
*Hadiah Ulang Tahun
Hampir sebulan setelah menikah, aku belum lagi menjenguk kak Hilwa, bukannya belum ada kesempatan namun satu-satunya alasan karena aku belum punya keberanian untuk menjemput peluang bersilat mata dengan suster Kiran.
Namun kali ini kubulatkan niatku untuk mendatangi rumah sakit itu dengan semangat ku jejaki langkah kakiku di rumah sakit ini, meski dalam hati penuh dengan rasa was-was seakan aku tak punya keberanian jika nantinya harus bertatap muka dengan suster Kiran.
Selangkah lagi kakiku akan menyentuh ruangan intensive, dari kaca pintu yang berukuran kecil dan terlihat setengah buram itu, dengan ragu-ragu ku intip suasana didalam sana, pandanganku tepat mengenai tubuh suster Kiran yang hendak mengisi beberapa laporan harian pasien (rekam medik), benar saja nyaliku ciut seketika, membayangkan wajahnya saja aku sudah sangat tersiksa apalagi jika harus menahan hati untuk berhadapan langsung dengan orangnya, kutegunkan langkahku sesaat sembari menjedah waktu untuk berfikir.
"Ya allah! tolong berikan aku kekuatan" kulantunkan seuntai do'a dari dalam hati, hingga akhirnya akupun memutuskan untuk tetap masuk ke dalam, namun saat aku membuka pintu terlihat suster Kiran yang sedikit terkejut dan menatapku dengan mata yang penuh kekecawaan, saat matanya mulai berkaca-kaca ia kemudian terperanjat dan mengalihkan tingkahnya dengan menghampiri beberapa pasien, ia lalu terpaksa bercerita dengan pasien dan beberapa keluarga pasien tersebut, mungkin saja dengan mengalihkan perhatian adalah cara terbaik untuk mengurangi sedikit beban fikirannya saat ini
Tidak berhenti sampai disitu saja, saat ku teruskan langkah menunuju bed kak Hilwa, ku lihat semua perawat mulai menatapku dengan tatapan yang aneh bercampur sinis, entah kenapa aku merasakan aura suasananya begitu mencekam, mungkin saja suster Kiran sudah menceritakan secara detail bagaimana drama pernikahanku dengan mas Qiyas waktu itu, dan saat ini stempel PPO (Perebut Pacar Orang) sudah tertancap diwajahku bahkan mulai merekat di ingatan mereka, kucoba abaikan pemandangan menakutkan ini dan terus berjalan menuju bed saudari kembarku.
"Kak! hari ini kita udah genap berusia 22 tahun, hehe maaf yah kak aku hanya bisa ngasih kak Hilwa hadiah lantunan surrah Al-Kahf aja, tapi insya Allah hadiah ini memiliki makna yang sangat besar untuk kakak" di hadapannya ku coba tenggelamkan beribu wajah sedihku, aku hanya ingin memakai topeng dengan menampilkan wajah bahagia saja, biarlah rasa sedih dan tekanan ini kutampung sendiri tanpa meminta wadah yang lain untuk menampungnya.
"Aku sangat berharap suatu saat nanti kakak bisa terbangun dari tidur panjang ini sama seperti orang-orang sholeh yang diceritakan dalam surrah Al-Kahf ini, kakak harus kuat ya!" air mataku menetes seketika sembari ku genggam ke dua tangannya yang penuh dengan bekas suntikan itu.
"Bismillahirrahmanirrahim! al-ḥamdu lillāhillażī anzala 'alā 'abdihil-kitāba wa lam yaj'al lahụ 'iwajā....!!!" ku mulai bacaanku dengan lirih kubacakan ayat pertama sampai ayat terakhir surah al-kahf, pasca kecelakan bus beberapa tahun silam hingga mampu meringkuk tubuh kak Hilwa diruangan ini, setiap tahunnya tepat dihari kelahiran kami, selalu saja ku hadiahkan surah al-kahfi untuknya.
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar derapan langkah kaki yang semakin terdengar jelas dikupingku, benar saja suara itu bersumber dari ketukan hak sepatu suster Kiran yang saat ini ia tengah berjalan mendekati bed kak Hilwa, perlahan ia membuka tirai penutup lalu menyuntikan beberapa jenis obat di selang infusnya, dengan ragu-ragu ku perhatikan dia yang sedari tadi seperti orang yang tak mengenaliku, ku ikat ketakutan ini dan mulai bersuara padanya.
"Kak Kiran?" mendengar suaraku, ia tak berespon apa-apa, jangankan menyahuti sapaanku melihatku saja ia bahkan hampir tak sudi.
"Kak Kiran?" ku sapa lagi saat ia akan bergegas menuju bed yang lain, dengan pelan iapun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.
"Berhenti panggil aku kakak!" ucapnya dengan suara lantang
"Aku bukan kakak kamu, kakak kamu noh..noh yang terbaring koma hidup gak mau matipun gak mau, yang tiada bedanya sama kamu, sama-sama menyusahkan aku!" dengan hebatnya ia terus mengomeliku, namun ku anggap ini sebagai bayaran atas rasa sakitnya selama ini.
Ku terima dengan lapang dada setiap omelannya padaku tanpa tanggapan apa-apa yang bisa ku luahkan, terus saja ku ikuti langkahnya dari belakang namun kali ini ia terlihat semakin naik pitam.
"Pergi dari sini! pergi!!!" teriakannya sangat menggema sampai-sampai beberapa orang perawat dan keluarga pasien yang ada diruangan ini mulai memerhatikan perdebatan kami.
"Kiran! apapun masalah pribadi kamu, disini kamu dituntut untuk tetap profesional, ingat ini rumah sakit, jadi jangan semenah-menah untuk bersikap kasar dengan pasien maupun keluarga pasien" terdengar salah satu perawat yang mulai berbicara tegas dengan suster Kiran.
"Maaf bu!" sahut suster Kiran dengan suaranya yang masih terengah-engah, ia lalu beranjak pergi dari ruangan intensive.
__ADS_1
"Kamu juga" tiba-tiba suster itu menunjukku dengan tatapan sinisnya, belum lagi irama jantungku stabil kini aku dikejutkan lagi dengan suara lantangnya.
"Kalau punya niat mau menyelesaikan masalah pribadi kalian, bukan disini tempatnya!" iapun turut meneriakiku, kedengaranya cukup kasar sih dengan sebutan kamu yang ia tujukan padaku, tapi ya sudahlah mungkin saja sebutan ibu atau yang lainnya sedikit terdengar tua untuk wanita seusiaku.
Tak ingin menghambarkan suasana dan membuat yang lainnya semakin merasa tak nyaman, akupun turut beranjak dari ruangan ini, semakin hari aku semakin tak tahu bagaimana menjaga sikap agar tidak mengecewakan hati orang lain.
*****
Dengan memendam triliunan kekesalan, setibanya dirumah segera saja ku dobrak pintu depan, yang sepertinya cukup menggemuruhkan bunyi jantung bi lijah saat ini.
"Non! makan dulu, bibi masak semur jengkol hari ini" tukasnya, dengan ke dua telapak tangan menempel rapih di dadanya.
"Udah kenyang" sahutku mengabaikannya.
Segera saja ku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur, ku ingat lagi kejadian memalukan tadi, tak tahan dengan semua rasa sakit hati ini, akupun melupakannya lewat air mata, sambil sesekali ku tahan suaraku, cukuplah saja kamar ini dan seisinya yang tahu setiap keluh kesah dan air mataku.
Suasana kamar nan hening ini, mulai menyisakan suara detak jantung dan jam dinding saja, kini kesunyian senja mulai membungkusku, namun aku masih saja terbaring dengan mata yang cukup lembab, dan ku amati terus menerus kontak mas Qiyas tanpa berani aku menghubunginya.
__ADS_1
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗