
*Kalimat Sakral
Saat ini keduanya tengah bersiap-siap untuk menikmati sarapan pagi, Salwa segera mengambil roti tawar lalu diolesi selai di atas nya, kemudian ia tempelkan pada selembar roti tawar lainnya, setelah itu Salwa langsung menaruhnya di atas piring mas Qiyas, Seraya menuangkan susu di gelas masing-masing yang masih terlihat kosong saat itu.
"Udah...udah, gak usah dipenuhin susunya!" lerai Qiyas.
Setelah itu Salwa langsung duduk, dan kembali mengolesi roti tawar untuk dimakannya sendiri, tanpa ia sadari Qiyas yang duduk tepat dihadapannya terus menatap setiap gerak-gerik Salwa dengan jeli.
Hari ini Salwa benar-benar terlihat cantik dimata Qiyas, Udah iyain aja yah mas Qiyas matamu ituloh gak bisa boong😜, sampai-sampai sang bapak Pilot itu tak mau memalingkan pandangannya dari Salwa, lama-lama Salwa sendiri mulai menyadari sikap Qiyas yang sejak tadi terus saja memerhatikannya, Salwa yang mulai risih dengan sangat canggung langsung menegur Qiyas.
"Ammm...mas kenapa ngeliatin aku kek gitu?"
"Hah....?" Qiyas terkejut, dan langsung mengunyah roti tawar yang belum sempat ia icip dari tadi.
"Owh...gak...gak kenapa-napa" tuturnya lagi.
Salwa mulai melanjutkan makan, hingga 5 menit kemudian lagi-lagi Qiyas kedapatan melakukan hal yang sama, dari tempat duduknya Qiyas berusaha mencuri-curi pandang terhadap Salwa yang saat itu tak menyadari tingkahnya, itu pikir Qiyas, namun ternyata Salwa mengetahui namun dia berusaha untuk menepisnya, hingga Salwa yang mulai tak tahan kembali menegur Qiyas.
"Mas...?"
"Huh...?"
"Ada sesuatu yang mau Mas omongin ke aku?"
"Gak...gak ada"
"Udah gak apa-apa Mas ngomong aja.."
"Gak ada..."
"Tapi dari tadi tuh Mas ngeliatin aku mulu..." merasa ketahuan Qiyas hanya bisa terdiam, seraya terus memotong-motong roti tawarnya.
"Apa jangan-jangan Mas Qiyas masih marah sama aku gara-gara tadi malam?" Lirih Salwa dalam hati.
"Mas kalo ada apa-apa ya mas ngomong ke aku jangan diam-diam aj....." Qiyas langsung memenggal ucapan Salwa.
"Kamu cantik..." begitu cepat kata-kata sakral itu diucapkannya.
"Haah?" Salwa melongo cukup lama, meski hanya dua kata yang terucap dari mulut Qiyas, namun itu sudah cukup membuat Salwa jadi salah tingkah, yang Salwa tak tahu adalah ada banyak urat malu yang harus di injak oleh Qiyas untuk bisa melontarkan kalimat pujian itu untuknya.
"Mas ngomong apa sih.." Salwa berusaha menepis pujian sakral tersebut, namun bibirnya sedikit melancip, itu menunjukkan bahwa jauh di lubuk hati jelas saja Salwa semringah tak menentu, antara percaya dan tidak percaya Qiyas bisa juga melayangkan pujian untuknya.
Setelah kejadian itu, keduanya mulai terlihat canggung satu sama lain, hingga sarapan pagi itu selesai begitu saja tanpa ada obrolan lanjutan dari keduanya.
*****
Salwa mulai sibuk membongkar-bongkar lemari, di ujung sana Qiyas duduk di meja komputer seraya mencari-cari tempat yang cocok untuk mereka kunjungi nanti saat sudah di Italy.
Sebenarnya Salwa masih sangat malu untuk memulai percakapan lagi dengan Qiyas, namun saat ini ia tak punya pilihan karena harus menyiapkan pakaian suaminya.
__ADS_1
"Mas?"
"Huh?"
"Baju-baju yang mana yang mau kamu bawa?"
"Baju-baju santai aja, sama itu...jaket tebel aku yang warna item ama ijo tua" terangnya sambil menunjuk satu persatu pakaian-pakaian tersebut, setelah siap, Salwa mulai membuka pintu lemari yang ada disebelahnya.
"Huuum...wangi banget" Lirihnya seraya terus menghirup bau wangi tersebut, namun tak lama kemudian ia sangat terkejut menemukan penampakkan yang ada disitu karena yang ia lihat dari rak atas sampai bawah semuanya berisikan pakaian dalam Qiyas, sontak ia melirik ke arah Qiyas yang masih serius dengan komputernya disana, Salwa lalu menghela napas dan dengan hati yang ragu-ragu ia mengumpulkan keberaniannya untuk menanyakan itu pada Qiyas.
"Ahm...pa...pakaian dalem kamu Mas?"
"Hahh?" pun Qiyas turut terkejut dengan pertanyaan isterinya itu, melihat Salwa yang sudah stand by disana, Qiyas langsung terperanjat dan buru-buru menghampiri Salwa, dengan segera ia menutup pintu lemari tersebut.
"Praakk!" bunyi lemari itu sedikit mengejutkan Salwa.
"Gak usah, gak usah nanti aku yang nyiapin sendiri" tutur Qiyas dengan wajahnya yang memerah.
Qiyas yang mulai terlihat canggung lagi, saat itu tak tahu harus berbuat apa, hingga teringat akan sesuatu iapun mulai memanggil bi Lijah.
"Bi....? bi Lijah?"
"Iya tuan!"
"Hari ini masak yang banyak yah, soalnya nanti siang mama sama papah mau kesini"
"Ammm...ini koper Mas udah beres, dan itu koper aku, aku taroh disini ya?" Qiyas hanya mengangguk tanpa berani melihat wajah Salwa.
"Uhm...yaudah aku mau bantu bi Lijah dulu di belakang" Qiyas mengangguk lagi, setelah Salwa keluar kamar Qiyas langsung menghembuskan nafas lega seraya menepuk-nepuk kecil dadanya.
*****
Sementara itu, dirumah pak Fahry terlihat Elda yang baru saja selesai kursus masak, seperti biasa setelah selesai memasak Elda dan Sheila duduk di meja makan sambil mereview hasil masakan Elda.
"Gimana dengan yang ini Mbak?'
"Sumpah, ini keren banget Da, dari semua masakan yang pernah kamu masak ini yang paling wah...aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, ini mah perfect" belum selesai Sheila mereview tiba-tiba bu Lela datang, hanya untuk berpamitan pada anak sulungnya itu.
"Amm...Bela mana?"
"Bela udah duluan ke hotel Ma..."
"Ow yaudah Mamah berangkat dulu ya, Papah udah nunggu lama tuh..."
"Iya Mah, salam ya sama Nuge!"
"Ok...." melihat penampilan bu Lela yang sangat rapih, tiba-tiba muncul pertanyaan di benak Elda yang langsung ia lontarkan pada Sheila saat itu juga.
"Memangnya om sama tante mau kemana?"
__ADS_1
"Mau ke rumah Qiyas"
"Owh, disana ada acara ya Mbak?"
"Gak, biasalah mau nengok anak kesayangannya, kan minggu besok Qiyas mau berangkat ke Italy"
"Maksudnya flight ke Italy....?"
"Gak...cuman mau liburan doang"
"Ouwh...."
"By the way Elda mau ikut gak...?"
"Hah? mau ikut kemana Mbak?"
"Ke rumah Qiyas, tuh bareng Mamah ama Papah, kebetulan mereka lagi didepan tuh..."
"Hah? emang boleh...?"
"Ya boleh...sini biar aku yang ngomong ke Mamah" seketika itu juga Sheila memboyong Elda sampai di depan rumah, Elda masih menegun disitu Sementara Sheila yang melihat ayah dan ibunya sudah berada di dalam mobil, langsung buru-buru menghampiri.
"Mah....?" bu Lela segera menurunkan kaca mobil.
"Ini Elda mau ikut bareng Mamah ya ke rumah Nuge"
"Hah? mau ngapain?"
"Ya jalan-jalan lah Mah..."
"Kalo Mamah sih gak masalah, tuh Papah kamu, ngomong sana sama Papah kamu" Sheila segera memanyunkan bibir sembari berjalan menghampiri sang Ayah yang duduk di kursi depan, tepat di samping pak Dirman sopirnya.
"Pah?"
"Ummm...?" pak Fahry segera menurunkan kaca mobilnya, dari raut wajah sang papah kelihatan kalau ia sudah tahu apa maksud Sheila.
"Elda ikut bareng Mamah ama Papah ya kesana?"
"Kesana maksudnya?"
"Kerumah Nuge"
"Dia mau ngapain ke rumah Nuge?"
"Ya jalan-jalan lah Pah, ok?"
"Da? sini....." belum sempat pak Fahry memberikan jawaban, Sheila langsung menyilahkan Elda untuk masuk ke dalam mobil.
Pak Fahry yang tadinya ingin menolak, jadi tak enak hati pada Elda yang saat ini sudah berada didalam mobil, hingga akhirnya pak Fahry biarkan saja Elda bergabung dengan mereka, bersama-sama menyambangi kediaman putra semata wayangnya itu.
__ADS_1