
*Dia Tipe Lelaki Idaman (Saya)
Saat sampai di rumah, jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.15, keduanya langsung masuk ke dalam kamar, seraya kompak mengambil handuk masing-masing, sontak Qiyas menoleh Salwapun ikut menoleh, keduanya saling menatap hingga tak beberapa lama Quyas mulai mengalah.
"Gak apa-apa kamu mandi di dalem aja, biar aku yang mandi diluar"
"Gak apa-apa biar....." belum selesai Salwa menyahut, Qiyaspun segera keluar dari kamar.
"Huuftttt...." Salwa hanya bisa menghela napas.
Beberapa saat setelahnya, kembaran Hilwa itu keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap, ia sangat takut kalau-kalau Qiyas yang lebih dulu selesai mandinya dan masih berada di dalam kamar, namun nyatanya ia tak melihat Qiyas disitu.
Ia kemudian memakai mukenah, dan menunggu Qiyas untuk sholat isya bersama-sama, seraya menunggu, Salwa sambil melihat-lihat handphonenya, namun beberapa waktu sudah terlewati Qiyas belum juga nongol di dalam kamar hingga akhirnya Salwa memutuskan untuk sholat sendiri saja.
"Assalamualaikum, wr. wb!" Usai sudah Salwa menunaikan sholat isya, bersamaan dengan Qiyas yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar, Salwa yang saat itu tengah mengucapkan salam disebelah kirinya tak sengaja melihat Qiyas yang hanya menggunakan sepotong handuk ditubuhnya alias telanjang dada, sontak ia pun langsung beristighfar yang tentunya sedikit mengejutkan Qiyas.
"Astagfirullah hal adzim!" Qiyas langsung menoleh seraya mengajukan pertanyaan.
"Kenapa?"
"Mas kok masuk-masuk gak pake baju sih..." kesalnya sembari menutup pandangannya dari Qiyas.
"Lah, memangnya kenapa? akukan suami kamu"
"Iya tapi kan kita...." Salwa tak mampu melanjutkan kata-katanya, Qiyas yang sementara mencari-cari baju di dalam lemari kala itu, sontak tertegun dan langsung penasaran dengan apa yang ingin diucapkan Salwa barusan, ia pun berhenti mencari-cari baju dan segera berjalan beberapa langkah mendekati Salwa.
"Tapi kan kita?" tutur Qiyas mengulangi.
"Hiiisss apaan sih, sanah...sanah..." Tentu saja Salwa semakin histeris dibuatnya, ia terus memalingkan wajah dari Qiyas sembari mengusir Suaminya itu agar ia tak mendekatinya, namun semakin dibuat seperti itu, Qiyas malah semakin bersemangat untuk menakut-nakuti Salwa, iapun terus berjalan mendekatinya.
Saat ini Qiyas berada tepat dihadapan Salwa, melihat sang isteri yang tak mau membuka mata, Qiyas segera menjongkok sembari menyentuh telapak tangan Salwa yang terus menutupi wajahnya itu.
"Hei..." Salwa yang terkejut langsung terperanjat dari duduknya sambil berlari menjauhi Qiyas.
__ADS_1
"Mas mau ngapain? mas mau ngapain?" Salwa semakin ketakutan, sementara Qiyas hanya bisa senyum-senyum tak menentu melihat sikap aneh istrinya itu, anggapnya.
"Kamu kenapa? memangnya kamu pikir aku mau ngapain?"
"Tenang aja, kamu masih bukan selera aku untuk diapa-apain" Salwa dibuat syok bercampur malu mendengar itu, agak sakit sih, namun Salwa juga dibuat sadar diri kalau ia yang terlalu berfikiran aneh-aneh terhadap Qiyas, padahal Qiyas sendiri tak pernah mencintainya, saat itu juga Salwa segera membuka matanya, ia terdiam sejenak sembari mencari-cari topik lain agar rasa malu itu tak terlalu membekas diwajahnya.
"Yaudah sana pake baju" paparnya, seketika itu juga Salwa segera keluar dari kamar.
"Hei mau kemana?" cegah Qiyas yang tak dihiraukan oleh Salwa.
*****
"Kadang-kadang dia terlihat perhatian, kadang dia juga terkesan menjengkelkan, kalo ngomong gak pikir perasaan aku kek gimana...."
"Iya aku tau, aku bukan selera dia, tapi setidaknya gak usah ngomonglah kalo aku ini bukan selera dia....aku kan....houuuftt..." Salwa bertengkar sendiri dengan pikirannya, di ruang TV ia duduk termenung menatap kosong layar televisi, belum keluar semua unek-uneknya, tak lama kemudian Qiyas datang dan langsung duduk disebelahnya, sembari menyedorkan segelas tea hangat.
"Nih...." Salwa yang sudah bad mood hanya meraih tea itu dengan wajah datar, disaat bersamaan handphone Salwa yang ada diatas meja tiba-tiba berdering, keduanya kompak menatap layar handphone tersebut, tertera jelas nama "Arief" di atas nya, Salwa ragu-ragu menatap Qiyas disebelah.
"Ngapain dia nelpon kamu malam-malam?" tutur Qiyas sedikit cetus.
Salwa segera mengangkat telponnya sembari bergegas menjauhi Qiyas, merasa ada yang disembunyikan, tentu saja Qiyas penasaran dengan apa yang tengah diperbincangkan oleh mereka, terlebih lagi lawan bicara Salwa saat ini ialah Arief.
Sekali dua kali Qiyas masih saja duduk di ruang TV sambil pandangannya terus mengawasi Salwa di ujung sana, melihat Salwa yang senyum-senyum ia makin gelisah dan pikirannya pun menjadi takkaruan sontak Qiyas mulai terperanjat dan segera menghampiri Salwa.
"Kalo masalah pekerjaan, besok kan bisa di omongin!" Salwa hanya menatap kilas suaminya itu, lalu kembali berbincang dengan Arief.
"Nanti hasil editingnya dikirim aja ke aku ya Rief?" belum selesai berbincang-bincang, tiba-tiba Qiyas langsung mengambil paksa handphone Salwa, dan kini gantian Qiyas yang berbicara dengan Arief.
"Halo?"
"Iya, halo?" Arief menjawab dengan lembut.
"Ahm, sudah dulu obrolannya yah? ngerti lah ini kan sudah larut malam, tau kan suami isteri lagi ngapain kalo jam-jam begini? jadi jangan ganggu dulu ya..." Qiyas sedikit memanas-manasi Arief, seraya mengkahiri obrolan mereka.
__ADS_1
"Mas, kamu ngomong apa sih? kita tuh lagi bahas pekerjaan tau gak?"
"Kan bisa besok, kenapa harus malem-malem?"
"Kenapa? aku suka kok kalo Arief yang nelpon..."
"Oh gitu...?" sahut Qiyas tak bertenaga.
"Iya, dia kan tipe laki-laki idaman aku" saat mendengar Salwa berkata seperti itu, Qiyas langsung menyerahkan handphonenya, seraya bergegas pergi dari situ, Salwa menatap heran sikap sang suami sambil berkata lirih.
"Tuh kan, salah lagi...salah lagi...huufth.."
Salwa langsung menjongkok tak berdaya, seolah semuanya jadi serba salah sekarang, padahal itu bukan maksud yang sebenarnya, ia sadar dengan berkata seperti itu bukan berarti dia benar-benar mencintai Arief, itu hanya pelesetan dari rasa sakit hatinya saja atas ucapan Qiyas sebelumnya, namun Qiyas malah mengartikan hal yang lain.
*****
Secara perlahan Salwa membuka pintu kamar, ia mendapati Qiyas yang tangah merebah di atas tempat tidur seraya memejamkan mata, namun Salwa tak benar-benar yakin jika suaminya itu sudah tertidur pulas, Ia berjalan mengendap-endap lalu beranjak ke atas tempat tidur.
"Mas...?" Lirihnya, namun Qiyas tak merespon.
"Mas....?"
"Mas...?" Sekali lagi Salwa melirih, kali ini Qiyas langsung membuka matanya.
"Mas marah sama aku?"
"Kenapa harus marah, ya suka-suka kamu lah...." begitu saja, Qiyas langsung berbalik badan membelakangi Salwa.
"Mas....?"
Tak menyerah, Salwa segera berbaring sambil menepuk-nepuk punggung Qiyas, seolah mengajak bercanda terus saja ia melirihkan kata "Mas...mas....mas..." sebaliknya Qiyas masih tak merespon, namun Salwa tak berhenti ia terus menepuk-nepuk pundak suaminya itu, hingga akhirnya Qiyaspun segera berbalik lalu meraih tangan nakal sang isteri.
Sejenak keduanya saling menatap, wajah yang berjarak cukup dekat itu, membuat jantung Salwa berdenyut hebat sampai-sampai ia hanya bisa menelan ludah sembari menarik pelan tangannya yang masih di genggam oleh Qiyas, namun Qiyas masih kekeh tak melepaskan tangannya, melihat sang suami yang tak berhenti menatapnya seperti itu segera saja Salwa memberi klarifikasi.
__ADS_1
"Ammm...maaf, aku...aku..." belum sempat Salwa berkata-kata, sontak Qiyas langsung mencium punggung tangan Salwa sembari terus menggenggam tangan isterinya itu, Salwa pun langsung terbelalak dengan sikap Qiyas yang menurutnya terlihat aneh akhir-akhir ini.
"Udah gak usah mikir yang macam-macam, kita tidur sekarang, besok kita harus beres-beres buat persiapan kita nanti berangkat ke Italy" Salwa hanya mengangguk dan pasrah saja tangannya digenggam sang suami hingga besok pagi, sembari keduanya memulai untuk tidur.