
*Tugas Berat Bi Lijah
"Bi...tolong beresin kamar tamu ya? semua barang-barang Salwa yang ada di situ tolong pindahin ke kamar aku"
"Tap...tapi tuan..." sahut bi Lijah dengan suara ragu-ragu, di balik telpon.
"Tapi apa?" terdengar Qiyas sedikit meninggikan suara.
"Kalo non Salwa ngelarang gimana tuan?"
"Gak ada alesan, pokoknya aku pulang kamar tamu sudah harus kosong, paham?" tanpa menunggu sahutan bi Lijah lagi, segera saja Qiyas memutus obrolan mereka.
Setelah obrolan itu berakhir, kini bi Lijah mulai beranjak ke kamar tamu, dengan pejaman mata kekesalan ia berhenti sejenak, seraya menarik nafas lalu di hembuskanya, secara perlahan, ia lalu membuka pintu dengan hati-hati hingga nyaris tak berbunyi, dalam hati tertimbun rasa harap-harap cemas takutnya sang nyonya ada di dalam sana.
Saat pintu kamar itu sudah terbuka sedikit lebar, bi Lijah kemudian menjulurkan kepalanya ke arah kiri dan kanan seraya mencari-cari keberadaan Salwa, mendapati suasana kamar yang tak berpenghuni kala itu, tentunya membuat bi Lijah sedikit bernafas lega, sontak ia mengelus dada sembari bercetuh pelan.
"Alhamdulillah..."
Dengan semangatnya bi Lijah kemudian berjalan ke arah lemari, lalu membuka pintu-pintu lemari tersebut, sejenak ia memerhatikan lipatan-lipatan baju Salwa yang tersusun rapih dari atas sampai bawah, dengan tampilan wajah lesuh bi Lijah mulai memanyunkan ke dua bibirnya, seraya matanya mulai menjelalat kesana kemari mengamati seluruh pernak-pernik yang ada dikamar ini.
"Duh..banyak amat barang-barang non Salwa!" keluhnya sambil menggaruk-garuk kepala.
Tak berlama-lama mematung disitu, kini satu demi satu ia mulai mengangkut pakaian-pakaian itu lalu dibawanya ke kamar Qiyas, beberapa kali ia bolak-balik ke kamar tamu untuk mengambil barang-barang Salwa, hingga sebagian sisi kamar tamu mulai terlihat kosong.
Entah ini kali ke berapa sudah ia bolak-balik, dengan tentengan yang terus memenuhi kesepuluh jari-jemarinya itu, sembari bersenandung kecil ia melipat kembali pakaian-pakaian yang sudah menggunung di kamar Qiyas, lalu menyusunnya bersebelahan dengan pakaian Qiyas.
Belum selesai pekerjaannya, ia kembali lagi kamar tamu, untuk mengambil tumpukan dus sepatu yang belum sempat di bawanya tadi, namun sial bertindih sial tiba-tiba Salwa memergokinya saat hendak memungut dus-dus itu.
"Bi...? loh...kok kamar aku?" tutur Salwa dengan tatapan kaget.
"Pakaian-pakaian aku dimana bi? lah...ini...ini kok berantakan gini sih?" lanjutnya lagi masih dengan tatapan kebingungan bercampur kaget melihat kondisi kamarnya yang sudah terobrak-abrik layaknya gudang yang tak bertuan, namun bi Lijah hanya membungkam sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
"Bi...itu barang-barang aku mau dikemanain?"
"Mau di bawa kekamar tuan Qiyas non!"
"Loh...loh, siapa yang nyuruh bawa ke sana bi?"
"Ya tuan Qiyas lah non"
"Bi...biarin aja semua barang-barang itu dikamar ini" cegah Salwa sembari berjalan menghampiri bi Lijah, ia lalu menyedorkan tangannya seraya meminta tentengan yang saat ini ada di genggam bi Lijah.
"Non...bibi hanya mengikuti perintah tuan Qiyas, tolong jangan halang-halangi pekerjaan bibi, nanti kalo bibi dimarahin lagi gimana?" tak ingin berlama-lama meladeni Salwa karena takut ia akan merasa iba lagi, kini bi Lijah kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar Qiyas.
"Bi...?" teriak Salwa dari belakang, mendapati bi Lijah yang tak memberikan respon apa-apa, ia kemudian berlari kecil menghampiri bi Lijah yang sudah berada tepat di depan pintu kamar Qiyas.
"Bi...tolong jangan bawa barang-barang aku ke kamar dia, bi..bi.." cegahnya, sembari menarik-narik pelan ke dua lengan asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Non Salwa nih kenapa sih? bukannya seneng kok malah risih, nih bibi kalo jadi non Salwa yah, hum dengan senang hati lah bibi sekamar dengan pria tampan seperti tuan Qiyas itu" tuturnya sedikit merayu.
"Bibi tuh gak ngerti masalah aku dengan mas Qiyas sekarang"
"Apa sih yang bibi gak tau masalah rumah tangga kalian ha? dari A sampai Z semuanya bibi tau, masalah apa lagi yang bibi gak tau?"
"Aku tuh..." tuturnya memutus kata, seraya memijat ke dua alisnya, rasanya hal yang tak mungkin jika ia harus menceritakan kejadian tabu itu pada bi Lijah.
"Non kenapa?"
"Aku malu lah bi kalo harus sekamar sama dia?" kilahnya sambil jinjitan tak menentu.
"Halaah awal-awal emang gitu non, nanti juga lama-lama bakalan biasa kok, bahkan luar biasa hihihi" tutur bi Lijah sedikit pecicilan, ia kemudian beranjak masuk ke kamar menyelesaikan pekerjaannya, sementara Salwa hanya bisa pasrah dengan keadaan yang sama sekali tak memihak padanya.
*****
Tepat jam 5 sore, Salwa duduk santai di ruang tamu, bertemankan secangkir teh dan juga tiga potong kue lapis kesukaannya, sambil ia menyelesaikan bacaannya, tampak ia tengah memegang sebuah buku bersampulkan gambar pesawat terbang dengan penulisnya yang tidak lain ialah suaminya sendiri, tegukan demi tegukan ia nikmati seduhan teh tersebut, hingga akhirnya moment seteduh ini mulai di arusi lagi dengan suara mobil yang tengah menepih di halaman rumahnya.
"Bi...bi, coba liat siapa tuh yang dateng" cetuh Salwa sedikit gerogi, ia kemudian terperanjat lalu berlari kecil ke belakang, namun dibenaknya masih tersirat berbagai tanda tanya kini ia kembali menegunkan langkah dengan sebagian tubuhnya bersandar di dinding seraya mengintip suasana di luar sana, ia sangat takut kalau-kalau mobil yang hendak menepih itu ialah mobil Qiyas suaminya, dengan segera bi Lijah mendekati pintu sambil memerhatikan mobil tersebut.
"Siapa bi? mas Qiyas?" tanya Salwa dari belakang.
"Bukan non"
"Terus siapa?"
"Bibi juga gak tau itu siapa, orangnya juga belum turun dari mobil, tapi bibi yakin itu bukan mobil tuan Qiyas non"
"Siapa bi?"
"Itu pak Arief non" tutur bi Lijah.
"Haa? Arief?" erang Salwa sedikit kaget.
"Duuh...ngapain lagi sih, dia sore-sore kesini" kesalnya dalam hati.
Namun ia mencoba membendung wajah kesalnya itu, dengan berat hati ia memaksakan kakinya berjalan menghampiri bi Lijah yang masih mematung di depan sana, seraya menyambut kedatangan Arief.
"Assalamu'alikum..." tutur Arief, yang langsung di jawab kompak oleh bi Lijah dan Salwa.
"Waalaikumusalam..."
"Tumben sore-sore kesini ada apa?" tanya Salwa, yang kala itu ia belum menyilahkan Arief untuk masuk.
"Ahm...aku boleh masuk dulu gak?"
"Ow...boleh..boleh silahkan" cetuhnya sedikit gelagapan, sejujurnya Salwa sangat sungkan jika harus menyilahkan Arief untuk masuk selain takut omongan tetangga ia juga takut jika suaminya tau kalau Arief sempat mamir kesini, setelah keduanya duduk di sofa, bi Lijah langsung menawari Arief untuk di buatkan minuman.
__ADS_1
"Pak Arief mau minum apa?"
"Aham...air putih aja bi" tuturnya seraya menaroh parsel-parsel yang tengah dipeganginya itu di atas meja.
"Baik pak"
"Itu apa?" tanya Salwa sedikit penasaran dengan isi parsel yang dibawanya itu.
"Ini cake...Umi nitip bawain cake untuk kalian, kata Umi cake ini yang paling laris di toko, jadi kalian harus coba" tampak Salwa hanya mengangguk-nganggukan kepala mendengar ucapan Arief, namun tak menafikkan hatinya terus saja membungkus ras was-was, ia sangat takut kalau-kalau Qiyas memergoki perjumpaan mereka saat ini.
"Ow yah...besok pagi Umi nyuruh aku untuk jemput kamu"
"Haa? mau kemana?"
"Ya ke toko cake lah, kebetulan besok ada rapat agenda, jadi Umi juga ingin kamu hadir saat rapat besok"
"Ow gitu, aam...gak apa-apalah besok aku minta mas Qiyas aja untuk nganterin aku, kebetulan besok dia gak kemana-mana kok"
"Loh, tapi bukannya kata Umi besok Qiyas mau pergi?"
"Haa? pe...pergi? pergi kemana?"
"Katanya sih mau ke acara ulang tahun temennya"
"Ouw....." tutur Salwa tak bertenaga, dari belakang sudah terlihat bi Lijah yang datang untuk menyuguhkan air putih pada Arief.
"Ini pak minumannya, di minum dulu"
"ow ya...makasih ya bi"
"Sama-sama pak"
Perbincangan mereka tak terasa sudah di penghujung waktu, terlihat di balik jendela cahaya matahari mulai menguning, namun Arief belum lagi bersuara untuk berpamitan, mata Salwa mulai jelalatan kemana-mana berasa ia hampir tak betah untuk berlama-lama meladeni Arief, selang beberapa saat dari luar sudah terdengar suara mobil Qiyas yang tengah menepih di halaman rumah, sontak Salwa mulai melebarkan bola matanya dalam hati ia semakin panik dengan situasi himpit seperti ini, belum lagi hilang rasa malu atas kejadian tadi siang, pun malam ini ia harus menghadapi persoalan Arief yang hendak mampir ke rumah ini.
Qiyas yang baru saja turun dari mobilnya, terus berjalan sambil sesekali ia mengamati mobil Arief yang sudah terparkir lebih dulu disitu, sesaat setelah Qiyas berada di depan pintu, ia tertegun seketika seraya melepas sepatunya, tak ada ucapan salam yang terlontar, apalagi kata sapaan untuk tamunya itu, pun wajah datarnya itu semakin menguatkan denyut jantung isterinya yang tengah duduk bertiga di ruang tamu.
"Tuan baru pulang?" sapa bi Lijah, ia lalu terperanjat untuk merapihkan sepatu Qiyas, sementara Salwa tak menyuguhkan kalimat apapun pada Qiyas, selain masih menimbun rasa malu ia juga tak enak hati atas kehadiran Arief saat ini.
Tiba-tiba dari samping Arief mulai terperanjat lalu memulai percakapan dengan Qiyas.
"Ouw yah, aku kesini cuman mau nganterin cake titipan Umi aja buat kalian, dan..." tiba-tiba Qiyas memenggal ucapannya.
"Aku gak nanya, dan aku gak peduli sama sekali apa tujuan kamu dateng kesini" tegasnya sembari meneruskan langkahnya ke kamar, namun lagi-lagi Arief kembali bersuara di belakangnya.
"Aku juga sekalian mau minta izin ke kamu kalau besok pagi aku akan jemput Salwa untuk ikut rapat agenda di toko cake Umi" Mendengar penjelasan Arief, Qiyas lalu menghela nafas sembari berbalik badan lalu menyahuti ucapan Arief barusan.
"Terserah...terserah kalian mau kemana aja, aku gak peduli sama sekali" iapun segera beranjak masuk ke kamar, terdengar juga ia menutup keras pintu kamarnya hingga membuat ke dua bahu Salwa cukup terangkat beberapa centi.
__ADS_1
Dari Samping, Arief hanya bisa menyoroti tingkah Qiyas barusan, seraya mendekat Salwa lalu, dengan tatapan tak enak iapun melontarkan kata pamit pada sahabatnya itu.
"Iya, kamu hati-hati ya, aam maafin juga sikap mas Qiyas tadi ya?" tuturnya, pun Salwa sendiri merasa tak enak hati dengan Arief, dengan pelan ia pun mengantar kepulangan Arief sampai di depan pintu seraya melambaikan tangannya pada Arief.