Quality Love

Quality Love
Episode 44


__ADS_3

*Satu Kata Lima Huruf


"Bi, tolong setrikain jas aku ya, gak usah terlalu rapih soalnya aku udah telat nih"


"Iya tuan!"


Sekilas terdengar dengan jelas suara mas Qiyas yang tengah berbicara dengan bi Lijah, didalam sana, saat itu pun ku buka dengan lebar ke dua daun pintu ini, pandanganku tepat ke arah tubuh mas Qiyas yang saat ini tengah menyedorkan jas pilotnya itu pada bi Lijah, menyadari kehadiranku yang tiba-tiba, sontak saja mas Qiyas dan bi Lijah berbalik arah menyorotiku dengan tatapan kaget.


Melihat tatapan melongo mereka akupun turut merasa kaget, seketika itu ku tegunkan langkahku di depan pintu, sambil sesekali ku usap lagi kelopak mataku yang masih saja menyisakan titihan air hujan sembari terus menatap mas Qiyas yang sudah terlihat rapih dengan seragam pilotnya.


Pun melihat kondisi tubuh mas Qiyas yang sudah vit itu tentu saja suatu kegembiraan bagiku, rasanya ingin ku menjinjit haru dengan senyuman semringah sambil bersuara manja dihadapannya "Ya allah suamiku tercinta, melihatmu sesehat ini adalah anugerah termewah bagiku" tak berhenti sampai disitu, iapun turut memberiku senyuman manis atas ucapanku itu lalu dengan segera ia berjalan menghampiriku tanpa meminta izin lagi ia kemudian memeluk erat tubuhku yang sedari tadi memang membutuhkan kehangatan darinya..aaarrrghh so sweetnya, sayang sejuta sayang moment itu hanya sekedar hayalan konyol yang tiba-tiba saja terlintas di fikiranku.


Kembali ke realita, saat ini mas Qiyas masih saja menatapku dengan wajah datarnya itu, entahlah menanggapi suasana ini berasa semuanya jadi serba salah, seketika ku coba tenangkan tubuhku yang terus gemetaran ini dengan kulitku yang hampir seluruhnya membiru karena semburan air hujan di luar tadi, sejenak ku coba tenangkan kelelahan ini sembari bersuara ragu pada mas Qiyas.


"Loh, jadi kamu udah...." ucapku sembari berjalan menghampirinya, namun hanya setengah kalimat itu saja, tiba-tiba mas Qiyas menyambar ucapanku.


"Eeiihs...stop..stop...stop disitu" dengan kasarnya ia berteriak padaku, bahkan tak berhenti ia menodongku dengan jari telunjuknya.


Ku tegunkan lagi langkah kaki ku yang mulai tak tegap ini, dadaku seakan tengah di cabik-cabik hingga perihnya itu berasa sampai ke ubun-ubunku, jujur saja teriakan mas Qiyas itu cukup membuatku malu di hadapan bi Lijah, entahlah aku hampir kehabisan topeng untuk menutupi wajah ini di hadapan semua orang.


Seketika ku alihkan tingkahku dengan terus menyeka-nyeka titihan air hujan di kedua pipiku, sambil sesekali ku remas-remas kresek obat yang masih saja mengait di jemariku saat ini.


"Udah tau pakaian basah gitu, masih aja nyelonong masuk kedalam rumah, emang kamu pikir ini rumah nenek moyang kamu apah? yang seenak kakimu aja mau mengotori lantai rumah saya?" terdengar lagi suara jengkelnya di depan sana.


Tak ada sehelai kata yang keluar dari mulutku, aku hanya terpaku menatap wajah jengkel mas Qiyas, hebatnya lelaki jenius ini terus saja ia mengeluarkan beribu amaran tapi tak satupun ia melontarkan pertanyaan sederhana di hadapanku, meski cukup dengan pertanyaan "Kamu darimana?" ataukah "Itu kresek putih isinya apa?" biar dia tau alasannya kenapa tubuhku bisa sebasah ini.


"Huuffthh!" ku hembuskan nafasku secara perlahan sembari menahan perihnya ke dua bola mataku yang mulai berkaca-kaca ini.


"Non? non dari mana aja kok basah-basah begitu?" hatiku mulai tertawa saat pertanyaan itu malah dilontarkan oleh bi Lijah, namun akupun tak menanggapi apa-apa atas pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Ya ampun non, non ngapain sih subuh-subuh gini kok malah main hujan, nanti kalau non sakit gimana?" tambahnya lagi, seketika itu iapun hendak berjalan menghampiriku, namun tiba-tiba mas Qiyas bersuara padanya.


"Bi..."


"Iya tuan?"


"Tolong ambilin handuk"


"Baik tuan" dengan segera bi Lijah menuju ruang laundry untuk mengambil sepotong handuk, setelah mendapatkan handuk itu iapun segera menghampiri mas Qiyas lalu menyedorkan handuk itu padanya.


"Tuh pakai itu!" ia kemudian melempari handuk itu dengan kasar tepat mengenai wajahku.


Saat ini tak perduli seberapa besar rasa sakit akibat hentakan handuk itu, yang aku fikirkan ialah apa iya mas Qiyas bisa seamnesia itu, perasaan baru saja dua jam yang lalu aku berkabung rasa khawatir yang begitu besar atas dirinya sampai-sampai aku sendiri rela mengabaikan kesehatanku, rela harus mengikat dalam-dalan rasa malu ku dan masih saja setia dengan kata "Rela" menahan perihnya luka memar di ke dua lututku saat ini, sayangnya dia masih sulit untuk menemukan 5 huruf 1 kata dalam buku TTS yang ku punya yaitu kata "TULUS".


*****


Usai mengganti baju, akupun bergegas ke dapur untuk menyiapkan bekal mas Qiyas, setelah itu ku buka lemari atas untuk mengambil beberapa butir telur dan beberapa bahan lagi yang masih sulit untuk ku ingat dengan kondisi kepalaku seperti ini, yang harus menyimpan beberapa memory menyakitkan tadi.


"Ow iya wortel Salwa, ya allah" gumamku sambil menepuk-nepuk pelan dahiku lalu dengan segera ku ambil wortel itu.


Tatapanku masih saja kosong dengan pikiran yang terus berkecamuk di dalam rongga kepalaku saat ini, tanganku yang dengan sellownya memotong-motong wortel orange ini hingga tak sadar pisau yang tengah ku genggam mulai menggores jari telunjukku.


"Aauuuh!" Erangku kesakitan, melihat jari telunjukku yang mulai mengeluarkan darah segera saja aku berjalan panik menuju wastafel lalu mencucinya disitu.


"Hiss, auuh...ya ampun Salwa kamu kenapa sih gak fokus begini?" gumamku seorang diri sambil terus mencuci jari telunjukku.


Tidak lama kemudian, akupun mulai menjongkok di sisi kitchen set, sembari mengingat-ngingat kejadian tadi, rasanya aku sudah tak tahan dengan semua yang terjadi disini, dengan segala drama yang harus ku lakoni scene per scene nya, dengan situasi pahit yang terus ku nikmati setiap harinya bahkan di umur pernikahan kami yang sebentar lagi menginjak 3 bulanan ini aku hampir tak leluasa untuk bernafas lega, tak ingin berlama-lama membendung air mata ini, seketika itupun ku izinkan tubuhku untuk menangis lirih sejadi-jadinya.


"Uum...Umi...Umi..hiikss..hiikss...hiikss" hari ini aku benar-benar menemukan titik terapuhku titik dimana aku ingin menangis sepuas-puasnya tanpa ada yang tau kecuali kitchen set dan segala jajarannya yang ada disini.

__ADS_1


"Umi...Salwa gak kuat disini mi, Salwa pengen pulang Umi...hiiks..hiiiks Salwa pengen pulang sama Umi hiikss...hiiiks" dengan tangisan lirih, ku coba mengadu seorang diri, meski begitu setidaknya aku sedikit lega sudah meluapkan segala kekesalanku saat ini.


Merasa bertenaga lagi, akupun segera terperanjat untuk menyelesaikan potongan wortel ku tadi, sembari ku siapkan lagi bumbu yang lain untuk membuat nasi goreng kesukaannya.


"Nanti kamu hitung semuanya, biar aku transfer uangnya sekarang juga?" tiba-tiba ia bersuara di belakangku segera saja aku menyeka sisa-sisa air mataku yang masih menempel di kelopak mataku kemudian akupun berbalik badan dengan tatapan bingung melihatnya.


"Hmm? Hitung? transfer uang? maksudnya?" tanyaku masih saja kebingungan.


"Uhum..semalam aku demam, dan kamu kan yang ngerawat aku?" suaranya terdengar lembut namun tatapan matanya seakan ingin mencengkramku saat ini juga.


"Ya..." jawabku dengan anggukan kepala.


"So...kamu tulis semuanya apa yang sudah kamu lakukan semalam, biar aku bayar sekarang, karena aku gak ingin punya utang budi sama kamu"


"Haah bayar?" Pungkasku hampir tak bertenaga, pun seketika itu ku suguhkan senyuman meremehkan di hadapannya.


"Apakah semua mahkluk berduit dimuka bumi ini, pikirannya juga dipenuhi dengan uang? sampai-sampai mereka sanggup menilai sikap seseorang hanya dengan angka bukan dari ketulusan?"


"Sssuhtt...ku ulangi sekali lagi, aku gak mau punya utang budi sama kamu, paham?" segera saja ia menyahutiku dengan suara yang keras hingga paru-paruku berasa tertinidih beetubi-tubi atas ucapannya itu, mas Qiyas yang tengah murka padaku kemudian bergegas ke depan dengan lamban ku ikuti lagi dia dari belakang sembari menggenggam kotak bekel yang belum sempat ku sedorkan untuknya.


"Nih..." ucapku dengan ragu-ragu menyedorkan kotak bekel itu pada mas Qiyas.


"Gak perlu!" sahutnya tanpa sedikitpun ia menoleh padaku.


"Ambil...ambil sekarang..ambil..ambil...ambil" terus saja aku berteriak geram di hadapannya, rasanya kejengkelan ini mulai menyiksa setiap sel-sel di tubuhku yang nyaris kehabisan tenaga sejak tadi, seketika itu mas Qiyas lalu menarik bahu kiri dan kananku dengan keras ia mendorongku ke dinding, ia tak melepasku begitu saja, saat ini semakin dekat tubuhnya menghimpit tubuhku pun ke dua tanganku semakin kuat dikekangnya hingga aku kesulitan untuk bergerak, tak berani melihat wajahnya yang hampir menyentuh wajahku sontak saja ku alihkan pandanganku ke arah kiri, tetapi tidak dengan mas Qiyas ia masih saja menatapku dengan tatapan yang sangat menakutkan bagiku entahlah aku sangat kesulitan untuk menebak apa yang ada di pikirannya saat ini, cukup lama ia terpaku menatapku hingga kami dikejutkan oleh suara suster Kiran dari smsepan sana.


"Selama pagi sayang!" ucapnya dengan senyuman merekah-rekah, namun senyuman itu perlahan-lahan mulai menyurut saat ia menyaksikan mas Qiyas yang tengah menghimpitku di pojok sini.


"Ka..kalian ngapain?" ia bertanya kaget, seketika itu mas Qiyas pun melepaskanku lalu meraih kotak makanan yang ada di tanganku saat ini, sesaat setelahnya mas Qiyas pun berjalan menghampiri suster kiran yang masih saja tertegun di depan pintu, dari sorot matanya aku tau saat ini suster Kiran tengah berkabut asap cemburu atas sikap mas Qiys barusan.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa kok sayang, aku hanya mau ngambil kotak makanan ini aja" sahut mas Qiyas sambil memeluk erat tubuh suster Kiran yang tengah ngambek itu, aku yang tak rela menyaksikan keuwuwhan itu kemudian bergumam di dalam hati "Kok malah jadi aku yang mulai dikabuti asap cemburu?"


__ADS_2