi ke belakang, Qiyaspun segera masuk ke dalam mobil, sejenak ia terdiam dengan tatapan kosong terus saja ia menyoroti gagang setir mobil yang ada di hadapannya, namun tiba-tiba ia bersuara jengkel sembari menjedot-jedotkan kepalan tangan di dahinya.


"Duuh...bodoh..bodoh..bodoh! Qiyas apa yang sudah kamu lakukan?"


"Kok bisa yah aku ngelakuin hal sebodoh itu?" tambahnya lagi, terus saja ia menggerutu seorang diri seraya menyesali apa yang baru saja terjadi.


Hingga akhirnya Qiyas mulai mengendarai mobilnya menuju suatu tempat yang sudah di sepakati bersama dengan seseorang yang tadi berbicara dengannya melalui telepon, setelah 20 menit berlalu, di depan sana sudah terlihat sebuah kafe, dengan segera Qiyas memarkirkan mobil lalu masuk kedalam.


Tiga langkah sudah ia menjejaki kafe itu, sudah terlihat seorang pria paruh baya yang tengah melambai padanya, merasa kenal dengan pria tersebut, iapun segera berlari kecil menghampirinya.


"Om? Kiran mana?" tuturnya, seraya matanya mencari-cari keberadaan Kiran, ia kemudian bersalaman dengan lelaki tersebut yang ternyata seseorang yang digadang-gadangkan sejak dulu sebagai calon mertua, jelaslah sudah lelaki paruh baya itu merupakan ayah dari suster Kiran.


"Kiran di rumah, om yang nyuruh dia telepon kamu untuk dateng kesini"


"Ow gitu yah om...by the way apa kabarnya om?"


"Alhamdulillah, om seperti yang kamu lihat sekarang" tampak Qiyas hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan pak Syarif.


"Kenapa akhir-akhir ini Qiyas udah jarang mampir ke rumah?"


"Aaam...sebenarnya saya..." tutur Qiyas dengan ekspresi wajahnya yang mulai kebingungan, seketika itu juga pak Syarif langsung menindih ucapan Qiyas.


"Ayo duduklah dulu"


"Aaam...iya om"


"Mau mesen minum apa?" tanya pak Syarief seraya menyedorkan buku menu pada Qiyas.


"Ahm...Cofee late aja om"


"Mas? tolong buatin coffe latenya satu ya?"


"Baik pak!" sahut salah satu barista yabg ada di depan.


Beberapa saat setelahnya, minuman yang dipesanpun sudah tersajikan, hal ini mengawali pembicaraan mereka ke arah serius.


"Begini saja, om mau tanya sama kamu, kapan kamu akan nikahin Kiran?"


"Saya akan upayakan om, secepatnya"


"Sebenarnya telinga om sudah mulai kebal dengan ucapan kamu yang selalu bilang segera dan secepatnya, tapi sampai sekarang tetap saja gak ada yang berubah, jika kendalanya restu orang tua kamu, kenapa tidak kamu lepaskan saja Kiran untuk mencari pria lain?" atas ucapannya itu, sontak Qiyas menatap tajam wajah pak Syarief.


"Apa om sudah tidak yakin dengan keseriusan saya?"


"7 tahun yang sia-sia itu kamu bilang keseriusan? jika dulu om pernah yakin, maka sekarang tidak lagi" cetuhnya sembari meneguk kopi, setelah itu pak Syarief kembali melanjutkan ucapannya.


"Jangan siksa usia Kiran hanya untuk menunggu kata nantimu"


"Tolong beri saya sedikit waktu lagi om? saya sangat mencintai Kiran, saya gak bisa kehilangan dia om?"


"Tanya hati kamu Qiyas" tutur pak Syarief seraya menutup pembicaraan mereka.

__ADS_1


Pertemuan keduanya hanya berlangsung selama 15 menit saja, tanpa menghabiskan sajian kopinya lagi, setelah itu pak Syarif segera bergegas meninggalkan Qiyas di meja yang hanya tersedia 2 bangku itu, sementara Qiyas masih memaku di tempat duduknya seraya menenangkan kepalanya yang terus di amuk berbagai pilihan sulit.


Detik berganti menit, dan menit berganti jam, pun pelanggan silih berganti yang datang memenuhi stand cofee itu, namun Qiyas nyatanya masih saja duduk termenung dengan tatapan kosongnya ia menyoroti 8 buah gelas cangkir yang kini tak berisi di hadapannya, sejak tadi rupanya ia tak berhenti mengorder cofee untuk menemani kejenuhannya, hingga akhirnya Qiyas mulai berfikir untuk menghubungi Adzen.


"Halo...?"


"Ya Nuge, ada apa? tumben nelpon sore-sore" sahut Zen dibalik telpon, yang kala itu Zen tengah membaca beberapa buku referensi tentang masalah-masalah serta alternatif yang harus dilakukan terkait penerbangan pesawat.


Zen juga terkenal dengan pilot yang paling disiplin waktu, teliti dan ramah, hingga tak jarang ia menuai banyak pujian baik dari kalangan maskapai, teman sejawat dan juga para penumpang lainnya, bahkan di sela-sela waktu senggang ia tak pernah sisihkan sedikit waktunnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat melainkan ia gunakan untuk membaca buku menelusuri jurnal-jurnal penelitian terkait masalah penerbangan, apalagi dalam waktu dekat ini ia akan melauching buku barunya.


Sisi lain dari seorang captain Adzen Anderson yang sudah tidak menjadi rahasia lagi, yakni dari hasil tes IQ ternyata ia mampu menyelisihi 2 angka dari IQ captain Qiyas Fathir Anugerah namun hal itu tidak membuatnya berangkuh diri.


"Lu bisa dateng kesini gak?" lanjut Qiyas.


"Kemana?"


"Nanti gua WA alamatnya, ok?"


"Ok..."


Setelah obrolan telpon itu usai, Zen mulai membereskan buku-bukunya lalu bersiap-siap untuk menemui Qiyas sesuai dengan alamat yang baru saja dikirimkan Qiyas melalui Whatsappnya.


*****


"Hei...sendiri aja lu?" tanya Adzen yang baru saja datang lalu menghampirinya.


"Hmmm..."


"Mana Kiran? tumben banget lu gak sama-sama dia" tambahnya lagi.


"Lu sibuk gak?" tepih Qiyas mengalihkan pertanyaan Zen.


"Gak...memangnya kenapa?"


"Gak ada apa-apa, takutnya lu lagi sibuk gua ganggu"


"Pertanyaan lu udah telat, kenapa gak dari tadi lu nanyanya kek begitu" cetuh Zen dengan nada sedikit bercanda.


"Emang lu lagi sibuk tadi?"


"Gak juga kok, hum...ada apa nih lu ngajak gua kemari?"


"Pake nanya lagi, duduklah nemenin gua minum kopi"


"Halaah...makanya cepet-cepet halalin si Kiran itu, biar kemana-mana ada yang nemenin, gak bosan apa sendiri mulu" tutur Zen sembari menarik kursi untuk didudukinya.


"Eh...Lu belum jawab pertanyaan gua, Kiran mana?"


"Biasalah...dinas, ngapain sih lu nanya-nanya pacar gua"


"Ya elaah cuman nanya doang...tenang aja gua gak bakalan rebut dia dari lu"


"Hum...baguslah, eh lu sendiri udah punya pacar belum?"

__ADS_1


"Halah...umur udah segini masih mikirin pacar? malulah sama umur" tutur lembut Zen dengan niatan bercanda yang rupa-rupanya Qiyas sedikit mengambil hati atas ucapannya itu.


"Ya gak...maksud aku calon isteri"


"Calon isteri?" ucap Zen secara perlahan ia terdiam seketika, setelah itu iapun melancipkan senyumannya, Qiyas yang memerhatikan mimik wajah sohibnya itu sontak mengernyitkan keningnya seraya mengajukan pertanyaan pada Zen.


"Kenapa lu senyum-senyum?"


"Gak sih.." tutur Zen sedikit malu-malu.


"Kenapa?"


"Gak ada apa-apa, gue cuman keingat cewek yang waktu itu?"


"Cewek siapa? kok lu gak pernah cerita-cerita ama gua sih"


"Itu...temennya si Kiran yang waktu itu?"


"Temannya Kiran? siapa? temen diakan banyak"


"Itu...yang waktu itu kita ketemu di bandara, siapa sih namanya...Si..Sa..Salwa...ha Salwa namanya" betapa menyeringainya Zen menyebut nama Salwa, sontak tatapan Qiyas mulai berubah senada dengan tarikan nafasnya yang cukup dalam saat mengetahui sahabatnya itu ternyata diam-diam menaruh rasa pada seorang wanita yang sudah berstatus menjadi isterinya, dengan pelan ia kemudian meneguk kopinya.


"Eh...lu mau mesen apa? pesan lah biar gua yang bayarin" tutur Qiyas tak menentu, seraya ingin mengalihkan pembicaraan mereka dari topik sebelumnya.


"Gak..gak apa-apa gue nemenin lu aja, tadi juga gue habis minum kopi dirumah"


"Ow yah...kira-kira kalo gue minta kontak dia ama Kiran, dia marah gak ya..?" tambah Zen, yang seketika itu Qiyas sementara meneguk kopinya tiba-tiba saja Qiyas terbatuk-batuk dibuatnya.


"Uhuuk...uhuuuk!"


"Eeh lu kenapa?"


"Gak..gak gue cuman kesedak aja sedikit, jadi...lu suka ama dia?"


"Ya...gitulah, aku rasa seperti itu"


"Hahaha...yang bener aja lu?"


"Seirus...lu tau gue kan orangnya kek gimana?"


"Ya kita samalah...sama-sama setia, sayangnya lu diduain sama si Ega itu, eh by the way si Ega apa kabarnya ya sekarang?"


"Aku gak tahu-menahu lagi soal dia, terakhir yang aku tau 2 tahun yang lalu dia udah pindah maskapai"


"Ouw gitu..."


"Eem...si Salwa itu sedekat apa sih sama Kiran?" Zen kembali menyinggung soal Salwa, tentu saja sosok seorang Salwa selalu membuat kaum Adam menaruh rasa penasaran di benaknya.


"Umm...mereka...mereka...mereka dekat banget kok, serius lu suka ama dia? diakan cuman pelayan cofee"


"Gak masalah...intinya dia bener-bener berhasil buat gue lupa dengan Ega, semenjak bertemu dengan dia, entah kenapa gue rasa banyak yang berubah dari diri gue"


"Saran gue, mending lu pikirin lagi deh, keputusan lu" Zen hanya terdiam menanggapi sahutan Qiyas.

__ADS_1


__ADS_2