
*Kunjungan Tiba-tiba Sang Mertua
"Pluk...pluk..pluk.." Dari depan kamar sudah terdengar suara pijakan kaki bi Lijah yang semakin mematik keras denyutan kepala ini, ia berlari terburu-buru layaknya di kejar hantu, dengan segala kekuatan yang ku punya ku coba memijat ke dua sisi kepalaku yang sejak tadi malam tiada jedahnya meraung-raung di dalam sana, seketika itu bi Lijahpun mulai membuka pintu lalu bersuara gugup padaku.
"Non, bapak sama ibu dateng" mataku terbelalak seketika, seakan ada magnet yang menarik tubuhku untuk segera terperanjat dari tempat tidur.
"Ow yah? kok mamah sama papah gak bilang-bilang mau kesini?" sahutku sambil menggigit berjalan kesana kemari, sesekali juga kupelototi bi Lijah yang tengah panik di depan sana.
"Emangnya mamah sama papah tau yah kalo aku lagi sakit?" bi Lijah hanya menggelengkan kepala seraya menunjukkan kalo ia tidak tau sama sekali darimana ayah dan ibu mertuaku mendapatkan kabar itu, aku yakin saat ini juga apa yang ada di benak bi Lijah sama riweuhnya denganku berasa seluruh kepala ini diitari dengan kumpulan balok-balok tanda tanya.
"Haduuh gimana dong bi kalo mamah sama papah sampai tau aku tidur disini?"
"Aku...aku bakalan ngomong apa ke mereka?"
"Bi...bi tolong bantu aku nyari alasan bi" terus saja ku timpali pertanyaan demi pertanyaan pada bi Lijah, belum lagi sempat ia menyahuti pertanyaanku barusan tiba-tiba di belakangnya sudah terlihat ayah dan ibu mertuaku yang hendak menghampiri, seketika itu dengan langkah yang terburu-buru akupun kembali merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
"Mana Salwa?" lirih papah mertuaku pada bi Lijah yang masih memaku di depan pintu.
"Di...di...di dalem tuan" dengan terbata-bata ia menjawab pertanyaan papah, sembari mengarahkan jari telunjuknya ke sini.
"Di situ?" tanya papah dengan tampang yang tidak meyakinkan iapun terlihat ragu-ragu untuk melangkah masuk ke dalam kamar.
"Lah...kenapa di kamar tamu" lirihnya lagi saat mendapatiku berbaring di kamar ini, sekilas papah pun kembali menatap wajah bi Lijah yang hampir pingsan berdiri di dekatnya namun ia tak mengeluarkan sepatah kata lagi segera saja ia berjalan menghampiriku, aku yang masih merebah di atas tempat tidur, pun seketika itu ku ubah posisiku menjadi setengah duduk lalu ku salami punggung tangan ayah dan ibu mertuaku itu.
Papah yang masih berdiri sambil memegang keranjang buah, pun mulai memandangi setiap sudut kamar ini dengan tatapan kebingungan mungkin saja benaknya tengah berbisik "Kok semua barang-barang anak menantu saya bisa tercecer dikamar ini" tidak lama kemudian ia menaroh keranjang buah tadi di atas meja kecil dekat tempat tidurku, lalu ia kembali berjalan menuju lemari pakaian di ujung sana, aku yang disini hampir kejang-kejang sudah menghitung step by step langkah kaki papah menuju lemari itu.
Saat ke sepuluh jari-jemari papah mulai menyentuh pegangan mungil lemari itu, seketika itu juga ku tutup rapat-rapat penglihatanku sambil bergumam "mungkin ini episode terakhir dari berbagai scene yang sudah kita perankan dalam drama ini mas"
Setelah menutup mata selama tiga menit-an, tiba-tiba terdengar suara keras tutupan lemari yang langsung di sambut kejut oleh letupan keras jantungku.
"Papah kenapa sih?" pun seketika itu ibu mertuaku berucap kaget pada sang suami.
__ADS_1
Feeling ini mulai menafsirkan kalau suasananya sedang tidak baik-baik saja, meski tak ada erangan kaget dari papah namun bunyi keras itu sudah bisa menjelaskan seperti apa kondisinya, perlahan-lahan ku mulai lebarkan lagi bola mataku, untuk ke dua kalinya aku di buat kaget olehnya saat melihat papah yang mulai meraih kursi di meja rias lalu terduduk dengan wajah seirus ia berhadapan denganku.
"Salwa kok tidurnya disini?" masih dengan suara lembut papah melontarkan pertanyaan itu, namun tetap saja hatiku masih bersimbah dengan rasa was-was yang tak tahu entah sampai kapan rasa was-was ini terus menempel di dalam sana.
"Aam..aam..aaam" tiba-tiba sekumpulan balok tanda tanya tadi mulai mengitari pandanganku lagi, aku benar-benar bingung harus menyuguhkan alasan apa terhadap ayah mertuaku, aku sampai kehabisan tenaga melihat tatapan papah yang seolah-olah terus menagih jawaban dariku.
"Huum...Papah denger dari Nuge katanya Salwa sakit, makanya papah sama mamah nyempet-nyempetin waktu untuk ngejenguk Salwa disini"
"I..iya pah, tapi gak apa-apa kok"
"Uhuum...Lain kali kalau Salwa sakit, langsung ngabarin aja ke papah sama mamah ya"
"Iya pah"
"Salwa udah sarapan?"
"Udah pah"
"Minum obat?"
"Pokoknya jangan sampe telat makan ya? minum obat juga harus rutin" akupun segera menganggukan kepala atas ucapan papah barusan, setelah itu papahpun beralih ke bi Lijah yang masih mematung di depan sana tapi kali ini papah sedikit meninggikan suara padanya.
"Dari dulu saya sudah sering ingatkan sama kamu bi, tolong perhatikan kondisi kesehatan Salwa, tolong jaga dia, kalo ada apa-apa langsung kabari kami, langsung telpon dokter pribadi kita, jangan diam-diam aja, kalo nanti ada apa-apa sama Salwa bi Lijah mau tanggung jawab?"
"Ma...maaf pak" sahut bi Lijah dengan suara gemetaran, pun ia tak berani melihat wajah murka ayah mertuaku itu, sementara aku hanya menunduk tanpa berani menjelaskan apa-apa untuk membela bi Lijah.
"Ya sudahlah" lanjut papah.
Selang beberapa saat setelah obrolan runyam ini, dokter Feyna yang juga di ketahui sebagai dokter kepercayaan keluarga pak Fahri kembali berkunjung untuk ke dua kalinya, dengan ramah papah menyilahkannya untuk masuk ke dalem, sementara papah menunggu di luar dr. Feyna pun segera memeriksa kondisi kesehatanku, ia kemudian menempelkan stetoskop di dada dan di bagian perutku lalu memberiku beberapa pertanyaan.
"Obat yang saya resepkan kemaren udah diminum kan?"
__ADS_1
"Udah dok"
"Masih pusing?"
"Masih dok, dari semalam belum ilang-ilang"
"Mual ada?"
"Ada beberapa kali dok, tapi aku ud...." dengan sangat cepat mamah tiba-tiba menimpali ucapanku yang hanya setengah kalimat itu.
"Dia sakit apa dok? dia gak hamil kan dok?" dengan gegabah ia melontarkan pertanyaan itu pada dr. Feyna, baru saja dr. Feyna akan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba ibu mertuaku kembali bersuara tegas terhadapku.
"Kamu gak hamil kan?"
"Bu...ibu, ibu yang tenang, Salwa ini hanya kecapean saja" jawab dr. Feyna
"Jadi kecapean bisa mual juga dok?" sambung ibu mertuaku dengan reaksi yang sangat panik ia menatap tajam dr. Feyna.
"Mual yang di alami bu Salwa ini hanya masuk angin saja bu"
"Ow gitu ya dok, syukurlah..." dengan lega ibu mertuaku kemudian mengelus-elus dadanya yang mulai leluasa itu.
"Maaf, jadi bu Salwa ini berencana untuk menunda kehamilan?" kini giliran dr. Feyna yang mengajukan pertanyaan pada ibu mertuaku, sontak saja mamah sempat terlilit kebingungan untuk menjawabnya, namun dengan kilat juga ia berhasil menemukan jawabannya.
"Aham...iya, lagi pula mereka masih terlalu muda dok untuk menjadi orang tua"
"Sebenarnya sih, soal usia bukan masalah bu, ketika kita sudah memantapkan hati untuk menikah, maka kita sudah siap dengan segala peran yang akan kita pangku nantinya termasuk peran menjadi orang tua" ibu mertuaku hanya menebarkan senyuman paksa dihadapan dr. Feyna.
"Padahal kalo mereka punya anak pasti lucu deh, yah secara mama sama papahnya kan cantik dan tampan" dr. Feyna sambil tersenyum padaku saat mengutarakan pujian itu.
"Hum...kalo saya sih dok gak perlu lah cucu-cucu saya itu harus cantik, tampan, ciuut, imut atau apalah itu, yang terpenting bagi saya itu ini...ini yang harus nomor satu" ujar mamah sembari menunjuk-nunjuk kepalanya.
__ADS_1
"Otaknya harus cerdas dulu" Lanjutnya sembari beranjak keluar dari kamar.
Readersku...maaf🙏 yeah udah lama banget gak up, ini aja author bener-bener ngikis waktu luang yang gak long buat update, demi kalian readersku🤗